Saturday, June 06, 2009

Nip/Tuck feat Demi Moore

Tahu nggak gw sekarang lagi suka lagu apa? Gw lagi suka lagu yang disebut Tante Okke di Twitter sebagai cacing kuping: Lupa-lupa Ingat dari Kuburan ;-)

Ya, serius ;-) Gw suka banget lagu itu. Lagu itu sederhana, tetapi sebenarnya tidak sederhana. Sederhana, karena syairnya cuma itu2 aja diulang2, dengan chord yang gitu2 aja. Easy listening. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu, karena lagu itu bisa memotret dengan tepat kejadian nyata sehari-hari. Semua orang tentu pernah mengalami ingin menyanyi, tapi lupa syairnya. Hanya ingat nadanya. Semakin keras berusaha mengingat lagunya, semakin lupa. Dan rasanya gimana? Bete, frustrasi, gemas ;-)?

Itulah kekuatan lagu sederhana ini: lagu ini bisa mengantar pendengar pada suatu masa yang benar2 mereka alami. Sudah. Titik. Selanjutnya perasaan yang terasosiasi dengan kejadian itu yang akan berperan.

Menurut gw, inilah fungsi yang tepat dari sebuah lagu. Lagu itu durasinya pendek. Nggak mungkin menggambarkan seluruhnya dalam sebuah lagu. Oleh karenanya, lagu tidak boleh bercerita terlalu banyak. Cukup cerita singkat, tapi terelaborasi, sehingga membuat orang bisa terbawa pada pengalamannya sendiri. Menstimulasi "perasaan subyektif" pada masing2 orang yang terasosiasi dengan pengalaman tersebut.

Gw selalu suka lagu2 seperti itu. Seperti my all time favorite Nuansa Bening (buseet... susah benar cari versi aslinya ini ;-)), misalnya, yang cuma berkutat bercerita tentang bagaimana suatu perkenalan yang biasa2 aja meninggalkan bayang2 yang tak mau pergi. Atau Yesterday Once More, yang melulu cerita tentang kenangan masa kecil ketika mendengarkan radio. Atau ... pokoknya banyak deh! Rata2 lagu yang gw suka seperti itu. Lagu2 yang [menurut gw] kata2nya dalem dan menghunjam ke hati... hehehe...

*Dan itu memperjelas mengapa gw selalu pingin mbanting radio kalau dengar lagu Resah Tanpamu. Haiyah! Dalam satu lagu kok banyak banget yang mau diceritain: keresahan si cewek pada LDR, upaya si cowok untuk meyakinkan si cewek, harapan si cewek, ... akhirnya malah nggak orgasme, tauk! Lagunya ngambang. Sampai akhir lagu gw nggak dapat feel-nya. Cuma kedengeran seperti ada cewek menye2 minta digombalin cowoknya, dan cowoknya bener2 ngegombalin ceweknya dengan kata2 ;-)*

Lagu "Lupa-lupa Ingat" membuat gw terkenang kembali masa2 gw belajar main piano dulu. Selain harus bisa memainkan jemari di atas tuts untuk menghasilkan nada2 indah, ada teori2 musik yang harus gw pelajari. Salah satunya - tentu saja - tentang tangganada dan chord. Karena pada dasarnya, dalam bermain piano, nada lagu hanya dimainkan di tangan kanan. Tangan kiri, biarpun juga terus menerus memencet tuts, sebenarnya hanya memainkan chord untuk membuat lagu itu lebih manis ;-)

Dan salah satu hal krusial yang membedakan piano dengan electone, sejauh yang gw tahu, adalah bagaimana chord tersebut dimainkan. Walaupun chord-nya sama, piano punya variasi memainkan chord yang lebih banyak - serta membutuhkan pemahaman tangga nada yang lebih baik. Sebagai contoh, untuk dalam electone, chord C biasanya cukup dengan memencet nada C -E - G (eh, atau G - C - E ya?) berbarengan. Dalam piano, tangan kiri bisa C - G - E secara tidak berbarengan, atau bahkan kombinasi C (rendah) - C - G - E atau G (rendah) - G - C - E. Suka2 yang bikin musik aja ;-) Sebuah ketidakteraturan dalam keteraturan.

Salah satu variasinya bisa dilihat di partitur Fuer Elise gubahan Ludwig von Beethoven ini. Bar pertamanya menggunakan notasi A - E - A. Nggak jelas kan, ini chord A minor atau A? Emang sih, yang standar dipakai biasanya A minor atau A7, jarang gw dengar ada chord A. Tapiiii.... kalau pas lagi main dan ditanya ini chord apa, lumayan gelagapan juga deh. Sumpah ;-) Apalagi bar keduanya yang menggunakan notasi E - E - G#. Chord E yang sempat bikin gw terdiam sepersekian detik sebelum jawab.

Sumpah, chord adalah suatu momok dalam pelajaran piano gw... hehehe... Jadi, bayangkan betapa besarnya siksaan guru piano gw ketika beliau berusaha menjejalkan segala macam chord itu ke kepala gw... hehehe.... Sebagai lulusan sebuah konservatori di negerinya Oom Klinsmann, guru piano gw biasa berlatih piano 6 jam sehari ;-) Beliau hafal luar kepala chord apa di tiap bar lagu2 klasik. Sementara gw selalu tergagap2 mengingat2 itu chord apa dengan variasi apa... hehehe...

