Thursday, March 20, 2008

The Overlook: Sorry, Haters!

Pada awalnya, gw rada2 kecewa baca novel terbaru Michael Connelly: The Overlook. Rasanya seperti baca atau nonton media massa Barat yang seringkali mendiskreditkan Islam dan Muslim. Seolah2 yang namanya Muslim dan Islam itu identik dengan terorisme.

Bagaimana tidak? Dari bab2 awal, sudah ada korban selamat yang bersaksi bahwa pelaku penyanderaan bicara dalam bahasa Timur Tengah, dan kemudian memanggil temannya dengan nama Arab. Lantas, ditemukan saksi pembunuhan yang mendengar teriakan “Allah” saat korban dieksekusi. Kalau nggak ingat bahwa Michael Connelly biasanya membuat plot cerita yang bagus, dan gak sayang dengan beberapa puluh ribu yang baru saja gw relakan untuk menebus buku ini dari toko, udah gw tutup tuh buku ;-)

Memang, gw udah cukup sebal menonton prejudice seperti ini. Nggak kurang dari film seri TV Heroes pun sempat memuat prejudice yang sama. Waktu beli DVD bajakan Season 2 lalu, kebetulan ada bonus “unaired pilot episode”. Di situ ada bagian cerita yang gak ditayangkan tentang saat pertama Matt Parkman menyadari keistimewaannya di Season 1. Kalau di versi tayangnya, kan si Parkman ini pertama menyadari kemampuannya mendengar pikiran orang saat menyelamatkan si gadis kecil Molly. Naah.. ternyata, di versi yang tidak ditayangkan, adegan itu berupa Parkman mendengar pikiran seorang teroris (yang tentu saja digambarkan sebagai Arab Muslim lengkap dengan segala atribut keislaman, seperti sajadah, peci haji, dan jenggot panjang) yang sedang bersembunyi. Mungkin adegan itu kurang gampang dikembangkan dalam alur cerita selanjutnya, kali ya, makanya lantas diganti dengan seorang Molly yang ternyata punya kemampuan istimewa juga.

Tapi untungnya, Connelly memang penulis yang asyik punya ;-) Seperti biasa, di akhir cerita, dia membuat twist alur yang tidak terduga. Dan apa yang dari awal tampak sebagai prejudice justru berbalik arah 180 derajat.

[AWAS SPOILER]

Dengan manisnya, Connelly membalikkan cerita: ternyata justru orang2 Arab itu dijebak oleh “orang dalam” FBI. Alasan penjebakannya nggak penting; karena si FBI ini punya affair dengan istri si korban. Dan paling enak memang menjebak orang2 yang reputasinya sudah buruk, karena kalau pun mereka mengelak, tidak akan ada yang percaya. Atau setidaknya, akan sedikit sekali yang percaya ;-) That’s the power of collective prejudice kan ;-)?

Dan kata “Allah” yang didengar oleh si saksi? Well.. di sini juga dengan manis Connelly menyampaikan pesannya tentang “We usually hear what we want to hear, not what is really said” ;-). Dalam gelap dan jarak yang jauh, kecil kemungkinan sang saksi memastikan siapa yang berteriak. Dia hanya mendengar kata yang mirip “Allah”, dan kemudian si interogator – karena sudah ada indikasi bahwa ini adalah kerja teroris Muslim – menginterpretasikan sebagai “Allah”. It turns out, after deeper exploration and analysis, bahwa yang didengar justru kata2 terakhir si korban; yang menyebut nama istri yang dicintainya, Alicia. Kata “Alicia”, tercampur dengan bunyi tembakan, get it?

[SPOILER SELESAI]

Akhir cerita menjadi menarik buat gw, karena ternyata Connelly belum berubah menjadi temannya Geert Wilders. Dan menarik sekali caranya membalikkan cerita, yang secara tidak langsung mengingatkan kita akan bahaya prejudice.

Cerita Connelly ini tak urung mengingatkan gw pada sebuah film bagus yang gw tonton sekitar setahun lalu: Sorry, Haters!

Mirip buku terbaru Connelly, film ini juga awalnya kental dengan penggambaran miring tentang seorang supir taksi Syria di New York. Secara tidak langsung, film ini menggiring kita untuk mempercayai bahwa supir taksi ini adalah anggota jaringan Al Qaeda. Mulai dari cerita bahwa si Arab ini adalah seorang ahli kimia di negerinya, lalu adanya ancaman bom, .. segala gerak-gerik si supir taksi mengindikasikan dia sedang merencanakan sebuah serangan lagi pasca 9/11.

Sampai kemudian, secara tak terduga, plot dipelintir di tengah cerita.

Dan kemudian, di akhir cerita, terjadi akhir yang lebih tidak terduga lagi.

Gw nggak mau kasih spoiler tentang ceritanya ;-) It’s such a very good movie, highly recommended to watch ;-) Yang bisa gw ceritakan adalah: seperti dalam buku Connelly di atas, mata gw jadi lebih terbuka lagi tentang bahayanya prejudice. Bagaimana di akhir cerita si supir taksi meninggal dengan bukti tak tersangkalkan bahwa dialah pelaku pemboman, sementara sesungguhnya dia hanya korban, menjadi suatu kejutan menarik. Sekaligus menjadi pesan moral bahwa what you see is not always what you get ;-) Dan bahwa kadang kita terjebak mengira bahwa what we see is what we get justru karena kita sudah punya prejudice sebelumnya. Prejudice yang menghalangi kita untuk melihat apa yang tidak terlihat. Menghalangi kita untuk mengingat dalil Sherlock Holmes yang terkenal:

“How often have I said to you that when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth?”

Gimana kita mau mengeliminasi yang impossible, kalau penglihatan kita terhadap yang impossible itu terkabutkan oleh prejudice?

Aaaanyway.. setelah membaca The Overlook dan menonton Sorry, Haters!, gw merasa nggak perlu terlalu khawatir akan tingkah polahnya Geert Wilders ;-) Mau bikin film seperti itu ya sudah. Nggak usah dibunuh seperti Theo van Gogh ;-) Cukup bikin lebih banyak lagi buku2 seperti The Overlook atau film2 seperti Sorry, Haters! sebagai penyeimbang.

Gimana ;-)? Orang2 Indonesia ada yang mau bikin film untuk menandingi film Meneer Wilders ini ;-)? Kan udah pengalaman bikin film Ayat-ayat Cinta.. HAHAHAHA..