Friday, May 23, 2008

BBB

*Posting ini masih bertema kebangkitan nasional. Sorry buat yang bosen ya.. hehehe.. habis semangat kebangsaan dan patriotisme gw tengah “bangkit” sih.. (halah!)*

---

Tadi malam nonton acara DEBAT PUBLIK di Metro TV. Pesertanya 4 pasang cagub/cawagub salah satu propinsi di Indonesia. Nggak nonton sampai selesai sih, selain karena Nara rewel juga karena sudah mendapatkan “gambar besar” tentang kontestan Pilkada tersebut. Kesan gw: pilkada tersebut bakalan setali tiga uang dengan kontes putri2an ;-)

Dalam acara ini, ada 3 panelis yang tugasnya memberi pertanyaan pada keempat pasang peserta Pilkada. Masing2 ahli di bidangnya. Persis seperti juri di kontes putri2an. Tapi.. sebelum para panelis mengajukan pertanyaan, ada “babak bonus” di awal acara. Dalam babak bonus ini, si pembawa acara memberikan pertanyaan yang “tidak ada dalam jadwal acara”, alias pertanyaan ringan dan mudah yang bisa dijawab secara spontan.

Pertanyaan pertama, diajukan pada pasangan pertama, adalah:

“Jika Bapak sudah terpilih menjadi Gubernur, kemudian dituntut sebagai tersangka kasus korupsi, apa yang akan Bapak lakukan? Apakah a) menuntut balik, b) mundur dari jabatan. Sebutkan pilihan Bapak dan alasannya”

Pasangan pertama memiliki waktu 2 menit untuk menjawab. Daaan... inilah jawaban beliau:

“Sebelumnya terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Seperti telah kita ketahui, ini adalah saat yang sangat istimewa, dimana tidak seperti tahun2 sebelumnya, pemimpin daerah dipilih langsung oleh rakyat. Oleh karena itu, kami sebagai calon pemimpin daerah...

--yadda yadda bla bla bla hingga lonceng yang menandakan 1 menit sudah lewat berbunyi—

Kontan si pembawa acara mengingatkan bahwa waktu menjawab pertanyaan tinggal 1 menit lagi.

Tapi si Bapak masih berorasi yadda-yadda-bla-bla-bla HINGGA lonceng bahwa waktu tinggal 30 detik berbunyi.

Kembali si pembawa acara mengingatkan bahwa waktu tinggal 30 detik, dan mulai tidak sabar dengan berkata, “Mohon dijawab langsung ke pertanyaan, Pak”

Teteuup! Kekeuh surekeuh si Bapak masih orasi terus HINGGA hitung mundur. Daaan... baru di 2 detik menjelang waktu berakhir, si Bapak berkata,

“Mengenai pertanyaan Anda, apabila saya dituntut sebagai tersangka...”

TETTOTT. Waktu habis!

Daaan.. si Bapak tetap kekeuh mau menjawab sampai si pembawa acara memotongnya.

*sigh*

Terbayangkan, apa yang akan terjadi bila si Bapak ini terpilih menjadi Gubernur? Dengan ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) menjawab pertanyaan? Kekeuh dengan maunya sendiri? Bisa2 terjadi hal seperti ilustrasi kasus di bawah ini:

Rakyat [berdemonstrasi]: “Kami menuntut kesejahteraan! Turunkan harga pangan!

Gubernur: “Terima kasih atas kesediaan Anda2 sekalian mengunjungi kantor gubernur. Seperti sudah saya janjikan pada masa kampanye, sebagai gubernur terpilih, saya sungguh berterima kasih pada kepercayaan yang Anda2 berikan kepada kami

--yadda2 blablabla—

5 jam kemudian...

Gubernur: .. untuk itu, berkaitan dengan tuntutan Anda2 sekalian, maka saya... lho? Mana demonstrannya? Kok sudah bubar?”

