Monday, March 10, 2008

Ada AAL di AAC

Pernah dengar cerita Ande-ande Lumut? Itu dongeng di Jawa. Menurut versi yang diceritakan Ibu waktu gw kecil, ceritanya tentang seorang pemuda tampan, anak Mbok Randha (Janda) Dhadhapan, yang menunggu pinangan seorang gadis. Dia duduk aja di kamarnya, nggak mau keluar, kecuali jika nanti calon istri yang meminangnya benar2 istimewa. Susahnya, nggak ada satu pun peminang yang bikin Ande-ande Lumut sreg, karena dia gak mau dapat istri yang bibirnya second hand ;-) Memang, untuk mencapai rumah tersebut, para gadis yang berminat jadi istrinya harus menyeberangi sungai yang dalam dan berarus deras. Sungai itu dijaga oleh seekor kepiting raksasa, Yuyu Kangkang, yang berjiwa bisnis: mau membantu para gadis menyeberang, tapi.. cipok dulu dong ;-)

Yuyu Kangkang baru gak berkutik ketika Klenthing Kuning menolak dicium. Malah mengancam akan mengeringkan sungai dengan menyudet (= mengalihkan aliran) sungai. Dan si Yuyu memang berjiwa bisnis: sekali ini bolehlah ngasih fasilitas nyebrang gratis, daripada ngeyel dan malah kehilangan mata pencarian ;-)

Dulu.. waktu Ibu mendongengi kisah ini, gw bukannya respek sama Klenthing Kuning yang pandai menjaga [kehormatan] diri, dan sebagai reward-nya mendapatkan ”pria idaman” sebagai suami. Gw justru ilfeel sama Ande-ande Lumut yang menurut gw belagu: udah gak mau ”jemput bola”, eeeh.. persyaratannya macem2 lagi! Emangnya siapa loe ;-)?

***

Ande-ande Lumut versi modern yang cocok dijadikan sinetron religi.

Itu kesan pertama gw ketika membaca Ayat-ayat Cinta beberapa hari lalu. Yup! Setelah sekitar setahun ngakunya nggak tertarik baca novel tersebut, akhirnya gw tergelitik juga. Ini gara2 di jagad blogosphere ketemu berbagai versi review film yang katanya gagal mengangkat novel luar biasa ini menjadi versi layar lebar. Gw jadi penasaran ingin tahu seberapa luar biasanya sih novel ini. Seberapa luar biasanya tokoh Fahri yang konon kabarnya mendekati sempurna ini.

Dan komentar gw setelah baca novelnya.. well, mungkin bukan pekerja filmnya yang gagal mengangkat buku ini ke layar lebar sehingga kelihatan [meminjam kata2 seorang blogger] seperti sinetron. Tapi.. sebagai buku, alur ceritanya memang Jakarta-Bogor dengan sinetron. Malah mungkin Jakarta-Bojonggede, atau Jakarta-Depok.. hehehe..

Don’t get me wrong!

Sebagai media dakwah, gw akui buku ini memang bagus. Nilai2 Islam disampaikan dengan cerita yang ringan, dengan konteks kehidupan sehari-hari, tanpa berkesan menggurui. Dibandingkan dengan gaya dakwah konvensional yang penuh ancaman siksa neraka dan bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-datang-padamu, buku ini jelas lebih bagus. Pendekatan dakwahnya positif, bukan negatif. Mengutamakan tentang reward yang akan didapat jika mengikuti ajaran-Nya, bukan punishment yang akan dijatuhkan jika melakukan larangan-Nya.

Tapi.. ya mungkin karena terlalu bersemangat berdakwah itulah penceritaannya menjadi lemah. Penceritaannya dipaksakan pas dengan tema dakwahnya, sehingga seringkali mengesampingkan logika. Entah dalam bentuk kejadian yang terlalu gampang (sehingga kurang masuk akal), atau penokohan yang ekstrim (terlalu sempurna/terlalu buruk). Mirip seperti sinetron2 Indonesia ;-)

Salah satu contoh penggampangan kejadian untuk menyesuaikan diri dengan tema dakwah adalah perbincangan Fahri & Tuan Boutros Girgis di Cleopatra Restaurant. Tuan Boutros, ayah Maria, menyuruh Maria mengajak Fahri berdansa. Tema dakwah yang gw tangkap di sini adalah tentang tidak bolehnya bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Tema dakwahnya sih OK aja, tapi.. menjadi aneh ketika seorang Mesir yang seumur hidupnya tinggal di Mesir tidak mengetahui bahwa [sebagian] muslim percaya bahwa bersentuhan dengan lawan jenis itu haram. Padahal, menurut halaman 157, 92% penduduk Mesir itu muslim. Dan bukan sekedar muslim KTP seperti di Indonesia, jika melihat bahwa Al Quran dibaca dimana2 termasuk di dalam kendaraan umum seperti metro (hal 36).

