Tuesday, December 11, 2007

Sang Guru

Saya pertama kali berada di kelasnya pada Studium Generale semester ganjil, yang kalau tidak salah terjadi tahun 1994.

Isi Studium Generale-nya apa, terus terang saya juga sudah tidak ingat. Hanya menduga bahwa isinya nggak akan jauh dari materi kesukaan beliau: potensi perkembangan (mental) manusia. Sebab saya ingat bahwa di satu titik beliau mengeluarkan pertanyaan, berupa sebuah kutipan yang tidak selesai, dan meminta mahasiswa peserta untuk menyelesaikan kalimat itu:

Beauty is in the eye of.. ? Ada yang tahu?“

Saya, yang menyimak isi kuliah umumnya sepenuh hati (dan sepenuh pendengaran ;-)), serta kebetulan menyukai frasa itu, menyahut pelan saja.

“.. of the beholder

Pelan saja saya menjawab, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sebab saat itu saya masih terlalu grogi dan tidak percaya diri untuk menjawab pertanyaan Sang Guru Besar, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Namun mata Sang Guru Besar sangat tajam untuk menangkap gerak bibir saya, yang duduk di baris kedua Aula Fakultas Psikologi UI itu.

“Ya, benar! Beauty is in the eye of the beholder

Sang Guru Besar mengulangi jawaban saya untuk seluruh peserta. His eyes twinkled, ketika beliau menatap saya sepersekian detik, sebelum kembali berjalan menuju papan tulis.

Saya tidak mengira beliau akan mengingat peristiwa itu. Saya rasa, bukanlah hal yang luar biasa untuk tahu dan dapat menjawab frasa seumum itu. Itu bukan frasa yang hanya diketahui oleh para filsuf, atau kutubuku, atau orang-orang pintar. Namun ternyata beliau mengingatnya, karena ketika pertanyaannya tidak terjawab dalam mata kuliah Kapita Selekta Filsafat beberapa waktu kemudian, beliau bertanya langsung pada saya,

”Anda, yang waktu itu menjawab pertanyaan saya, apa buku yang paling istimewa?”

Duuh.. tentu saja saya tidak tahu bahwa maksud beliau adalah An Essay on Man, buah karya Ernst Cassirer. Buku yang menurut beliau paling istimewa karena sejak diterbitkan tidak pernah mengalami revisi. Menurut beliau, sebuah buku yang tidak perlu direvisi, dan tidak digugat untuk direvisi, adalah buku yang istimewa; penulisnya benar-benar tahu apa yang ia bicarakan sehingga tidak menyisakan ruang untuk revisi.

Setelah membaca buku itu sebagai tugas bacaan, saya akui memang buku itu bagus. Namun.. tak pelak saya tergelak juga beberapa tahun kemudian, saat membaca tulisan istri beliau dalam Fuad Hassan: di Antara Hitam dan Putih. Dalam tulisan para sahabat menyambut ulang tahun beliau yang ke-70 itu, Ibu Tjiptaningroem Hassan menulis:

”Saya pertama kali mengenal Fuad Hassan ketika ia datang ke perpustakaan tempat saya bekerja. Fuad bermaksud meminjam buku E. Cassirer yang berjudul An Essay on Man. Karena kebetulan saya punya bukunya, saya pinjamkan. Dari situ mungkin kemudian awalnya kita berkenalan… Waktu mengembalikan buku, dia bilang dia menulis sesuatu di buku saya yang dipinjamnya. Ternyata sebuah lagu gubahannya sendiri..”

(hal. 69)

Betul, Pak! An Essay on Man memang benar-benar bagus ;-) Dan lebih bagus lagi karena ada ikan cupang di balik ganggang laut seperti ini kan, Pak ;-)?

