Tuesday, December 02, 2008

A Blast from the Past

Saat menyiapkan baju dan peralatan untuk Notodisurjo's Gathering di Pasir Mukti, ide yang muncul di kepala gw adalah cerita tentang betapa repotnya Baby's Night Out ;). Maklum, meskipun hanya menginap semalam, barang bawaan Nara banyaaaaaak banget! Setengah bagasi sendiri, sampai tas baju gw, Ima, dan pengasuhnya Nara harus diselip2kan ;)

Hari pertama di lokasi, gw nemu ide cerita baru: My Own Private Amazing Race. Memang, berlibur di Pasir Mukti seperti ikutan Amazing Race. Untuk mencapai lahan itu, petunjuknya nyempil. Satu2nya jalan adalah melewati Pasar Citereup yang becek, ramai, dan free-for-all-angkot ;-) Kalau mata nggak dipasang baik2, bakal kelewatan deh belokan di tengah pasar itu. Persis kayak route info di Amazing Race yang sering bikin racers tersesat ;-)

Sampai di lokasi, perjuangan belum berakhir. Lokasi berhektar2 itu petunjuknya minim banget. Kayaknya emang dirancang supaya orang tersesat di lokasi, biar sekalian olahraga untuk menemukan "jalan yang benar"... hehehe... Bayangin, waktu gw & sepupu2 gw (baca: segerombolan ibu2 malas jalan yang naik mobil untuk mencari lokasi dimana anak2nya sedang bermain) tanya ke satpam dimana lokasi Flying Fox. Jawabannya, "Di sana, Bu, ikutin jalan turun itu".

Lha, begitu jalan diikutin, kok 5 menit kemudian kembali ke satpam yang sama? Begitu ditanya lagi, jawabnya, "Di sana, Bu, ikutin jalan ini. Ntar ketemu parkiran, tanya lagi aja sama satpam di sana" [dzigh!] Untung naik mobil! Coba kalau jalan kaki, udah berapa kalori terbuang sia2 gara2 petunjuk yang nggak jelas ini ;-)?

Terus... mesti lihat dong lahan ATV-nya ;-) Kurang lebih 1,5km dari lokasi penginapan dan.... sepanjang jalan sudah seperti lahan ATV beneran! Jalannya asli dari batu, konturnya naik turun bak gunung dan lembah. Dan.... petunjuk terakhir adalah 1km dari lokasi! Bikin sepupu2 gw yang tadinya tabah berjalan akhirnya nge-deprok di pertigaan ;-) Untung gw nyusul belakangan, habis nyuapin Nara dulu. Jadi... gw nyusul dengan mobil dan mereka bisa ikut. Tapi, yang gw takut habis ini mobil gw mesti periksa shock breaker deh... hehehe... secara jalannya berbatu2 gitu ;-)

Judulnya: lokasi ATV harus dicapai dengan 4WD, yang mana jelas mobil gw bukan salah satunya ;-) Tapi untung akhirnya sampai juga, sehingga gw bisa napak tilas Marc & Rovilson di final The Amazing Race Asia 2 - minus lahan pasir ;-)

Dan puas banget gw main ATV, karena ternyata untuk mengendarainya size does matter! Perlu tenaga ekstra untuk membelokkan kendaraan, seperti kalau nyetir mobil tanpa power steering. Akibatnya, sepupu2 gw yang twiggy type itu ketinggalan jauuuuh di belakang gw. Soalnya mereka terpaksa milih salah satu: nge-gas atau membelokkan setang. Tenaganya cuma cukup buat satu hal. Nggak bisa dua2nya kayak gw yang belok sambil nge-gas... HAHAHA...

*Sst.. padahal ATV-nya cc kecil banget. Cuma 150 cc doang! Tapi jangan bilang2 ya, yang penting gw bangga bisa mencapai garis akhir duluan ;-)*

***

Tapi kedua ide itu gw batalkan setelah malamnya kami seluruh keluarga besar berkumpul. Sebagai salah satu acara, Oom gw yang nomor 6 sudah menyiapkan sebuah presentasi tentang sejarah keluarga besar. Ya, memang salah satu agenda kumpul2 kali ini adalah soft launch buku silsilah Kartohadiprodjo, my late father's maternal ancestor.

