Saturday, September 03, 2005

INCEST - a novel

Sebelum berangkat ke Medan gw sempat beli sebuah buku di Gramedia, judulnya INCEST. Novel itu merupakan pemenang lomba menulis fiksi di Bali Post, yang publikasinya terpaksa dihentikan karena dianggap melecehkan adat. Penulisnya bahkan diadili bahkan menerima hukuman diasingkan secara adat karena tulisannya ini. Novel ini bercerita tentang kepercayaan tradisional bahwa sepasang buncing (kembar berbeda jenis kelamin) adalah aib desa yg dilahirkan krn kesalahan ortu/nenek moyangnya. Oleh karena itu mereka sekeluarga harus dikenai berbagai hukuman adat, yg berujung dgn memisahkan buncing itu (ortunya hanya boleh memelihara salah satu, dan di masa depan menikahkan keduanya. Di balik semua aib itu mereka tetap percaya bahwa buncing adalah sepasang kekasih yg bersatu sejak awal sampai akhir.

Sebenarnya, secara teknis, novel ini jauh dari sempurna. Banyak kejadian yg bertentangan dgn logika dan membuat dahi gw berkerut. Yang paling parah, sampai sekarang gw gak ngerti kenapa salah satu tokohnya, Putu Geo Antara (antropolog yg paham betul soal mitos buncing, pemikir, modern, bahkan berani melakukan pre-marital sexual intercourse), bertahan pada suatu jawaban yg tidak logis ketika diberitahu bahwa kekasihnya Gek Bulan Armani adalah saudara kembarnya sendiri. Psychologically, karakter seperti Putu Geo Antara itu akan mencari bukti2 terlebih dahulu sebelum mengatakan bahwa dia tidak percaya, dan apabila dia menemukan bahwa bukti2 itu tidak mendukungnya, dia akan membelokkan bukti. Sangat tidak masuk akal buat gw bahwa  Putu Geo Antara hanya bolak-balik bilang dia tidak percaya, tanpa melengkapi dirinya dgn bukti ATAU argumentasi yg kuat.

Tapi, lepas dari keterbatasan teknis, ide tulisan ini menurut gw bagus dan segar. Di samping itu, banyak hal2 kecil di dalamnya yg mengajarkan kita tentang falsafah serta kenyataan hidup. Misalnya tentang bagaimana bahayanya melihat sesuatu pada manusia sebagai persamaan linear (Masyarakat desa itu, menurut si penulis, hanya perduli pada masa kini dan masa lalu. Sebab-akibat yg sederhana. Buncing kadung dipercaya sebagai suatu aib. Dan sebagai hasil persamaan linear, dia hanya mungkin disebabkan satu hal: kesalahan orangtua/nenek moyangnya. Dan persamaan linear itu pulalah yg menyebabkan penyelesainnya sederhana: kawinkan mereka krn mereka sudah lahir bersama).

Novel ini juga menunjukkan betapa perubahan itu harus kita terima dgn beradaptasi. Karena dgn menentang perubahan itu sendiri maka justru akan terjadi penurunan makna dari solusi yg ada sekarang (hukuman buang di desa itu tentu sangat bermakna ketika universe bagi penduduknya hanya sebatas desa, tapi masihkah hukuman itu bermakna jika saat dunia bagaikan tak terbatas? Hukuman buang hanya akan menimbulkan rasa tidak nyaman, terbuang dari lingkungan tertentu. Tapi dia dengan mudah akan menemukan lingkungan lain. Jika mereka ingin hukuman itu punya makna yg sama, mungkin hukumannya harus berbeda; bukan justru mempertahankan hukuman yg sama hanya sebagai retorika yg kurang bermakna).

So, dgn mengabaikan keterbatasan teknisnya, banyak yg gw pelajari dari novel ini.

Dan satu lagi yang (sebenernya) nggak penting: novel ini ditulis oleh I Wayan Artika. Namanya mengingatkan gw pada Artika Sari Devi si Putri Indonesia 2004. Nama yang sama, dengan nasib yg sama pula: dihujat komunitasnya krn dianggap melecehkan nilai2 yg ada di budaya komunitasnya. Tanpa komunitas itu pernah sadar bahwa pada dasarnya kedua orang ini hanya berlaku jujur; menunjukkan dgn terbuka apa yg selama ini telah pelan2 bergeser (dan selalu ditutupi) oleh komunitasnya sendiri.

Oleh karena itu, satu lagi yg gw pelajari dari novel ini: KEJUJURAN itu mahal harganya.