Tuesday, May 19, 2009

Not Quite Angelic and Totally Less Demonic

Perhatian:
Banyak spoiler di tulisan ini ;-)
***

Sejak trailer Angels & Demons mulai bermunculan di layar TV, gw udah nggak sabar nunggu filmnya tayang. Tanggal 13 Mei - tayang perdana menurut leaflet Blitz Megaplex yang gw dapatkan di akhir bulan - sudah gw tandai sebagai hari wajib nonton ;-) Makanya sempat sedih pas ternyata diundur 2 hari jadi 15 Mei. Tapi, dengan sedikit usaha, kesampaian juga gw nonton hari berikutnya.

Dan ternyata... emang nggak nyesel keluar Rp 35,000 plus plus (plus Ima main di BlitzgameSphere, plus popcorn karamel kesukaan Ima, dan beberapa plus lainnya ;-)). Filmnya cukup menghibur melalui keindahan lokasi (dan benda2 seninya). Laju cerita pun cukup cepat dan penuh aksi. Nggak perlu mikir lama2 ;-) Pendeknya, buat yang belum baca bukunya, film ini lebih enak ditonton dan dimengerti daripada The Da Vinci Code. Meskipun Tom Hanks tetap "enggak banget" jadi Robert Langdon yang supposed to be sedikit lebih karismatik ;-)

*Well... gw suka Tom Hanks, tapi... menurut gw, Harrison Ford akan lebih cocok memerankan Robert Langdon ;-)*

Cepatnya alur dan cenderung lebih ringannya cerita mungkin memang sudah fitrah dari sononya... hehehe.... Novelnya kan memang lebih bersifat thriller/action, tidak seperti DVC yang novelnya memang intellectually challenging. Riddles dalam A&D juga lebih gamblang, berupa bentuk2 patung Bernini. Beda dengan riddles dalam DVC yang sifatnya lebih berupa utakatikata.

Well... itu adalah initial reaction gw seusai menonton filmnya ;-) Setelah ditelaah lagi, dan buka lagi bukunya, gw merasakan ada beberapa hal yang mengganggu dari segi penyederhanaan cerita.

Di bukunya, Leonardo Vetra menjadi pusat cerita. Walaupun si Leonardo ini wafat di halaman pertama buku, tetapi begitulah adanya. Segala huruhara ini muncul karena Vetra - seorang rohaniwan Katholik yang juga seorang ilmuwan fisika - berhasil membuat anti-materi dari energi. Membuktikan bahwa big bang yang selama ini menjadi kontroversi di dunia ilmiah memang dapat terjadi; bahwa bumi terbentuk dari sesuatu yang tidak ada. Sekaligus membuka celah bahwa penciptaan dunia yang ada dalam Kitab Kejadian memang bisa terjadi. Implikasinya: Vetra menemukan bahwa agama (dalam hal ini Katholik) bicara tentang kebenaran, sekaligus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa membuka rahasia Ilahi. Sesuatu yang memang ingin dibuktikan oleh Vetra, karena - sebagai man of God and man of science - dia sangat ini membuktikan bahwa science and religion are not at odds; science is just too young to understand.

Dan dari situlah masalah ini berangkat. Sang camerlengo (asisten Paus) yang rada2 memiliki waham kenabian ini khawatir bahwa temuan ini akan makin menjauhkan manusia dari Tuhan. Kalau rahasia Ilahi saja sudah dapat dibuka ilmu pengetahuan, apa lagi yang akan membuat manusia percaya pada Tuhan? Oleh karenanya, sang camerlengo merancang suatu tragedi yang akan membuat manusia kembali "takut" dan berpaling dari ilmu pengetahuan kepada Tuhan.

** Spoiler dimulai **

Dalam film, tokoh Leonardo Vetra bahkan tidak ada. Posisinya digantikan oleh Silvano Bentivoglio, yang kurang sekali digambarkan sebagai man of God as well as man of science. Boro2 digambarkan seperti itu, wong porsinya di film aja nggak sampai 10 detik... hehehe... dan nama belakangnya hanya disebut satu kali. Sampai2 gw lupa surname-nya siapa, dan harus buka ini dulu ;-)

Buat gw pribadi, ini adalah penyederhanaan yang mengganggu. Membuat pencurian anti-materi dan pembunuhan kardinal, serta ancaman meledakkan Vatikan, jadi seperti terorisme biasa. Terrorism with a style, gitu kira2 ;-) Padahal, yang gw nikmati dari buku Dan Brown ini adalah menyandingkan dua paradigma yang bertentangan menjadi sesuatu yang - secara logis - saling melengkapi.

