Friday, October 07, 2005

Rp 27.000

Apa artinya Rp 27.000 buat kalian?

Gw ingat, ini seribu rupiah lebih tinggi daripada honor gw menjaga UMPTN di tahun 1992. Waktu itu pun secara nominal jumlahnya terhitung nggak besar, tapi karena kerjanya hanya sekitar 4 jam, plus bisa ngeceng pakai jaket kuning *coba ya, ternyata gw dulu noraks sekalih!*, gw sih seneng2 aja menerimanya.  Rp 27.000 ini juga dua ribu rupiah lebih tinggi dari honor gw sebagai mahasiswa tingkat akhir (dan kemudian psikolog baru yang belum punya ijin praktek) untuk memeriksa dan membuat laporan psikologis tes massal per kepala. Tapi karena paling enggak gw harus bikin 20 laporan, ya jumlah totalnya waktu itu lumayan nendang juga buat ukuran gw.

Buat saat ini, kalau gw turun makan dengan Rp 27.000 di tangan, gw bisa beli makan siang cumi bakar plus nasi uduk plus jus mangga, terus masih bisa beli 2 keping DVD bajakan, dan masih nyisa Rp 1.000 buat masuk kantong lagi. Gw juga bisa bawa Rp 27.000 ke Pas-Fes untuk beli Readers Digest edisi Asia yang berbahasa Inggris (bukan yang terbitan Femina Group), mencakup ongkos naik Kopaja 66 pp Rp 2.000, dan masih ada sisa Rp 1.000 untuk masuk kembali ke dompet. Kalo gw kelaparan di perjalanan pulang, gw juga bisa mampir di KFC Tebet, beli ayam, French fries, sup ayam, dan Teh Botol dengan uang itu, masih ditambah bayar ongkos parkir.

So, you name it. I can spend Rp 27.000 for small things I might not really need.

Tapi ternyata Rp 27.000 itu juga setara dengan keringat para buruh bangunan di proyek pembuatan monorail di depan kantor gw. Jumlah yang harus ditukar dengan bekerja sepanjang hari. Jumlah yang harus dibagi2 untuk makan 3x sehari (a.k.a modal untuk mendapatkan energi bekerja sebagai buruh bangunan), serta untuk disimpan membiayai kelangsungan hidup keluarganya.

Sedih banget baca berita di Kompas kemarin. Dengan meningkatnya harga BBM, harga makanan di warung Tegal juga naik. Dulu Rp 3.000 sudah bisa mendapatkan nasi, sayur, dan lauk telur. Sekarang uang sejumlah itu hanya bisa mendapatkan nasi kurang lebih separuh jumlah biasanya, sayur, dan lauk hanya tempe. Dulu, mereka bisa menyisihkan Rp 15.000 – Rp 17.000 untuk membiayai keluarga, setelah dipotong modal kerja: 3x makan dan rokok/kopi.

Sekarang, mereka dihadapkan dengan dua pilihan: mempertahankan modal kerja, dan dengan resiko mengurangi uang yang bisa disisihkan untuk rumah tangga. Atau mereka bisa mengurangi modal kerja, dan resikonya mereka tidak dapat bekerja sebaik sebelumnya.

Dua pilihan yang sama2 sulit. Jika mereka mau makan yang layak, harganya adalah Rp 4.000, dikali 3 saja sudah Rp 12.000, plus kopi dan rokok bisa mencapai Rp 15.000. Artinya, mereka hanya membawa pulang uang ke rumah sebesar Rp 12.000. Atau mereka harus mencari lemburan, bekerja lebih dari sepanjang hari, hanya untuk memenuhi taraf hidup yang layak. Dan seperti kata penutup di artikel Kompas itu: Mereka bukan orang2 yang dijamin menerima subsidi tunai dari dampak kenaikan BBM. Tapi mereka sudah harus mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan BBM.

Well, rasanya banyak dari kita yang mengeluh karena kenaikan BBM ini. Teman gw kemarin baru nyumpah2 krn setelah dihitung2 dia sekarang harus mengeluarkan minimal 1jt untuk bensin doang (rumahnya di Cibubur, istrinya kerja di Pondok Indah). Teman yang lain lagi kesel karena sekarang harus mengurangi dugemnya. Tapi, kalau kita masih bisa mengeluarkan Rp 27.000 for small things, mungkin memang kita belum waktunya untuk mengeluh. Ada orang2 di luar sana yang lebih menderita dari kita, dan (kemungkinan) akan tambah menderita walaupun ada janji dari pemerintah untuk pengalihan subsidi.