Mata kuliah Kapita Selekta Filsafat, satu-satunya mata kuliah dimana beliau mengajar saya, masih saya kenang sebagai salah satu mata kuliah paling menyenangkan. Beliau sangat pandai mengulas pemikiran para filsuf, dan memberikan makna di balik yang tersurat. Mengaitkan pendapat filsuf yang ini, dengan filsuf yang itu, dari aliran yang berbeda, untuk menemukan inti sejati dari pemikiran-pemikiran mereka. Bertahun-tahun kemudian, ketika beberapa teman menghebohkan Dunia Sophie (Jostein Gaarder) yang mengajarkan filsafat dengan gaya bahasa ringan dan asyik, saya hanya punya satu komentar:

”Kuliahnya Pak Fuad juga kayak gitu. Malah lebih asyik lagi, lebih dalam pemaknaannya”

Ya, mendengarkan kuliah beliau lebih asyik daripada membaca novel Gaarder. Kita bagai dininabobokkan dengan dongeng, walaupun tokoh-tokohnya adalah filsuf dunia. Meminjam kata-kata Goenawan Mohammad dalam buku yang sama:

”Dia kurus, pakaiannya putih-putih, tapi lebih penting lagi: kalimat-kalimatnya ringan seperti tubuhnya dan terang seperti bajunya. Ia mengutip Nietzsche dan lain-lain, tapi mahasiswa-mahasiswa mengerti.”

(hal. 33)

Namun tidak semua bagian dari kuliah beliau mengasyikkan. Ada pula bagian yang kurang mengasyikkan. Menjelang ujian akhir semester, beliau memberikan kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan buat saya; yaitu tentang tata cara penilaian ujian akhir. Kurang lebihnya beliau mengatakan begini:

”Saya sebenarnya tidak suka dengan penilaian. Tapi di fakultas ini kan ujian harus diberi nilai. Jadi begini saja.. peserta kuliah di sini ada berapa? Lima puluh? Enam puluh? Sepuluh orang yang keluar pertama akan mendapatkan nilai A. Sepuluh yang kedua nilai B, begitu seterusnya hingga yang keluar terakhir”

Tentu saja saya menganggapnya tidak menyenangkan! Dengan pemberian nilai sesuai urutan keluar ruang ujian, tentunya memperbesar kemungkinan bahwa mereka yang mencontek akan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada mereka yang benar-benar mengerjakan. Dimana letak keadilan? Tentu saja saya memprotes hal ini, dan beginilah jawaban beliau:

”Lho, Anda ini kuliah, belajar, untuk mencari pengetahuan atau mencari nilai?”

Jawaban yang membuat saya diam, namun tetap masygul ;-). Saya mengerti bahwa yang dikatakan beliau benar, bahwa bagaimana pun nilai ujian tidak selalu berbanding lurus dengan pengetahuan. Namun, di sisi lain, saya juga tidak rela jerih payah saya dihargai dengan tidak semestinya.

Saya belajar keras untuk ujian akhir. Namun tetap saja, ketika ujian berlangsung, saya masih menemui kesulitan mendedah kata-kata beberapa filsuf. Dengan masygul dan sedih, saya melihat satu per satu teman-teman saya - beberapa di antaranya saya ketahui sebagai ahli membuat contekan dan memindahkan contekannya ke kertas ujian - keluar lebih dahulu. Saya baru berhasil keluar ketika peserta ujian tinggal kurang lebih separuhnya. Sibuk menata hati untuk menerima kenyataan pahit bahwa hidup ini bukan dongeng anak-anak, dimana the good ones always win, and the bad ones always lose. Bahwa dalam hidup ini kadang jerih payah jujur seringkali dikalahkan juga kecurangan yang lihai.

But I got an A.. ;-)

Beliau tidak menafikan jerih payah saya. Beliau ”menyalahi janji”, namun dalam konotasi yang baik.

Demikianlah, Sang Guru memberi saya pelajaran hingga detik terakhir ujian: bahwa walaupun dunia ini tidak ideal, banyak ketidakadilan, namun selalu ada tempat bagi mereka yang mau berusaha. Maka teruslah berusaha, karena pada akhirnya usaha itulah yang memberikan ”nilai” pada hasil yang kita dapatkan; apakah kita sekedar mendapatkan nilai A, atau mendapatkan nilai A dengan kepala tetap tegak dan bangga.

Selamat jalan, Pak! Selamat menjalani hari-hari dimana kopi dan rokok tak lagi dibatasi oleh ketersediaan barang dan/atau kondisi kesehatan ;-)

***

Mengenang Sang Guru, Prof. DR. Fuad Hassan, yang wafat Jumat, 7 Desember 2007.