Dengan demikian walaupun gw selalu mengatakan bahwa my favorite musician adalah Beethoven dan Chopin, kalau udah menyangkut chord gw mendadak sontak nge-fans sama Mozart ;-) Bukan apa2, Mozart itu paling teratur bikin chord. Paling nggak bikin gw gelagapan kalau ditanya apa chord yang harus gw mainkan. Pengaruh jaman juga sih... Mozart hidup di jaman klasik, sementara Beethoven dan Chopin di jaman romantik. Yang klasik2 itu emang lebih rapi, sementara yang romantis lebih "menyentuh" ;-) Nggak heran, Beethoven romantis sekali bikin lagu Fuer Elise, yang konon kabarnya menggunakan kunci yang mengandung huruf2 hidup wanita yang dicintainya: Therese.

*Sampai di sini gw sempat berpikir: untuuuunggg Beethoven jatuh cinta pada Therese, jadi bisa bikin lagu ini. Coba kalau jatuh cintanya sama Kiki Fatmala. Susah aja dia mau bikin lagunya... hehehe... Nggak ada chord maupun nada "I" yang bisa dia pakai. Kalaupun pakai chord A buat Fatmala, jadinya lagunya monoton.... chord-nya dari A ke A lagi ke A lagi ;-) Paling2 jadi A - A minor - A lagi ;-)*

Eniwei.. lagu "Lupa-lupa Ingat" membuat gw teringat kembali kenangan masa kecil yang gw sudah lupa-lupa ;-) Dan dengan munculnya kenangan tersebut, muncul juga perasaan2 yang terasosiasi dengan kenangan itu. Tidak seluruh kenangan yang berkaitan dengan piano buruk. Ada masa2 indah juga ketika berhasil memainkan sonata2 dengan baik, saat konser, saat ujian, dll. Atau justru terbalik: lagu itu secara tidak langsung mengakses perasaan2 indah di dalamnya, dan muncullah kenangan2 dimana perasaan2 itu muncul :)

Sejak jaman purba (halah, lebay!) memang kognisi - afeksi - dan tindakan nyata itu saling berkaitan. Makanya sampai ada jurnal yang namanya Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience ya karena hal tersebut di atas. Bukankah yang namanya domain belajar itu memang menyangkut 3 aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik? Idealnya kan suatu pembelajaran itu melekat memang jika ada ketiga unsur ini terintegrasi toh?

So, that's it. Melalui stimulus audio berupa syair yang menyebut2 "cuma ingat kunci" serta bunyi2 kuncinya, lagu ini membantu gw mengakses ranah afektif yang sudah lama tertimbun berbagai pengalaman baru. Membuat gw tidak mendengarnya sebagai cacing kuping (halah!) melainkan bak Nocturne Opus 9 no 2-nya Chopin. It's my favorite, and... can you believe it, once I performed it in the prestigious Gedung Kesenian Jakarta? Jaman duluuuuuuu banget ;-)

*BTW, di tautan yang gw kasih, yang main Rachmaninoff lho! Komposer yang umurnya tergolong muda kalau dibandingkan sama Opa Beethoven ;-) Tapi karyanya gak kalah indah, seperti Piano Concerto no. 3 ini*

See... we never know what a physical stimulus can evoke ;-) Yang jelas, sesuatu tuh nggak pernah berdiri sendiri. Sesuatu yang kasat mata selalu berkait dengan yang tak kasat mata ;-) A right stimulus given to the right person, especially at the right time, and you could call it a jackpot ;-)

Yang perlu diingat dalam membuat lagu (menurut gw sebagai penikmat lagu) adalah bagaimana membuat stimulus audio itu mengakses perasaan. Naaah... kalau menurut gw sebagai penikmat lagu lagi, agar sebuah lagu bisa mengakses perasaan yang tepat, lagu itu mesti sederhana tapi dalem. Nggak perlu banyak kata2 canggih juga sih... buktinya, lagu sesederhana (dan mungkin buat sebagian orang: sesembarangan) ini pun bisa ;-)

Lha... jadi hubungannya sama judulnya apaan dong? Hehehe... kalau itu, itu sih pembuktian bahwa sensori audio ini juga menstimulasi ranah kognitif gw ;-) Gara2 dengar salah satu syairnya yang kocak:

C - A minor - D minor - Ke G
ke C lagi - A minor
Demi Moore - ke C
Ke C lagi

Sebagai mantan remaja 80-an, kedengarannya syair ini lebih cocok berbunyi:

Demi Moore kece,
Kece lagi

Yang berarti terbayangkan oleh gw bahwa Demi Moore pernah nggak kece, tapi kemudian kece lagi. Kok bisa? Yaaa... kalau udah nggak kece tapi jadi kece lagi, salah satu kemungkinannya kan operasi plastik toh ;-)? Dan operasi plastik mengingatkan pada film seri Nip/Tuck... HAHAHAHA...

*Iya, memang bahaya memberikan stimulus pada saya, karena bisa kemana2... ;-)*