Tuesday, March 25, 2008

Dark Justice

Gw punya banyak ID di dunia maya ;-)

Saking banyaknya ID gw, ada beberapa orang yang kenal gw dengan 3-4 ID berbeda. Malah, ada yang pernah ketipu juga dengan 2 ID gw yang berbeda.. hehehe.. Maklum, waktu itu ID yang satu muncul dengan gaya bitchy, sementara yang satunya lagi dengan gaya manis ;-)

*padahal kalau di-cek IP Address-nya sih sami mawon, wong gw emang nggak berniat menutupi identitas ;-)*

Tapi, kalau nulis di blog, gw memilih dengan nama asli. Kenapa?

Bukannya gw sok ngetop.. hehehe.. Gw tahu kok, bahwa dengan mencantumkan nama asli dalam jagad maya yang kejam ini membuat blog gw vulnerable ;-) Bukan cuma admirers yang bakal dengan gampang menemukannya, tapi juga haters dan hujatters;-) Bukan cuma sesama blogger yang bakal menemukan gw, tapi orang2 yang kenal gw di dunia nyata juga bisa gampang mencuri baca apa yang gw tuliskan. Resikonya jelas lebih besar: gw mesti super hati2 menuliskan kisah ataupun sedikiiit nyerempet tentang mereka, dan siap2 jadi bahan gosip di belakang ;-). Lha wong gw aja beberapa kali ngelihat ada orang2 kantor lagi asyik baca blog gw.. hehehe.. Biarpun buru2 ditutup kalau gw lewat, tapi warna blog yang pink dangdut ini terlalu obvious untuk hilang dari layar begitu saja ;-) Dan mungkin2 aja ada yang tersinggung kisahnya diserempet di blog ini, biarpun kalau mengenai orang2 yang gw kenal di dunia nyata gw hati2 banget memilih angle, dalam hati siapa tahu kan? Persepsi orang kan beda2. Apalagi mereka kan hanya mencuri baca, sehingga pasti nggak enak untuk mengklarifikasi terang2an kalau rada2 tersinggung ;-)

Still, gw ngerasa harus nulis pakai nama asli di blog, karena blog adalah the closest to my childhood’s dream: jadi penulis seperti Laura Ingalls Wilder, yang kisah2 hidupnya diramu menjadi tulisan bagus ;-) Biar cuma nulis di blog doang, setiap tulisan yang gw hasilkan adalah dari pemikiran gw. Karya cipta gw dari mengamati, menganalisa, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Gw mau tulisan gw dihargai sebagaimana mestinya, dan langkah pertama supaya orang menghargai tulisan gw adalah menunjukkan bahwa gw menghargai tulisan gw sendiri: dengan mencantumkan nama asli. Dengan demikian, orang tahu bahwa setiap entry ditulis dengan reputasi (tsah!) gw sebagai jaminannya ;-) Dan sedapat mungkin, sebelum menuliskan apa2, gw melengkapi dulu dengan bahan bacaan secukupnya serta landasan berpikir yang kuat. Supaya tulisannya nggak ngawur dan bisa gw pertahankan ;-)

Dalam rangka menghargai tulisan gw sendiri pula, gw [meminjam komentar Intan di sini] do take bad arguments or questions seriously ;-) Lha wong blog gw tidak dimaksudkan sebagai sekedar online diary jenis oh-today-I-washed-my-hair kok ;-). Jadi semua komentar juga gw tanggapi serius, no matter how bad the argument is. Kecuali kalau komentarnya berupa kata2 porno atau jorok atau promosi online. Kalau jenis itu, tanpa pandang bulu pasti gw delete dan penulisnya di-banned ;-)

Yang gw harapkan hanya satu: kalau ada tulisan gw yang dianggap menarik dan memberikan manfaat, please jangan lupakan bahwa itu juga karya cipta gw. Silakan kutip, silakan pakai, tapi jangan lupa sebutkan sumbernya ;-). Untuk soal konsep dan pemikiran, gw gak pelit, kok! Buat gw ide/konsep itu adalah ilmu; dan ilmu akan lebih baik jika dibagikan ke sebanyak-banyaknya orang (yaaah.. anggaplah ini sisa2 pure blood gw, atau upaya menebus ke-squib-an gw ;-)).

***

Berkaitan dengan itu, gw paling prihatin kalau dengar/baca kasus2 seperti yang dialami Mas Iman atau si Mbot ini. Isi blognya dikutip semena2 tanpa menyebutkan sumbernya!

