Saturday, May 31, 2008

Anakku Bukan Seleb

Suatu hari di Desember 2007 lalu, gw mendapat email dari seorang wartawan Majalah Girls. Isinya menjelaskan bahwa dia mengetahui tentang Ima dari blog gw, dan minta ijin mewawancarai untuk rubrik Zoom. Zoom adalah rubrik opini di majalah untuk gadis pra-remaja itu, yang mengangkat satu topik khusus setiap edisinya.

Tentu saja gw - yang sangat mengerti betapa sulitnya mencari narasumber - sangat kooperatif dengan permintaan tersebut. Setelah sedikit cek & ricek apakah benar dia dari majalah tersebut, gw segera memberi persetujuan. Awalnya gw kira dia tahu tentang Ima dari posting ini, yang menceritakan bahwa Ima minta dibelikan Majalah Girls gara2 ada Mas Daniel (Radcliffe). Belakangan, setelah lihat hasil wawancaranya, baru gw tahu bahwa si wartawan justru melihat dari posting ini, yang bercerita tentang menjaga alam. Sebab, ternyata topik yang dibahas adalah tentang "Pemanasan Global" (tsah! Gaya ya, anak gw diwawancara untuk topik sedahsyat ini ;-)).

Wawancaranya berhasil dengan baik. Hasilnya - menurut Mbak Wartawati - cukup memuaskan. Ima juga kooperatif. Jawabannya - menurut gw - juga cukup membanggakan buat ukuran anak kelas 3 SD. Walaupun - menurut bapaknya - jawabannya terlalu "normatif" dan "standar". Sebuah komentar yang langsung saja gw silet dengan, "Ya deh, kalau terlalu normatif, ntar gedean dikit Ima gw kirim jadi protege-nya Tante Intan". Yaah.. monggo dinilai sendirilah dari foto di bawah ini. Moga2 tulisannya terbaca ya ;-)



Kalau hasilnya memuaskan, bukan berarti prosesnya gampang! Butuh beberapa hari untuk membujuk Ima supaya mau diwawancara. Kurang lebih seminggu baru berhasil. Soalnya.. Ima ini mentalnya bukan mental seleb. Mentalnya rada burung unta.. hehehe.. alias paling nggak suka tampil, malah masukin kepalanya ke dalam tanah kalau disuruh tampil. Malu, katanya ;-).

Salah satu faktor yang membuat dia mau diwawancara adalah karena sudah familiar dengan majalahnya. Jadi, dia sempat baca rubrik Zoom berulang2 untuk membangun kepercayaan diri. Faktor kedua adalah karena wawancaranya via telepon dan dia sendiri yang menentukan waktunya. Faktor ketiga, yaaa.. karena dia tahu jawabannya tidak langsung masuk ke majalah itu saat itu juga. Somehow, ini memberi ruang agar dia nggak harus perfect dalam menjawab. Well, Ima memang tidak perfectionist seperti gw.. tapi.. dia punya kecenderungan takut salah
seperti gw. Alasannya yang beda: gw karena perfectionist dan menganggap bahwa kesalahan sedikit saja merupakan bukti ketidakkompetenan (tsah!), sementara Ima takut salah karena dia tidak suka mengecewakan orang lain. Gw karena alasan yg egosentris, sementara Ima karena
alasan yang sociosentris ;-)

Anyway.. berdasarkan pengalaman wawancara itu, gw ngerasa pede aja ketika Rabu lalu seorang fellow Sanurian yang kebetulan temannya Dodol minta ijin mewawancarai Ima untuk Radio Singapore International. Toh, pengalaman dengan Majalah Girls membuktikan Ima cukup menikmati. Bahkan, dia juga bangga ketika wajah dan jawabannya muncul di majalah - waktu teman2nya di sekolah ngomong, "Waaah.. kamu masuk majalah ya, Im!" dan waktu eyang2nya memberi selamat padanya.

Lagian, gw mendukung banget dia diwawancara. Mata gw langsung ijo aja mendengar kata "Radio Singapore'. Bayangkan! Anak gw go international! HAHAHAHA.. Dengan kooperatif gw segera memberikan nomor telepon dan jadwal Ima di rumah.

