Wednesday, March 15, 2006

A Wedding and a Funeral

Masih teringat pembicaraan sekitar 3 bulan lalu. Dia memang sengaja gw panggil ke ruangan untuk mengkonfirmasi desas-desus keputusan tiba2nya untuk menikah dalam waktu kurang dari 1 bulan ke depan.

“Apa loe yakin sama keputusan loe? Bener2 mau nikah sama dia? Jadi istri tuh beda lho dengan jadi pacar. Gak bisa gampang2 putus-sambung”

Kisah kasihnya dengan pria itu memang tak pernah mulus. Selama 2 tahun pacaran, entah berapa kali mereka putus-sambung. Alasannya selalu sama: si pria pencemburu ini tidak suka gadisnya yang ceria beramahtamah (atau bahkan sekedar berdekatan) dengan pria lain. Padahal, sebagai salah satu interviewer andalan, si gadis sering sekali harus bertemu dan bekerja sama dengan pria.

Pernah gw pun terkena imbas masalah cemburu ini. Si pria, yang saat itu masih berstatus supporting staff kantor kami, tiba2 mencemberuti gw berminggu2. Ternyata alasannya adalah karena gadisnya gw tempatkan selama 1.5 bulan di Batam. Saat pulang, si gadis sempat membisikkan, “Dia cemburu berat, Mbak! Tiap 3 hari sekali nelfon, nanyain kapan pulang. Dan dia selalu marah kalau aku ceritain aku habis wawancara bapak2”

Dan sekarang dengan pria yang berkali2 membuatnya tidak tahan inilah dia memutuskan untuk menikah. 

Well?”

“Yakin deh, Mbak!” katanya riang, “yakin gak yakin, gw harus yakin, Mbak”

“Gw pingin mama senang, Mbak,” ujarnya sejenak kemudian, “sakit mama sudah makin parah. Mungkin tinggal tunggu waktu. Satu2nya yang mama khawatirkan adalah meninggal sebelum ada yang menjaga gw”

Ah, ya! Mamanya!

Ini adalah salah satu faktor lain yang membuat gw begitu concern atas keputusannya. Hidupnya sudah cukup sulit untuk tidak ditambahi lagi dengan menjadi istri seorang lelaki yang mengawasi seluruh gerak-geriknya; dan cemburu terhadap sapaan pria lain yg paling biasa sekalipun.

Sebagai putri tunggal seorang janda, hidupnya sudah cukup sulit. Almarhum ayahnya tidak meninggalkan banyak uang, sehingga ibunya membuka sebuah kantin kecil untuk menghidupi dan menyekolahkannya. Menjelang kelulusan si gadis, ibunya terjangkit terminal illness yang membuat beliau tidak lagi mampu bekerja. Dia yang kemudian mengambil alih tugas sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja honorer di kantor kami. Dua kakak laki2nya dari pernikahan pertama ibunya sama sekali tidak membantu. Entahlah, mungkin karena kehidupan mereka benar2 sudah sangat susah seperti yg dikatakan si adik ini. Tapi mungkin juga karena sebab lain; karena menjenguk bundanya yang sakit pun kakak2nya nyaris tak pernah.

Si gadis lah yang mengerjakan semuanya. Mereka hanya tinggal berdua, tanpa pembantu, di sudut terpencil di luar Jakarta. Tiap pagi dia membersihkan pembaringan si ibu yang penuh urin dan feces. Dia lantas menyiapkan seluruh obat dan makanan si ibu di meja kecil samping tempat tidur sebelum berangkat bekerja. Bila pulang, tak lupa dia membeli makanan untuk dimakan berdua dengan sang ibu.

“Ya, gw tahu. Tapi apakah loe siap membuang seluruh hidup loe hanya karena mengejar waktu? OK lah, mungkin mama senang akhirnya loe menikah. Tapi what next? Jika nanti beliau sudah tidak ada, loe tetap harus menjalani seumur hidup loe dengan dia. OK, manusia bisa berubah. Tapi siapa yg menjamin perubahannya ke arah yg lebih baik? Bagaimana jika keadaan malah lebih buruk? Setidaknya, bagaimana jika keadaannya sama dengan sekarang?”

“Memang manusia hanya bisa berusaha, jodoh tetap di tangan Tuhan. Tapi apa loe gak ingin memastikan dulu, sepasti2nya yg loe bisa, sebelum mengambil keputusan yang pengaruhnya seumur hidup?”

Dia diam. Hanya senyam-senyum saja sambil terlihat berpikir. Tapi kemudian dia menjawab:

“Mungkin keputusan gw salah, Mbak. Mungkin gw harus menanggung resikonya seumur hidup. Tapi gw sayang mama. Kalau gw bisa menyenangkan mama untuk terakhir kalinya, akan gw lakukan walaupun harus gw bayar seumur hidup”

***

Tanggal 30 Maret nanti genap 2 bulan pernikahan mereka. Dan kemarin sebuah kabar datang: ibundanya meninggal lepas subuh. Hanya kurang lebih 45 hari setelah pernikahannya, dia kehilangan sang bunda.

Mungkin benar bahwa pernikahan putri tunggalnya adalah hal yang memberatkan almarhumah. Mungkin benar bahwa sang putri tunggal sudah membahagiakan ibunya dengan segera menikah. Kita tak pernah tahu. Yang jelas: ibunya kini tiada, dan sang dara harus menjalani sisa hidupnya dengan pria yang sempat berulang kali membuatnya berpikir apakah mereka bisa hidup bersama selamanya.

Saat menyalami suaminya ketika akan pulang, gw sempat berpesan untuk menjaga dia. Pesan yang mungkin tidak perlu, karena suaminya memang benar2 mencintai dia. Pesan yang mungkin tidak perlu, karena toh di seluruh sudut ruangan tempat kami melayat gw selalu mendengar bisik2 yang sama:

“Alhamdulillah, almarhumah sudah sempat melihat putrinya menikah”

“Alhamdulillah, putrinya sudah ada yang jaga. Sudah selesai tugasnya sebagai orang tua”

Mungkin, seperti yang dikatakannya hampir 3 bulan lalu, the risk is worth to take (dan dia sudah mendapatkan ganjaran dengan seuntai senyum di wajah ibunda, ketika beliau menyongsong ajal dalam dekapannya)

*dedicated to D.A.R.A; my deepest condolence on your loss – and my wish for all the best thing you deserve*