Monday, June 15, 2009

Time, The Final Frontier

Peringatan:
Penuh dengan SPOILER. Zilko dilarang baca ;-)

***

Sejak pertama baca di situs ini bahwa akan dibuat Star Trek XI, gw udah gak sabar menunggu. Padahal, pengumuman itu dibuat tahun 2006, nyaris 3 thn lalu. Udah lama ya? Hehehe... Apalagi kalau dilihat implikasinya pada hidup gw: tahun 2006, saat gw pertama kali dengar wacana tersebut, terbayang bakal punya Nara pun belum ;-)

Makanya, begitu dapat notifikasi dari sini bahwa tiket untuk pertunjukan perdana jelang tengah malam 6 Juni sudah dapat dipesan, gw langsung mau pesan. Tidak ada yang bisa menghalangi rencana gw, meskipun key internet banking gw terblokir saat isi saldo kartu yang mau dipakai beli tiket ;-) Toh ada bapaknyaimanara yang bisa gw bajak mengantarkan ke ATM tengah malam.

Demi film ini pula gw terlantarkan seorang blogger pemukim negeri jiran. Nasibnya buruk memang, pulang ke Jakarta barengan sama Star Trek tayang perdana. Antara dia dan Zachary Quinto, hmmm... emang nggak susah untuk memilih... HAHAHAHA... Jadi terpaksa deh dia mengalah; ketemuan sama gw di gedung bioskop ;-)

Tapi segala jerih payah gw nggak sia2. Adalah keputusan yang tepat untuk beli tiket sehari sebelumnya, karena... pemutaran perdana itu penuh. Sampai baris terdepan pun terisi orang.

Dan nggak sia2 juga, karena filmnya memang layak untuk segala jerih payah itu. Saking kesengsemnya pada film ini, gw malah udah nonton 2x ;-).


-- Spoiler dimulai --

Well.. kalau dibandingkan dengan film2 Star Trek lainnya, apalagi dengan film serinya yang padat filosofi, film ini tergolong ringan ;-) Nggak heran banyak Trekkie mencak2 dengan ceritanya ;-) Seperti dapat dibaca pada beberapa komentar di sini atau di sini. Nggak heran, karena ceritanya memang "mendasar" sekali: mulai dari bagaimana awak Enterprise pimpinan Kapten Kirk terbentuk. Cuma, di film ini, yang terjadi adalah realitas alternatif, alias beda dengan apa yang sudah diketahui Trekkies dari film2 dan serialnya (biasa disebut prime universe).

Sebagai contoh, di sini diceritakan bahwa James Tiberius Kirk lahir di sebuah shuttle menuju bumi karena kapal ayahnya, USS Kelvin, diserang. Ayahnya sendiri adalah kapten kapal yang bertarung sampai mati demi keselamatan armadanya pulang ke bumi. Ini tentunya beda sekali dengan kisah Kapten Kirk pada prime universe, dimana Kirk punya saudara kandung. Hal ini tidak tidak mungkin ada di realitas alternatif ini karena ayahnya sudah tewas

Kemudian, ada cerita mengenai hancurnya Planet Vulcan karena pembalasan dendam seorang penambang Romulan terhadap Spock. Planet Vulcan dibuat "tersedot" lubang hitam karena Nero si penambang ini menganggap Spock sudah menghancurkan planetnya. Nah, seingat gw sih di segala Star Trek yang ada Vulcan-nya, pasti ada cerita mereka pulang ke Vulcan. Jadi, di prime universe, planet ini nggak hancur ;-)

Ya. Cerita ini memang mengambil jalur alternate reality dari Star Trek yang dikenal sekarang. Same character, different reality. Penyimpangan realitas ini terjadi sejak dibunuhnya kapten USS Kelvin. gara2 sebuah supernova dan kesalahpahaman. Alkisah Spock (the prime universe Spock, as played by Leonard Nimoy ;-)) tidak cukup cepat mencegah sebuah supernova menghancurkan Planet Romulan. Dalam upaya membalas dendam, si last standing Romulan Nero dan kapalnya tersedot lubang hitam sehingga terlempar ke masa lalu. Masa ketika James T Kirk baru akan dilahirkan, bukan masa ketika James T Kirk sudah menjadi admiral.

