Saturday, November 14, 2009

Jumat Kliwon the 13th, [not yet] 2012

Apa yang terlintas di benak Anda bila mendengar kata "Friday the Thirteenth"? Kalau mendengar kata "Jumat Kliwon"? Horor? Ya, benar sekali ;-) Apalagi jika kebetulan Friday the Thirteenth jatuh pada pasaran Kliwon. Horor pangkat dua ;-) Tambahkan sekalian after office hour di Jakarta, seputaran Sudirman - Thamrin, dan selepas hujan badai yang mengguyur Jakarta sejak sekitar pukul 15:30. Dijamin, ini adalah kombinasi yang "enggak banget" untuk pergi kemana2 :-)

Tapi.... seperti di film2 horor lainnya, entah mengapa justru kami - Notodisurjo 3G - justru ndilalah memilih hari tersebut untuk nonton bareng. Nontonnya juga nggak tanggung2: 2012, jam 19:15, di Plaza Senayan. Jadilah... series of unfortunate events melanda kami2 semua ;-)

Dari kantor gw yang cuma di Kuningan itu, gw butuh 2 jam untuk mencapai Plaza Senayan. Padahal gw lewat Sudirman, karena memenuhi kuota 3-in-1 bareng nyokap gw dan Ima. Macetnya aje gileee.... dan the credit goes partly to penjahat pejabat yang menyebabkan gw tertahan di jalur lambat depan Kampus Atmajaya selama 35 menit tanpa bergerak sama sekali. Gw berangkat dari kantor jam 16:45, dengan harapan bisa makan malam dulu sebelum nonton. Ternyata.... boro2 makan. Jam 18:50 gw baru masuk PS!

Tapi ternyata penderitaan gw bukan yang terparah... hehehe... Ipar gw, hingga pintu teater telah dibuka, masih tertahan di Pejompongan. Istrinya sepupu gw, jam 19:00 masih belum dapat taksi di Citos. Daaan... yang paling kebat-kebit, sepupu gw yang membawa ke-14 tiket kami semua, ternyata baru datang 19:20... hehehe.... Untung trailernya banyak. Dan mungkin karena kami sudah beli 14 tiket, XXI agak berbaik hati mengundurkan pemutaran filmnya :-) Jadi deh gw nonton dari awal sampai akhir.

Penderitaan gw berlanjut selama film yang lumayan panjang ini. Pampered by Blitz Megaplex selama beberapa bulan terakhir, gw udah lupa bagaimana nggak nyamannya nonton di jaringan 21 - biarpun yang XXI sekalipun. Gw udah lupa bagaimana sakitnya pinggang kalau kebetulan kita duduk di depan penonton yang nggak tahu diri; terus menerus menendang bangku di depannya ;-) Dan... karena filmnya ini menegangkan, jangan heran kalau pinggang gw langsung biru2 *halah, lebay!*

Untung filmnya sendiri memuaskan untuk ditonton ;-) Seru, menegangkan, dan.... gw senang dengan pendekatannya yang lebih menekankan pada reaksi orang per orang dalam menghadapi yang tak terhindarkan. Meskipun akhirnya masih terlalu happy ending seperti lazimnya film Hollywood, tapi... setidaknya jauuuuuuhhh lebih asyik daripada film yang gw tonton karena salah perkiraan: 2012 Doomsday.

*untung yang terakhir itu nontonnya di DVD bajakan, jadi nggak terlalu berasa rugi... hehehe..*

[Spoiler Alert!] -- silakan berhenti membaca bagi yang belum nonton 2012

Film ini menggunakan pendekatan mirip Crash, sehingga di awal2 film penonton mungkin bingung dan membosankan, karena banyak banget tokoh yang dimunculkan. Seperti Crash juga, seiring berjalannya film, barulah terlihat keterkaitan dan jalinan kisah hidup antar tokoh2 tersebut. Jadi... buat mereka yang nonton film ini untuk cari seru2an dan males mikir panjang2, mendingan datang di pertengahan film aja... hehehe... Waktu bumi sudah mulai terbelah dan kerak bumi saling berpindah ;-)

