Saturday, April 05, 2008

Balada si Roy S

Sebenernya gw nggak tertarik membahas komentar asbun-nya Roy Suryo yang bikin [banyak] blogger tersinggung dan sampai minta dialog segala. Buat gw, Roy Suryo ngomong seenak udelnya sendiri sih udah biasa.. hehehe.. emang orangnya gitu, what can we expect ;-)? Dan lagi, gw pribadi sih nggak tersinggung kalo dia “menyejajarkan” blogger dengan hacker. Actually, I’m a little bit flattered, karena secara tidak langsung merasa diakui punya kemampuan setingkat hacker. Bisa membobol situs Depkominfo segala! Waduh, itu kan berarti punya keahlian tingkat tinggi ;-) Padahal, ngganti template blog aja [setahu gw] banyak blogger yang belum bisa... hehehe.. ;-)

So, saat blogosphere penuh dengan posting surat terbuka buat Roy, posting sarkas-yang-disebut-sebagai-satire-oleh-si-penulis tentang komentar si Roy (padahal, sarkas itu kan belum tentu satire ya ;-)? Sementara satire memang mengandung sarkasme to some degree), gw sih tenang2 aja. Nggak ambil pusing ;-)

Cuma waktu Mas Iman memposting saran2nya berkaitan dengan kesediaan si Roy berdialog menanggapi para “pengunjuk rasa” aja gw ikutan berkomentar. Bukan apa2.. jalan pikiran gw sejalan dengan Mas Iman:

Mestinya moment ini ditangkap para ‘ delegasi ‘blogger dengan pemikiran yang sistimatis dan tidak membabi buta datang tanpa konsep. Kalau tidak, dialog ini hanya membuat rating Roy Suryo tambah naik.

Yup! Gw setuju banget dengan saran itu. Menurut gw, maju tanpa konsep yang matang, itu namanya kamikaze.. hehehe.. Dan bercermin pada kisah tentang Petisi Pembubaran IPDN, menurut gw kekhawatiran gw [dan Mas Iman] beralasan ;-)

Waktu itu, blogger juga maju dengan konsep yang kurang matang. Poin-poin yang dituliskan dalam petisinya [menurut gw] kurang kuat. Itu baru menurut gw, apalagi menurut politisi2 yang punya 1.000 jam terbang ;-). Apalagi dalam menetapkan targetnya; dipatok untuk mendapatkan 10.000 tandatangan, yang sampai sekarang baru terpenuhi 2001 saja. Itu pun tidak seluruhnya berisi dukungan; banyak juga yang nge-junk dan berantem di situ.

Dan apa hasil dari niat yang baik ini?

None ;-)

Itu sebabnya, gw menuliskan komentar begini:

Setuju sama Mas Iman. Saran saya, blogger jangan mengulangi langkah saat membuat petisi anak bangsa di kasus IPDN. Berani maju dan bertindak itu bagus. Tapi.. maju & bertindak tanpa konsep yang matang itu hitungannya kamikaze :)

Rupanya tanggapan gw disalahartikan oleh Mas Arief, aka Kang Kombor, salah satu pencetus Petisi Pembubaran IPDN ;-). Mas Arief, yang juga menyumbangkan banyak komentar di entry ini, menanggapi gw demikian:

Petisi anak bangsa menuntut pembubaran IPDN bukannya tanpa konsep. Konsepnya ada tapi memang ada kekurangan dalam menuangkan konsep itu dulu. Kalau mau menelusuri blog para pengusung petisi itu, ada kok yang menuangkan konsep.

Huh? Emangnya gw bilang “tanpa konsep”, gitu ;-)? Sampai gw pelototin tulisan gw sebelumnya, ternyata gw nulisnya “tanpa konsep yang matang”, bukan bilang “tanpa konsep” deh ;-) Kan beda jauh antara “tanpa konsep” dan “tanpa konsep yang matang” ;-)

Gw nggak tahu apakah salah tangkap ini akibat Mas Arief kurang memperhatikan “nuansa” dalam kalimat yang gw tuliskan, atau karena merasa buah karyanya diserang [lagi] ;-) Mesti diakui, gw memang suka menggunakan kalimat bersayap yang kalau nggak hati2 dibaca bisa berpotensi membuat orang tersinggung ;-).

Tapi... lepas dari apa yang mendasari komentar atas komentar itu.. terus terang fenomena ini membuat gw lebih khawatir tentang dialog blogger itu ;-) Gw khawatir jika “delegasi” blogger yang dipilih juga memiliki kecenderungan yang sama dengan Mas Arief.

Bayangkan.. kalau membaca tulisan gw yang bersayap aja masih mengalami kesulitan (entah karena kesulitan menangkap atau karena kesulitan menguasai sensitivitas diri), bagaimana bisa mengatasi Roy Suryo dalam suatu dialog terbuka ;-)? This guy might be a pain in the ass, but.. I bet he’s quite good in this area. At least he’s been playing this game longer than the bloggers. Surely he’s got some expertise ;-)

Dialog terbuka adalah permainan kata2 dan strategi dalam menggunakan kata2 itu. Jebakan Batman-nya banyak ;-) Dan untuk menghindar dari jebakan Batman, memang harus hati2 sekali menangkap maksud dan membalikkan serangan. Mestinya, dalam setiap dialog terbuka, Miranda’s Warning juga dibacakan:

You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you.

Oleh karenanya, harus hati2 sekali menangkap nuansa kalimat2 lawan, dan membalikkannya dengan argumen yang kuat. Jangan sampai buru2 membalikkan, dan ternyata bukan itu yang dimaksud lawannya ;-). Itu akan merugikan diri sendiri, karena di mata penonton akan menimbulkan kesan bahwa si penyanggah tidak bisa menangkap dengan baik suatu konsep. Lebih jauh lagi: si penyanggah akan terlihat kurang menguasai bahan, terlalu sensitif, atau bahkan defensif. Either way, it kills our character, karena dengan mudah lawan akan membalikkan keadaan dengan: jika menangkap yang begini aja salah, apa iya sebenarnya ada isyu untuk didialogkan? Jangan2 ini hanya kesalahan tangkap lainnya yang tidak perlu dibesarkan ;-)

Atau.. kalau pakai bahasa Mas Iman: dialog ini hanya akan membuat rating Roy Suryo tambah naik ;-)

Naaaah.. sekarang gw tanya sama para blogger yang mau maju: mau nggak sampeyan2 ini jadi batu pijakan menaikkan rating-nya si Roy ;-)? Kalau nggak mau, ya monggo menyusun konsep dengan matang dulu.

Well.. moga2 tulisan ini dilihat sebagai dukungan atas niat baiknya blogger memperjuangkan nama baik ya.. hehehe.. Moga2 berhasil deh dengan misinya, bukan malah membuat parodi bagi novel nge-top tahun 80-an: Balada si Roy (uuuh... gw sempat kesengsem berat sama bad boy jagoan rekaan Gola Gong ini ;-) Pleasee.. don’t make a parody of this story ;-)).

Gw nggak ikut2an deh dalam kasus “Balada si Roy S” ini.. hehehe.. Tapi ntar kalau ada seri Balada si Dhani, mungkin gw lebih tertarik. He’s more my type of guy.. HAHAHAHA.. Sesuai dengan motto gw: sombong boleh, asal emang ada yang bisa disombongin ;-)