Wednesday, April 22, 2009

N Cut is The Shallowest

Lama gw nggak nulis di blog :-) Nulis sih masih sering, tapi medianya beda... hehehe... Sekarang lebih sering microblogging aja di statusnya FB. Serius ;-) Status FB gw seringnya panjang2 (malah kadang harus gw revisi karena kotaknya nggak muat, kebanyakan huruf), lantaran gw perlakukan seperti blog ;-) Kadang pakai Twitter, kadang langsung di Facebook. Tergantung keperluan aja. Tapi nggak pernah pakai Plurk. Soalnya aplikasi Plurk terlalu berat untuk jaringan internet kantor; yang sudah kelebihan beban karena semua karyawan mainan FB. Ini juga serius ;-) Bahkan para karyawan di Field Department aja sekarang suka rebutan kompie di resepsionis buat buka FB.

Yaaah... alasan kenapa gw nggak nulis2 sih klasik: semangat menulis dan bercerita masih menggebu2, apa daya waktu tak sampai. Bukan tangan tak sampai lho ya... karena ngetik cerita - baik blogging maupun microblogging - tetap persyaratan utamanya adalah tangan sampai ke papan ketik. Jadi lebay deh kalau bilang tangan tak sampai, emangnya nge-blog pakai telepati :-p

Itu alasan yang pertama. Alasan kedua: gw lagi mencoba mendefinisikan kembali makna blogging buat gw. Gw selalu bilang bahwa my conscious will to blog adalah karena gw suka menulis, dan menulis adalah remedy buat gw; cara buat gw melepaskan kejenuhan. Tapi... seperti dijelaskan dalam bahasan the individuation of action pada tautan itu, sebenarnya kan conscious will tidak mencakup keseluruhan aksi. Bahkan mungkin yang namanya conscious will itu adalah hasil dari rasionalisasi gw - meskipun conscious will itu benar2 ada, bukan hasil ilusi.

Setelah gw telaah2 lagi, mungkin salah satu unconscious will gw tidaklah secanggih yang gw tuliskan... HAHAHAHA... Mungkin gw cuma nge-blog buat ngomel doang. Ngomel with style, begitu ;-) Karena gw yakin gw belum jadi psikopat berperilaku antisosial, yang bisa ngomel dimana saja kapan saja. Gw baru jadi neurotik aja... HAHAHA...

Karenanya, psychological gratification gw dapat bukan melalui "bisa membagikan cerita" dan "menginspirasi orang lain melalui cerita". Itu hal yang terlalu mulia buat gw ;-) Psychological gratification gw mungkin sederhana sekali: bisa meluapkan emosi yang kalau ditahan2 bisa jadi jerawat, dengan cara yang nggak antisosial2 amat ;-)

Daaaan.... sesuai teori, psychological gratification ini sifatnya seperti salah satu lagunya Cat Steven a.k.a Yusuf Islam: first cut is the deepest

Ya, irisan pertama yang paling dalam, yang paling menyakitkan, sekaligus yang paling memberikan psychological gratification buat si pengiris. Yang selanjutnya sih mekanistis aja. Kepuasan psikologis yang didapatkan tidak lagi sama. Level of psychological gratification yang sama baru akan didapatkan kalau ada irisan di "tempat baru". Atau kalau kaitannya dengan nge-blog: kalau ada hal baru yang menggairahkan untuk ditulis.

Itulah masalahnya!

Evolusi gw dalam menulis ternyata lebih cepat daripada dunia berubah... hehehe.... Sehingga, setelah nge-blog sejak tahun 2005, sekarang gw bingung: apa lagi yang bisa gw tulis ;-)? Gw semakin sering mendapati diri gw ingin nulis dan komentar, tapi kemudian ingat: kan tulisan sejenis udah pernah gw buat? Atau... mosok gw mesti mencela subyek yang sama lagi sih??? Itu kan udah pernah??? Dualima-jigo-dualima-jigo... CEPEK DEEEY...

Contohnya aja, pas pemilu kemarin gw udah pingin nulis tentang betapa nggak efektif dan efisiennya konsep Daftar Pemilih Tetap dan Kartu Pemilih itu. Jauuuuhhh... sebelum ada keluhan tentang betapa banyaknya orang yang tidak terdaftar sebagai pemilih, gw udah skeptis terhadap cara KPU ini. Gimana caranya mendata JUTAAN orang secara akurat dalam waktu singkat??? Kalau emang ada cara seperti itu, yang namanya sensus penduduk dilakukan tiap tahun lageeee.... bukan beberapa tahun ;-)

Akhirnya bener kan ;-)? Kisruh kan? Banyak yang nggak terdaftar kan ;-)? Udah gitu yang disalahin rakyat, lagi, karena nggak mendaftarkan diri. Yeeee.... pengalaman gw jadi koordinator mata kuliah Faal 1 sampai Faal 4 sih: meminta satu angkatan yang nggak sampai 100 orang untuk mendaftarkan diri siapa yang mau fotokopian bahan aja susahnya minta ampun! Nggak pernah akurat. Selalu ada aja yang nggak daftar, tapi di menit2 terakhir minta fotokopian. Naah... gimana berharap JUTAAN orang bakal rajin mendaftarkan diri untuk mengikuti sesuatu yang mereka sebenernya nggak butuh? Ini mah seperti lagunya ABBA:


Knowing me, knowing you
There is nothing we can do
Knowing me, knowing you,
We just have to face it


Iya... face it. Yang butuh pemilu itu kan negara dan pemerintah, biar pemerintahnya bisa ngaku bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah ;-) Kalau buat rakyat sih siapa aja "rajanya", rasanya sama aja ;-)

Sebenernya kan daftar-mendaftar ini nggak perlu toh? Menurut gw sih pemilu itu cuma butuh KTP dan tinta yang nggak gampang hilang kalau dicuci ;-) Asal orang punya KTP, dia bisa datang ke TPS terdekat dan ikut milih. Nggak perlu Kartu Pemilih segala.