For God’s sake, Mr Boutros Girgis is just a Christian, he’s not a moron.. hehehe.. Apakah dia begitu buta, hingga tidak memahami budaya penduduk mayoritas di sekitarnya dan harus dijelaskan oleh seorang Fahri?

Lain lagi cerita ketika Fahri dirawat di RS dan sahabatnya (tentu laki2) minta Maria menjaga selama ia pergi sarapan. Salah satu keberatan Fahri adalah:

Aku merasa ingin buang air kecil. Mas Khalid mengambilkan pispot. Tangannya meraba tanpa membuka auratku dan berusaha agar aku bisa buang air di dalam pispot. Aku tidak bisa membayangkan kalau dalam keadaan seperti ini yang ada di sampingku hanyalah Maria seperti tadi pagi. Apakah aku harus buang air begitu saja di atas kasur seperti waktu aku bayi dulu, ataukah aku akan meminta tolong padanya untuk memasangkan pispot?

(hal. 180)

Again, for God’s sake, Fahri is a post-graduate student. He’s not a moron, I assume.. hehehe.. Kalau saat Maria menjaganya dan ia ingin buang air kecil? Ya tinggal minta Maria memanggilkan perawat (laki2) saja untuk membantunya buang air. Gampang kan? Atau minta Maria memanggilkan sahabatnya yang sedang sarapan di bawah. What’s a big deal? Mosok yang begini gak terpikir oleh seorang calon Master dari Al Azhar University yang kondang itu?

Itu tadi baru hal2 yang kecil, yang berkaitan dengan tema dakwah sederhana. Apalagi untuk hal2 yang lebih besar cakupannya ;-) Sampai sekarang gw nggak ngerti kenapa Noura memfitnah Fahri. Jika ia ingin menikah dengan Fahri, bukankah lebih gampang untuk minta pada orang tuanya memaksa Fahri menikahinya? Orang tuanya tinggal memanggil Fahri, memberikan opsi menikah atau dilaporkan sebagai pemerkosa. Kenapa harus melaporkan Fahri ke polisi terlebih dahulu, yang memperbesar kemungkinan bahwa Fahri akan dihukum mati dan anak Noura lahir di luar nikah ;-)?

Kembali, sepenangkapan gw, kejadian ini dicantumkan ke dalam cerita sebagai pengantar untuk dakwah mengenai kesabaran, sebagaimana kesabaran Nabi Yusuf AS yang difitnah oleh Zulaikha. Tema dakwah yang lebih besar daripada sekedar mengatur cara interaksi perempuan – laki2 ;-)

Penokohan yang tidak kuat juga menjadi kelemahan buku ini. Dalam menggambarkan karakter manusia, Kang Abik terlalu hitam-putih. Persis seperti sinetron. Contohnya tokoh Alia, ibunda Aisha, yang digambarkan terlalu sempurna: cantik, pintar, menggenggam gelar Doktor pada usia 25 thn, menemukan 3 obat yang bisa dipatenkan, memimpin klinik, tapi selalu punya waktu untuk mengurus keluarga. Sebaliknya, tokoh ayah Aisha digambarkan sepenuhnya hitam: mencari istri muslimah karena ingin membuktikan apakah muslimah benar2 perempuan setia, menjadi muslim yang sangat baik selama ibunda Aisha hidup, dan tiba2 berbalik 180 derajat ketika menjadi duda. Lho, kemana keislaman selama 16 thn menjadi muslim yang ”sangat baik” itu? Bisakah seseorang berpura2 sedemikian lama? Atau, segitu mudahkah orang berpaling?

Belum lagi kemunculan tokoh ibu tiri Aisha yang tipikal ibu tiri sinetron Indonesia: ibu2 yang mikirin hartaaaaa melulu dan berusaha segala cara untuk mengangkangi harta tersebut. Dalam kasus ini, sampai2 merancang perjodohan putranya, Robin, dengan Aisha supaya harta keluarga gak kemana2. Sinetron banget kan ;-)? Kayak sinetron Cinta Bunga aja.. HAHAHA..

