Wednesday, June 03, 2009

Goro-goro Ibu Pandawa

Goro-goro jaman kala bendu
Wulangane agama ora digugu
Sing bener dianggep kliru,
sing salah malah ditiru

(dipinjam dari sini)

***

Saat awal kisah kisruh Prita Mulyasari dengan sebuah rumah sakit merebak, gw merasa bahwa Indonesia sudah benar2 masuk kala bendu. Jaman semuanya terbolak-balik, yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah. Cepat2 cari faktanya, menjelajah kanal maya mencari curhat elektronik yang menjadi sengketa. Dan setelah menemukannya, sikap gw jelas: gw tidak akan pernah menggunakan jasa rumah sakit itu, meskipun itu tinggal satu2nya rumah sakit di muka bumi (Halah! Bombastis!). Tapi alasannya bukan karena pelayanan medisnya buruk seperti yang diuraikan Mbak Prita pada curhatnya, melainkan karena menurut gw pihak manajemen rumah sakit tersebut kurang bijaksana dan kurang taktis menghadapi ”kliennya”.

Ya, bicara tentang ”pencemaran nama baik”, menurut gw sikap yang diambil pihak RS dengan mempidanakan curhat Mbak Prita did more damage daripada isi email itu sendiri. Mungkin tulisan Mbak Prita itu bisa membentuk opini sebagian orang pada RS tersebut buruk, namun.... memperhatikan tulisan yang kental nuansa emosi negatif serta mencampurkan antara fakta dengan penilaian subyektif atas fakta, gw yakin masih banyak orang yang mempertanyakan apakah ini bukan kesalahpahaman biasa saja.

Gw sendiri bekerja di bidang jasa, dan gw tahu banget susahnya memuaskan ”klien”. Mau kerja sebagus apa pun, selalu ada penilaian subyektif yang menyertainya. Sebagai orang yang kemampuan interpersonalnya nggak begitu bagus, I learned the hard way about this. Toh jargon kuno memang berkata: pelanggan yang tidak puas akan memberitahu 100 orang, sedang pelanggan yang puas diam saja. Yang nggak tercakup dalam jargon kuno itu adalah satu aspek: ketidakpuasan pelanggan belum tentu disebabka oleh keburukan hasil kerja, melainkan sering kali didasarkan pada penilaian subyektif pada situasi tertentu ;-)

Tapi kan kita nggak bisa menyerang semua pelanggan yang ngomong buruk tentang kita toh? Nggak bisa memaksa orang melihat kebaikan kita. Yang dapat kita lakukan hanya mencoba bekerja lebih baik lagi, sehingga pelanggan yang puas lebih banyak daripada yang nggak puas. Gimana dengan 100 orang yang sudah terlanjur diberitahu oleh pelanggan yang tidak puas itu. Well... the damage is there. Nggak bisa kita paksa 100 orang itu untuk kembali netral melihat kita. Yang kita bisa lakukan adalah agar tidak membuat 100 orang itu teryakinkan bahwa kita buruk. Dan salah satu caranya adalah dengan tidak menyerang si pelanggan yang banyak bicara itu ;-) Sebab, kalau kita menyerangnya, alih2 yang 100 orang itu teryakinkan bahwa kita bagus, malah omongan buruk si pelanggan yang tidak puas itu memperoleh justifikasi.

Karena itu, menurut gw justru sikap RS tersebutlah yang sealed their own fate ;-) Setidaknya gw justru akan menghindari RS ini karena melihatnya ”tidak bijaksana” dalam menyikapi ketidakpuasan pelanggan ;-) Seharusnya RS itu tidak perlu mempidanakan ”pelanggan”-nya. Mereka cukup membuat kampanye positif untuk membentuk opini publik tandingan. Misalnya dengan membuat testimonial dari pelanggan2 yang puas. Pasti ada dooong, ada ”pelanggan” yang puas dengan pelayanan mereka ;-)? Kenapa pula harus menempuh jalur hukum? Untuk membersihkan nama para dokter itu? Lha, kalau curhat elektronik yang gw temukan itu adalah versi-asli-yang-tidak-disunting, mestinya nggak ada masalah dengan nama baik para dokter. Wong Mbak Prita cukup santun dengan TIDAK MENYEBUTKAN nama dokternya, hanya mencantumkan inisial ;-)

Tapi sudahlah ;-) Alhamdulillah, akhirnya Mbak Prita dibebaskan juga dari tahanan penjara. Mudah2an segera bebas dari tuntutan hukum juga, karena menurut gw kasus ini memang tidak layak dipidanakan.

