Sunday, May 18, 2008

Berani Terima Tantangan Ini?

“Hidup adalah Perbuatan”
(dari kampanye terselubung seorang tokoh parpol)

Ya! Setuju!

Dan “perbuatan” itu lebih daripada sekedar membuat iklan TV penuh senyum dan ditebari jargon “Hidup adalah Perbuatan”. Perbuatan itu harus ditunjukkan secara nyata, dan dapat dinikmati [rakyat] secara nyata.

Dengan semangat memberi kesempatan pada mereka yang mengincar posisi pemimpin bangsa untuk menunjukkan perbuatan [baik]nya, saya persembahkan sebuah konsep acara baru: sebuah reality show berjudul Berani Terima Tantangan Ini? ;-) Konsepnya mungkin tidak sepenuhnya baru, lebih merupakan “campursari” (bahasa kerennya: kompilasi) dari beberapa reality show yang sudah tayang. Namun semoga acara ini bisa memberikan alternatif tontonan di sela2 sinetron yang penuh kekerasan dan lelucon2 slapstick.

Acara ini sekaligus menjadi win-win solution bagi semua pihak: pihak calon pemimpin bangsa mendapatkan alternatif cara kampanye, rakyat langsung diuntungkan oleh kampanye tersebut – sekaligus mendapatkan alternatif tontonan yang mendidik, dan pihak media massa tidak perlu khawatir kehilangan pemasukan yang selama ini datang dari iklan2 calon pemimpin bangsa ini. Malah, pihak media massa, khususnya televisi, mungkin akan diuntungkan dengan rating acara tersebut.

Bagaimana? Anda tertarik dengan konsep acara ini? Mari kita ulas lebih lanjut ;-)

***

PROPOSAL PROGRAM ACARA ‘BERANI TERIMA TANTANGAN INI?’

Oleh: -maynot-

Dipublikasikan di: http://smritacharita.blogspot.com

SISTEM PERMAINAN

Sistem acara ini merupakan gabungan antara The Amazing Race dan The Apprentice. Tim yang masing2 terdiri atas 2 orang (capres-cawapres, atau cagub-cawagub) akan diberangkatkan ke berbagai daerah di Indonesia yang membutuhkan penanganan masalah. Tugas masing2 tim adalah merancang, melaksanakan tahap awal, dan mengorganisasi langkah lanjutan penanganan masalah tersebut sebelum pindah ke babak berikutnya.

Di awal setiap babak, masing2 tim akan mendapatkan “Info Rute” ke daerah mana mereka akan diberangkatkan, serta sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam rekening khusus. Jumlah uang tersebut cukup untuk mendapatkan transportasi & akomodasi yang layak. Yang dimaksud dengan “layak” di sini adalah: bisa naik pesawat yang bukan low cost carrier, tapi kelasnya ekonomi aja. Bisa naik taksi ke/dari bandara, tapi kelasnya Blue Bird aja, bukan Silver Bird apalagi Golden Bird. Bisa menginap di hotel bintang, tapi bintang 3 aja dan kamarnya bukan suite room, apalagi presidential suite ;-)

Parpol pendukung masing2 tim DIPERBOLEHKAN menyetor dana sebanyak2nya ke rekening tersebut, tapi.. dana tersebut HANYA BOLEH DIGUNAKAN untuk mendukung langkah penyelesaian masalah di lapangan. Uang tersebut TIDAK BOLEH digunakan untuk keperluan pribadi, seperti membeli tiket yang lebih mahal atau akomodasi yang lebih mewah.

Catatan PENTING SEKALI:

Nah.. uang yang dikeluarkan parpol untuk kampanye lebih bermanfaat kan, bagi rakyat ;-)? Daripada 450juta dituang untuk satu iklan cetak, atau 40jt-60jt/menit untuk iklan TV.. kan mendingan jumlah itu untuk menangani masalah rakyat secara langsung. “Hidup adalah Perbuatan” benar2 dinyatakan sebagai perbuatan, bukan jargon doang ;-) Lagian, buat cagub, ngapain juga sih bikin iklan nasional? Memangnya orang2 di Mamuju sana peduli siapa yang bakal jadi Gubernur Jabar, sampai buang2 uang bikin iklan nasional segala? Lebih baik uangnya digunakan untuk aksi nyata memperbaiki nasib rakyat kan?

