Friday, December 05, 2008

I'm Not the Center of the Universe!

Awalnya menanggapi posting ibunya Vajra tentang pencerahannya ini. Gw ikut senang Nona Mellow Gumellow mendapatkan pencerahan, tapi gw menistakan caranya mendapatkan pencerahan itu. Yaaah... kalau gw bisa mencak2 karena tindakan melipat2 uang kertas, tentu wajar banget kalau gw menistakan tindakan menyobek2 uang kertas seperti ini.

Yup! Teman atau bukan, gw mah nggak pernah nahan2 lidah hanya demi keharmonisan ;-) All brain, no feeling, kan ;-)? Lagian, kata Oscar Wilde, a true friend stabs you in the front ;-)

Namun ternyata kemudian si Pawang Sobek, orang yang mengajarinya untuk menyobek2 uang, memberikan tanggapan balik. Dan si Nona Mellow minta gw memperpanjang polemik ini dengan embel2: "To be honest, gw tertarik banget nyimak 'adu persepsi' kalian dlm hal ini, interesting!"

Ya udah! Situ yang minta ya... jangan nyesel kalau comment box-nya jadi koloseum filial ;-) Pokoknya resiko ditanggung penumpang! Sekalian ditulis di blog buat dokumentasi ;-)

Komentar Sang Pawang bisa disimak aslinya di sini. Plus jawaban singkat dari gw di sini dan sini (singkat aja 2 porsi, apalagi kalau panjang... HAHAHA..) Yang di bawah ini sudah gw mutilasi, soalnya, disesuaikan dengan alur gw menjawabnya ;-)

Dear Maynot,

"Kita semua benar dalam sudut pandang atau persepsi kita masing-masing".Dan ketika tindakan yang sama, ditukar sudut pandangnya, skor akhir antara BENAR atau SALAH bisa berubah-ubah tak terhingga.

Yang menjadi masalah, ketika terjadi perbedaan pendapat (yang tentunya berakar pada perbedaan sudut pandang), kita seringkali merasa ada pihak yang benar, dan otomatis pihak lain menjadi salah.

Dalam sudut pandang saya, kita setiap hari merusak uang dan mengorbankan orang lain. Ketika uang dipakai untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, atau produk yang tidak menunjang kesehatan dan kehidupan, ketika membeli buku atau musik yang tidak terlalu sesuai selera. Ini juga 'biaya' yang tak disadari harus kita bayar untuk kesia-siaan, tanpa harus melatih 'menyobek' uang.

Banyak orang kurang mampu secara ekonomi, mampu hidup dengan tentram dan bahagia, sementara banyak orang yang mampu secara ekonomi (meski itu tidak harus berarti jadi konglomerat), hidup penuh kuatir, takut dan stres tentang uang. Mengapa? Bukan karena mereka kurang menghargai uang, tetapi karena justru mereka terlalu menghargai uang. Lebih dari porsi penghargaan yang wajar, praktis dan sehat. Ini melahirkan berbagai gangguan mental yang menggerogoti kesehatan mereka, kebahagiaan hidup, bahkan mengorbankan relasi dengan orang-orang terkasihnya. Dan sejujurnya, saya banyak sekali menemui kasus seperti ini di kehidupan kota besar.


Wuih! Ada yang ngajarin gw tentang persepsi... HAHAHAHA... Gee, thanks honey, for the lecture on perception ;-) Tapi sayang, jaka sembung main gitar dengan apa yang gw ingin sampaikan.

Nggak tahu salah sambungnya dimana, tapi sebenernya sih gw nggak tertarik ngomongin tentang persepsi individu yang berbeda2 terhadap uang. Gw tahu banget bahwa persepsi individu terhadap suatu hal itu berbeda2.

Yang gw bicarakan kan: jika persepsi yang berbeda muncul dari satu obyek yang sama, apakah kemudian menjadi benar untuk menghancurkan sebuah benda demi menghilangkan persepsi tertentu?

