Saturday, April 04, 2009

Dazzling, Deluding Dexter

Serial Dexter gw ikuti karena usul Hans beberapa waktu lalu. Highly recommended buat pecinta Criminal Minds, menurut Hans, karena ini adalah dari sisi pikiran si pembunuh berantainya.

Ya, kisah yang Season 1-nya diangkat dari novel laris Darkly Dreaming Dexter (dan Season 2-nya cuma nyerempet sedikit pada buku kedua: Dearly Devoted Dexter), memang berkisah tentang Dexter Morgan (d/h Dexter Moser) si pembunuh berantai. Tapi tidak seperti pembunuh berantai lainnya, Dexter ini sudah berhasil "dijinakkan" oleh ayah angkatnya. Sudah dilatih untuk hanya membunuh mereka yang [menurut panduan yang mereka sepakati] "pantas mati".

Jadilah, si Dexter yang sehari2 bekerja di Crime Lab Miami Dade Police Department sebagai Blood Spray Pattern Analyst, pada malam2 tertentu akan "alih profesi" menjadi penegak hukum rimba: membantai para kriminal yang lolos dari jerat hukum.

Well, filmnya sendiri cukup menghibur. Cukup menarik juga. Dan tidak banyak bolong cerita yang benar2 mengganggu. Tapi... entah mengapa, gw tetap merasa something is not right. Intriguing. Ada yang aneh dan tidak pada tempatnya.

Mulanya, gw sekedar mengira rasa ini muncul karena film ini bisa dikatakan campursari versi remix dari tiga serial yang pernah gw ikuti: Dark Justice, CSI, dan Criminal Minds. Mungkin gw sekedar merasa gamang berada pada "sisi" yang berbeda. Karena gw melihat Lab Geeks yang selama ini jadi my hero sekarang jadi biasa2 aja. Karena kalau ada pembunuhan, para crime lab geeks tidak muncul dengan segala kecanggihan teknologinya (Dexter masih konvensional sekali cara menganalisa cipratan darah dibandingkan jagoan2 CSI itu).

Tapi enggak. Something's telling me it must be connected to psychology. Ada sesuatu yang nggak pas dari segi psikologi mengenai penokohannya.

Dan seperti dalam Cold Case (yep! Sebuah serial lain yang gw ikuti... hehehe...) gw baru "ngeh" dimana anehnya Dexter setelah membaca a fresh eye review di sini. Setelah mengesampingkan "mata psikologi" gw melalui riviu itu, gw baru sadar anehnya dimana: it's odd that Dexter can control its urge to kill.

Ya, sepanjang nonton Season 1, gw terbuai dengan alur cerita bahwa Harry Morgan (= ayah angkat Dexter) menggunakan semacam teknik Cognitive Behavioral Therapy untuk behavioral shaping. Itulah pangkal masalahnya ;) "Mata psikologi" dan "otak psikologi" gw menerima bahwa CBT dapat digunakan untuk membentuk perilaku. Itu sebabnya setiap kali gw berpikir ada yang aneh dari cerita ini, otak gw sendiri akan menentangnya. Apa anehnya Harry bisa membentuk perilaku Dexter? Tekniknya bener kok!

Dan karena gw sudah terlalu banyak nonton film tentang pembunuh berantai (apalagi gw juga emang suka baca cerita2 nyata tentang pembunuh berantai), yang semuanya dari sisi the hunter, gw lantas terlalu excited mendapatkan kesempatan melihat dari sisi the hunted. Sampai2 gw lupa untuk mempertahankan obyektivitas gw untuk tidak kelihatan sisi the hunter ;-)

Membaca riviu tertaut, dan komentar2 terhadapnya, tanpa sengaja mengembalikan gw kepada obyektivitas gw. Melihat pertanyaan2 skeptis yang diajukan para komentator, dan kesulitan si penulis riviu menjawab dari segi psikologi, membuat gw terpental kembali ke sisi the hunter. Dan melihat Dexter dari perspektif baru: perspektif seorang analis... hehehe...

Itulah yang membuat gw kemudian menyadari anehnya film ini: CBT memang bisa digunakan untuk membentuk perilaku. Teknik psikoterapi ini biasa digunakan para psikolog klinis untuk membantu klien2 yang mengalami gangguan neurosis. Tapi... - here's the good part - pembunuh berantai (dalam arti punya urge to kill, bukan cuma membunuh banyak orang karena balas dendam/merampok/menutupi jejak seperti Ryan dan Rio Martil) kan pastinya bukan neurosis? Setidaknya mereka mengalami gangguan kepribadian (dalam hal ini berupa kepribadian psikopat) bahkan sangat mungkin psikosis. Gak percaya? Baca deh di sini:

There are two types of serial killers, the psychotic and the psychopath. The psychotic serial killer is one who is legally insane, they cannot tell the difference between right and wrong, they may hear voices, see visions and sometimes may have hallucinations prior to committing the murders. The second type of serial killer is the psychopathic serial killer. The psychopathic serial killer does not suffer from hallucinations, they know the difference between right and wrong, and are in touch with reality, they just do not care what the are doing is not right. Psychopathic serial killers lack one very important trait and that is that they do not have a conscience, or that there conscience is too weak to stop the violent behavior. A psychopathic serial killer does not feel any guilt, nor are they sorry for there actions.