***

Namun, to be fair and objective, memang Mbak Prita banyak menggunakan kalimat yang menjerat kakinya sendiri dalam curhat elektronik itu. Seperti gw bahas di atas, isi suratnya kental bernuansa emosi negatif, sehingga antara fakta dan persepsi subyektif bercampur baur dan [dalam tulisannya] seolah2 semuanya adalah fakta. Dengan demikian, curhat pribadi ini menjadi dapat diterjemahkan sebagai pencemaran nama baik. Akibatnya, pihak RS memiliki dasar untuk memperkarakannya dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE sebagai acuan:

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Sebagai sesama “tukang protes” yang terobsesi jadi ”editor”, gw mencoba menelaah paragraf demi paragraf, dan kalimat demi kalimat curhat elektronik Mbak Prita. Berikut ini hasil pengeditan gw terhadap curhatnya, sementara versi aslinya bisa dilihat di sini:

PELAYANAN RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF MENGECEWAKAN

Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan kemewahan dan title internasional tidak selalu menjamin bahwa Anda akan puas dengan pelayanannya

Judul dan kalimat yang gw coret itu memang bisa disalahartikan sebagai serangan, bukan sekedar curhat, karena dengan gamblang Mbak Prita mencampurkan persepsi dan pemaknaannya atas pengalaman dengan fakta. Fakta yang ada kan sebenarnya Mbak Prita tidak puas dengan bagaimana RS tersebut menanganinya, sementara "uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan" itu adalah persepsinya. Dengan mencampuradukkan demikian, kesannya memang jadi menuduh dan dapat dianggap mencemarkan nama baik.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini Pengalaman saya dengan di RS Omni International, tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, mungkin dapat menjadi contoh. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Kembali di sini menurut gw cukup untuk menyampaikan fakta bahwa Mbak Prita tidak puas dengan penanganan RS tersebut. Mbak Prita dapat memposisikan pengalamannya sebagai contoh ketidakpuasan saja. Tanpa menyertainya dengan kata2 yang dapat diartikan sebagai menuduh.


Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Sama seperti sebelumnya, menurut gw Mbak Prita akan lebih sulit dijerat dan dipidanakan jika stick to the fact. Oleh karenanya, tidak perlu berpanjang lebar menceritakan tentang kekhawatirannya. Cukup sampaikan fakta bahwa pemeriksaan darah menyebutkan trombosit 27.000 dan diagnosanya adalah demam berdarah. Ternyata sehari kemudian dokter yang bersangkutan mengatakan ada revisi hasil lab menjadi 181.000 serta diagnosa tetap demam berdarah. Padahal sudah diinfus semalaman dan diberi suntikan.

Gw nggak tahu seberapa penting penjelasan/izin pasien/keluarganya terhadap suntikan yang diberikan. Pengalaman gw kena Demam Berdarah 3x, gw sih memang nggak pernah dikasih tahu suntikannya buat apa. Kalau gw tanya ya dijawab, tapi nggak ada penjelasan mendetail, apalagi minta ijin untuk memberikan obat tertentu. Obat kan diberikan menurut diagnosa.

Di kasus ini menurut gw pemberian obat tanpa penjelasan/izin bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Yang perlu digarisbawahi hanyalah fakta bahwa: ada revisi hasil lab dan diagnosa tetap demam berdarah.


Mulai Jumat tersebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Di bagian ini Mbak Prita mestinya stick to the fact bahwa lemarinya penuh dengan infus dan berbagai ampul suntikan, tetapi dia tidak pernah mendapat jawaban yang jelas mengenai kegunaannya. Gw tidak melihat perlunya kalimat ”lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter” ;-) What’s the big deal? Bukannya tugas suster memang demikian ya? Psikolog aja nggak berwenang lho, memberi obat. Apalagi suster ;-) Mereka memang hanya pelaksana pemberian obat. Menurut gw suster memang tidak punya kompetensi untuk menjawab mengenai obat itu.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan beliau baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Di bagian ini, menurut gw, Mbak Prita mulai mengalami disintegrasi. Nuansa emosinya cenderung kental, sehingga ia hanya berulang kali melabel dr H dengan kata2 ”tidak memberi keterangan yang memuaskan”. Memuaskan/tidaknya suatu informasi tergantung dari kedua belah pihak, dan tidak ada parameter pastinya. Oleh karena itu, mengatakan seseorang ”tidak memberi keterangan yang memuaskan” sangat dapat diartikan sebagai sekedar labeling.