Ibaratnya, kalau uang itu "bayi", maka si bayi itu bisa punya makna berbeda bagi orang2 di sekitarnya. Bisa sebagai anak, bisa sebagai cucu, sebagai keponakan, bahkan sebagai generasi muda harapan bangsa (wuih!)

Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah dibenarkan bagi seorang ibu untuk membunuh anaknya demi memutus keterikatan dengan anak tersebut? Apakah tindakan membunuh si anak, yang notabene juga membuat kakek kehilangan cucu, paman kehilangan keponakan, bangsa kehilangan salah satu tunas muda, adalah sesuatu yang benar?

Gw sampai buka2 lagi teori tentang attachment. Banyak cara menghilangkan attachment (= keterikatan emosional) kok! Tidak harus dengan merusak benda yang mengikat kita itu :-)

Untuk ketidakbahagiaan yang berakar pada terlalu menghargai uang ini, kita perlu menetralisir apresiasi berlebihan atas uang. Menyobek uang sebesar 1% income bulanan hanyalah salah satu latihan yang bisa dicoba, dan terus terang sangat efektif bagi yang siap mengalaminya.

Mendermakan uang juga latihan yang baik, untuk belajar melepas dan berbagi, namun mendermakan uang tidak menetralisir apresiasi yang berlebih.

Ya, OK, menyobek uang itu efektif untuk menetralisir apresiasi berlebih terhadap uang. Efektif mengikis mata duitan (= baik tergila2 pada duit, atau selalu merasa nggak punya duit). Efektif membuat orang merasa biasa2 saja dengan duit.

Tapi pertanyaannya: yang bikin efektif itu tindakan menyobeknya, atau AKIBAT dari penyobekan itu? Tindakan menyobeknya, atau karena dia dengan sengaja membuat dirinya nggak bisa menggunakan uang itu lagi?

Gw kutipkan sebuah jurnal psikologi, tentang Effect of Attachment & Separation. Nggak persis ngomongin duit, tapi... pada dasarnya sama: keterikatan dapat diputus dengan perpisahan.

Atau... OK lah, mungkin kalau pisahnya baik2, seperti dengan berderma itu, maka keterikatannya nggak putus. Bisa kita atur kan, agar perpisahannya membuat seolah uang itu tidak bermakna? Ini gw punya beberapa alternatif berpisah dengan uang dengan cara menistakannya:

  1. Pergi ke warung pinggir jalan, ganjal meja di sana dengan tumpukan 100 ribu

  2. Random Throwing: buang setumpuk uang pada tiap tempat sampah ke 10. Kalau perlu, untuk lebih menistakan si uang, lokasinya dikonsentrasikan pada daerah pasar ikan yang bau dan becek.

  3. Masukkan duit dalam botol, larungkan botol itu di laut atau sungai.

Apakah cara2 di atas tidak akan lebih efektif daripada menyobek uang? Hipotesa gw sih efektivitasnya akan setara ;-) Tapi dengan satu perbedaan besar: kita tidak menghilangkan manfaat uang itu!

Uang yang sama masih dapat sampai ke tangan mereka yang membutuhkan :-) Amalan si uang itu tidak pasti terputus seperti ketika kita menyobeknya.

Kalau balik ke analogi uang dan bayi, si ibu memutus hubungan dengan membuang si anak. Atau meninggalkan begitu saja di rumah orang tuanya. Sama2 enak, si ibu gak dibebani anak, tapi si kakek tidak kehilangan cucu.

Dan dalam sudut pandang saya juga, kita semua, termasuk seorang tukang bakso ataupun pemulung, sudah punya pundi-pundi rezeki sendiri dari Sang Ilahi, sehingga memikirkan uang Rp. 2.000 yang KITA miliki, dan bagaimana seandainya itu uang menjadi tambahan penghasilan kaum yang kurang mampu, mengajarkan kita untuk tidak menggunakan uang secara sia-sia.

Sia-sia atau tidak, sangat tergantung niat dan pengalaman yang kita dapatkan dari suatu kegiatan, bukan teori atau asumsi yang kita perkirakan tentang kegiatan tersebut.