Sebelum buku dibagikan dan silsilah yang ada di Geni Tree ditunjukkan, Oom gw khusus menujukkan foto2 jadul via slide show MS PowerPoint. Nggak tanggung2, ada foto kakek moyang kami yang diambil tahun 1819! Satu per satu foto itu ditunjukkan, disertai cerita sambung menyambung dari para paman gw.

And with that story I learn a lot about them...

Gw tahu, dengan 8 anak laki2, Eyang Putri & Eyang Kakung must've lived in hell ;-) Lha wong gw punya anak laki2 satu aja kayaknya kelebihan energi, mereka punya 8. D-E-L-A-P-A-N! Nggak kebayang kalau gw punya 8 anak kayak Nara ;-)

Tapi, gw baru tahu betapa repotnya mereka setelah mendengar cerita paman2 gw. Paman gw yang nomor 5, misalnya, pernah hampir mati gara2 main layangan di atap rumah. Rumah Eyang kan model loji Belanda yang atapnya tinggi dan curam. Nggak ada tempat nyaman untuk berdiri, apalagi menaruh benang layangan. Nah... berdirilah beliau ini di atap rumah dengan benang layangan dililitkan di lehernya!

Untung ketahuan dan cepat2 diturunkan ;)

Cerita lain lagi, ternyata paman gw yang nomor delapan (anak laki2 ke-7) tidak pernah punya dot yang utuh. Semua dot digunting karena beliau nggak sabar menunggu aliran susu. Selera minumnya sebagai bayi memang ruaaarrr biasa ;-)

Fun fact lainnya, ternyata paman gw yang nomor 4 itu seperti Mahar dalam Laskar Pelangi. Songong style.. hehehe.. sadar kamera banget, dan senang bergaya ;-) Dari semua foto masa kecil itu, tidak satu pun gaya beliau yang kaku. Pasti bergaya ;-)

Tapi yang paling fenomenal, tentu cerita tentang almarhum Bapak ;-)

Salah satu foto yang ditunjukkan memuat Bapak beserta kakak, 4 adiknya, serta dua anak pembantu. Namanya Satiran dan Satimin. Dua2nya punya story dengan kreativitasnya Bapak.

Anak pembantu yang besar, Satiran, pernah dibujuk Bapak supaya makan sabun. Yak! Sabun! Paman2 gw nggak tahu alasannya, tapi katanya sih itu salah satu dari eksperimennya Bapak. Samar2, gw ingat bahwa Bapak pernah cerita bahwa sejak kecil beliau memang senang bereksperimen. Salah satu eksperimennya semasa SR (= sekolah rakyat, atau sekarang SD) adalah: ingin tahu bagaimana jika sabun dimakan. Apakah rasanya enak? Apakah menimbulkan busa jika kena air ludah?

Dan untuk membuktikannya, Bapak membujuk Satiran memakan sabunnya.

Satimin, nasibnya lebih malang. Dibujuk Bapak untuk digantung lehernya. Asli! D-I-G-A-N-T-U-N-G! Paman2 gw juga nggak tahu alasannya, tapi... cerita mereka membuat gw mengingat salah satu cerita Bapak tentang eksperimennya. Waktu itu, Bapak ingin tahu bagaimana orang bisa mati bunuh diri. Jadi... dia bujuk Satimin untuk digantung, dan dicatat reaksinya sejak awal digantung.

Untung eksperimennya cepat diketahui ibunya! Kalau Satimin keburu meninggal, entah apa jadinya Bapak... hehehe.. Kata Bapak, beliau mendapatkan hukuman dari Eyang Putri gara2 eksperimennya ini. Ya iya lah! Nggantung anak orang!!