Kembali, menurut gw, mestinya Mbak Prita stick to the fact. Jabarkan keterangan seperti apa persisnya yang diberikan oleh dr H, sehingga semua pembaca bisa menilai sendiri apakah keterangan itu memuaskan atau tidak. Dengan menjabarkan fakta, Mbak Prita juga akan lebih sulit dijerat dan dipidanakan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif yang sayangnya tidak sesuai dengan apa yang saya alami/rasakan.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 saya mendapat informasi bahwa data tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og (Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Well.. gw sangat memahami kejengkelan Mbak Prita. Gw sendiri juga akan mencak2 dan mengajukan complaint kalau mengalami hal seperti ini. Namun... bener deh, Mbak Prita doesn’t help her own cause by mixing the fact with her perception. Jadi… nggak terlalu salah juga kalau dianggap menuduh dan ingin mencemarkan nama baik.

Kalau saja Mbak Prita dengan dingin menuliskan fakta bahwa data medis yang diterimanya tidak sesuai dengan kenyataan, bahwa hasil lab trombosit 27.000 tidak ada, dan mengakhiri paragraf ini dengan mengatakan bahwa dia sudah mengajukan keluhan tertulis, akan berkurang satu lagi alasan dan dasar bagi RS tersebut mempidanakan Mbak Prita. Sayangnya, Mbak Prita merasa harus menambahkan pemaknaan pribadinya terhadap kejadian tersebut, sehingga terdengar seperti tuduhan.

Kata2 “data fiktif” itu lebih terdengar sebagai tuduhan, karena belum tentu RS tersebut memanipulasi data. Mungkin saja data yang tidak sesuai kenyataan itu muncul karena kinerja yang buruk. Walaupun hasil akhirnya sama2 berupa data yang tidak sesuai kenyataan, namun kata2 “data fiktif” mengacu pada kesengajaan, bukan pada inkompetensi.

Demikian juga kalimat “staf Og yang … seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima”. Persisnya seperti apakah yang dianggap oleh Mbak Prita mencemooh? Apakah karena mencibir ketika Mbak Prita minta tanda terima? Mentertawakan? Atau apa? “Mencemooh” adalah penilaian Mbak Prita terhadap tindakan Og. Tetapi… bisa jadi cemooh itu adalah clouded judgment yang terjadi karena Mbak Prita memang sudah jengkel. Untuk amannya, lebih baik stick to the fact; jabarkan secara deskriptif apa yang dilakukan Og. Kalaupun Mbak Prita mau mengatakan Og mencemooh, setidaknya pembaca pun bisa menilai sendiri apakah itu sebuah cemooh atau tidak.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia Sayangnya dr G justru mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Jika kedua kalimat yang saya coret di atas tidak ditulis Mbak Prita, cerita Mbak Prita tetap sama: bahwa RS ini menyangkal pernah memberikan hasil lab 27.000 dan menolak untuk menggelar rapat dengan Mbak Prita. Tetapi ada satu perbedaan besar: tanpa kedua kalimat itu, Mbak Prita tidak pernah menuduh dr G tidak profesional ;-) Tetap ada kemungkinan bahwa pembaca akan menyimpulkan bahwa dr G tidak profesional, tetapi itu adalah murni permainan persepsi – Mbak Prita tidak dapat disalahkan karena ”menuduh” dan ”mencemarkan” nama baik dr G ;-)


Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. Apalagi ketika suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.

Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah. Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohong besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Walaupun saya sangat memahami kegusaran Mbak Prita, serta setuju bahwa ada ketidakberesan dalam pelayanan RS ini, namun saya harus katakan bahwa the above paragraph is very harsh. Sangat disayangkan bahwa Mbak Prita mencampuradukkan persepsi subyektif dengan fakta. Sebenarnya ia tidak perlu berpanjang2 menuliskan segala tuduhan ini; cukup mengatakan bahwa ia sangat marah, apalagi ketika surat yang dijanjikan tidak datang – malah dikatakan ada tanda terima dengan nama Rukiyah.