Sekitar setengah jam film berjalan, barulah kita bakal "ngeh" bahwa plot utama filmnya berkisar pada dua tokoh: si penasihat kepresidenan, Adrian Helmsley, yang terus berkutat dengan perasaan bersalahnya karena temuannya tentang "kiamat" ini akhirnya justru disalahgunakan, serta Jackson Curtis, si "bukan siapa2" yang hanya ingin menyelamatkan anak2 dan [mantan] istrinya. Ya, temuan Adrian Helmsley membuat para pemimpin negara sempat membangun beberapa bahtera seperti kapal Nabi Nuh AS, untuk menyelamatkan spesies2 di bumi dari kepunahan. Sementara Jackson Curtis adalah satu dari milyaran orang "biasa" di dunia yang berjuang untuk bisa masuk ke dalam bahtera itu.

Tokoh2 lainnya, plot2 lainnya, yang terkesan rumit, pada akhirnya adalah bagian dari kisah yang menyatukan dua plot utama ini. Carl Anhauser dan Yuri Karpov sang oportunis, masing2 adalah penyebab rasa bersalah Helmsley dan penghambat upaya Curtis; the first daughter Laura Wilson yang menjadi conscience bagi Helmsley; serta Gordon Silberman yang mendorong Curtis untuk tampil optimal dalam upayanya - melalui persaingan menjadi pria utama bagi [mantan] istri Curtis.

Tapi yang menarik bagi gw dalam film ini adalah bagaimana reaksi tiap2 individu menghadapi hari akhirnya. Ada yang pasrah sumarah seperti ayah Helmsley. Ada pemimpin negara yang mengabaikan privilege untuk diselamatkan dalam bahtera yang sudah dipersiapkan bertahun2; yang satu karena merasa "tempatnya adalah di samping rakyat hingga titik darah penghabisan", sementara yang satunya memilih untuk "berdoa bersama para kardinal" di Vatikan hingga Vatikan rata dengan tanah.

Film ini menjadi menarik pula dengan tampilnya "sifat2 asli" manusia jika menghadapi hidup-mati: egois. Di akhir2 cerita terlihat bagaimana Anhauser dan kroni2nya "tega" menjual kursi di bahtera tersebut seharga 1 Milyar Euro per orang... dengan mengabaikan hak Satnam, ilmuwan India rekan kerja Helmsley dalam menemukan bukti2 ilmiah akan terjadinya "kiamat". Helikopter yang dijanjikan untuk menjemput Satnam tak pernah mampir di India, hingga India terhapus dari muka bumi oleh tsunami. Seperti kisah2 jaman kolonial, Satnam adalah pribumi tak berharga; dapat dieksploitasi, tapi tidak untuk diselamatkan.

Sepanjang menonton film ini, gw menjadi sadar dan berpikir: apa yang akan gw lakukan jika akhir dunia di depan mata? Akankah gw jadi seperti Jackson Curtis dan Yuri Karpov, yang melakukan segala upaya agar anak2 gw bisa selamat? Ataukah gw akan seperti Satnam, yang merengkuh anak dan istrinya dalam pelukan, and face the death with dignity. Atau... bisakah gw seperti Perdana Menteri Italia yang memilih untuk berdoa hingga ajal menjemput? Seperti Rinpoche pada biara di puncak gunung, yang menyambut akhir dunia ini dengan membunyikan lonceng besar? Lonceng itu bukan sangkakala sih... tapi... beneran deh, pas sang Rinpoche membunyikannya, gw merinding. Berasa seakan2 mendengar Izrafil membunyikan sangkakala di akhir dunia. It must be a helluva job, nggak ngerjain apa2 di sepanjang jaman, just to be ready for the end ;-)

Betul, film ini menjadi menarik buat gw karena bisa membuat gw benar2 berpikir tentang akhir dunia. Tapi ada satu aspek lagi yang membuat gw senang pada film ini: film ini tidak gegabah untuk membawa orang semakin percaya bahwa 2012 adalah kiamat. Di akhir cerita, tiga bahtera yang selamat bergerak menuju darata Afrika, yang kini menjadi "atap dunia" yang baru. Tujuannya? Cape of Good Hope. Tanjung Harapan. Satu2nya tempat yang selamat seutuhnya.

