Saturday, December 01, 2007

Dan Saya pun Berdakwah

Eits! Jangan tertipu dengan judul ;-). Gw tidak sedang bermetamorfosa menjadi Luthfiah Sungkar atau Neno Warisman ;-) Jadi Inneke Koesherawati aja enggak (walaupun gw yakin bapaknyaima nggak nolak kalau istrinya jadi mirip Inneke.. HAHAHAHA..). Dan terakhir gw cek, di kepala gw belum tumbuh halo. Kalau HaloScan sih tetap ada di blog ;-)

Tapi memang gw berdakwah.. berdakwah tentang mazhab siletiyah ;-)

Kejadiannya udah sekitar 2 minggu yang lalu, tapi baru punya mood (lagi) buat nulis setelah baca posting Ardho tentang rencana film terbarunya Geert Wilders.

Jadi, ceritanya, sekitar 2 minggu lalu di salah satu milis yang gw ikuti ada gontok2an standard. A stupid Moslem moron (catatan: jangan lupa ada kata ”a” di situ, artinya singular, jangan terpaku pada kata Moslem-nya ;-)) mulai nulis2 tentang kekafiran umat lain, penuh dengan nada bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-jatuh-padamu. Tadinya gw udah nggak mau ikut2an, biarlah yang punya agama membela agamanya sendiri. Gw nggak mau ikutan, apalagi ngebelain ”saudara seiman” (tsah!) yang emang bikin gara2. Mestinya sebagai ”saudara seiman”, dia cukup tahu bahwa ”jika kamu berbuat kejahatan maka akibatnya bagi dirimu sendiri” ;-)

Cumaaaaa.. gw akhirnya tergelitik untuk nyilet2 setelah menemukan salah satu pembelaan yang diberikan berbunyi demikian:

Quran s.An Nisaa 171 mengatakan: "Innamal Masihu 'Isa bnu Maryam~ Rasululahi wa Kalimatuhu alqahaa ila Maryama wa Rohu, minhu..-' (Sesungguhnya Almasih Isa ibnu Maryam itu, adalah utusan Allah dan Firman-Nya yang ditumpahkanNya kepada Maryam dan Roh daripadaNya)-

Tidak ada satu ayatpun dari Al-Quran secara tegas menolak ajaran Alkitab di atas mengenai sebutan "Anak Allah" bagi Jesus Kristus. Yang Al Quran tolak adalah jika Jesus dianggap Anak Allah dalam pengertian walad, yaitu anak secara seksuil biologis kemanusiawian.

Juga Quran s.An Nissa 171c mengatakan: "Janganlah kamu katakan Allah itu Tiga" (wa la taqulu syalasyht).
Ayat-ayat Quran ini sering dikemukakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Islam, sebagai dalil untuk menolak faham Tritunggal yang dianut oleh iman orang-orang Kristen. Ayat-ayat Quran ini jelas menolak faham Tritheisme (ke-Tiga Allah-an) dan bukanlah menolak faham-Allah Tri-tunggal (Trinitas) ajaran imannya orang-orang Kristen.
Well.. gw bukanlah muslim yang baik. But still I’m a Moslem, dan masih tergelitik kalau suatu tafsir interpretasikan secara bertolak belakang. I mean.. gw tahu bahwa dalam Al Quran memang ada ayat2 yang muhkamat (terang maknanya) dan ada ayat2 yang mutasyabihat (tidak terang maknanya), maka gw tidak menolak adanya tafsir2 baru yang bunyinya bertolak belakang dengan tafsir yang gw kenal sebelumnya.

Tapi toh, yang namanya menafsirkan sesuatu itu membutuhkan tiga hal kan? Data yang tepat, logika, DAN konteks yang tepat ;-)

Jadi.. terus terang gw agak tergelitik ketika seseorang memotong2 QS 4: 171 menjadi beberapa bagian terpisah, seolah2 satu kalimat dengan kalimat yang lain tidak berhubungan, dan kemudian menginterpretasikan berdasarkan konteks (agama) LAIN. Dengan memotong data menjadi terpisah, data menjadi tidak tepat. Hasil interpretasi sudah dapat dipertanyakan keabsahannya. Apalagi ketika ia menggunakan konteks (agama) lain untuk menginterpretasikan data yang tidak tepat itu.

It’s one thing to defend your faith.. but it’s another thing to defend your faith by twisting the other’s faith ;-) By fitting the data into your theory, instead of sticking into the data and use the theory to understand it. To find the truth.