Di kasus si Mbot rasanya masih agak lumayan. Biarpun nggak disebut nama penulis aslinya, setidaknya si pengopi-pasta tidak menafikan bahwa ada seseorang di luar sana yang punya hak cipta terhadap tulisan tersebut. Kategorinya, menurut gw, belum plagiat. Paling jauh bisa dianggap masuk copyright infringement (a.k.a copyright violation), yaitu:

the unauthorized use of material that is covered by copyright law, in a manner that violates one of the original copyright owner's exclusive rights, such as the right to reproduce or perform the copyrighted work, or to make derivative works.

Meskipun cuma muncul di majalah gratisan, tapi.. majalah gratisan itu bukannya punya profit juga ya ;-)? Cuma profitnya nggak diambil dari penjualan majalahnya, melainkan dari hal2 lain. Jadi, menggunakan tulisan orang lain untuk mendapatkan keuntungan, itu udah termasuk copyright violation kan ;-)?

Yang telak adalah pengalaman Mas Iman: tulisannya dicuri untuk masuk sebuah buku yang jelas2 dijual dan [secara tidak langsung] diakui oleh si penulis buku sebagai karya sendiri! Wah, wah, wah.. kalau yang ini, menurut gw sih sudah masuk kategori plagiarism, yang dosanya lebih besar daripada copyright violation:

the practice of claiming or implying original authorship of (or incorporating material from) someone else's written or creative work, in whole or in part, into one's own without adequate acknowledgement

[masukin sound effect dikit biar dramatis: petir menggelegar, gunung meletus mengeluarkan lahar, bumi terbelah, dan terdengar sebuah suara entah dari mana asalnya, “Bertobatlah! Atau azab Tuhan jatuh padamu!”]

And you know what?

Pelakunya punya gelar MBA dari Taiwan, S2 Teknik Sipil, sekaligus sudah mengambil pendidikan S2 Teologi, Magister Hukum, plus PhD dan ScD Manajemen Teknologi. Banyak banget ya, gelarnya? Hehehe.. Jadi mikir, gelar sebanyak itu belinya dimana ya? Apa ada paket hemat beli 1 dapat 3? Atau.. thesisnya siapa saja yang diplagiati? apakah saking tekun belajarnya untuk mendapat gelar2 tersebut si bapak ini jadi lupa belajar tentang copyright infringement dan plagiarism ;-)?

OK, lah, seandainya itu hanya “kekhilafan” semata mungkin nggak masuk waktu mata kuliah copyright infringement dan plagiarism saat ngambil Magister Hukum. Tapi kalau baca komentar Mas Iman di tulisan selanjutnya, kok timbul kesan nggak ada niat untuk memperbaiki kekhilafan? Atau memang segitu khilafnya, sampai khilaf nggak baca surat dan email juga ;-)?

Yaah.. gw sih cuma bisa ikut prihatin sambil nyilet2 si pelaku sedikit2. Sekaligus berdoa supaya gw nggak mengalami nasib yang sama. Sambil googling takut kalau ternyata gw sudah mengalami nasib yang sama tapi gak tahu ;-)

*iya, gw emang multi-tasking. So what ;-)?*

Tapi.. untuk jaga2, gw mau mengingatkan aja sama orang2 yang punya sedikiiiiit niat untuk jadi plagiat. Ingatlah kata2 tokoh film seri TV awal 90-an ini:

As a cop I lost my collars to legal loopholes, but I believed in the system. As a D.A. I lost my case to crooked lawyers, but I believed in the system. As a judge my hands were bound by the letter of the law, but I believed in the system. Until they took my life away.

Then I stopped believing in the system and started believing in justice

(Judge Nicholas Marshall, in Dark Justice)

Tokohnya, Judge Nicholas Marshall, punya “nama pagi dan nama malem” ;-) Maksudnya suka main Pok Ame-ame gitu: siang jadi hakim [who believes in the system] kalau malam jadi preman [who believes in justice].

Justice may be blind.. but it can see in the dark”... ;-)

*habis ini gw mau menggelar ajang seleksi Organisasi Massa yang bisa diajak join mengganyang plagiat, in case legal system fails ;-) Daripada kerjaannya cuma sweeping atau keliling kota bikin macet, kan mendingan potensi mereka digunakan untuk hal2 yang berguna ;-)*