Monday, October 03, 2005

Virtue

Dalam perjalanan pulang kemarin malam gw dengerin Emha Ainun Nadjib di DeltaFM. Bahasannya tadi malam adalah tentang kesulitan, apakah merupakan sebuah teguran atau sebuah ujian untuk naik kelas. Cak Nun bilang bahwa kalau kita mendapatkan kesulitan, anggaplah itu sebagai teguran dari Allah agar kita introspeksi diri dan berusaha menjadi lebih baik. Tapi kalau kesulitan itu terjadi pada orang lain, betapa pun buruk sifat orang itu, anggaplah itu sebuah ujian bagi dia; kesempatan dari Tuhan untuk dia naik kelas ke jenjang kebajikan yg lebih tinggi. Dengan bersikap begini, kita senantiasa teringat untuk menjadi lebih baik, dan juga terhindar dari perasaan benci pada orang lain.

Reaksi spontan gw: gw acung jempol sama Cak Nun! Ini bener2 sesuai dengan pandangan gw: the way you see the problem is the problem, esse est percipi (to be is to be perceived). Semua stimulus itu sifatnya netral, kita yang memberi arti pada stimulus itu; teguran, ujian, karma, siksa, berkah. Kenyataan itu adanya di kepala kita, bukan di mata kita.

Reaksi gw setelah kegirangan sesaat gw hilang: duh, betapa kalimat itu menampar gw! Betapa sering gw diam2 dan/atau tanpa gw sadari mensyukuri kesulitan yang dialami orang lain yang pernah berlaku kurang baik kepada gw. Betapa gw kadang2 masih punya kepongahan dan menggunakan kalimat suci sebagai justifikasi: doa orang yang teraniaya memang didengar Tuhan.

Padahal, apa sih hak gw menganggap diri gw sebagai orang yg teraniaya?

Salah satu kasus yg gw ingat adalah ketika bokap gw sakit dan meninggal. Ada satu tetangga, yang kebetulan adalah ketua masyarakat sekitar. Gw ingat banget beliau maki2 adik gw krn bukan adik gw sendiri yang mengurus surat keterangan untuk membawa jenazah bapak ke Solo. Si bapak ini merasa tidak dihargai, karena bukan si peminta surat sendiri yang datang. Waktu itu gw hanya bisa mengelus dada, nangis pun nggak bisa. Sedih rasanya, baru ditinggal orang tua untuk selama2nya, dan kita dimarahi untuk hal2 yang (menurut gw) nggak prinsip. Bulan lalu si tetangga itu kena stroke, sekarang lumpuh dan nggak bisa kemana2. Beliau terpaksa dibantu kemana2, dan keadaan berbalik: bahkan untuk mengurus KTP pun si bapak itu tidak bisa datang sendiri ke kelurahan seperti yang menjadi alasannya memaki2 adik gw.

Well, gw kasihan sama beliau. I really am. Tapi, walaupun gw berhasil menahan kemunculannya secara nyata, gw harus mengakui bahwa I smugly smiled dan merasa Tuhan sudah memberikan ganjaran pada beliau. Padahal, apa hak gw untuk berpikir seperti itu? Just because he did me wrong, it does not mean that I am better than him, or he is worse than me.

Tapi mungkin pengalaman2 seperti ini yang menjadi bagian dari proses perkembangan kita ya? Seperti kata Jeffrey Lang dalam bukunya Struggling to Surrender (hi, teman, thanks for sharing me this excellent book!): virtue itu harus dicapai manusia melalui evolusi moral-spiritualnya, dengan menggunakan kemampuan untuk memilih, kemampuan untuk menimbang konsekuensi pilihan kita, serta kesulitan yang akan menggoda kita memilih hal yang kurang tepat. Free will, intellect, and adversity.

Hmm, virtue memang tidak bisa di-install. Jika kita ibaratkan diri kita adalah computer, maka yg bisa di-install adalah program untuk spell-check; menghindari word processor dari kata2 yang salah. Tapi kita tidak akan pernah bisa membuat computer itu menjadi computer yang penuh kejujuran.

Moga2, sedikit demi sedikit, pengalaman2 seperti di atas akan mengantar kita pada suatu kebajikan. Mungkin saat ini kita baru sampai pada tahap spell-check; menghindari mengucapkan kata2 kasar secara nyata, sementara kejengkelan belum bisa kita hilangkan. Namun, dengan terus menerus belajar, suatu hari kita tidak perlu spell-check lagi, karena kebajikan itu menjadi bagian yg built-in dalam diri kita.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa!

Mohon maaf atas segala kesalahan yg pernah gw lakukan kepada teman2 sekalian.