Saturday, November 05, 2011

Pain

Sejujurnya, hari raya Idul Adha selalu menjadi momok mengerikan buat gw. Sekian puluh tahun hidup di dunia, tetap gw nggak bisa membiasakan diri dengan ritual keagamaan ini. As a little girl, I firmly asked my daddy to directly escort the goat to the mosque. Pokoknya kambing nggak boleh mampir ke rumah gw... karena gw tahu bahwa begitu si kambing pernah tinggal di rumah, pernah gw lihat, pernah gw kasih makan, ... maka it would hurt to even know that he was dead.

Masalahnya, gw menikahi orang yang salah... HAHAHAHA.... Suami gw berasal dari keluarga santri yang punya tradisi menyembelih hewan qurbannya sendiri - seperti disunnahkan. Sesuatu yang selalu membuat gw bergidik ngeri :-)

Saking ngerinya, sampai sekarang gw selalu menolak datang ke rumah mertua right after shalat Ied. Pokoknya... tunggu barang 4 - 5 jam dulu! Pastikan qurbannya sudah mati dan darah sudah dibersihkan, baru gw mau sowan ke sana :-)

For years, gw selalu mendapati diri gw diledek karena "empati" gw terhadap hewan qurban ini :-) Banyak yang berkata bahwa gw kurang Islami. Bahwa sebenarnya hewan2 qurban ini "bersyukur" karena dapat pahala. Bahkan pernah ada yang mengatakan gw anti-Islam karena ketidakmauan gw berurusan dengan hewan qurban ini.

Tapi bertahun2 juga... gw selalu tidak merasa pas dengan dikotomi pemahaman tentang qurban. Seperti terurai di atas, gw jelas tidak pas berada di dikotomi yang mengatakan bahwa qurban is one hell of happy festival; the poor is happy to receive some meat, the rich is happy to provide for the poor, and the cattles are happy to fulfill their purpose of life ;-)

Sebaliknya, gw juga nggak merasa pas berada di posisi penentang penyembelihan massal ini. Gak sepakat juga dengan mereka yang menganggap qurban adalah the massacre . This festival might include slaughtering, yes, but I can't agree that it is unnecessary. Jelek2 gini gw masih percaya agama... hehehe... sehingga buat gw, gw percaya bahwa kalau diharuskan oleh Tuhan, ya pasti sesuatu yang bagus. Meskipun gw gak bisa lihat dimana bagusnya :-)

... Kebimbangan itu bertahan hingga hari ini. Hingga gw membaca kul-twit menarik dari Goenawan Mohammad. Kul-twitnya ada 10 bagian, sila disimak dari sini hingga sini.

Bagian yang paling "nampol" buat gw ada dua, yaitu yang #2:

2. Kita cenderung hanya melakukannya dgn sikap praktis: beli kambing/sapi, kirim ke pembantaian. Tanpa lagi rasa belas dan empati.#q

dan yang #6:

6. Keiklhasan paling dalam ketika berkorban justru ketika kita menghayati bhw kita harus melakukan tindakan yg sebenarnya kejam.#q

Touche! You might've guessed where it's going ;-)

Ya, kedua bagian itu membuat gw memahami mengapa dianjurkan menyembelih qurban sendiri (atau kalau dalam versi modern: hadir saat qurban kita disembelih panitia). Sebab justru itulah makna kita berqurban. Di situ letak keikhlasan kita.

Nabi Ibrahim AS harus melakukan sesuatu yang maha sulit ketika Allah SWT meminta Ismail diqurbankan. Hanya keimanan, dan keikhlasan luar biasa, yang membuat seorang ayah mampu melakukan itu.

Sekarang, kita hanya diminta berqurban ternak, bukan anak. Tapi... apa esensi qurban itu? Hanya agar kita bisa membagikan makanan gratis pada kaum dhuafa? Agar kaum dhuafa dapat merasakan daging meski setahun sekali? I'm sorry to say this... but it sounds very shallow to me :-( Sangat tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Ibrahim AS.

Tapi bagaimana jika kita sendiri yang harus menyembelih qurban itu sendiri? Walaupun tidak sebanding dengan Ibrahim AS, tidakkah kita merasakan suatu konflik yang berat juga? Karena kita harus melakukan sesuatu yang menurut logika kita adalah "kejam" demi sesuatu yang "cuma" kita percaya. Tidakkah hal2 seperti itu yang menguji iman, yang membuat kepercayaan kita goyah mengenai apakah kita sudah melakukan hal yang benar? Sudah percaya pada hal yang benar?

Dan tentu, makna ini menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali, jika kita hanya mengartikannya sebagai kewajiban menyembelih qurban dan memberikan dagingnya bagi kaum dhuafa. Karena dengan demikian proses menjadi tak penting lagi. Merasakan konflik yang membuat Ibrahim AS [mungkin] berada di persimpangan keimanan.

Dengan mudahnya kita akan mengambil cara yang praktis, seperti pada poin #2: kita cuma perlu beli sapi/kambing, antar ke tempat penyembelihan. Biarkan panitia yang menyembelih dan membagikan; sementara kita duduk manis di rumah untuk menunggu sepotong paha kambing yang sudah dibersihkan sebagai bukti qurban kita sudah disembelih. Atau dalam bahasa Goenawan Mohammad: menjadikan hewan qurban "sekedar" komoditi.

So, this essay of his is an eye opener for mine ;-) Mengingatkan gw kembali bahwa it is important to endure the pain. Mereka yang berqurban harus juga merasakan "pain" itu. Psychological pain of doing something "cruel": killing another being.

Karena di situ letak makna qurban itu sendiri ;-)

Makanya, gw ingin mengutip penutup dari kul-twit di atas:

Salah mengatakan orang yg berqurban tak punya hati nurani. Justru intinya bukan menyembelih, tapi menghayati bagaimana berharganya hidup

Mudah2an para penentang ritual qurban dapat melihat hal tersebut juga ;-)

***

Bagaimana dengan gw sendiri? Apakah setelah ini gw akan dengan senang hati datang ke penyembelihan qurban? Ikut merasakan the psychological pain of killing another being? Sorry, I'm still gonna pass... HAHAHAHA... I now understand the importance of slaughtering your own qurban, tapi tetap gw belum mau jadi bagian dari itu. Gw cukup mengubah mindset gw aja bahwa it is necessary.

Lagipula... bukankah yang disuruh berqurban adalah Ibrahim AS? Waktu itu Siti Hajar gak disuruh juga kan ;-)?