In a way... akhir cerita ini - meskipun terlalu happy ending -menjadi menarik. Karena secara tidak langsung menyatakan bahwa kita memang tidak pernah tahu kapan terjadinya kiamat. Bahkan, setelah semua bukti ilmiah tak terbantahkan menunjukkan kiamat terjadi pada 2012, ternyata itu bukan kiamat yang sesungguhnya. Itu adalah akhir jaman ini, tapi bukan kiamat yang disebut2 dan dipercayai dalam kitab suci. It's just another disaster, another recycling step, of this good old earth ;-)

Menjadi menarik karena ending film ini tetap menimbulkan harapan bahwa kita nggak perlu terbebani dengan ramalan2 tentang 21 Desember 2012. We never know when the end of the world is. Science still cannot beat religion.... scientists still cannot beat God ;-) Menurut gw itu suatu pesan tersembunyi yang bagus.

Ending film ini juga membuat gw berpikir tentang Hot, Flat, and Crowded (Thomas L. Friedman). OK, he has his point, bahwa bila kita nggak segera bertindak, maka bumi kita akan semakin teracuni. Tapi... gw jadi malah berpikir: kalau bumi sudah sedemikian "sakit", apa nggak memang sebaiknya kita serahkan untuk didaur-ulang oleh-Nya aja ya? Bahwa daur-ulang itu tak terhindarkan, dan... ini adalah bagian agar kita sadar untuk bersiap2? Ya, ya, kita tentu masih harus berusaha menyelamatkan dunia sampai titik darah penghabisan, tapi... mungkinkah fokus kita seharusnya tidak lagi pada mencoba menyelamatkan, melainkan bahwa mempersiapkan diri?

Hehehe... nggak tahu juga deh... ;-)

[SPOILER ENDS]

Tapi satu hal yang menarik buat gw. Kenapa ya... hari terakhir pada penanggalan suku Maya adalah 21 Desember 2012? 21/12/2012? Jangan2 suku Maya ini nenek moyangnya tukang jual Kartu Perdana, yang hobby menjual nomor cantik ;-) Akhir dunia jadi 21/12/2012 karena kalau mau yang angka cantik 20/12/2012 harganya lebih mahal... HAHAHAHA...

Angka cantik ini juga memperjelas kenapa data Google Analytics gw menunjukkan posting berjudul 2 Oktober 2014 terus menerus menjadi salah satu top landing pages. Tadinya gw kira karena makin banyak yang cinta batik... hehehe... Tapi sekarang ada kemungkinan lain: orang mengira gw nabi baru yang memprediksi kiamat bukan jatuh di 2012, tapi dua tahun kemudian... HAHAHAHA...

*oops, delusion of grandeur ;-)*

***

Dan jika ada di antara Anda2 yang berpikir bahwa simakan gw terhadap film ini yang begitu khusyuk akan menghindarkan dari further series of unfortunate events, maka tebakan Anda salah ;-) Jumat Kliwon tetap horor, dan Friday the 13th tetap mengerikan ;-)

Bubar dari nonton film, kami2 ber-15 berfoto ria di depan kafetarianya XXI PS. Depan kafetaria, bukan studio! Dan latar belakangnya adalah dinding, bukan poster2 atau karya2 kreatif yang gak boleh difoto karena bisa dikenai pasal2 "hak cipta". And you know what? Seorang petugas keamanan bersafari hitam dengan manisnya berusaha menutup lensa kamera dengan tangan :( Katanya nggak boleh foto2 di situ, karena melanggar hak cipta :( Hak cipta yang mana, dia tidak [bisa] menjelaskan... ;-)

So... demi membuat jengkel Pak Petugas Keamanan Bersafari Hitam... gw sengaja tampilkan foto itu... biarpun gagal... di sini... hehehe.... Lengkap dengan tangannya si bapak petugas ;-) Mungkin foto jari2nya bakal gw perbesar, dan dikirim ke Grisson dkk untuk dilihat sidik jarinya ;-)


Nggak usah dicoba2 memperbesar fotonya. Emang sengaja gw bikin kecil banget biar tampang sepupu2 gw yang cantik serta ganteng tidak terlihat... ;-) Ini kan preview, selebihnya... bayar! HAHAHAHA...

Sekalian biar Pak Petugas Keamanan lebih jengkel, gw sertakan foto lobby pesaingnya, Blitz Megaplex MOI.


Di Blitz boleh lho, Pak, foto2... hehehe....