Ya udah! Situ yang minta ya... jangan nyesel kalau comment box-nya jadi koloseum filial ;-) Pokoknya resiko ditanggung penumpang! Sekalian ditulis di blog buat dokumentasi ;-)
Komentar Sang Pawang bisa disimak aslinya di sini. Plus jawaban singkat dari gw di sini dan sini (singkat aja 2 porsi, apalagi kalau panjang... HAHAHA..) Yang di bawah ini sudah gw mutilasi, soalnya, disesuaikan dengan alur gw menjawabnya ;-)
Dear Maynot,
"Kita semua benar dalam sudut pandang atau persepsi kita masing-masing".Dan ketika tindakan yang sama, ditukar sudut pandangnya, skor akhir antara BENAR atau SALAH bisa berubah-ubah tak terhingga.
Yang menjadi masalah, ketika terjadi perbedaan pendapat (yang tentunya berakar pada perbedaan sudut pandang), kita seringkali merasa ada pihak yang benar, dan otomatis pihak lain menjadi salah.
Dalam sudut pandang saya, kita setiap hari merusak uang dan mengorbankan orang lain. Ketika uang dipakai untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, atau produk yang tidak menunjang kesehatan dan kehidupan, ketika membeli buku atau musik yang tidak terlalu sesuai selera. Ini juga 'biaya' yang tak disadari harus kita bayar untuk kesia-siaan, tanpa harus melatih 'menyobek' uang.
Banyak orang kurang mampu secara ekonomi, mampu hidup dengan tentram dan bahagia, sementara banyak orang yang mampu secara ekonomi (meski itu tidak harus berarti jadi konglomerat), hidup penuh kuatir, takut dan stres tentang uang. Mengapa? Bukan karena mereka kurang menghargai uang, tetapi karena justru mereka terlalu menghargai uang. Lebih dari porsi penghargaan yang wajar, praktis dan sehat. Ini melahirkan berbagai gangguan mental yang menggerogoti kesehatan mereka, kebahagiaan hidup, bahkan mengorbankan relasi dengan orang-orang terkasihnya. Dan sejujurnya, saya banyak sekali menemui kasus seperti ini di kehidupan kota besar.
Wuih! Ada yang ngajarin gw tentang persepsi... HAHAHAHA... Gee, thanks honey, for the lecture on perception ;-) Tapi sayang, jaka sembung main gitar dengan apa yang gw ingin sampaikan.
Nggak tahu salah sambungnya dimana, tapi sebenernya sih gw nggak tertarik ngomongin tentang persepsi individu yang berbeda2 terhadap uang. Gw tahu banget bahwa persepsi individu terhadap suatu hal itu berbeda2.
Yang gw bicarakan kan: jika persepsi yang berbeda muncul dari satu obyek yang sama, apakah kemudian menjadi benar untuk menghancurkan sebuah benda demi menghilangkan persepsi tertentu?
Ibaratnya, kalau uang itu "bayi", maka si bayi itu bisa punya makna berbeda bagi orang2 di sekitarnya. Bisa sebagai anak, bisa sebagai cucu, sebagai keponakan, bahkan sebagai generasi muda harapan bangsa (wuih!)
Gw sampai buka2 lagi teori tentang attachment. Banyak cara menghilangkan attachment (= keterikatan emosional) kok! Tidak harus dengan merusak benda yang mengikat kita itu :-)
Untuk ketidakbahagiaan yang berakar pada terlalu menghargai uang ini, kita perlu menetralisir apresiasi berlebihan atas uang. Menyobek uang sebesar 1% income bulanan hanyalah salah satu latihan yang bisa dicoba, dan terus terang sangat efektif bagi yang siap mengalaminya.
Mendermakan uang juga latihan yang baik, untuk belajar melepas dan berbagi, namun mendermakan uang tidak menetralisir apresiasi yang berlebih.
Tapi pertanyaannya: yang bikin efektif itu tindakan menyobeknya, atau AKIBAT dari penyobekan itu? Tindakan menyobeknya, atau karena dia dengan sengaja membuat dirinya nggak bisa menggunakan uang itu lagi?
Gw kutipkan sebuah jurnal psikologi, tentang Effect of Attachment & Separation. Nggak persis ngomongin duit, tapi... pada dasarnya sama: keterikatan dapat diputus dengan perpisahan.
Atau... OK lah, mungkin kalau pisahnya baik2, seperti dengan berderma itu, maka keterikatannya nggak putus. Bisa kita atur kan, agar perpisahannya membuat seolah uang itu tidak bermakna? Ini gw punya beberapa alternatif berpisah dengan uang dengan cara menistakannya:
- Pergi ke warung pinggir jalan, ganjal meja di sana dengan tumpukan 100 ribu
- Random Throwing: buang setumpuk uang pada tiap tempat sampah ke 10. Kalau perlu, untuk lebih menistakan si uang, lokasinya dikonsentrasikan pada daerah pasar ikan yang bau dan becek.
- Masukkan duit dalam botol, larungkan botol itu di laut atau sungai.
Apakah cara2 di atas tidak akan lebih efektif daripada menyobek uang? Hipotesa gw sih efektivitasnya akan setara ;-) Tapi dengan satu perbedaan besar: kita tidak menghilangkan manfaat uang itu!
Uang yang sama masih dapat sampai ke tangan mereka yang membutuhkan :-) Amalan si uang itu tidak pasti terputus seperti ketika kita menyobeknya.
Kalau balik ke analogi uang dan bayi, si ibu memutus hubungan dengan membuang si anak. Atau meninggalkan begitu saja di rumah orang tuanya. Sama2 enak, si ibu gak dibebani anak, tapi si kakek tidak kehilangan cucu.
Dan dalam sudut pandang saya juga, kita semua, termasuk seorang tukang bakso ataupun pemulung, sudah punya pundi-pundi rezeki sendiri dari Sang Ilahi, sehingga memikirkan uang Rp. 2.000 yang KITA miliki, dan bagaimana seandainya itu uang menjadi tambahan penghasilan kaum yang kurang mampu, mengajarkan kita untuk tidak menggunakan uang secara sia-sia.Sia-sia atau tidak, sangat tergantung niat dan pengalaman yang kita dapatkan dari suatu kegiatan, bukan teori atau asumsi yang kita perkirakan tentang kegiatan tersebut.