Tuesday, February 16, 2010

Pada Lobus dan Diskursus

Lantaran baru mengiyakan undangan bergabung di milis Psikologi Alternatif - milis baru yang misinya adalah "membumikan" psikologi dengan menjadi tempat diskusi serius-santai tentang psikologi yang tidak mengeksklusifkan diri bagi insan psikologi saja - gw jadi melakukan hal yang lama gw tinggalkan: mailing-list hopping ;-) Soalnya milis PsiAlt ini masih baru, masih sepi, jadi gw loncat2 dulu ke tempat lain ;-)

Naaah... di salah satu milis yang gw loncati hari ini (bukan di PsiAlt lho ya ;-)), gw menemukan posting yang membuat kening gw berkerut ;-) Dan seperti biasa, kalau kening gw udah berkerut, susah buat gw untuk tidak menyelesaikan dorongan emosional untuk menuliskannya dalam sebuah tulisan ;-)

***

Jadi, salah satu posting di milis itu memberikan tautan ke berita "Ilmuwan Temukan Letak Agama di Otak" ini. Tentunya diimbuhi kata2 tentang betapa malangnya kita umat beragama - karena berarti kita mengalami penyakit mental ;-) Dan sudah ditingkahi beberapa tanggapan yang mengamini ;-)

Well.. posting seperti itu sebenarnya jamak di milis tersebut. Tapi tak urung gw merasa aneh. Benarkah?? Benarkah ada letak agama di otak? Segera gw buka tautan yang diberikan. Dan... untungnya, ada anggota lain yang sudah menanggapi ketidaktepatan berita tersebut dengan memberikan sumber aslinya. Jadi bisa langsung gw bandingkan ;-)

Dan benar... ternyata artikel berbahasa Indonesia mengalami distorsi realitas yang parah... hehehe....

Berita yang sudah diterjemahkan mengatakan antara lain demikian:


INILAH.COM, Jakarta - Ilmuwan telah mengidentifikasi area otak yang jika rusak akan menyebabkan spiritualitas lebih besar. Temuan itu memberi petunjuk pada akar spiritual dan sikap keagamaan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuron edisi Februari melibatkan ciri kepribadian yang disebut transendensi-diri, yang merupakan ukuran samar-samar menyangkut perasaan spiritual, berpikir, dan berperilaku.

Ilmuwan mensurvei pasien tumor otak yang telah dihapus sebelum dan setelah operasi. Survei itu menghasilkan nilai transendensi-diri. Survei itu menunjukkan kerusakan selektif kiri dan kanan daerah posterior parietal otak menunjukkan peningkatan tertentu dalam transendensi-diri atau ST.

"Kerusakan pada daerah parietal posterior mengakibatkan perubahan cepat pada kepribadian dari dimensi yang berkaitan dengan kesadaran diri-referensial. Dengan demikian, disfungsional aktivitas saraf parietalis dapat mendukung spiritual dan keagamaan mengubah sikap dan perilaku."


Hmmm.... terus terang, gw agak bingung baca artikel ini. Pertama, walaupun ilmu psikologi gw udah rada karatan, gw haqqul yaqqin bahwa self-transcedence itu bukan ciri kepribadian. Jadi, nggak salah dong, kalau gw langsung meragukan kredibilitas artikel ini? Hehehe... Yang kedua, gw menilai artikel ini penuh dengan terjemahan istilah yang aneh. Seperti "daerah parietal posterior", yang [seingat gw saat menyimak Psikologi Faal yang bersemester2 itu] ada istilah Indonesianya: daerah posterior pada lobus parietalis. So, makin menjadi2lah credibility problem artikel tersebut ;-)

Segera gw buka sumber aslinya, dan.... voila! Apa yang gw tangkap dari sumber aslinya kosok balen, alias berbeda 180 derajat, dari artikel Indonesianya!

*FYI, kosok balen itu bahasa Jawa, bukan bahasa latin atau istilah2 ilmiah ;-)*

Artikel aslinya bercerita begini:

These volunteers suffered from two kinds of cancer: gliomas, which affect the brain cells that surround neurons, and meningiomas, which affect the membrane that wraps the brain itself.

Doctors removed neurons from the 48 glioma patients to stem the spread of their tumours, whereas the people with meningiomas had tumour cells removed, but no neurons.

Urgesi's team found that the 24 people with gliomas in the posterior parietal cortex tended to score higher on the self-transcendence test after surgery than they had before. By contrast, the scores of people with gliomas in the anterior region of the cortex, and of people with meningiomas, did not change after their surgery.

This suggests that it is the removal of neurons from the posterior parietal cortex which is responsible for the personality change, and not simply experiencing a serious illness or undergoing brain surgery, Urgesi says. He suggests that the removal reduces activity in this brain region and that this may increase feelings of transcendence.


Beda banget kan ;-)?

CMIIW, tapi.. dalam artikel berbahasa Inggris tersebut, yang dimuat pada situs newscientist tersebut, gw menangkap beritanya sebagai: yang membedakan hasil pengukuran self-transcendence pada dua kelompok sampel yang mengalami tumor pada otaknya pasca operasi adalah berkurangnya aktivitas otak akibat dibuangnya sel neuron pada sisi posterior lobus parietalis.

Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa hanya subyek yang neuron pada sisi otak tertentunya dibuang (penderita glioma pada sisi posterior lobus parietaslis) yang hasil pengukuran self-transcendence meningkat. Sementara itu, jika neuron yang dibuang adalah pada sisi otak yang lain, atau yang neuronnya tidak dibuang (penderita meningioma) hasil pengukurannya tidak dapat dikatakan meningkat.

Quo vadis nih, yang bikin berita ;-)?

Memang, lantas dapat kita katakan bahwa sisi posterior lobus parietalis-lah yang berperan dalam pencapaian self-transcendence. Jika terlalu banyak aktivitas otak di daerah ini, maka kemampuan mencapai transendensi diri berkurang. Tetapi bukan lantas kalau daerah ini rusak maka transendensi dirinya meningkat ;-) Wong jelas2 penelitiannya membandingkan pra dan pasca operasi tumor kok... hehehe... bukan pra dan pasca menderita tumor otak ;-)

Jadi, sisi posterior pada lobus parietalis ini sama sekali bukan letak agama ;-) Itu hanya bagian otak yang berperan dalam sisi spiritual. Spiritual kan nggak selalu berkaitan dengan agama ;-)

Membaca artikel asli dalam bahasa Inggrisnya membuat semuana masuk akal ;-) Kemampuan spiritual, mestinya, berkorelasi terbalik dengan aktivitas otak. Karena kemampuan spiritual adalah masalah intuisi dan perasaan, yang akan semakin terkubur kalau kita terlalu banyak berpikir ;-) Hasil penelitian ini - terlepas dari apakah memiliki skala pengukuran yang sahih untuk self-transcendence - membuktikan itu :-) Bahwa jika aktivitas otak berkurang, kemungkinan akan terjadi peningkatan kemampuan spiritual. Penelitian ini hanya menunjukkan bagian otak yang mana yang harus dimodifikasi jika seseorang ingin meningkatkan kemampuan spiritualnya.

Terus terang, gw merasa sangat miris melihat kualitas artikel terjemahannya yang bukan saja kacau, namun juga bertolak belakang dengan maksud sesungguhnya.

Quo vadis, editornya?

***

Beberapa pekan lalu, tanggal 27 Januari 2010, gw sempat kelayapan ke almamater tercinta untuk menghadiri pengukuhan seorang "kakak seperguruan" sebagai Guru Besar. It turns out bahwa Prof. DR. Hamdi Muluk bukan satu2nya guru besar yang dikukuhkan hari itu... hehehe... Ada juga pengukuhan guru besar dari fakultas sebelah, FISIP, yaitu Prof. DR. Ibnu Hamad.

Dalam pengukuhannya, Prof. Ibnu membacakan suatu pidato yang menarik bagi gw yang awam mengenai ilmu komunikasi ini: Komunikasi sebagai Wacana. Atau, kalau Bahasa Inggrisnya, disebut sebagai Communication as Discourse. Prof. Ibnu mengatakan bahwa dalam berkomunikasi, pada dasarnya kita mencoba menciptakan realitas. Namun, dalam berkomunikasi, kita harus berhati2 dalam menerapkan framing (strategi pemilihan fakta yang akan dimasukkan ke dalam wacana), signing (strategi pemilihan kata, kalimat, idiom), dan priming (teknik menampilkan wacana di depan publik). Jika strateginya tidak tepat, alih2 akan terjadi communication as discourse, yang terjadi adalah discourteous communication ;-) Komunikasi yang tidak pantas, karena menimbulkan distorsi realitas ;-)

Menurut gw, artikel berbahasa Indonesia di atas merupakan contoh dari discourteous communication. Entah kesalahan framing karena nggak mudeng apa yang ingin dikatakan oleh jurnal tersebut, kesalahan signing karena kemampuan verbalnya kurang baik, atau ... kesalahan priming yang alih2 membuat artikelnya cukup ringan untuk media online malah membuat pesannya berubah.

Apapun alasannya, menurut gw kasus ini adalah sesuatu yang harus dicermati oleh para ahli komunikasi, persatuan wartawan, ataupun organisasi2 informal yang mewadahi para penulis/wartawan. Sebuah tulisan yang diluncurkan ke publik harus dapat dipertanggungjawabkan. Jadi.... nggak ada alasan untuk menerapkan strategi framing-signing-priming dengan tidak tepat. Kalau nggak ngerti jurnal itu ngomong apaan, pelajari dulu! Diskusi dulu dengan yang ngerti! Jangan asal ditulis ;-)

Wong gw cuma nulis di blog atau posting di milis aja berusaha bertanggung jawab atas semua tulisan gw kok... mosok yang nulis di situs berita online nggak menunjukkan tanggung jawab moral yang sama ;-)?

***

Akhir kata... gw belum menuliskan nama milis tempat gw menemukan posting menggelitik di atas ya? Hehehe... gw nemunya di milis ini. Quite ironic, isn't it ;-)? Dengan milis yang memposisikan diri sebagai komunitas spiritual, sebagian anggotanya malah terjebak mengamini sebuah discourteous communication ;-) Indikasi bahwa mereka terlalu banyak aktivitas otak, termasuk pada sisi posterior lobus parietalisnya, sehingga intuisinya gagal meraba ketidaktepatan artikel tersebut ;-)?