Monday, March 05, 2007

Life and Art

Kemarin hiburan gw (selain nonton sinetron Jomblo, maksudnya ;-)) adalah nonton CSI: Miami season 4. Ada episode menarik di keping DVD bajakan ke-3, judulnya Urban Hellraiser. Ceritanya tentang perampokan bank yang dilakukan sekelompok mahasiswa penggemar computer game. Mereka dengan sengaja menghidupkan permainan komputer itu dalam kehidupan nyata; sengaja memilih bank dimana jelas2 ada polisi di dalamnya, sengaja mencoba memperkosa pelanggan, bahkan sengaja mencoba membunuh polisi karena (kalau di game) perilaku2 ini ada bonus angkanya lebih besar. Scary, eh?

Tapi hari ini gak mau ngebahas CSI Miami kok ;-). Episode itu cuma kebetulan aja cocok dengan obrolan gw minggu lalu dengan seorang teman.

Teman tersebut sedang bingung tentang sebaiknya melarang atau mengijinkan balitanya membaca majalah Donal Bebek. Katanya, dia mendapat informasi dari suatu tempat bahwa Donal Bebek itu sebenarnya tidak disarankan untuk anak2. Banyak perilaku2 buruk di sana yang dikhawatirkan akan membuat anak meniru: seperti Paman Gober yang pelit, Kwik Kwek Kwak yang suka melanggar aturan pamannya, sampai Desi Bebek yang menduakan Donal dan Untung. Teman ini khawatir kejadiannya akan seperti tayangan Smackdown dulu, yang menyebabkan anak meniru.

Hmm.. waktu itu gw emang bingung mau jawab apaan.. hehehe.. Memang setahu gw Donald Duck lebih tepat dimasukkan ke dalam kategori adult cartoon. Ini adalah film2 kartun yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Termasuk di kategori ini adalah Spongebob Squarepants, Bart Simpsons, and my favorite South Park. Tapi.. di antara keempat kartun ini (kebetulan yg 3 film), Donald Duck dan Spongebob Squarepants termasuk yang lebih mild dan [menurut gw] masih bisa dikonsumsi anak2. Yaah.. kalau gw disuruh nge-rating, gw masukkan Donald Duck dan Spongebob Squarepants ke PG-13 lah!

Tapi.. yang bikin gw gatel adalah alasan si teman: takut anaknya meniru perbuatan2 di majalah Donal Bebek, jadi harus dilarang dan dijauhkan dari anak2. Nah.. alasan ini yang bikin gw gatel.. hehehe..

Kalau setiap kali kita harus menghilangkan sesuatu dari dunia hanya karena ada unsur ketidakbaikan di situ, maka nggak akan ada yang tersisa dalam hidup ini. Atau jangan2 malah nggak ada yang tersisa dalam hidup ini ya? Kan setiap hal di dunia ini ada unsur baik dan buruknya.

Misalnya, kalau si teman harus melarang anaknya membaca Donal Bebek karena takut si anak meniru perilaku2 buruk yang ada di buku tersebut.. bukankah kemudian dia juga harus melarang anaknya membaca Superman, Spiderman, Detektif Conan, Lima Sekawan, Sapta Siaga, .. practically semua buku petualangan dan superhero? Kan semua buku itu ada perilaku buruknya juga ;-) Siapa yang jamin anak2nya nggak akan niru tokoh jahat seperti mereka meniru si Donal dan si Paman Gober ;-)?

Teman gw mencoba argue: tapi kan, di buku2 itu yang jahat kalah, yang baik selalu menang? Jadi beda kasus dong dengan tokoh utama yang bebek sial pemarah?

Iya.. memang benar buku2 yang lain itu ”moral of the story”-nya lebih jelas: kebaikan selalu menang. Tapi kan nggak ada jaminan bahwa yang akan ditiru adalah yang baik dan menang. Mau bukti? Di CSI tuh yang menang selalu CSI (baca: polisi), bukan penjahatnya. Sepintar apa pun si penjahat, CSI selalu berhasil membongkarnya. Tapi.. perhatikan deh pernyataan dalam life imitating art ini:

It has been reported that the prevalence of CSI and other crime investigation TV shows have changed criminal behavior. For example, the use of bleach to destroy DNA evidence has increased, as a result

See? Nggak ada jaminan bahwa sesuatu yang moral of the story-nya bagus lantas akan ditiru kebaikannya. Dan sebaliknya, gw juga yakin nggak semua yang tampak buruk akan ditiru keburukannya. Wong semua itu adalah stimulus netral dan kita yang memilih memberinya nilai positif atau negatif. Kita yang memilih mencontoh yg negatif dari tokoh antagonis, atau justru sebaliknya: mengambil hikmah dari sesuatu yg tampak buruk.