Tapi ada yang lebih mengganggu, yaitu munculnya kutipan2 yang gw anggap "sakral" (haiyah!) dari mulut yang tidak tepat ;-)

Yup! Ada beberapa kutipan dari buku aslinya yang membuat gw bersoja rangkap dua pada Dan Brown. Dan kalimat2 "sakral" itu bermunculan di film ini juga:


"Science and religion are not at odds. Science is simply too young to understand"

(hal 70)

"He held that science and religion were not enemies - but rather allies; two different languages tell the same story, a story of symmetry and balance... heaven and hell, night and day, hot and cold, God and Satan. Both science and religion rejoiced in God's symmetry"

(hal 33)

"Do you believe in God, Mr Langdon?"
"I want to believe"
...
"Mr Langdon, I did not ask if you believe what man says about God. I asked if you believed in God. There is a difference. Holy scripture is stories... legends and history of a man's quest to understand his own need for meaning. I am not asking you to pass judgment on literature. I am asking if you believe in God. When you lie out under the stars, do you sense the divine? Do you feel in your gut that you are staring up at the workd of God's hand?"

(hal 108 - 109)

Kutipan yang menarik ya? Sayangnya keluar dari mulut yang tidak tepat di filmnya ;-)

Gw lupa mengenai kutipan yang pertama, tetapi kutipan yang kedua dan ketiga dalam film muncul dari mulut sang camerlengo. Kutipan kedua muncul ketika ia mencoba membujuk para kardinal dievakuasi. Kutipan ketiga muncul ketika sang camerlengo bertemu dengan Robert Langdon pertama kali, sebelum memberi izin Langdon mengakses arsip Vatikan.

Dalam buku, kutipan pertama adalah motto Leonardo Vetra. Kutipan kedua adalah ketika Langdon menjelaskan filosofi Galileo Galilei pada Direktur CERN, atasan Leonardo Vetra, mengenai sejarah Illuminati. Kutipan ketiga adalah percakapan antara Langdon dengan Vittoria Vetra dalam perjalanan ke Roma.

Implikasinya? Besar banget bedanya :-(

Dalam buku, kutipan pertama dan kedua adalah pendapat orang yang smart namun beriman. Orang yang berkarakter kuat. Orang yang - walaupun pintar - tetapi matanya tidak dibutakan oleh kepintarannya. Sementara kutipan ketiga ditanyakan oleh seorang agnostik lainnya. Orang yang nggak percaya Tuhan dan kitab suci karena bertentangan dengan logikanya, namun terbuka pada kemungkinan menerima itu sebagai benar - jika dapat dibuktikan.

Ketika kutipan2 itu keluar dari mulut si camerlengo, yang menganggap ilmu pengetahuan adalah musuh bagi agama dan Tuhan, kata2 itu menjadi sekedar pemanis bibir.

Bagaimana mungkin seseorang yang merencanakan pertunjukan besar kemurkaan Tuhan, ingin menimbulkan ketakutan massa sehingga manusia kembali pada Tuhan, bisa mengatakan bahwa dia tidak menanyakan pendapat Langdon mengenai apa yang manusia katakan tentang Tuhan? Buat si camerlengo, what religion says is true up till crossing all the t's and dotting all the i's.

Bagaimana mungkin seseorang yang ingin menghancurkan pengetahuan, karena menganggapnya musuh agama dan Tuhan, mengatakan bahwa science and religion are allies - two different languages telling the same story?

Dalam konteks ini, si camerlengo malah kelihatan sebagai munafik. Motifnya melakukan semua brouhaha ini memang untuk mendapatkan kekuasaan. Supaya dilihat sebagai wonderboy yang cocok menjadi Paus termuda.

Padahal, dalam buku, motifnya jauh sekali dari kekuasaan. Sesuatu yang benar2 kompleks: blind faith - yang agak tercampur dengan waham kenabian - bahwa everything is right in the time of war. Rada2 mirip, mungkin, dengan alasan Amrozi dkk melakukan pengeboman.

Well... kata2 bahwa, "We ARE at war" juga memang keluar sih, dari mulut si camerlengo. Untuk menjustifikasi tindakannya terhadap i preferiti; keempat kardinal calon terkuat menjadi Paus. Kata2 itu memang cocok dilontarkan oleh seseorang yang blindly religious untuk menjustifikasi "dosa" yang dilakukannya. Tetapi untuk menjustifikasi kemunafikan kata2nya? Menurut gw agak jauh ya... hehehe... Orang2 dengan kondisi nyaris delusi begini biasanya sudah tidak sibuk dengan tactical issue seperti kata2 apa yang harus dilontarkan di dunia fana. Ingat wawancara Amrozi dkk yang dengan entengnya menyebut mereka percaya 70 bidadari menunggu mereka di surga ;-)?