Begitu mencapai bandara/stasiun/terminal daerah tujuan, tim bisa menemukan “Kotak Petunjuk” yang berisi tugas apa yang harus mereka lakukan. Kadang hanya ada satu tugas yang harus dilakukan semua tim, tapi kadang2 tugasnya bisa dipilih antara 2 alternatif (seperti Detour di The Amazing Race)

Sejauh ini sistem permainannya masih mirip The Amazing Race banget ya? Jadi apa yang diadaptasi dari The Apprentice?

Dari The Apprentice, kita adaptasi jenis tugasnya. Tugas2 yang harus dilakukan oleh tim benar2 seperti tugas The Apprentice. Misalnya, di satu daerah mereka harus merancang sistem pemberian bantuan yang merata. Harus mendata jumlah calon penerima BLT secara akurat. Atau harus memperbaiki bangunan sekolah yang hampir roboh. Atau harus memberikan ketrampilan/lapangan kerja baru bagi mereka yang sawahnya terendam lumpur Lapindo. Atau ... banyak deh alternatif tugasnya ;-)

Tapi.. tugas itu kan terlalu berat untuk tim yang terdiri dari 2 orang?

Naah.. di sini mereka bebas menggunakan massa yang ada di daerah tersebut. Mereka bisa minta bantuan parpol atau massa pendukung di daerah tersebut. Tugas kedua orang ini lebih sebagai pembuat konsep dan pengawas, tidak harus jadi pelaksana langsung. Tapi.. sebagai pengawas/pembuat konsep, mereka yang harus mempertanggungjawabkan hasilnya.

Aktivitas mereka, seperti layaknya reality show lain, direkam 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tiap hari cuplikan aktivitas mereka akan tayang di TV, seperti Diari AFI atau Beranda Penghuni Terakhir. Dari situ rakyat bisa menilai calon pemimpinnya.

SISTEM PENJURIAN dan ELIMINASI

Untuk penjurian dan eliminasinya, kita gabungkan sistem dari Penghuni Terakhir dan Mamamia Show.

Setelah Senin berangkat ke lokasi, Selasa – Jumat melakukan tugas, maka.. pada hari Sabtu diadakan “Malam Pertanggungjawaban”. Seperti pada acara Penghuni Terakhir, pada malam itu setiap tim diberikan waktu 5-10 menit untuk orasi dan kampanye “jual diri”. Kemudian, diputarkan fitur2 yang diambil dari tayangan aktivitas mereka selama seminggu. Biasanya kan selalu ada bagian dimana peserta ‘tertangkap basah’ melakukan kesalahan/kecurangan/keburukan.. karena tidak mungkin bersandiwara 24/7. Naah.. di malam inilah mereka harus mempertanggungjawabkan ke hadapan juri dan seluruh rakyat Indonesia mengenai tindakan mereka tersebut.

Dari pertanggungjawaban mereka tersebut, dewan juri akan menentukan 3 tim yang “tidak aman”. Selanjutnya.. 100 juri vote lock akan melakukan pengambilan suara untuk menentukan tim yang tereliminasi. Bisa juga - supaya lebih mewakili populasi - juri vote lock-nya tidak hanya 100, tapi 500 atau 1.000 seperti jumlah anggota dewan. Juri tersebar di beberapa kota - dengan pemungutan suara online.

*Catatan tidak penting: walaupun sistemnya mengikuti Mamamia Show, pleaseeeee... jangan ada sesi penyelamatan yang lebay itu ya ;-)*

Atau.. bisa saja 3 tim yang tidak aman, bukan ditentukan semata2 oleh dewan juri, melainkan oleh lawan2nya juga. Seperti sistemnya Unan1mous ;-). Sekalian kita lihat apakah para calon pemimpin bangsa ini bisa fair play seperti pemain sepakbola ;-)

Kenapa harus pakai juri vote lock, tidak dengan SMS/Premium Call? Sebab, jika menggunakan SMS/Premium Call, dikhawatirkan sulit menghalangi parpol atau pihak terkait yang berkepentingan ikutan nge-vote. Nanti takutnya hasil pemilihan tidak bisa dikatakan sebagai “Indonesia memilih..”, karena pada akhirnya “BUKAN Indonesia yang memilih, Indonesia yang menentukan” ;-)

Biar lebih seru, seperti di The Amazing Race, akan ada NEL (non-elimination leg, alias babak tanpa eliminasi). Di babak ini, tim yang sudah di-voted off tidak akan tereliminasi. Mereka masih dapat melanjutkan lomba, tapi TIDAK DIBERI uang sepeser pun untuk babak berikutnya dan DILARANG menerima uang dari parpol.