Art imitating life, then life imitating art, dan seterusnya hingga hidup manusia menjadi lebih baik dan seni berkembang

Bukankah justru dari situ perkembangan terjadi? Dari tesis muncul antitesis yang kemudian menjadi tesis baru sehingga muncul antitesis baru lagi.. dan seterusnya. Sesuatu yang baik menimbulkan sesuatu yang buruk, sehingga harus ditemukan yang lebih baik lagi untuk mengembalikan keseimbangan.. dan begitu seterusnya. Art imitating life, then life imitating art, dan seterusnya hingga hidup manusia menjadi lebih baik dan seni berkembang.

Nah.. kalau sekarang kita mencoba menghentikan proses itu, dengan menghilangkan semua yang memiliki aspek buruk, kapan kita menjadi lebih baik? Mana yang lebih penting: menghentikan semua yang punya aspek buruk, atau menggunakannya sebagai bahan untuk belajar lebih baik?

Well.. gw ngerti sih kekhawatirannya teman gw itu. Gw juga pernah kok overprotective seperti itu. Waktu Ima masih kecil (umur 2.5 tahun), dan pingin banget nonton penyembelihan hewan kurban Idul Adha, gw juga rada2 ngeri. Lha wong gw sampai sekarang pun selalu ”tutup kuping rapat2” dan ”sembunyi di balik selimut” setiap kali Idul Adha, kok mau membiarkan anak gw nonton penyembelihan. Apa nggak trauma dia lihat darah berceceran? Untung bapaknyaima psikolog juga.. hehehe.. dan berhasil meyakinkan bahwa yang paling berpengaruh bukan pengalaman menyaksikannya, melainkan pemberian makna kepada pengalaman itu.

So.. akhirnya Ima nonton penyembelihan bareng bapaknya, dan bapaknya memberikan penjelasan tentang bagaimana penyembelihan itu tidak menyiksa korban, bahwa gerak kejang hewan kurban itu bukan karena kesakitan melainkan sisa2 refleks saja. Jangan tanya gw gimana cara bapaknya menjelaskan, ya, kan gw gak ada di sana.. HAHAHAHA.. tapi yang jelas: Ima nggak jadi kejam walaupun sudah pernah nonton penyembelihan kurban. Ima juga nggak trauma. Satu2nya efek buruk dari pengalaman ini adalah: Ima jadi suka meledek ibunya dengan kejam.. hehehe.. dengan menceritakan secara mendetil proses penyembelihan sampai ibunya tutup kuping ;-).

Jadi.. kalau ada anak yang jadi nakal setelah baca Donal Bebek, kalau ada gamers yang merampok bank betulan setelah bosen main game di komputer, kalau ada anak yang jadi kejam setelah melihat penyembelihan hewan kurban.. maka.. jangan salahkan apa yang mereka baca/mainkan/tonton. Tapi tanyalah bagaimana orang tuanya (atau orang dewasa di sekitarnya) membantunya mengartikan pengalaman itu. Titik lemahnya justru di situ, bukan di bacaan/game/kegiatannya ;-).

UPDATE 6 Maret:

Setelah baca komentarnya Tino *thanks, Tin!*, gw jadi ingat kenapa kata "imitating" berputar2 di kepala gw.. hehehe.. Imitating adalah kata yang gw asosiasikan dengan teori Observational Learning dari Bandura. Hubungannya dengan posting ini: anak2 [balita] memang selalu meniru apa saja yang menarik perhatian mereka, karena meniru adalah cara mereka belajar. Kita bisa menghilangkan semua hal [yang kita anggap buruk] supaya anak tidak dapat meniru, atau kita bisa mendampingi anak2 untuk memberi pengertian mengapa sesuatu yang dilihatnya itu boleh atau tidak boleh ditiru :-). The choice is yours ;-)