Saturday, May 03, 2008

Logical Fallacy tentang Definisi Ad Hominem

Karena "writing is therapeutic" buat orang yang mendiagnosa diri sendiri sebagai penderita hypergraphia seperti gw ini, maka gw tetap menulis. I enjoy having a new baby, but.. I also need escaping the "changing diaper" routine from time to time ;-)

Hari ini pingin menulis tentang logical fallacy dan argumentum ad hominem. Gara2 baru blogwalking dan baca tulisannya aRdho, yang mengingatkan gw pada tulisan seorang seleb blog beberapa waktu lalu.

Waktu baca tulisan sang seleb blog, kening gw sempat berkerut karena membaca bahwa [argumentum] ad hominem disebut sebagai bagian dari logical fallacy. Hmm.. setahu gw, memang logical fallacy bisa membawa kita pada pada ad hominem, tapi.. bukan berarti bahwa ad hominem adalah bagian dari logical fallacy.

Apa sih logical fallacy itu? Seperti ditulis di sini, logical fallacy adalah an error of reasoning. Kesalahan dalam perangkaian [informasi] yang masuk dalam mengambil keputusan. Terjadi karena dua atau lebih informasi yang benar dirangkaikan secara kurang tepat. Contoh klasiknya seperti:

Pernyataan 1: Semua monyet suka makan pisang
Pernyataan 2: Kamu suka makan pisang
Kesimpulan [logical fallacy]: Kamu adalah monyet
Contoh nggak klasiknya ada di posting sebelumnya, tentang informasi2 yg benar seputar baiknya sistem beasiswa dan faktor2 yang mendukung kualitas sekolah, tapi menjadi logical fallacy ketika disimpulkan bahwa sekolah gratis adalah pepesan kosong.

Sementara, [argumentum] ad hominem adalah penyerangan terhadap karakter/kepribadian lawan bicara untuk meruntuhkan pernyataan yang diucapkannya.

Memang, jika ad hominem ini dilakukan tanpa reasoning yang tepat, sekedar asal menyerang pribadi lawan bicara secara membabi buta, apalagi jika lawan bicaranya berkata benar, maka itu dapat dikategorikan logical fallacy. Tapi, sering terjadi bahwa memang ad hominem ini didasari pada reasoning yang tepat.

Ad hominem yang bukan logical fallacy sering kita saksikan dalam film2 tentang persidangan di Amerika. Biasanya terjadi saat jaksa penuntut atau pengacara bertanya pada saksi. Sering mereka "memelintir" pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang bisa menimbulkan keraguan pada juri tentang kesahihan pernyataan si saksi. Apakah ini bentuk logical fallacy? Menurut gw sih tidak. Reasoning-nya jelas. Tidak salah dalam perangkaian logikanya. Dan seringkali justru dari ad hominem ini terungkap kebenaran. Pernyataan yang dimodifikasi, tidak sesuai kebenaran, justru seringkali terungkap melalui ad hominem yang bukan logical fallacy ini.

Contoh lain bisa disimak obrolan mesra gw & Aramichi di posting Inqilabi Girl ;-) Baca sendiri ya, gw gak mau repot2 copy paste ke sini.

Kalau kita pakai definisi [argumentum] ad hominem sebagai penyerangan terhadap karakter/kepribadian lawan bicara untuk meruntuhkan pernyataan yang diucapkannya, harus diakui bahwa gw & Ara sama2 melakukan ad hominem. Tapi apakah ad hominem tersebut merupakan logical fallacy? Entah ya, kalau ad hominem-nya Ara ;-) Kalau ad hominem gw sih masih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.. HAHAHAHA.. Maksud gw, biarpun gw sambil nuduh2 dia gak baca dengan teliti dan nggak menempatkan pada konteks, gw membarenginya dengan memberikan tautan dan bukti2.

Eh, atau justru karena gw kasih tautan dan bukti2 itu lantas menjadikannya bukan ad hominem ya? Ya enggak lah! Definisinya kan jelas: melakukan penyerangan terhadap pribadi, itu ad hominem. Yang kurang pas adalah memasukkan ad hominem pada kelompok logical fallacy, karena tidak semua ad hominem diakibatkan oleh logical fallacy ;-) Kalau ini adalah soal ujian pilihan ganda, jawabannya adalah B: pernyataan 1 dan pernyataan 2 benar, tapi tidak berhubungan ;-)

Jadi, memasukkan ad hominem kepada kelompok logical fallacy adalah logical fallacy ya ;-)?

*Udah, cukup menulis hari ini. Kembali ke kegiatan mengganti popok ;-)*