Kalau dilihat dengan kepala dingin, masih ada kemungkinan bahwa RS tersebut tidak menipu. Nama Rukiyah bisa jadi merupakan [maaf] nama pembantu rumah tangga. Bisa terjadi utusan RS datang ke rumah yang salah, ditemui oleh pembantu rumah tangga, yang main terima dan tanda tangan saja. Saya pernah mengalami kejadian itu dengan salah satu tagihan kartu kredit saya. Dalam hal ini, si pengirim dan kurir memang bersalah, namun tidak menipu.

Demikian juga dengan alamat yang tidak jelas. Beberapa kali terjadi kekisruhan juga di kantor saya mengenai alamat/nama penerima; kadang saya tahu nama penerimanya, tapi tidak tahu informasi lainnya karena slip itu adanya di resepsionis, dan resepsionis sedang makan siang ;-) Maksud saya, kita tidak dapat serta merta mengatakan telah terjadi penipuan, karena kemungkinannya banyak.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Menurut gw sih paragraf ini nggak perlu ada. Cukup akhiri pernyataan di atas dan biarkan publik menilai kualitas RS ini. Datanya sudah cukup kok ;-)

Justru kalimat terakhir menjadi penjegal utama bagi Mbak Prita. Kata2 ”saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya mendapatkan pasien rawat inap” dapat diartikan bahwa titik awal masalah ini adalah prasangka Mbak Prita bahwa ia telah ditipu. Ini menjadi titik lemah keluhan ini, karena dapat diartikan bahwa Mbak Prita bukan sedang mengeluhkan kekecewaan berantai, melainkan sedang menegakkan prasangka bahwa RS tersebut menipu.

Looking from this point of view, I could understand why the hospital takes such a harsh action.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Ini juga paragraf yang menurut saya tidak perlu ada, kecuali satu kalimat penegasan bahwa Mbak Prita sudah dirugikan secara kesehatan. Tidak ada data baru dari paragraf ini, bahkan sebaliknya penuh dengan pengulangan label: ”kami ditipu”, ”biaya RS dengan asuransi makanya RS seenaknya”, ”serakah”, ”permainan kebohongan”. Frankly, it doesn’t help Mbak Prita’s cause, and only provides better ammunition to that hospital.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari

Alam Sutera

Ucap syukur Mbak Prita atas kesehatannya yang mulai membaik akan lebih “menyentuh” hati masyarakat jika paragraf2 yang berisi label pada RS tersebut dihilangkan. Dan jabaran tentang kondisi penglihatan yang buruk akibat sobeknya selaput mata karena virus yang salah didiagnosa akan lebih menggema jika tidak diwarnai dengan berbagai label tentang tipuan dan kebohongan. Stick to the fact; tunjukkan fakta2nya, serta bagaimana dampaknya pada kesehatan Mbak Prita. Itu sudah cukup untuk membuat pembaca memahami apa yang ingin disampaikan Mbak Prita. Tanpa membuat RS tersebut memiliki ”bukti” bahwa Mbak Prita menuduh mereka.

Dan untuk kata penutup, sebenarnya sudah cukup dengan menyampaikan harapan agar pekerjaan mulia mereka tidak sia2. Sayangnya, Mbak Prita justru melebarkan masalah dengan memberi informasi bahwa dr H berpraktek di RSCM. RSCM tidak ada hubungannya dengan masalah ini, dan dengan tersebutnya mereka di sini, bisa jadi malah membuat RSCM tersinggung karena disinggung2.

***

Goro-goro adalah wejangan antar adegan dalam pertunjukan wayang. Goro-goro kala bendu adalah suatu wejangan tentang jaman yang terbolak-balik.

Di akhir posting, setelah menelaah isi curhat elektronik Mbak Prita, keyakinan gw bahwa peristiwa ini adalah goro-goro kala bendu tidak sebesar ketika gw memulai tulisan ini. I still think that the hospital is not wise, and conducts an inappropriate act against its patient, tapi gw juga bisa melihat bahwa Mbak Prita didn’t help her own cause by using unnecessary sentences.

Sehingga pada akhirnya gw tetap melihat peristiwa ini sebagai goro-goro. Sebuah wejangan tentang the art of delivering bad news. Sebuah wejangan bahwa sesuatu yang [mungkin] benar, jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat justru dapat berdampak buruk. The world is neither black or white, it’s always grey… ;-)

Lucunya, goro-goro ini tidak disampaikan melalui kisah para punakawan, melainkan melalui kisah “ibu para Pandawa”. Ya, Dewi Prita adalah nama lain dari Dewi Kunti, ibu dari Adipati Karna, Yudhistira, Bima, dan Arjuna ;-)