Apa lacur? Ternyata Ima bener2 menolak diwawancara sekali ini. Pertama alasannya: kan Bahasa Inggrisku belum lancar. Alasan itu gw tangkis dengan: kan pakai Bahasa Indonesia. Kemudian muncul alasan lainnya: aku nggak tahu mesti jawab apa! Jawaban yang aneh, karena daftar pertanyaan sudah diberi, dan itu pertanyaan mudah. Seputar alasan kenapa nge-blog, dapat ide dari mana untuk posting di blog-nya, bagaimana membuat tampilan blognya bagus. Sesuatu yang bisa dia jawab dengan mudah. Malah, Ima benar2 nangis ketika Mbak Wartawati benar2 telfon. Padahal, belum dibilang mau wawancara.. hehehe.. baru mau kenalan. Wawancaranya sendiri untuk acara hari Minggu, 1 Juni. Lha? Kenapa?

Usut punya usut, ternyata Ima freaks out karena sekali ini yang mewawancara adalah radio. It means, suaranya akan langsung tayang ke seantero Singapura. Buat dia, the pressure is too big. Diwawancara untuk majalah sih OK. Tapi.. untuk radio, it's a big no-no. Dia malu mendengar suaranya sendiri terekam di media massa.

Yaah.. ternyata.. anak gw tidak bermental seleb.. hehehe.. Beda banget sama ibunya yang suka nampil2in diri meskipun nggak ditawarin.. HAHAHA..

Ya, ya, mestinya gw tahu bahwa anak gw tipe yang tidak suka tampil. Toh, beberapa tahun lalu dia juga freaked out ketika ditawari salah seorang teman gw ikut Kuis Celoteh Anak. Padahal, sehari2 Ima tampil cerewet dan berpengetahuan luas (untuk anak seumurnya). Tapi, langsung mingkem dan nge-blank waktu dicoba untuk menjawab pertanyaan kuis. Padahal, kameranya aja belum ada.. hehehe.. Ima juga freaked out dan langsung menyembunyikan mukanya di belakang punggung gw waktu mau disorot (dan diwawancara sedikit) oleh reporter Kiss - saat diundang ke pra-peluncuran single "Pergi Saja" (pingin dengar? Dapatkan mp3-nya di tautan tersebut). Persis kayak anak burung unta.. hehehe..

Udah gw bujuk bahwa kalau blog-nya masuk radio, nanti yang komentar jadi banyak. Teteup aja dia nggak mau ;-) Padahal, impiannya Ima sejak lama untuk meningkatkan traffic (BTW, yang pada baca ini, kasih komentar di blog Ima ya.. buat memotivasi anak gw ;-)) Kalau menuruti maunya gw, pinginnya sih gw paksa aja Ima diwawancara.. hehehe.. Kalau perlu divetakompli - dibilang gak akan dikasih hadiah yang diinginkan pada ultahnya 12 Juni nanti. Tapi.. berhubung gw sayang anak, yaa.. terpaksa deh gw bilang sama Mbak Wartawati bahwa Ima nggak mau. Ya terpaksa deh ibunya nggak jadi lihat anaknya go internasional.. hehehe..

Padahal, gw udah ngebayangin kalau tawaran wawancara berdatangan, bentar lagi gw bisa pasang tarif ;-) Dan siapa tahu dalam 1-2 thn gw alih profesi jadi manajernya Ima ;-) Punya anak artis di jaman seret duit gini kan lumayan.. HAHAHAHA..

Ya sudah. Nggak boleh memaksa anak demi ambisi ibunya ;-) Siapa tahu yang gede gak mau jadi seleb, nanti yang kecil mau. Itu kan untungnya punya anak lebih dari satu ;-)?

Tapi ngomong2.. jangan2 mental burung untanya menurun dari gw juga ya? Soalnya, gw dulu juga malu banget waktu tulisan gw pertama kali dimuat. Yang memuat adalah Tabloid Mutiara - tabloid mingguan yang sekarang udah nggak ada lagi. Waktu itu gw nulis tentang "Angka Sial 7" dalam meledaknya pesawat ulang-alik Challenger. Ingat kan, pesawat itu meledak 73 detik setelah tinggal landas dan menewaskan 7 orang? Waktu itu, Bapak dengan bangga pamer kesana kemari bahwa tulisan anaknya dimuat di koran. Sementara gw tutup kuping dan pergi jauh2 karena malu.. hehehe.. Sekarang sih gw nggak tahu kenapa gw harus malu. Kan harusnya bangga ya? Mungkin karena jaman itu mental [sok] seleb gw belum terbentuk ;-)

Jadi, siapa tahu 20 thn lagi mental selebnya Ima udah mateng dan nggak malu2 lagi ;-) For the time being, kalau Ima nggak mau diwawancara, boleh digantikan ibunya nggak? HAHAHAHA..