Dan Nero memutuskan mengubah sejarah. Bukan hanya mencegah planetnya hancur, tetapi dengan agresif berusaha menghancurkan Vulcan dan bumi - agar mereka tidak dapat menghancurkan Romulan. Masalahnya, seperti dijelaskan Spock dalam salah satu dialognya, mana kala sebuah sejarah diubah, maka kenyataan alternatif akan berjalan. Sementara kenyataan yang sudah ada juga tetap berjalan.

Begitulah ;-) Sejarah berubah. Tapi... karena pada dasarnya prime universe dan alternate reality ini bersinggungan, maka tidak semua fakta berubah. Mungkin itu yang namanya takdir ya ;-)? Mungkin sudah takdir mubrom bahwa para awak Enterprise ini bertemu, sehingga mereka tetap bertemu dan terbentuk. Walaupun "jalan"-nya berbeda ;-)

Dan mengenai pertemuan itulah cerita ini berkisar. Bagaimana Spock dan Kirk yang bedanya 180 derajat bisa bersahabat. Dari cannot tolerate each other, mereka akhirnya menyadari bahwa keduanya adalah potongan jigsaw puzzle yang saling melengkapi.

Yang gw suka banget dari film ini adalah persinggungan2 dengan "realitas lama", meskipun bercerita pada "realitas baru". Bukan cuma ditampilkan melalui adegan2 nyata, tetapi juga melalui dialog2 yang subtle. Contohnya saja, saat baru bertemu Kirk, Scotty sedang di-skors di Delta Vega. Alasannya? Karena dia mengujikan teori trans-warp beaming yang ia postulatkan, "... to Admiral Archer's dog.". Asli, gw ngakak mendengar dialog ini, karena "cerdik" banget ;-) Cuma Trekkie yang akan bisa mengerti lelucon ini ;-)

Jadi, dalam timeline Star Trek, Star Trek: Enterprise (film seri yang terakhir muncul) sebenarnya justru terjadi sebelum masanya Star Trek: The Original Story. Kapten Enterprise yang pertama bernama Jonathan Archer, dan menjalani misinya di angkasa luar dengan ditemani seekor anjing. Perlu pengetahuan ini untuk bisa memahami lucunya sepotong dialog itu. Kalau Kapten Archer hidup sebelum masa Scotty dkk, maka ketika Scotty masuk Starfleet Academy, Kapten Archer sudah jadi sesepuh. Sudah naik pangkat jadi Admiral Archer. Jelas aja kalau Scotty kemudian kena skors. Berani2nya dia memindahkan anjing kesayangan "sesepuh" entah ke mana ;-)

Tuh, cerdik kan ;-)? JJ Abrams memang membuat "realitas baru" yang mungkin membuat Star Trek lebih bisa dimengerti awam. Tapi dia tidak menghilangkan "realitas lama", sehingga Trekkie bisa tetap merasa connected dengan film ini.

Konektivitas "realitas baru" dengan Trekkie juga dibangun melalui karakternya. Betul, Chris Pine nggak ada mirip2nya dengan William Shatner. Karl Urban dan DeForrest Kelley juga nggak mirip. Apalagi Walter Koenig dengan Anton Yelchin. Bahkan kalau kuping runcingnya Zachary Quinto dihilangkan, dia nggak ada mirip2nya dengan Leonard Nimoy. Tapi.... lihat deh gesture mereka. Gw pribadi sih nggak sulit membayangkan si tengil Kirk muda (Pine) akan tumbuh menjadi the womanizer Captain Kirk (Shatner). Karl Urban juga paaas banget mentransfer persepsi serba-negatif McCoy terhadap segala yang bukan-bumi. Quinto, meskipun masih kurang sendu, cukup bisa juga menampilkan "dingin"-nya Spock (Nimoy).

