Monday, May 04, 2009

Kinnara Kirana

Kalau tentang Manohara Odelia Pinot, gw nggak mau banyak komentar deh! Selain menurut gw ceritanya masih terlalu asumtif (dan kurang fakta pendukung ;-)), masalah ini menurut gw lebih merupakan urusan domestik keluarga. Paling kalau ada yang gw pingin komentari adalah sebagian situs berbahasa Inggris yang memuat kisah Manohara. Please improve your English into "understandable" level, will you, before writing another story ;-)? Seperti situs ini, yang sudah membuat gw Lost in Translation ;-)

Gw memilih bercerita tentang Siti Nurjanah bt Budiono saja ;-)

Siti Nurjanah bt Budiono adalah antitesa dari Manohara Odelia Pinot. Walaupun sama2 dara blasteran, Nurjanah tidak seberuntung Manohara. Maklum, Nurjanah "cuma" blasteran dari seorang bapak Jawa dan ibu Bali... hehehe... Dan karenanya, kalau Manohara akhirnya dipinang pangeran negeri seberang, Nurjanah "cuma" dipinang untuk untuk tinggal di pulau seberang ;-) Ya, dari pelosok Lampung, Nurjanah hijrah ke Jakarta. Tidak untuk menjadi CPT seperti Manohara, melainkan hanya untuk menjadi PRT di rumah gw ;-)

Namun kisah selanjutnya tak banyak beda ;-) Seperti lenyapnya Manohara yang menjadi kontroversi, pulangnya Nurjanah ke kampung halaman pun menimbulkan kontroversi tersendiri.

Awalnya seseorang yang mengaku kerabatnya menelepon; memintakan izin Nurjanah untuk pulang kampung karena 19 - 20 April nanti ada keriaan di kampung sehubungan dengan pernikahan abangnya. Suatu telepon yang menimbulkan kecurigaan karena dua hal; pertama, karena Nurjanah diambil dari Yayasan Ibu Hadi, sebuah yayasan yang - sepanjang pengalaman gw ngambil PRT 3x di sana - nggak macem2. Pun, biasanya, yayasan yang akan meneleponkan majikan kalau ada kabar dari kampung si PRT. Bukan kerabatnya yang nelfon sendiri. Keanehan yang kedua adalah: 20 April jatuh hari Senin. Rasanya aneh ada pesta yang mengambil jadwal Minggu - Senin. Apalagi kalau bukan di Jawa, yang biasanya ribet menentukan jam dan tanggal menikah ;-)

Tapi, atas dasar kemanusiaan, Nurjanah kami izinkan pulang. Apalagi dia sendiri yang berjanji - tanpa kami minta - untuk kembali ke Jakarta 22 April.

Kalender berganti, dan hingga 22 April Nurjanah tak ada kabar rimbanya. Maka, kami teleponlah ia ke HP-nya. Ti dit, ti dit, hapenya berbunyi. Ti dit, ti dit, begitu bunyinya. Tapi tak diangkat. Begitu pun berbagai SMS yang dikirimkan menanyakan kabar dan rencananya. Tak jua dijawab, meskipun notifikasi yang mengabarkan bahwa SMS itu telah dibaca selalu gw terima.

Hingga akhirnya gw mengeluarkan kartu as, mengirimkan sebuah SMS "pedas" dengan cabe rawit ekstra:

Kontrak kerja Nurjanah masih 6 bulan lagi. Kalau tidak ada kabar dan tidak segera kembali ke Jakarta, Nurjanah dan keluarganya akan kami laporkan ke polisi atas pelanggaran kontrak.


Barulah reaksi bermunculan ;-) Persis seperti reaksi yang baru bermunculan ketika ibunda Manohara, Daisy Fajarina, mulai berkoar2

Reaksi yang muncul mulai dari telepon [lagi2!] orang yang mengaku kerabatnya dan mengatakan bahwa SMS itu telah membuat Nurjanah depresi lah..., lantas telepon ke HP Nurjanah diterima oleh laki2 [yang mengaku kakaknya] dan berbisik2 mengatakan bahwa Nurjanah sedang kabur dari rumah karena "disekap" ayahnya, HP dan semua uang disita, agar gak kembali ke Jakarta lah... ,

Tadinya gw sempat percaya segala omongan itu, sampai Ayahnya Ara mengatakan bahwa itu "lagu lama" yang pernah dia dengar dari PRT-nya juga. Oleh sebab itu, akhirnya gw "sudutkan" terus Nurjanah ;-) Nurjanah mendapat privilege dari gw sebagai satu2nya orang yang mendapatkan 1 SMS gratis setiap hari ;-) Semacam layanan dari "Ketik REG [spasi] GO2HELL" gitu deh... hehehe... bedanya: pulsa si Nurjanah nggak terpotong setiap terima SMS, dan layanan ini tidak bisa di UNREG... HAHAHAHA... Pesan gw selalu sama: ke Jakarta kau kan kembali, dengan sukarela atau kawalan polisi ;-) Ke Jakarta kau kan kembali untuk bekerja atau mengembalikan duit administrasi Rp 700,000 (itu jumlah yang dikutip Yayasan Ibu Hadi untuk mengambil PRT, dan kalau udah lewat 3 bulan hangus ;-))

