Tuesday, August 29, 2006

Kaleidoskop Air

Awal 1980-an:

Membaca lakon wayang Tirta Amarta, kalau nggak salah dimuat bersambung di majalah Tom-Tom atau Ananda. Alkisah, Bima mendapat tugas mencari tirta amarta, atau air kehidupan: air yang jika diminum akan membebaskan dari kematian. Dasar samudera sudah diobrak-abrik, namun yang ditemukannya hanya Dewa Ruci; manusia kerdil yang mengatakan bahwa untuk menemukan air kehidupan, Bima harus masuk ke dalam kupingnya. Bima tertawa. Bagaimana mungkin masuk ke dalam telinga Dewa Ruci? Dewa itu besarnya hanya seibu jarinya!

Tapi betapa salahnya Bima! Ketika dia masuk ke telinga Dewi Ruci, ditemukannya ruang yang luas tak terperi, penuh dengan segala warna, tanda, gejala, dan pola. Ruang tempat dia dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri, introspeksi, dan menjadi lebih baik. Itulah air kehidupan. Sebuah telaga maya tempat kita bercermin dan belajar dari hal yang ada di sekitar kita untuk mencapai kebijaksanaan. Tak benar2 membebaskan dari kematian; tapi jika berhasil mereguknya, berarti tercapailah esensi dari hidup itu sendiri.

Awal 1990-an:

Membaca Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto). Salah satu tokoh utamanya, Gendhuk Tri, terkena racun ganas yang mematikan. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup jika menghirup racun itu. Namun Gendhuk Tri tidak mati, walaupun kemudian tubuhnya menjadi sangat beracun dan siapa yang menyentuhnya kontan tewas. Bertahun-tahun kemudian, ketika dia bertemu dengan pencipta jurus yang dipelajarinya, dia baru mengerti mengapa dia tidak mati. Dasar ilmunya adalah Tirta Parwa, kitab air, ilmu silat yang didasarkan pada sifat2 air.

Air memang tidak pernah mati. Air menyerap dan melarutkan apa pun racun yang ada, tapi dia tidak akan mati. Tak ada yang bisa mematikan air. Bahkan jika dipanaskan pun air hanya berubah bentuk menjadi uap, tapi air tidak lenyap.

1996-1997:

Mengikuti ujian kenaikan tingkat Tetada Kalimasada. Di tengah kelompok peserta ujian selalu ditimbunkan berbotol2 air mineral. Konon kabarnya, energi2 yang muncul dari para peserta akan membuat air itu punya kekuatan yang Insya Allah dapat membantu menyembuhkan. Interesting, cool concept!

12 Agustus 2006

Ngobrol dengan seorang teman, seorang aktivis Capacitar, tentang trauma healing dan stress management. Bicara tentang energi; bagaimana setiap hal di alam semesta ini adalah energi yang saling mempengaruhi dengan energi2 di sekitarnya. Bicara tentang the so-called pengobatan alternatif (yang harusnya dipertanyakan: alternative to what? Kenapa pengobatan medis harus dianggap yang paling benar, dan yang tidak medis hanya dilabel sebagai alternatif). Bicara tentang air dan penelitian Dr. Masaru Emoto: The Message from Water.

18 Agustus 2006:

Menemukan buku lanjutan tulisan Dr Masaru Emoto, The True Power of Water (edisi Bahasa Indonesia). Isinya kurang lebih sama dengan buku sebelumnya, hanya saja di sini ditekankan pada kasus2 penyembuhan menggunakan air Hado. Melalui penjelasannya yang gamblang, si penulis menjabarkan secara ilmiah tentang resonansi energi yang bagi banyak orang dianggap sebagai klenik, tahyul, atau tidak punya dasar ilmiah ;-).

Analoginya ilmiah sekali: menggunakan garpu tala. Garpu 1 & 2 mempunyai frekuensi 440Hz, sementara garpu 3 berada di frekuensi 442Hz. Maka, kita kita memukul garpu 1 hingga berbunyi, garpu 2 akan ikut berbunyi, sementara garpu 3 diam. Garpu ke-2 berbunyi karena beresonansi dengan garpu pertama. Seperti energi2 di tubuh kita beresonansi dengan energi2 lain di sekitar tubuh.

Selanjutnya, beliau menjabarkan tentang perubahan pada level sub-atom. Kita dapat mengirimkan resonansi energi pada tubuh manusia, jika energi itu disesuaikan frekuensinya. Resonansi itu akan mempengaruhi molekul, atom, bahkan sub-atom dari tubuh kita. Dan jika susunan molekul, atom, bahkan sub-atom berubah, maka berubahlah sel-sel tubuh kita. Maka, yang dibutuhkan untuk menyembuhkan suatu penyakit, adalah mengirimkan energi yang bisa mengubah susunan sel kita menjadi susunan sel orang yang tidak menderita penyakit tersebut.

Dalam buku ini dijabarkan bagaimana air menjadi media energi untuk membuat bagian sel2 tubuh beresonansi. Sel tubuh mana yang harus diresonansikan, dan prinsip bagaimana mengatur frekuensi air supaya dapat menimbulkan resonansi pada sel tersebut. Kenapa dipilih air? Ada dua alasannya: pertama, karena air sensitif terhadap energi, sehingga mudah dimodifikasi frekuensinya.

Dan alasan kedua.. karena air dalam menjangkau seluruh sel manusia. Hanya 30% tubuh manusia yang tidak terdiri dari air.

18 Agustus 2006, sebelum memulai membaca The True Power of Water:

Membaca kata pengantar KH Abdullah Gymnastiar untuk buku ini. Air adalah nikmat dan karunia Allah yang luar biasa bagi umat manusia, demikian katanya. Kemudian, beliau mengutip beberapa ayat Al-Quran:

Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup (QS al-Anbiya [21]:30)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu (QS Ibrahim [14]:32)

Hmm.. menarik! Selama ini gw take it for granted kalimat di al-Anbiya itu. Terfokus pada bagian dari air segala sesuatu yang hidup, karena gw tahu bahwa 70% tubuh manusia terdiri dari air. Baru sekarang gw sadar ada cara lain membaca kalimatnya, yaitu dengan menekankan pada: Kami ciptakan dari air ;-)

Petikan dari surat Ibrahim itu bikin gw lebih tercengang lagi. Iya ya, kenapa setelah disebutkan langit dan bumi, masih harus disebutkan air hujan? Langit dan bumi sudah merupakan pasangan yang mewakili semuanya. Seharusnya itu sudah cukup untuk menunjukkan keagungan Sang Pencipta dalam menciptakan alam semesta. Menyebutkan air hujan adalah pengulangan tak perlu, karena air hujan adalah bagian dari langit dan bumi juga?

Unless, there is something special about this water ;-)

28 Agustus 2006, 21:15, dalam perjalanan pulang dari kantor:

Air memang istimewa. Mau dilihat dari sisi agama, filosofi, mitos, legenda, maupun ilmiah, arahnya sama: mungkin air bukan sekedar sumber kehidupan. Air adalah kehidupan itu sendiri.

Science is not at odds with religion; science is only too young to understand, demikian kata salah satu tokoh dalam Angels & Demons (novel karangan Dan Brown). Dan mungkin gw ingin menambahkan satu kalimat dari rangkaian peristiwa di atas: and that is why we need myth and legend, to bridge our understanding before science comes with proof.