Lebih jauh baca juga ringkasan tentang America's Famous Serial Killers ini. Makin terlihat jelas bahwa urges to kill itu muncul melalui psikodinamika yang panjang, yang mengarah pastinya bukan pada sekedar neurosis saja. Nah... kalau demikian kasusnya, apa bisa "dikontrol" dengan CBT?

Neurosis dengan gangguan kepribadian dan psikosis itu jauhnya Jakarta - Toronto lewat Australia lho! Neurosis itu arahnya lebih ke distress, gangguan keseimbangan mental yang nggak sampai melampaui norma masyarakat. Mereka2 yang punya anger management problem adalah contohnya. Sementara gangguan kepribadian itu sudah lebih serius arahnya. Sudah mulai kehilangan kontak dengan realitas; menganggap dirinya di luar kaidah2 norma masyarakat, mengabaikan hak orang lain. The universe revolves around them, menurut mereka, makanya nggak ada rasa menyesal sama sekali kalau melakukan sesuatu yang jelas2 di luar norma; misalnya dengan "membunuh".

Sementara psikosis itu udah lost contact with reality. Gangguan ini mutlak butuh obat2an medis, nggak bisa sepenuhnya sembuh. Paling bisa remisi doang.

Nah... neurosis itu masih masuk wilayahnya psikolog klinis. Gangguan Kepribadian dan Psikosis itu sudah areanya psikiater. Dan psikiater itu bukan psikolog klinis, bahkan fakultas yang menelurkan mereka pun berbeda; psikiater adalah dokter spesialis kejiwaan lulusan FK, sementara psikolog klinis adalah lulusan Fakultas Psikologi yang kemudian menjalani spesialisasi psikologi klinis.

Jadi... kalau gangguan Dexter harusnya ditangani psikiater, bagaimana dia bisa "dikontrol" hanya dengan psikoterapi? Apalagi ini bukan psikoterapi sungguhan, hanya berbekal disiplin dan cinta ayah angkatnya - yang walaupun baik hati, tetap saja bukan ahli di bidang itu. Ini the biggest goof yang mengganggu gw ;-)

Gw langsung gugling untuk tahu lebih banyak. Nemu artikel CBT ini yang mulai dikembangkan untuk menangani kasus psikosis. Tapi seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian tersebut, this is still a long shot, walaupun sudah mulai muncul bukti2 kegunaan teknik ini. Baru bukti kegunaan lho, bukan mengatasi :)

Hehehehe... itulah sebabnya gw menjuduli posting ini sebagai Dazzling, Deluding Dexter. Selain mengikuti pola judul novel aslinya yang DDD, film ini juga sudah berhasil "menutupi kenyataan", menutupi goof-nya, dengan ceritanya yang menarik ;-)

Ya, sekali ini, walaupun ceritanya menurut gw memiliki "bolong logika", menurut gw tetap enak ditonton sebagai hiburan ;-) Setidaknya, film ini sudah mengubah lagi genre superhero di layar2 TV. Awalnya kan layar hiburan dipenuhi oleh non-human superhero semacam Superman dkk, kemudian pada era berikutnya law enforcement (atau kebalikannya: outlaws) hero semacam LAPD Blue, Miami Vice, Knight Rider, Dark Justice, dkk, dan dalam satu dekade terakhir berubah menjadi crime lab geek hero semacam CSI. Sekarang ada jenis hero baru lagi: hero yang nggak sepenuhnya hitam, dan nggak sepenuhnya putih ;-) Lumayan menghibur setelah sempat kita disuguhi super-power hero dalam Heroes ;-)

Well... now that I've found my answer, I might enjoy the story better... hehehe... Paling enggak, gw jadi tahu arahnya mau kemana kalau mau mencela ;-) Senang rasanya mendapat kejelasan tentang apa yang selama ini hanya mengganggu gw ;-)

Buat yang pingin baca buku versi Indonesianya, udah diterjemahkan juga kok. Bisa beli yang ini dan sekuelnya ini ;-) Gw udah beli juga sih... tapi belum gw baca. Masih dimonopoli Ima ;-) Tapi sekilas sih bukunya lebih asyik dan jelas maunya daripada filmnya - apalagi dibandingkan Season 2 yang lebay itu ;-)