Pada akhirnya, setelah gw mengkaji ulang filmnya, pendapat gw adalah: film ini harusnya bisa lebih bagus! Bisa lebih "berat"! Bisa seperti - misalnya - Paradise Now. Namun akhirnya film ini hanya menjadi another entertaining Hollywood movie. Nggak jelek, bagus, menghibur. Tapi ya itu... menghibur saja ;-) Beda dari bukunya yang bikin gw susah baca buku lain selama beberapa minggu ke depan ;-)

Itu sih komentar gw tentang filmnya... hehehe.... Bagus eksekusinya, menghibur, tapi "kedalaman"nya berkurang ;-) Pertentangan antara [sisi] angels dan demons-nya yang ada dalam diri manusia (dalam hal ini Vetra dan si camerlengo) kurang tertampil ;-) Jadi rada nge-pop, gitu. Easy watching ;-) Gw akan lebih suka kalau teknik flashback dipakai untuk menyampaikan kutipan2 di atas - memberi lebih banyak elaborasi pada tokoh Leonardo Vetra (yup, menurut gw harusnya Vetra tidak diganti jadi Silvano) - daripada kutipannya disampaikan oleh tokoh antagonisnya ;-) Lebih memberi "jiwa" pada cerita.

Selain penyederhanaan 'besar' yang mengganggu gw di atas, ada beberapa penyederhanaan kecil yang membuat gw iseng bertanya2 ;-). Salah satunya adalah penggantian Cardinal Mortati di film menjadi Cardinal Strauss. Lantas cerita juga berubah; di buku, Cardinal Mortati akhirnya menjadi Paus karena keempat calon kuat tewas. Di film, Cardinal Baggia terselamatkan dari mati tenggelam di air mancur Piazza Navona. For the sake of happy ending, I guess. Naah... gw nggak keberatan dengan terselamatkannya Cardinal Baggia. Tapiiii.... bahwa kemudian Cardinal Strauss menjadi camerlengo??? Isn't that too much?

Camerlengo itu kan asisten Paus toh? Asisten yang - manakala Paus mangkat - akan menjadi "Kepala Negara Vatikan ad interim" selama sede vacante hingga konklaf para kardinal memilih Paus baru. Menurut hemat gw sih camerlengo mestinya agak mudaan ya. Dan logikanya, Cardinal Strauss di film ini terpilih menjadi The Great Elector dengan alasan yang sama seperti di buku: terlalu tua untuk dicalonkan jadi Paus. Naah... gw gak ngerti deh kalau kemudian dia jadi camerlengo. Bisa2 camerlengo-nya mangkat duluan... hehehe...

Gw sendiri jadi bertanya2... kenapa namanya diganti jadi Strauss, yang notabene nama Jerman, dan kemudian jadi camerlengo. A tribute to the current pontiff, Pope Benedict XVI, yang asal Jerman itu ;-)?

Suntingan Petang: 19 Mei 2009

Baru dapat informasi dari Dodol (thank you, darling ;-))tentang camerlengo, dan jadi ikutan googling juga. Hmmm... ternyata camerlengo yang dimaksud di buku dan film ini punya nama keren: Camerlengo of the Holy Roman Church. Dia bukan satu2nya camerlengo. Dan memang harus kardinal. Posisi ini sekarang di dunia nyata dijabat oleh Cardinal Bishop of Frascati, yang usianya 74 thn. Dia diangkat karena camerlengo sebelumnya pensiun. Jadi rupanya memang umur gak ngaruh banget dalam pemilihan.

Jadi rupanya Dan Brown membuat kesalahan dengan menciptakan tokoh camerlengo yang belum kardinal. Dan... eh, gw juga mengoreksi tentang "Paus ad Interim". It turns out camerlengo of the Holy Roman Church ini hanya jadi Kepala Negara Vatikan selama Paus baru belum terpilih. Kayaknya di buku ada juga ditulis ini, entar gw cari lagi. Antara kepala negara Vatikan dan Paus itu bedanya Jakarta - Toronto, meskipun Paus pasti jadi kepala negara Vatikan. Kalau cuma kepala negara Vatikan, dia nggak jadi pemimpin umat Katholik sedunia.