Asisten Gubernur [membisiki dari belakang]: “Ssst.. Pak, maaf, itu demonstrannya sudah bergelimpangan MATI KELAPARAN semua”

Langsung, nomor urut 1 gw coret sebagai calon yang kompeten ;-)

Karena pertanyaan tak terjawab, maka pertanyaan yang sama diajukan pada kontestan nomor 2, dan jawabannya begini:

“Jika saya terpilih menjadi Gubernur, maka yang akan saya lakukan adalah memberantas korupsi hingga ke akarnya, karena hal ini sudah merupakan komitmen saya dan pasangan saya”

Uhmm.. Pak, pertanyaannya bukan itu ;-) Nggak ada yang nanya program Bapak ;-)

Setelah ditanya ulang oleh pembawa acara, cagub tersebut menjawab dengan tegas, “Mundur dari jabatan”

OK.. good answer. Dan masih tersisa sekitar 30 detik untuk menjelaskan alasannya. Tapi.. si cagub sudah mingkem. Nggak ada alasan atau elaborasinya. Huh? Bingung mikirin alasannya? Jadi curiga.. itu jawaban jujur atau faking good sih, kok nggak bisa kasih alasan ;-)?

Calon kedua juga gugur di mata gw ;-)

Untuk calon ketiga, pertanyaannya beda:

“Jika Bapak menjadi Gubernur, dan diminta memberikan prioritas pada program2 ini, bagaimana prioritas Bapak dan sebutkan alasannya”

Calon ketiga ini menjawab langsung pada sasaran: Pendidikan Gratis dan Pengobatan Murah. Alasannya juga jelas: rakyat sudah lama menderita .. dst (gw gak apal)

Gw kagum pada calon ketiga ini selama... 15 menit. Sampai jeda iklan dan menemukan iklan kampanyenya yang MEMANG mengangkat dua program itu ;-) Walahh.. nggak tahu ini jawaban jujur atau karena diuntungkan dapat pertanyaan yang sesuai agenda kampanyenya deh ;-)

Pertanyaan ketiga, untuk calon keempat adalah:

“Jika Bapak menjadi Gubernur, mana diantara ketiga godaan ini yang paling berat: harta, tahta, atau wanita? Sebutkan alasannya”

Daaaan... jawaban spontan beliau adalah....:

“Sebagai gubernur, saya tidak akan tergoda untuk merugikan rakyat”

Ehmm.. Pak, nggak ada yang nanya Bapak tergoda atau tidak. Yang ditanyakan adalah: mana yang PALING BERAT ;-) Bukan bisa/tidak mengatasi godaan ;-) Manusiawi lho, Pak, mengakui ada godaan berat. Bapak kan bukan Fahri dalam Ayat-ayat Cinta Nabi yang tidak akan tergoda ;-) Eh, bahkan Nabi pun bisa tergoda.. hehehe.. cuma karena mereka berkualitas, mereka bisa mengatasi godaan ;-)

***

Sebagai qualitative researcher, gw percaya bahwa jawaban spontan adalah jawaban yang paling bagus, paling jujur, paling berkualitas. Itu jawaban yang tidak dipikirkan sebelumnya, dan benar2 menggambarkan isi hatinya. Sebagai psikolog, gw lebih percaya lagi pada jawaban spontan ;-) Bukankah slip of the tongue itu letaknya di jawaban spontan ;-)?

Dan.. dari jawaban spontan keempat kandidat, apa yang bisa gw simpulkan?

Hmm.. kesimpulannya nggak terlalu bagus: ada indikasi bahwa Bapak2 ini kurang dapat mendengar. Kalau pertanyaan pembawa acara saja tidak didengarkan dengan baik, siapa yang jamin akan mampu mendengarkan aspirasi rakyat yang lebih rumit?

Kesimpulan kedua: ada indikasi bahwa Bapak2 ini terlalu defensif. Jaim abis. Takut kelihatan jelek. Makanya, ditanya tentang pengandaian terkena korupsi ataupun menghadapi godaan, langsung merasanya sudah dituduh ;-) Ditanya apa, jawabnya muteeeeerrr aja ke tempat lain ;-)

Kesimpulan ketiga: Bapak2 ini JAGO BANGET kalau disuruh jual diri ;-) Kebetan-nya tentang program hafal luar kepala. Jadi.. kayak Teh Botol Sosro deh: apa pun pertanyaannya, jawabannya selalu tentang program yang dijual dalam kampanyenya ;-)

***

Lantas, dimana miripnya dengan kontes putri2an?

