Friday, March 26, 2010

Quoting Uncle Nigel

Sebelum gw memulai tulisan ini, gw mau menegaskan bahwa gw amat sangat menyadari tulisan [yang mungkin akan jadi satu2nya tulisan di Maret 2010] ini dapat menjadikan gw public enemy #1. Tetapi... gw juga ingin menegaskan bahwa: I don't care ;-)

***
Beberapa hari terakhir ini, topik yang lagi rame di Psi-Alt adalah tentang diskriminasi sebuah iklan lowongan kerja. Iklan yang dipermasalahkan adalah untuk jabatan resepsionis, dengan persyaratan antara lain "wanita, single, berpenampilan sangat menarik dan proporsional". Seorang senior yang gw hormati, praktisi HR kawakan, mengatakan bahwa fakta2 yang ditemukan dalam kepegawaian membuat mereka terpaksa harus diskriminatif. Misalnya, setelah beberapa angkatan memberikan kesempatan yang sama pada lelaki dan perempuan untuk pekerjaan 3 shift, dan ternyata satu persatu pegawai perempuan itu berguguran setelah menikah, mau nggak mau akhirnya mereka diskriminatif: mensyaratkan hanya laki2 untuk posisi itu.

Gw nggak setuju dengan istilah diskriminatif ini ;-) Menurut gw itu bukan diskriminatif, melainkan suatu strategi taktis. Bodohlah seorang praktisi HR yang tetap membuka kesempatan sama padahal sudah ada data2 seperti ini! Mereka kan digaji perusahaan untuk merekrut the right person for the right place! Ngapain merekrut segmen yang kecil kemungkinannya untuk menghasilkan the right person hanya agar tidak kelihatan diskriminatif? Emangnya ini perusahaan, atau badan amal yang berazaskan sama rata sama rasa ;-)?

Ya, diskriminatif menurut gw mengacu pada suatu keputusan/tindakan yang dasarnya hanya afeksi semata. Tanpa dukungan logika ;-) Nah, kalau sudah ada fakta2 pendukung, ada logika yang dapat menjadi dasar, itu namanya taktis. Bukan diskriminatif :-)

Berdasarkan hal itu, meskipun gw belum menentukan sikap terhadap tindakan FUI menyerbu konferensi ILGA, secara logika gw sepakat dengan mereka ;-) Konferensi itu seharusnya memang tidak digelar ;-)

*sampai sini udah ada yang mau menghujat gw ;-)? Belum? Lanjut ya... ;-)*

Don't take me wrong! Gw bukan homophobic ;-) I have my share of gay and lesbian friend ;-) Gw bukan orang yang takut dekat2 dengan lesbian, karena menurut gw being a lesbian bukan berarti mereka nggak punya selera dan bakal nomprok perempuan mana pun yang ada di dekat mereka ;-) They are just not interested in men... bukan berarti mereka drooling all over every woman ;-)

Gw sangat bisa menerima bahwa mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda dari mayoritas mahluk di bumi ini. Dan gw tidak keberatan dengan itu! Gw nggak akan mendiskriminasikan mereka hanya karena orientasi seksual mereka.

Tapi.... buat gw, tidak diskriminatif itu berbeda dengan memberikan mereka hak dan kesempatan yang sama dalam SEGALA hal. I accept their condition, but please... don't push your luck ;-) Don't cross the line! Dan "garis" yang gw maksud adalah: tetaplah terima orientasi seksual itu sebagai "keterbatasanmu". Nggak usah minta pengakuan macem2 :-)

Gw menganalogikan homoseksualitas dengan keterbatasan lainnya. It's one thing untuk menerima seorang buta warna sebagai sekretaris. Tapi.. kalau seorang buta warna ngeyel minta diterima jadi sopir, apalagi ngeyel minta lampu lalu lintas diubah dari merah-kuning-hijau menjadi hitam-abu2-putih.... that's what I call "pushing their luck"

