“What monkeys they are”, said a florid orthopedist to a fellow Brit.
“They are the most presumptuous imitators. They observe us for all of five minutes, then they think they can do it, too.”
(J. Irving, A Son of the Circus, p. 77)
Gw pertama inget kutipan itu beberapa minggu lalu. Predisposisinya adalah baru aja ketemu klien yang acts-like-she-knows-it-all-although-it-is-clear-that-she-does-not. Triggernya adalah sebuah pertanyaan di bul-bo Friendster: orang seperti apa yang paling bikin loe ogah ketemu? Kombinasi antara predisposisi dan trigger ini menyebabkan gw menjawab: orang pintar dengan pemahaman yang tidak memadai, karena dengan pengetahuannya yg sedikit dia merasa sudah mampu meraba the rest of the story. Otomatis, gw jadi ingat cerita tentang monyet ini: monyet
Klien gw itu contohnya. Dia berasal dari sebuah perusahaan yg awalnya merupakan perusahaan keluarga, tapi kini berkembang pesat. The type of client who is not familiar with marketing research, let alone QUALITATIVE research. Masalahnya, dia itu cerdas, dan pernah nonton FGD (Focus Group Discussion) ecek2 yg dilakukan oleh Ad Agency-nya. Nah, bisa dibayangkan problemnya
“Aduh, kalau semua respondennya ngomong bersahut2an gini, kita nggak bisa dengar, nggak bisa catat! Percuma dong kita bayar mahal2, kita jadinya nggak dapat apa2”
Gw aja langsung melongo dan mati ucap, sebab justru grup yang beliau proteskan itu adalah grup yang dinamikanya mendekati sempurna! Dengan pendapat pro-kontra yang bersahutan, data yang didapat oleh analisnya sangat kaya! Klien2 lain (MNC yang sudah research-minded) bakal memuji setinggi langit kalau kita bisa bikin grup seperti ini, dan moderatornya bisa dapat imbas nama baik sebagai top moderator. Lha, ini kok malah protes?
Gw juga punya teman yang rada mirip sama klien gw itu. Dia seorang pria yang pinter banget, system analyst yang top. Suatu hari cerita kami menyinggung topik MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Dia tertarik pada MBTI, dan karena tidak bertentangan dgn kode etik psikolog, dengan senang hati gw kasih link ke beberapa situs online tentang MBTI.
Ternyata gw melakukan hal yang salah! Dengan modal beberapa situs online itu, teman gw yang pintar ini merasa dia paham betul tentang MBTI. Dia mulai mem-profile semua orang di milis suatu reality show (tempat kami tergabung sebagai member). Tentu saja dia melakukannya dengan pendekatan yang sangat tidak psikologis, sehingga profile yang dibuat juga seenak udelnya sendiri. Gw coba mengingatkan bahwa pendekatannya kurang tepat; gw coba perkenalkan dia dengan teori Jung yg mendasari MBTI karena dia harus memahami filosofinya dulu, bukan hanya mencocokkan item per item dari situs online ke perilaku orang yg dia lihat. Tapi dia malah menganggap gw sekedar punya kesombongan intelektual, nggak mau kesaingan sama dia, dan mengatakan bahwa pendekatannya sudah benar karena MBTI hanyalah sebuah togel. Menurut si ahli komputer ini manusia itu sama saja dengan komputer jadi nggak perlu pendekatan beda.
Kepalang tanggung, due to my moral obligation towards my profession, udah sekitar 5 bulan ini gw terlibat polemik harian dengan teman gw itu untuk mengoreksi pendapatnya. Well, gw yang berdosa memperkenalkan MBTI kepadanya, jadi gw mesti tanggung jawab juga untuk tidak menggunakan hal ini diputarbalikkan seenaknya. What a dear price I must pay!
Terakhir, hari ini gw baru aja selesai membaca The Minds of Billy Milligan, cerita tentang seorang penderita DID[1] yang salah satu pribadinya terlibat kasus kriminal. Awalnya dia dinyatakan tidak bersalah krn dia sendiri tidak sadar melakukan tindak kriminal tersebut. Dia dimasukkan dalam sebuah rumah perawatan mental yang melakukan pendekatan pengobatan modern. Namun kemudian banyak politisi yang ngublek2 dan menuntut dia dipindahkan ke RSJ tradisional untuk pelaku kriminal dengan gangguan jiwa berat (gila). Di situ para psikiaternya menafikan diagnosa DID, para referee yang meninjau ulang kasusnya nggak mau goes the extra miles untuk memahami dan mengerti tentang keadaan medisnya, sehingga dia harus dihukum seperti orang gila. Well, lagi2, ada orang yg harus membayar mahal hanya karena ada orang2 pintar yang sudah merasa cukup dengan kepintarannya, sehingga merasa sudah sangat tahu dgn data yg seadanya.
Menengok ketiga kasus di atas, rasanya setuju