Kalau punya KTP dua atau lebih?

Lah, kan udah ada tintanya? Biarin aja dia punya KTP dua atau lebih, tapi kelingking tangan kirinya tetap cuma satu toh? Kalau udah dicelupkan ke tinta, ya dia nggak bisa milih lagi. Gitu aja kok repot!

Kalau mau nyetak kertas suara pas, ya bikin aturan aja bahwa orang harus memilih di kelurahan tempat KTP-nya dikeluarkan. Kan di kelurahan bisa langsung diketahui jumlah pemilih tanpa harus mendata. Tinggal petugas kelurahannya aja suruh ngitung berapa jumlah KTP yang dikeluarkan oleh kelurahan tersebut, dikurangi jumlah laporan kematian dari pemilu terakhir. Toh semua pemegang KTP cuma bisa mati sekali ;-)

Gampang toh? Nggak pakai repot mendata2 segala. Dan nggak perlu nyetak2 kartu pemilih segala. Kertas mahal, bo! Lagian go green dong, save our planet! Daripada pohon ditebang untuk bikin kertas yang akan jadi Kartu Pemilih buat jutaan orang, mendingan dananya dipakai untuk beli tinta jari kualitas unggul! Jangan yang 10 menit dan "sedikit gosokan mesra" aja udah hilang kayak tinta kemarin... hehehe... Batal deh gw dapat kopi gratis karena tinta di jari udah hilang ;-)

Bagaimana mengatasi daerah pemukiman dengan densitas tinggi, dimana tidak semua orang punya KTP daerah itu tapi tinggal di situ? Daerah kos2an, misalnya. Aaah.. itu gampang! Mereka yang nggak punya KTP di situ dapat prioritas rendah sebagai pemilih. Semacam cadangan, atau ikut gelombang kedua, gitu! Jadi... pemilu gelombang I dicanangkan jam 7 - 11 pagi, misalnya. Gelombang kedua jam 11 - 12 siang. Dan bisa/nggak ikut gelombang kedua di TPS tersebut adalah berdasarkan sistem waiting list. Tergantung kesediaan sisa kertas suara. Kalau nggak sisa, ya silakan kunjungi TPS berikutnya.

Masuk akal kan, cara gw ;-)? Efektif, efisien, dan nggak butuh peralatan canggih apalagi dana besar. Emang sih, tadinya gw mau ngusulin hi-tech vote machine. Mesin yang pakai fingerprint scan untuk memilih. Pencet tombol, gak mencoblos, apalagi mencontreng ;-) Tapi... seperti cerita di film ini, mesin pemilu pun tak luput dari kekhilafan ;-) Nggak jadi deh gw mengusulkan ;-) Lagian, kalau mesti pakai komputer, ntar membuka peluang bisnis lagi dong... ada yang menang tender komputer pemilu, bukan hanya tender komputer KPU ;-) Iya kalau menang tendernya melulu karena good value for money. Kalau karena alasan lain ;-)? Dan kalau pakai komputer, terbuka kemungkinan penyalahgunaan lagi. Ntar komputernya dipakai main game ;-)

Tapi dipikir2, gw kan udah sering mencela keputusan pemerintah di blog ini ya? Mosok nyela lagi? Dan psychological gratification-nya udah gak sama, karena yang harus dicela itu lagi - itu lagi. Nggak ada perkembangan yang berarti, dan nggak ada hal baru yang bisa gw cela... hehehe...

Oleh karenanya gw jadi rada males ngebahasnya di blog ;-) Dan kalaupun akhirnya gw bahas di sini, itu lebih untuk menyampaikan suatu hal. Masih di film yang tadi, pada akhir cerita, Tom Dobbs bilang begini:

Today I was in the oval office for a preparatory meeting and I sat behind the President's desk and I had a reality check. I sat there and I went 'Wait a minute, I'm a Jester. A Jester doesn't rule the kingdom; He makes fun of the king'


Hehehe... si Tom Dobbs emang Jester, makanya dia cuma peduli pada making fun of the king. Psychological gratification-nya memang dari making fun, regardless bahannya daur ulang atau baru.

Naah... gw bukan jester! Kalau gw making fun, itu artinya gw mencela dan menuntut perubahan. Psychological gratification gw hanyalah kalau gw bisa membuat first cut over dan over again. Kalau udah cut ke sekian, itu pastinya udah nggak the deepest. Malah mungkin the shallowest. Kepuasannya nggak ada... hehehe...

Makanya, berubah dong! Give me something new to cut ;-)