
Habis itu, boeka kita “mandikan” dengan angin, supaya bersih dari sisa-sisa kapas. Terakhir, kita pakaikan bajunya dan tak lupa membuat birth certificate untuk boneka ini.
Ima really enjoyed this new experience! Dia membuat dua boneka: satu Eeyore yang diberinya baju seragam penjara (asli!
Hmmm… I like the idea! Mereka ‘seolah-olah’ menjual boneka. Tapi sebenarnya, yang dijual adalah emosi. Pengalaman membuat sendiri bonekanya menimbulkan sensasi seolah-olah boneka itu adalah “anak yang dilahirkannya sendiri”. Ini adalah suatu analogi yang luar biasa untuk seorang anak perempuan yg mengidentifikasikan diri pada peran ibu.
Tahapan-tahapan selanjutnya juga mungkin akan berkesan ritual; memandikan boneka yang baru jadi, memakaikan baju, memilih nama, dan membuatkan akte kelahirannya. Tapi sekali lagi, kita bicara di dunia anak-anak. Sensasi membuat boneka dari yang “tiada” menjadi “ada”, bukankah itu hanya merupakan skala kecil dari sensasi yg sama di dunia dewasa: sensasi yg muncul ketika yudisium terakhir “melahirkan” kita menjadi sarjana baru setelah tahun-tahun panjang penuh perjuangan, sensasi ketika melihat dan menggendong anak kita pertama kali setelah bulan-bulan panjang penuh harapan dan kecemasan?
So, gw sendiri ikut menikmati pengalaman Ima Sabtu lalu. Sebagai psikolog, gw senang bahwa ilmu gw yg biasa disebut sebagai “ilmu menara gading” bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Sebagai ibu, gw juga senang karena dapat kesempatan bermain peran membimbing anak gw menciptakan sesuatu; sebuah peran yg akan terus menerus gw jalani dalam seluruh hidup gw sebagai ibu.
Satu yg kurang dari pengalaman gw kemarin: sepertinya si pemilik toko tidak melatih karyawannya dengan baik.
(***Speaking of the devil, apa yg dilakukan oleh si penjual itu juga mungkin bagian dari kenyataan di dunia ini. Perguruan tinggi yang meniadakan skripsi, dokter-dokter kandungan yang menyarankan operasi cesar walaupun tidak ada indikasi medis, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman yg direduksi menjadi sekedar hasil akhir, yg membuat kita kehilangan makna terhadap apa yg kita raih: sarjana-sarjana yg tidak dapat menerapkan ilmunya dengan baik, ibu-ibu yang tidak bisa terlalu
Well… life is a matter of choice. Adalah hak orang untuk memilih mendapatkan pengalaman, atau sekedar mendapatkan hasil akhir. Kalau buat gw pribadi sih manis-tidaknya hasil akhir berbanding terbalik dengan manis-tidaknya pengalaman yg mendahuluinya. Hasil akhir nggak bermakna kalau hanya datang sebagai sesuatu yang terberi. Tapi tentunya gw nggak bisa memaksa semua orang seperti gw
Anyway, ini adalah foto Ima di hari ulang tahunnya, dengan seluruh hadiah yang didapatnya. Sitting on the top were the two dolls she created the day before. Moga-moga, pengaturan ini akan juga berlaku untuk hidup Ima yang sesungguhnya: semakin besar usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan sesuatu, semakin “tinggi” dia meletakkan hasil itu dalam skala penghargaannya.
Happy 6th Birthday, My Little Girl!