Tuesday, October 25, 2005

Catatan Perjalanan: Anger Management

Perjalanan tugas ke luar kota di bulan Ramadhan selalu memerlukan ketabahan tersendiri. Mulai dari sahur sendirian, menu sahur ala hotel yang belum tentu sesuai (dan seringnya tidak sesuai) dengan selera gw, kesulitan mencari buka puasa di kota asing. Tapi perjalanan ke Bandung sekali ini benar2 membutuhkan anger management porsi ekstra.

Godaan pertama untuk marah terjadi begitu KA berhenti di Stasiun Bandung. Janjinya akan ada kendaraan hotel yang menjemput. Tunggu punya tunggu, 15 menit kok nggak ada yang jemput? Padahal tahu sendiri kan ke-barbar-an para supir taksi di Bandung, gw udah capek senyum dan bilang nunggu jemputan. Setelah konfirmasi ke hotelnya, katanya dalam 5 menit akan dijemput. Waktu itu molor hingga setengah jam dan 3x konfirmasi kemudian.

(note: sekali ini memang gw dipesankan hotel baru oleh kantor, karena hotel langganan kantor gw penuh).

Sesampainya di hotel, ternyata mereka tidak punya tempat tidur double, adanya twin bed, kecuali di suite room. Waduh! Gw tuh nggak bisa tidur di tempat tidur single, pasti jatuh! Yah, agak jengkel juga, karena mereka nggak bilang sejak pemesanan. Tapi daripada bikin ramai, akhirnya gw memutuskan untuk pindah hotel. Alhamdulillah, Hotel Papandayan, hotel pertama yang gw datangi masih punya kamar kosong yang sesuai mau gw. Baguslah! Jadi gw nggak perlu tergoda untuk marah lagi.

Sambil gw istirahat, field team Bandung men-setup handycam yang gw bawa dari Jakarta untuk keperluan Focus Group Discussion siang itu. Baru saja gw mau merem sejenak, HP gw bunyi:

Mbak, kabel handycam-nya kayaknya rusak deh! Suara dari handycam nggak bisa keluar di TV tempat klien nonton. Gimana Mbak, kalo cari kabel baru agak susah, karena harus ke dealer Sony resmi. Cari handycam baru juga rasanya nggak keburu.

ARRRRGGGGGHHHH! Rasanya kemarin gw sendiri sudah memastikan semuanya bekerja dengan baik. Kok ya bisa tiba2 rusak? Sabar, sabar, bukan waktunya marah2. Harus quick solution nih! Untung akhirnya bisa diakali dengan meminjam wireless microphone. Jadi klien tetap bisa nonton dan mendengarkan jalannya diskusi, walaupun audio dan video-nya berasal dari media yang berbeda.  Yang penting, selama grup pertama, teknisinya bisa lari ke dealer Sony dan beli kabel baru.

Namun kemudian muncullah godaan ketiga: hujan angin! Buset, yang namanya hujan udah mirip banget di film The Day After Tomorrow! Bisa nggak datang responden gw! Artinya gw mesti memperpanjang stay di Bandung untuk re-schedule acara! Waduh, buang waktu, dan buang biaya project nih!

Akhirnya, dari 8 tamu undangan, yang datang ke acara hanya 4 orang! Itu pun setelah terlambat hampir 1 jam. Untung, metode kami kali ini adalah mini-group, jadi hanya perlu 4-5 orang. Slamet, slamet!

Setelah 3x mengalami ujian kesabaran dan ketenangan, gw berharap bisa menikmati sisa hari dengan tenang. Ternyata tidak! Sepuluh menit menjelang grup kedua, tiba-tiba saja sepatu gw jebol! Cari sepatu baru udah jelas nggak mungkin! Untung ada Selly, anak Prompt Bandung yang kakinya seukuran gw dan pakai sepatu hak (rata2 anak field team hanya pakai sepatu kets). Gw pinjam sepatu Selly, dan setelah grup selesai gw diantar Arie (anak Prompt Bandung juga) cari sepatu di Kepatihan. Jam 21:30 malam gw akhirnya menemukan sepatu cantik dengan harga miring buat keperluan kerja besok.

Kerja hari kedua, alhamdullillah, tidak ada masalah. Setelah grup penghabisan berakhir, gw ngajak klien makan malam. Cari tempat yang dekat, akhirnya kami berjalan ke Bandung Milk Center. Dan ternyata di sini nightmare kembali berulang. Pertama, Nasi Tutug yang dipesan salah satu klien gw sudah basi. Kemudian, klien gw yang lainnya menemukan serpihan bawang merah plus plastik di lime squash­-nya. Well, gw memang nggak ketiban sial malam itu, tapi kan gw ikut malu karena ngajak klien ke tempat yang pelayanannya nggak beres gini.

Besok paginya gw pulang. Naik KA Argogede jam 5:30 pagi. Gara2 nightmare yang bertubi2, gw udah lumayan parno bahwa kereta bakalan telat abis. Makanya, gw bersyukur banget begitu KA bergerak meninggalkan Stasiun Bandung tepat pukul 5:30. Kelelahan dan keparnoan gw lenyap seketika, diganti rasa kantuk luar biasa. Bangun2, gw ngerasa kereta sedang berhenti. Jam di tangan menunjukkan pukul 7:30. Ah, sudah 2 jam perjalanan, tentunya kereta api sedang berhenti di Stasiun Cikampek.

Tapi gw langsung lemas waktu lihat tulisan di plang sebesar gambreng di stasiun tersebut. Di situ tertulis dengan megahnya: STASIUN PADALARANG

Aaaaarrrrghhh! Can you believe it? Dua jam perjalanan dari Bandung ke Padalarang! Gusti Allah, nyuwun diparingi sabar. Benar2 godaan puasa yang nggak putus2nya. Ini mungkin yg dibilang hikmah Ramadhan: kita diberi kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi dengan menyelesaikan ujian yg sulit.

(ohya, ada catatan nggak penting: selama gw di Bandung, HBO menayangkan Anger Management sebanyak 2x. Dua2nya gw nonton. What a coincidence, bahwa film itu menjadi pertanda buat gw)