Kemarin ada teman gw ultah. Kantor membelikannya tiramisu dari sebuah toko kue enak yang buesaaaaar banget! Pas untuk dibagi jadi 36 potongan besar (note: ini memang ultahnya yang ke 36). Alkisah, potongan2 besar tiramisu yang menggiurkan itu telah menimbulkan godaan buat salah seorang teman yang lain. Dia ini CPP (= Calon Pengantin P
*Tenang aja, Dri, tanpa diet ketat loe juga udah ganteng kok, kayak gantengan kunci ;-p Jorle gitu loch ;-p*
Ngomong2 soal temptation, ada satu temptation yang menurut gw sensasional banget! Adanya di film, atau buku, The Last Temptation of the Christ (note: sorry, gak bermaksud SARA, hanya merasa ini analogi yg paling tepat). Temptation-nya sih biasa banget: the right illusion at the right time, menunjukkan ilusi indah pada saat calon korbannya sudah terpuruk. Tapi temptation carrier-nya sangat tidak biasa: seorang malaikat kecil.
Nah… selama ini malaikat selalu diasosiasikan sebagai pembawa pesan baik. Jadi, kalau dalam saat terpuruk, lantas seorang malaikat kecil yang manis datang mengatakan pada kita bahwa penderitaan kita ini hanyalah cobaan, dan kita sudah lulus dari cobaan itu, tinggal mengikuti dia untuk mengambil reward-nya, siapa yg gak luluh? Siapa yang bakal susah2 mikir dan curiga bahwa iming2 reward dari si malaikat kecil itulah temptation yang sebenarnya? Si pembawa kabar begitu kukuh kredibilitasnya sebagai bagian dari kebaikan,
Jangankan kalau malaikat itu sampai ngomong dan membujuk, lihat tampangnya aja bisa2 meluluhkan hati. Seperti yang sering gw alami dengan Ima. Temptation berat gw adalah kalau harus mendisiplinkan Ima. Mencabut privilege-nya Ima sebagai konsekuensi dari inapprop
Well… back to topic. Yang susah adalah kalau gw mesti bermain tunggal seperti tokoh yang diperankan Willem Dafoe dalam film di atas. Mau minta back up sama siapa? Tempted banget
Di film itu, si tokoh sadar bahwa dirinya terperdaya oleh setan dalam wujud malaikat saat di kehidupan paralelnya dia nyaris meninggal. Dia sadar ketika waktunya sudah hampir habis, ketika pilihan (tak perduli benar atau salah) tidak akan mungkin dibalik lagi. Waktu dan alam membantunya menjawab, walaupun harus menunggu hingga detik2 terakhir.
Mungkin, seperti tokoh itu, gw juga harus menunggu bantuan dari father time dan mother nature kali ya? Tak perduli betapa pun tergodanya gw untuk percaya pada si malaikat kecil, always keep my options open ;-). Jaga2, jangan sampai terperdaya memilih sesuatu yang bisa disesali. Apalagi kalau pilihan itu bisa mempengaruhi hidup orang lain ke arah yang negatif. Dengan demikian di saat terakhir gw akan tetap bisa berkata dengan tenang: it is accomplished ;-p