Kita lihat ketangguhan calon pemimpin bangsa ini; maukah mereka menjual sebuah Rolex atau sehelai Armani demi melanjutkan karya terhadap rakyat? Atau.. mereka hanya jaya jika ada dana ;-)?

JURI & PEMBAWA ACARA

Personel jurinya sendiri belum ditentukan, namun.. Dewan Juri diharapkan ada yang menilai LEGALITAS TINDAKAN, EFISIENSI PENYELESAIAN MASALAH, dan EFEKTIVITAS PROGRAM. Untuk menilai aspek legalitas, mungkin Oom Todung Mulya Lubis bisa dipekerjakan. Beliau memang baru dipecat oleh Perhimpunan Advokat Indonesia dengan alasan yang masih bisa diperdebatkan, tapi.. no one can take his knowledge off him ;-)

KPK juga harus dilibatkan sebagai day-to-day jury, yang mengawasi uang keluar-masuk rekening dan penggunaan uang tersebut. Memang, KPK lebih baik dilibatkan di sini, daripada sibuk mengurusi angpao kawinan orang2.. ;-) Nggak penting banget sih! Kawinan yang sekali seumur hidup, dan angpau-nya diserahkan tidak langsung (sehingga tentunya nggak bisa deal langsung), ributnya bukan kepalang. Sementara yang terima ratusan juta di hotel berbintang nggak ada yang mengawasi ;-)

Untuk pembawa acaranya, karena ini acara serius sebaiknya pakai pembawa acara serius pula. Semisal Sandrina Malakiano. Kalau ada yang mau pilih Vivit Kavi juga boleh ;-)

HADIAH

Pemenang reality show ini akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 10,000,000,000 (sepuluh milyar rupiah). Kurang lebih setara dengan hadiahnya The Amazing Race (versi Amerika, kalau yang versi Asia hanya sepersepuluhnya ;-)).

Lho? Kok hadiahnya gede bener? Mereka kan udah kaya?

Nanti dulu.. ;-) Hadiah ini harus digunakan sepenuhnya UNTUK RAKYAT. Yaitu dengan menggunakannya untuk program yang akan dijalankan. Naah.. KPK bertanggungjawab mengawasi penggunaannya juga.

Hadiahnya diambil dari APBN. Boleh dong? Toh.. hasilnya juga akan digunakan untuk rakyat ;-) Lebih baik uang pajak kita jelas kemana larinya toh, daripada menguap seperti air yang dipanaskan ;-)?

***

Phiewww.. ada gunanya juga jadi banci reality show ;-) Setidaknya, jadi bisa merangkum the best of the best dari beberapa acara dan menjadikannya acara baru ;-)

Bagaimana? Berani menerima tantangan ini?

Ada televisi swasta yang berminat? Atau capres/cagub yang nggak sabar ingin mendaftar?

Ada yang mau menyempurnakan konsepnya? Atau sekedar berminat copy paste proposal ini kemana2? Boleh... boleh.. Usul bagus memang nggak boleh disimpan sendiri. Syukur2 kalau benar2 bisa terlaksana dan membawa perubahan buat rakyat.

Tapi.. kalau mau pasta-kopi, jangan lupa nyebut nama pengonsepnya ya ;-) Jangan sampai entar tulisan ini dianggap ide barunya Helmi Yahya.. hehehe.. mentang2 Mas Helmi yang biasanya bikin acara2 begini ;-)

Dan yang lebih jangan lagi: jangan sampai tulisan ini diakui (secara langsung/tidak langsung) sebagai tulisan si tukang copy paste. Ingat.. justice may be blind, but it can see in the dark ;-)