Berhubung gw belum jadi Muslim yang baik, pengetahuan gw tentang Islam masih minim (even setelah 10 thn jadi menantunya orang NU.. hahaha.. Nggak banyak efeknya buat gw ;-)), gw pakai pendekatan Mazhab Siletiyah aja. Gw “dakwahkan” dalil dalam Siletiyah bahwa siletan yang baik harus seperti menyembelih hewan; sekali silet lawan tak berkutik lagi. Dan siletan seperti itu hanya dapat dihasilkan jika kita menggunakan data yang tepat, logika, dan konteks yang tepat ;-)

So, balasan gw berbunyi begini:

Ah, Jeng ini :) Jangan suka mengebiri ah.. HAHAHAHAHA.. :) An-Nisaa QS 4: 171 itu ayat panjang, mosok cuma diambil segitu :) QS 4: 171 itu komplitnya berbunyi begini:

"Hai Ahli Kitab, janganlah engkau berlebih-lebihan dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Hanya sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan (dijadikan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari pada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulnya, dan janganlah kamu mengatakan "Tuhan itu tiga". Berhentilah kamu (dari pengakuan itu), itu lebih baik bagimu. Hanya sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung"

(catatan kaki: Yang dimaksud "berlebih-lebihan di dalam agama" di sini adalah mengada-ada dalam agama, seperti orang Yahudi menjadikan Uzair sebagai anak Allah, dan orang Nasrani menjadikan Isa AS sebagai anak Allah)

Boleh Jeng Sisc cek di Al Quran mana pun :). Pasti QS 4: 171 ini jauh lebih panjang dari yang Jeng Sisc kutip :). Pun catatan kaki-nya ada :)

Begini, Jeng, setahu saya dalam Islam Nabi Isa AS ini memang seorang rasul yang istimewa. Beliaulah yang sejak dalam konsepsi pun sudah ditetapkan sebagai rasul (sementara nabi dan rasul lainnya baru mendapatkan wahyu di usia dewasa). Nabi Isa AS ini sejak dalam buaian sudah menunjukkan mukjizat, dengan mampu berbicara. Dan.. dipercayai pula bahwa di akhir jaman nanti Nabi Isa AS ini yang akan turun kembali ke dunia.

Namun jika Jeng kemudian mengatakan: "Tidak ada satu ayatpun dari Al-Quran secara tegas menolak ajaran Alkitab di atas mengenai sebutan "Anak Allah" bagi Jesus Kristus", maka memang timbul question mark besar :) Seperti tertulis dalam QS 4: 171 itu (dan ayat itu tidak dibagi2 menjadi a, b, c, d lho.. harus dibaca utuh ;)), dalam Islam jelas dinyatakan bahwa: Hanya sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan (dijadikan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari pada-Nya.

Isa Almasih bin Maryam, seistimewa apa pun dia, dalam Islam adalah UTUSAN Allah. Dia bukan penjelmaan Allah :)

Kalau gw lihat2 sih poin gw sudah jelas ya ;-)?

Yang membuat gw berkeberatan adalah ayat Al Quran dipenggal untuk memutarbalikkan artinya dalam Islam. Kalau dia menggunakan seluruh ayat KEMUDIAN punya interpretasi baru, gw sih dengan senang hati akan mempertimbangkan logikanya. Tapi.. memotong ayat sebagian saja, lantas meng-claim bahwa Islam sebenarnya tidak menentang bahwa Yesus itu putra Allah.. menurut gw sih agak kelewat berani ya ;-)? Dasarnya apa? Ayat yang dipakai cuma sepotong, lebih banyak bagian yang dibuang, sementara bagian yang dibuang itu sangat memungkinkan interpretasi yang 180 derajat berbeda.

Dan mengatakan bahwa Islam tidak menentang penyebutan itu karena toh Isa Al Masih bukan dianggap sebagai anak biologis Tuhan, melainkan jelmaan Tuhan sendiri? Well.. itu menurut siapa? Bahwa sebutan ”anak Tuhan” itu hanya metafora bagi ”jelmaan Tuhan” di dunia, itu kan menurut keyakinan Kristiani. Bukan keyakinan Islam, kan ;-)? Dalam Islam, menganggap Tuhan menjelmakan diri menjadi manusia bernama Isa anak Maryam saja sudah tidak tepat. Lha wong Allah SWT itu tidak perlu menjelma sebagai apa2 kok ;-) Allah SWT di luar batas rupa, bentuk, bahkan ruang dan waktu ;-)