Betul, rejeki memang sudah diatur oleh Sang Ilahi. Oleh karena itu, apa hak kita merusak sesuatu yang bisa menjadi rejeki orang lain? Apa hak kita untuk menentukan bahwa 1% penghasilan itu sah2 saja kita sobek, karena itu rejeki kita sendiri? Emangnya kita Tuhan, sehingga YAKIN bahwa tidak ada dari uang yang kita sobek2 itu yang sebenarnya adalah REJEKI ORANG LAIN yang DITITIPKAN TUHAN MELALUI TANGAN KITA?

Rejeki bukanlah takdir yang tidak dapat diubah seperti lahir, jodoh, dan mati. Sangat mungkin Tuhan menetapkan bahwa jika si X bekerja demikian, maka suatu hari dia akan bertemu dengan si B yang dititipi rejeki itu. Lha, kalau uangnya sudah disobek2 si B, apa nggak namanya si B memutus rejeki si X.

Sebagai seorang natural healer, mestinya ia tahu bahwa setiap titik di alam semesta ini saling terkait. Dengan demikian, tidak seorang pun yang berhak merusak sesuatu. Pun tidak 1% dari pendapatannya ;-) Karena apa yang dimilikinya itu, 1% pendapatannya itu, belum tentu miliknya sendiri. Segala sesuatu di alam semesta ini hanya titipan-Nya ;-)

So, dear Reza, I don't think this is about your perception vs my perception ;-) This is not about the readiness to accept the method or not. This is about us being a dust in the wind ;-) Dunia dan alam semesta ini lebih luas daripada sekedar hubungan antar pribadi, hubungan antara seseorang dengan sesuatu (dalam hal ini: uang), dari pengalaman kita terhadap sesuatu, dari immediate result tindakan kita terhadap sesuatu, dari niat kita dalam melakukan sesuatu, karena setiap titik di alam semesta ini saling terhubung.

Itu sebabnya dalam agama saya, diajarkan bahwa niat yang baik sudah merupakan suatu kebaikan. Tapi niat yang baik juga harus dinyatakan dengan baik, dan dilakukan dengan cara yang baik ;-)

I'm sure that a man of your calibre know this. If you are not, so please God help those who come to you for advice ;-) Terus terang, gw sih nggak akan bangga dan merasa tercerahkan kalau bisa nyobek2 duit. Gw akan merasa malu dan nista, karena sudah berhasil menempatkan diri gw sebagai center of the universe ;-) Yang melihat bahwa apa pun boleh dan sah demi kemaslahatan diri gw; bahwa kesia2an atau ketidaksia2an hanya dinilai dari niat dan hasil terhadap DIRI SENDIRI ;-)

The Aftermath:

Tapi kayaknya memang sulit baginya untuk bisa melihat ini ;-) Karena, seperti diakuinya sendiri dalam the aftermath, dia masih melihatnya sebagai "nuansa pengalaman langsung non-teoritis [pribadi]" ;-) Itu sebabnya dia mengatakan bahwa bisa/tidaknya melakukan "tindakan ekstrim" menyobek2 uang butuh suatu kesiapan; berani melompati ketakutan dan analisa or whatever ;-) Sementara... buat gw, sampai kapan pun kita tidak punya hak untuk MERUSAK-nya. Karena dengan membuatnya nggak berharga, nggak bisa dipakai lagi, maka kita merugikan orang lain ;-)

Uang, seperti dikatakan Reza dalam the aftermath itu, adalah energi netral. Gw setuju bahwa uang itu energi netral. Oleh karena itu, sebagai energi, dia menghubungkan energi2 lainnya. Dengan merusaknya, menghancurkannya, membuatnya tidak dapat digunakan lagi, berarti kita dengan sengaja merusak keseimbangan ;-) Dan jika kita merusak keseimbangan, berarti kita merugikan orang lain, which is a horrible thing to do apa pun alasannya ;-)