Baca di wiki, ini semua hasil kerja keras mereka. Para pemeran baru ini memang diminta untuk mempertahankan sebagian karakter pemain lama, meskipun boleh mengembangkan karakter itu sendiri. Swear, gw tadinya nggak menyangka Chris Pine bisa jadi se-tengil ini ;-) Setelah lihat betapa manisnya dia di Princess Diary 2, gw kira dia aktor medioker yang main film cuma buat menuh2in katalog doang... HAHAHAHA... (hai, kamu, dan kamu ;-))

Singkatnya, nggak gampang rejuvenate sebuah cerita yang sudah punya fans fanatik. Apalagi kalau bebannya adalah menciptakan pangsa baru tanpa kehilangan loyalitas pencintanya. Tapi Star Trek XI berhasil menciptakan itu. Film ini bisa gampang dicerna oleh orang yang baru pertama kali menonton Star Trek sekalipun, sekaligus tetap bisa dinikmati pecintanya.

Bayangkan, bapaknyaimanara malah bisa menginterpretasikan cerita ini lebih jauh lagi ;-) Buat dia, hancurnya Planet Vulcan itu menjelaskan mengapa bangsa Vulcan tidak terlalu banyak berperan di film2 seri Star Trek. Gw sih tadinya ngeyel bahwa kehancuran Vulcan itu kan di alternate reality, bukan prime universe, jadi nggak bisa dipakai untuk menjelaskan kondisi di prime universe. Tapi kemudian gw ingat: prime universe dan alternate reality saling berkait... hehehe... Jadi, di prime universe Vulcan tidak hancur. Tetapi... karena di akhir film sudah "kembali" ke khitahnya, bukan berarti ada alternate story yang setara di prime universe tentang kekurangaktivan Vulcan.

Hehehe... Fascinating! I love this movie ;-)

Well... memang sih, tidak seluruh filmnya sempurna. Ada bagian yang menurut gw "enggak banget". Seperti adegan Kirk kecil nyetir mobil di bumi. Emang apa pentingnya adegan itu? Langsung aja ceritakan Kirk dewasa yang bengal. Dan... polisi yang menilang Kirk kayak Robocop? Enggak banget deh!!!

Terus, gw juga nggak gitu sreg dengan adegan Kirk dikejar2 mahluk Delta Vega. Kok mahluknya mirip T-Rex banget sih??? Cuma moncongnya aja seperti bunga pemakan daging. Sooo un-Star Trek! Menurut gw akan lebih Star Trek kalau Kirk terpaksa berlindung di gua karena badai es yang beda banget dengan seperti di bumi, atau karena udara berkurang, atau apa lah yang biasa muncul jadi obstacle di film serinya.

Dan yang paling enggak banget, menurut gw, adalah memilih John Cho sebagai pemeran Hikaru Sulu. Deuh! Salah casting banget deh! Bukan John Cho mainnya jelek, tapi.... nggak ada jejak2 George Takei sama sekali di dia. Mukanya terlalu baby face, malah pas adegan hand-to-hand combat, mukanya feminin banget ;-) Beda banget dengan George Takei yang wajahnya keras.

Still, dengan kekurangan2 tersebut, gw tetap menganggap film ini fascinating. Gw kira film ini bakal cukup berhasil meregenerasi Trekkies. And I really hope so, karena gw nggak sabar menunggu film ataupun serial baru Star Trek. Nggak apa2 deh, cerita dari ulang lagi tapi dengan latar alternate reality, itu akan menjadi penyegaran buat cerita ini. Lagian, memang udah minim sekali apa yang bisa dibuat pada prime universe. Semua sisi sudah dibahas. Penerus Enterprise-nya Kirk sudah diceritakan di Star Trek: The Next Generation. Tentang stasiun luar angkasanya sudah diceritakan di Star Trek: Deep Space 9. Selanjutnya Star Trek malah udah sampai ke kuadran alam semesta yang berbeda dengan Star Trek: Voyager. Dan yang terakhir, bikin prequel dengan Star Trek: Enterprise. Memang sudah saatnya ganti realitas ;-) Toh latar mirror universe, alias realitas alternatif yang bertentangan, atau disebut juga parallel reality, juga sudah pernah dibuat.

It's time to regenerate Trekkies. And the manipulation of time the resulted in an alternate reality is indeed a bold move, as it is a violation to the temporal prime directive. This kind of move is taken only by those who do not believe in no-win scenario. And so, with your permission, let's conclude this posting with a famous quote - slightly modified:

Time... the Final Frontier to explore strange new worlds; to seek out new life and new civilizations; to boldly go where no man has gone before.

Live long and prosper ;-) Would love to watch you again ;-)