So.. itulah yang gw gw coba sampaikan padanya. Bahwa boleh2 saja umat Kristiani punya keyakinan bahwa Isa al Masih itu jelmaan Tuhan. I don’t care, it's their faith, and I respect theirs ;-). Tapi.. kalau kemudian mengatakan bahwa Islam pun tidak keberatan dengan itu, bahwa hanya [sebagian] umat Islam saja yang salah kaprah mengartikannya sebagai tidak setuju dengan Trinitas, well.. gw terpaksa mempertanyakan dasarnya ;-). Apalagi ketika dasarnya adalah sepotong kecil dari bagian ayat itu sendiri PLUS konteks mereka sendiri ;-)

Wrong move, ternyata.. hehehe.. malah akhirnya gw dituduh telah ”terprogram” sedemikian rupa, telah ”membentengi diri dengan tembok yang tebal dari kemungkinan lain”, cenderung ”defensif” dan menyerang ”pendapat innocent”.. hehehe..

Innocent opinion ;-)? Kiss my ass.. hehehe.. naivete is the best term I can give ;-). Naivete, is the term I’ll give if I’m polite enough not to label it as plain stupid.. HAHAHAHA..

Plain stupid, bukan karena nggak percaya sama ajaran agama gw, tapi.. karena mencoba berargumentasi dengan data yang tidak lengkap, konteks yang tidak tepat, tapi sok berlogika ;-) Udah gitu masih ngeyel, lagi! Defensif, dan ngatain gw defensif ;-)

Still, karena gw percaya pepatah yang mengatakan bahwa never argue with the idiots; they’ll drag you to their level and beat you with experience, gw akhirnya berhenti mendebat deh ;-) Ambil jurus seperti menghadapi kasus psikotik: diketawain aja, kalau nggak mempan suruh minum obat, atau sekalian disuntik obat aja, kalau perlu di-ECT, atau di-lobotomy kalau yang lain tidak mempan.. HAHAHAHA..

Terus.. tadinya gw nggak pingin nulis ini di blog. Menghindari hal2 yang tidak diinginkan ;-) Tapi jadi tergelitik lantaran baca tulisan tentang Geert Wilders tadi.

Jadi pingin mengirimkan satu eksemplar buku Jeffrey Lang yang sedang gw baca: Aku Beriman, Maka Aku Bertanya (judul asli: Losing My Religion). Seperti karya2 sebelumnya (Struggling to Surrender dan Even Angels Ask – sorry, nggak tahu judul edisi bahasa Indonesianya), tulisan beliau tentang Islam bagus dan LOGIS sekali. Di buku ketiga ini Lang menulis tentang logika2 dalam Al Quran. Logika2 yang membuatnya yakin untuk memeluk Islam – setelah dilahirkan sebagai Kristen dan menjadi Agnostik.

Anyway.. gw tidak memaksa seseorang untuk percaya terhadap apa yang gw yakini. Seperti gw tidak mau (dan susah juga kali yeee ;-)?) dipaksa meyakini apa yang mereka yakini. Tapi.. gw cuma mau menunjukkan satu hal: telitilah sebelum menyilet pendapat/keyakinan orang lain ;-). Pahami isinya, pahami maksudnya, dan.. jika kemudian kita menemukan "bolong" logika pada sudut pandangnya, itulah yang kita serang. Dengan membalikkan logikanya sendiri ;-)

So.. that's okay kalau misalnya seseorang seperti Geert Wilders atau si Jeng ini mempelajari Al Quran dan Islam, setidaknya membaca tulisan2 logis tentang Islam seperti buku2 Jeffrey Lang, kemudian tetap tiba pada kesimpulan bahwa Islam itu mengajarkan kekerasan. Kalau memang dia bisa memberikan alasan yang masuk akal, gw sih dengan senang hati akan mempertimbangkan.

Tapi.. kalau mempelajari aja nggak pernah, ngambil datanya sepotong2, lantas merangkaikannya berdasarkan logikanya sendiri.. well.. that's plain prejudice and stupidity.

Mengutip kata Dostoyevsky: “Nothing is easier than denouncing the evildoer. Nothing more difficult than understanding him.”

Ya, mencerca suatu keburukan itu adalah perbuatan yang sangat mudah. Tapi.. sebelum itu, ada satu tahap yang harus dilalui: mencoba memahami sehingga kita tidak salah mencerca ;-)