Hehehe... gw rasa, Bapak punya creative disorder! Maksudnya, punya kreativitas yang sangat tinggi, sehingga mengganggu ;-) Tahu kan, katanya madness heightens creative genius ;-)

*Jadi mikir... kalau Nara adalah karma kebandelan gw, maka... mungkin gw adalah karma buat Bapak... HAHAHAHA.. ;-)*

Tapi tidak semua kreativitasnya Bapak merupakan disorder ;-) Pada bagian lain presentasi itu, paman keenam gw menunjukkan sebuah foto berwarna. Ditilik dari tahunnya, awal 50-an, mestinya teknologi foto berwarna belum masuk Indonesia. Ternyata... itu hasil eksperimen Bapak! Bapak mewarnai bagian per bagian foto itu, yang merupakan cikal bakal kecintaan Bapak pada fotografi. Saking cintanya pada fotografi, Bapak sempat punya kamar gelap sendiri dan kemudian membiayai kuliahnya dengan membuka studio foto.

Cerita berlanjut. Ternyata, selain bereksperimen bikin kamar gelap, Bapak juga pernah "menciptakan" mesin penetas telur ayam sendiri semasa SMA. Not bad, mengingat Bapak justru dari SMA jurusan Bahasa, bukan PasPal ;-) . That's my father, my "geniusly" eccentric father whom I love so much ;-)

Tapi ada satu cerita yang menyentuh hati, yaitu cerita Eyang Putri semasa perang. Salah satu foto menunjukkan rumah keluarga besar kami di Solo dengan sebuah pohon pepaya di depannya. Cerita paman gw yang nomor 3, pada awal masa kemerdekaan, Eyang Putri dan keempat anaknya (satu masih bayi), pernah terkurung di rumah tanpa makanan. Eyang Kakung ikut berperang, dan tentara pelajar menembaki tentara Belanda dari halaman rumah.

Melihat anak2nya kelaparan, Eyang Putri merayap dari pintu belakang rumah menuju pohon pepaya. Jaraknya tidak kurang dari 20m. Sampai di bawah pohon pepaya, Eyang menyodok buah yang masih mengkal supaya jatuh. Tentara Belanda melihatnya, dan membidik beliau. Alhamdulillah umurnya belum sampai, sehingga tembakan itu meleset. Bahkan pelurunya mengenai pepaya itu sehingga jatuh dan bisa dibawa Eyang ke dalam rumah.

Gw sangat terharu mendengar cerita ini. Begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya, sampai rela berkorban nyawa untuk mereka.

*Nggak tahu juga ya, siapa tahu tentara Belandanya penembak jitu dan emang mau membantu seorang ibu memberi makan anaknya... ;-)*

Anyway... pingin juga share salah satu foto dari almh Eyang Putri dan alm Bapak, dua "orang hebat" yang menurunkan gw ;-) Foto ini gw pinjam dari presentasi paman keenam ;-) Kebetulan diambil pada pesta khitanan Bapak (duduk memakai sarung), sekitar tahun 1953. Waktu itu, Eyang Putri dan Eyang Kakung baru punya 7 anak ;-)


Fotonya sengaja dibikin kecil ya ;-) Biar nggak jelas... HAHAHAHA... ;-) Tapi, buat yang pernah lihat tampang gw, maka Eyang Putri itu wajahnya persis gw ;-)

*yang belum pernah lihat gw, terpaksa ngintip2 foto ini untuk bisa membayangkan bagaimana wajah gw ;-)*

Nggak sabar ingin ikut gathering berikutnya, to learn more about them ;-)

***

Bagaimana nasib dua ide cerita lainnya ;-)? Yaah, yang My Own Private Amazing Race sih ke laut aja deh ;-) Kalau yang Baby's Night Out, gw pindahkan ke sini ;-) Itu blog yang dibuat Ima untuk adiknya. Tapi namanya juga anak kecil, habis itu Ima males ngisinya ;-) Yah, gw isi aja deh, siapa tahu 40 thn dari sekarang, dalam sebuah gathering keluarga besar, nama gw disebut sebagai salah satu leluhur yang rajin mendokumentasikan sejarah keluarga... HAHAHAHA...