Belum lihat ya? Hehehe.. Miripnya adalah (selain pada adanya panelis yang memberikan pertanyaan) pada unsur yang [tampaknya] dijadikan acuan penilaian. Yaitu.. BBB ;-) Bukan “Bukan Bintang Biasa” lho.. hehehe.. kalau itu sih orbitannya Jeng Melly Goeslaw ;-) Bukan juga gejala tuberkulosis yang lazim disebut 3B

Kalau di kontes putri2an, kan ada Beauty-Boobs-Butts... eeh.. maksudnya Brain-Beauty-Behavior ;-) Para putri berlomba menampilkan ketiga B ini. Naaah.. kalau di acara kemarin, yang ditunjukkan adalah 3B juga. Tapi.. sorry dory memory.. berdasarkan kesimpulan sementara di atas, BBB di sini singkatan dari Boast-Blunder-Bluff ;-)

Boasting their own program, making blunder while answering the question, and.. I’m sure there will be some bluffs too ;-)

*sigh!*

Untuunggg.. gw tidak tinggal di propinsi ini, jadi gak ikutan pilkadanya ;-) Tapi.. gw jadi punya kinky fantasy tentang seorang teman yang akan ikut pilkada tersebut ;-) Gw ngebayangin dia lagi bentur2in kepala di tembok gara2 jawaban para calon pemimpinnya ini.. hehehe..

*turut berduka cita buat sang teman ;-)*

***

Jadi begitulah. Bertambah satu lagi alasan gw untuk tidak suka pada huruf B. Dari jaman kuliah dulu nggak suka kalau dapat B ;-) Sukanya dapat apa? Ya jelas kalau dapat A. Apalagi kalau straight A, pada semua mata kuliah yang diambil semester itu.. let’s say sepuluh mata kuliah atau lebih. Sayangnya.. emang nggak pernah dapat tuh straight A .. hehehe..

Kalau sekarang, hari ini, sih lagi suka sama huruf C dan D. Apalagi kalau digabung jadi satu dan dibalik.. hehehe.. Maklum, itu huruf kemenangan brondong favorit ibu2 funky ;-) Hehehe.. ngelaba kan emang boleh 10 thn ke atas dan 10 thn ke bawah.. weeek ;-)

Senang akhirnya si brondong ini yang menang. Emang dari dulu gw suka sama rocker bergitar ;-) Bukan satria bergitar ya.. kalau itu sih gw kurang suka ;-) Emang udah kesengsem sama si rocker ini dari awal, karena suaranya tetap nge-growl biarpun merdu. Nggak berfibra2 seperti tipikal American Idol selama ini. Apalagi pilihan lagunya itu lho.. paaaasss banget sama gw. Terutama pas nyanyi Baba O’Riley di babak 4 besar. Aduuuh.. anak seangkatan gw aja bisa dihitung dengan jari yang tahu The Who. Lha.. ini brondong 25 thn bisa nyanyi lagu ini ;-) Langsung bikin gw klepek2 deh ;-)

Apalagi pas dia menang kemarin, dan.. berkaca2 terharu. Langsung ingat sama Candil-nya Seurieus: “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati”.. hehehe..

***

Oops, kok jadi ngelantur ke DC. Back to topic deh.. hehehe..

Ngomong2 soal nyanyi, dan soal Pilkada, gimana kalau kita gabung aja? Siapa tahu Jeng Melly berminat untuk mengorbitkan BBB angkatan kedua? Nanti lagunya bisa gini, “Let’s boast together, get on the podium, the party won’t start if you stand still like that..”

*setelah bisa ‘melucu’ di Metro TV tadi malam, siapa tahu mereka bisa nyanyi juga kayak Chelsea Olivia, Laudya Cynthia Bella, dkk. Multi-talent*