Dan.. hey, seperti gw tulis di awal tulisan ini, buku ini mengingatkan gw pada Ande-ande Lumut ;-) Ande-ande Lumut di sini adalah tokoh Fahri yang dipuja di sana-sini sebagai gambaran muslim yang mendekati sempurna.

Terus terang, gw heran dimana letak kesempurnaan Fahri sampai 4 cewek tekuk lutut di hadapannya. Bahkan bukan hanya tekuk lutut; tapi ”meminangnya” dengan berbagai cara. Nurul, si putri kyai yang sampai minta seorang ustad menyampaikan isi hati pada Fahri. Aisha, yang minta pamannya mengatur perjodohan dengan Fahri. Maria, yang usaha sendiri sampai nyaris mati merana. Dan.. Noura yang sampai berani nulis surat cinta ”menyerahkan diri” pada Fahri. "Aku ingin halal bagimu," begitu tulis Noura (tsah!)

Padahal, selain hafalan Al Quran & Hadis, serta riwayat2 lainnya, Fahri tidak terlihat istimewa. Menurut gw, dia jelas bukan pria yang bijaksana. Sebab, kalau dia cukup bijaksana, intuisinya berjalan cukup baik. Dia tidak akan memberikan tanda2 yang salah pada perempuan: seperti mengucapkan inappropriate joke di depan ibunda Maria bahwa apa sebaiknya dia berpasangan saja dengan Maria, mengingat tidak ada perempuan yang mau dengannya. Kalau dia cukup bijak, intuisinya akan berjalan dengan baik untuk menangkap sinyal2 cinta dari Maria dan Nurul.

Dan kalau dia cukup bijak, saat jatuh hati pada Nurul, he will go and get her ;-). Bukan pasrah dan berkata:

Kutetapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho, bagaimana? Siapa tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari, ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar.

(hal. 197)

Untuk kemudian menyesali ketika baru mengetahui - kebetulan sekali pagi hari sebelum akad nikahnya dengan Aisha - tentang perasaan Nurul padanya:

Nurul sungguh terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang putri kiai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit.

(hal. 232)

Yeee.. Fahri, mana ada perempuan Timur, apalagi Jawa, yang dididik untuk mengungkapkan perasaan cinta pada laki-laki secara blak2an? Ora ilok, le.. ;-). Yang bisa dilakukan perempuan [Jawa] hanya memberikan sinyal2 cinta melalui perhatian. Mestinya loe sebagai orang Jawa ngerti yang beginian ;-) Dasar loe aja yang nggak sensitif.. hehehe..

Dan lagi, sebagai seorang muslim yang sudah belajar sampai ke Mesir, yang tahu bahwa semua manusia adalah sama derajatnya di hadapan Tuhan, loe kok masih terikat sekali dengan unggah-ungguh Jawa yang nggak Islami: nggak berani menyatakan cinta pada putri kiai hanya karena status sosial ;-)?

Berdasarkan data2 ini, menurut gw Fahri lebih kelihatan sebagai seorang pria indecisive. Entah karena naive atau plain stupid.. HAHAHA.. Jelas bukan pria idaman yang top markotop deh ;-)

So.. kalau kemudian banyak yang kecewa bahwa filmnya mirip sinetron, mungkin mesti kembali membaca bukunya. Benarkah bukunya luar biasa dan tidak beralurkan sinetron ;-)?

Jangan2 kesan luar biasa terhadap buku ini memang overrated, karena dibandingkan dengan buku2 dakwah konvensional, bukan karena memang punya penceritaan yang baik ;-).

---

Catatan nggak penting:

Setelah menemukan Ande-ande Lumut pada kisah Ayat-ayat Cinta, kok kebetulan ada tokoh Tuan Boutros ya? Gw jadi ingat satu nama lagi: Boutros Boutros Ghali ;-) Rumus namanya sama kan.. HAHAHA.. dan beliau orang Mesir, jadi pas sama setting cerita ;-) Kayaknya nama Tuan Boutros Rafael Girgis emang diambil dari mantan Sekjen PBB ini deh, secara Boutros Boutros-Ghali ini juga Kristen Koptik.