Dan muncullah Nurjanah pada dini hari 28 April lalu. Jam 3 pagi, dengan naik ojek yang [katanya] dari Terminal Bis Jatibening. Ojeknya disuruh menunggu, katanya dia cuma mau mengembalikan duit administrasi, lantas langsung kembali ke terminal. Bapak dan ibunya berpesan harus segera kembali ke Lampung begitu duit gw terima. Ibunya mengancam mau mati saja kalau Nurjanah tidak segera kembali, dan adiknya mengancam nggak mau ikut ujian nasional kalau kakaknya kembali ke Jakarta

*Such a drama queen, don't you think? Dan aneh pula... hehehe... Kalau memang segitu dahsyatnya reaksi keluarga, kenapa juga dulu diijinkan ke Jakarta? Dan dikiranya gw terima gitu, cerita dahsyat gitu? Gw kan Ratu Tega... hehehe... siapa suruh datang Jakarta dan ketemu gw ;-)?*

Dan karena si Ratu Tega ini bersuamikan Raja Tega Berbulu Domba, Nurjanah ini kena batunya. Si Raja Tega Berbulu Domba tidak mengijinkannya pulang dini hari itu juga. Raja Tega bersabda bahwa Nurjanah akan dipulangkan ke yayasan di akhir pekan, sesuai dengan butir ke-5 perjanjian yang ditandatanganinya saat "meminang" Nurjanah menjadi PRT...

... Kecuali kalau ayah/ibunya Nurjanah bisa dihubungi dan menyatakan sendiri bahwa mereka menghendaki Nurjanah pulang saat itu juga. Serta menyetujui klausul bahwa ayah/ibunya melepaskan tanggung jawab dari kami jika dalam perjalanan pulang ke Lampung terjadi hal2 yang tidak diinginkan pada Nurjanah.

Easy and simple, toh? Hanya satu masalah kecil: kata Nurjanah, bapak/ibunya tidak punya HP maupun telepon permanen. Tidak bisa dihubungi.

Dan satu masalah kecil: sepanjang 28 April itu Nurjanah berkali2 ditelepon, bahkan menunjukkan SMS yang mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang juga.

Hmmm.... unless bapak/ibunya Nurjanah ini adalah Micah Sanders, yang memiliki kemampuan technopathy, gw sih heran bagaimana orang yang nggak punya HP untuk dihubungi bisa mengirimkan SMS ;-) Kami pun berkesimpulan bahwa Nurjanah berbohong. Entah di bagian mana ia berbohong, tetapi pasti ia berbohong. Kami pun lantas menelepon yayasannya, mengatakan bahwa kami lepas tangan atasnya, dan akan mengembalikannya di akhir pekan.

... Dan Nurjanah pun kabur ;-) Rabu, 29 April, kami mendapatinya sudah tidak ada di rumah kami. Entah dimana dirinya berada sekarang.

Hingga kini, misteri Nurjanah belum pula terpecahkan. Entah apa yang membuatnya berbohong. Dan di bagian mana ia berbohong. Apakah ia berbohong karena SMS yang ia terima sebenarnya dari majikan barunya? Bahwa ia tidak pernah pulang ke Lampung? Atau memang benar ia dilarang kembali ke Jakarta oleh orang tuanya, tetapi kabur ke Jakarta untuk mengembalikan uang untuk melindungi ortunya? Ia mungkin tak ingin ortunya dilaporkan ke polisi. Dan apakah ayahnya punya hape, sehingga benar2 ayah/ibunya yang meng-SMS menyuruhnya pulang? Ia berbohong agar tidak terjadi konfrontasi antara bekas majikannya dengan ortunya? Don't burn the bridge, begitu kan kata pepatah ;-)?

Atau emang jangan2 Nurjanah ini kanan-kiri bohong ;-) Membohongi bapak/ibunya bahwa dia diusir majikan, misalnya. Tapi setelah dikejar2 dan diancam dengan polisi, dia memutuskan balik. Sayang bapak/ibunya keburu keberatan dia balik. Who knows? Begitu banyak kemungkinan di balik misteri ini.

Dan gw pun terpikir mengenai Manohara. Sebagian orang mengatakan misteri ini akan terkuak jika Manohara muncul dan mengklarifikasi. But.., is it? Benarkah klarifikasi Manohara tidak akan menutupi sesuatu, untuk melindungi seseorang? Seperti buah simalakama, klarifikasi Manohara akan mencederai salah satu pihak toh? Dimakan suami mati, tidak dimakan ibunda mati.

Dalam legenda, Manohara adalah nama putri raja kinnara - mahluk mitologis setengah manusia setengah burung - yang diperistri pangeran Pancala. Ketika kerajaan suaminya terlibat peperangan, Manohara terbang kembali ke kerajaan kinnara agar tak membawa kesialan bagi kerajaan sang suami. Sebuah kisah tentang pengorbanan yang berakhir indah. Akankah kisah Manohara - bukan mahluk mitologis, tapi gadis cantik setengah Indonesia setengah Kaukasia - berakhir sama? Semoga ;-)

Di lain pihak, Nurjanah mengandung kata "Nur" yang berarti cahaya. Kirana, dalam bahasa Sansekerta. Apakah Nurjana bak Kirana dalam lagu Dewa 19? Mudah2an... karena sejauh ini kisahnya lebih mirip sinetron. Sinetron Cahaya ;-)?