Sorry to say... gw adalah jenis orang yang akan mendengus jika ada yang bilang bahwa pelarangan konferensi ILGA ini adalah pelanggaran HAM ;-) Menurut gw, kita sudah cukup memenuhi HAM jika membiarkan mereka menjalankan orientasi seksualnya di ruang tertutup. Kalau mereka minta pengakuan terbuka dan kesempatan mengadakan konferensi, justru HAM mayoritas orang lah yang dilanggar ;-)

Emangnya loe kira yang punya HAM cuma lesbian dan gay doang ;-)? Orang2 yang straight nggak punya HAM juga ;-)?

HAM, bagi seorang straight seperti gw, adalah rasa aman bahwa anak2 gw tidak akan melihat homoseksualitas sebagai sesuatu yang wajar. Sekali lagi, ini bukan berarti gw akan mengajari anak2 gw membenci kaum homoseksualitas, tetapi agar mereka tidak melihat hal itu sebagai opsi yang sama baiknya dengan menjadi tidak homoseksual. Gw ingin anak2 gw tumbuh dalam dunia yang proporsional. Termasuk dalam meletakkan proporsi homoseksualitas sebagai nggak lebih dari 15% populasi (kalau menurut ini malah cuma 2-3%)

Bicara soal statistik, kalau populasinya memang benar masih di kisaran 2-3%, berarti mereka nggak signifikan dong ya ;-)? Level of Significance 0.05 aja nggak lewat ... hehehe... Bahkan kalau pun jumlahnya memang mendekati 15%, berarti belum jauh2 amat dari level of significance 0.1 ;-)? Secara statistik, masih cukup sahih dong, untuk menolak bahwa mereka harus diterima sebagai suatu "kewajaran", dan boleh bebas merdeka menjadi bagian yang harus diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat ;-)? HAHAHA...

Bicara soal HAM, sekarang mana yang HAM-nya lebih terlanggar? Para lesbian dan gay yang nggak boleh mempertontonkan orientasi seksualnya, atau para non-homoseksual yang harus menerima hal ini ;-)?

Gw terus terang jengkel berat membaca argumen2 yang membawa HAM, serta mengatakan bahwa konferensi ini adalah hak para gay dan lesbian sebagai warganegara ;-) Hey! Para koruptor juga warga negara Indonesia lho.... hehehe.... Apa kemudian negara harus memberikan hak bagi mereka untuk mengadakan Konferensi Ikatan Koruptor Indonesia ;-)?

Gitu deh... kalau menurut gw, para gay dan lesbian juga mesti belajar lebih dewasa untuk menerima bahwa mereka tidak dapat memperoleh segalanya. Isn't it enough that we don't force to deny your sexual orientation, and marry the opposite gender? Should you force your existence to us?

Think again ;-)

Sebagai penutup, gw ingin mencontohkan Nigel Lythgoe, salah satu founder acara yang sedang gw gemari: So You Think You Can Dance. Oom Nigel ini pernah dikritik karena komentarnya dianggap homofobia. Gara2nya, setelah dua penari pria menarikan dansa ballroom bersama, Oom Nigel mengatakan bahwa "It was a bit like watching Blades of Glory". Dan sebagian orang percaya bahwa itu nggak mengacu sepenuhnya pada film berjudul sama ;-)

Tapi apakah benar Oom Nigel seorang homofobia? Hmmm... buktinya dia aman2 aja tuh, menjadi juri acara tersebut bersama Adam Shankman, yang jelas2 gay ;-) Kalau dia homofobia, nggak mungkin lah, bekerja sama dengan Oom Adam.

Gw sih percaya Oom Nigel adalah seperti yang dia katakan:

"I'm really one of those people that like to see guys be guys and girls be girls on stage"


And I said Amen to that ;-)

I don't care what game you play in the bedroom, or in your house. But when it's on the "stage", it's a different story. And world is the stage we share together; so... the bad news is... you're not the only human who can whine about human right ;-)