Friday, March 03, 2006

Titi Kamal minum Beras Kencur

Kemarin si Mas ngobrolin berita yang baru dibacanya di harian Kompas: seorang istri guru ditangkap saat sedang menunggu angkot karena dicurigai menjadi PSK. Hanya gara2 dia berada di tempat dekat banyak PSK berkeliaran, lantas ditangkap dan diproses juga. Padahal dia sudah berkali2 bilang bahwa dia bukan PSK, dan minta pinjam telepon untuk menghubungi suaminya (biar jadi saksi). Tapi itu pun dipersulit, dan apesnya, ketika berhasil menghubungi si suami, suaminya itu lagi kumat darah tingginya. Alhasil, si suami baru datang beberapa hari kemudian dan dianggap mengada2. Si suami diharuskan membayar 300rb untuk membebaskan istrinya.

Padahal si istri sedang hamil, dan si suami sudah membawa surat nikah sebagai bukti!

Penangkapan ini terjadi karena pemberlakuan Perda no. 8/2005 Kota Tangerang tentang Pelarangan Pelacuran. Dalam perda itu diatur bahwa seorang perempuan yang dicurigai (sekali lagi: dicurigai) melakukan praktek pelacuran dapat ditangkap dan diadili. Jadi, tidak perlu ada bukti bahwa dia melakukan pelacuran. Cukup dengan dicurigai saja.. ;-) Kutipan pasal adalah sebagai berikut (diambil dari artikel ini):

Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan, sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan-jalan umum

(Pasal 4 ayat 1 Perda no. 8/2005)

Kalau di Extravaganza, pasti udah dibilang: peraturan yang aneh!

Apa ya batasannya “sikap atau perilaku mencurigakan” yang “menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur”? Apakah harus menyapa setiap pria yang lewat? Atau cukup dengan menggunakan baju tertentu? Baju yang seperti apa? Seperti Julia Roberts di Pretty Woman? Yang pakai garter belt dan rok mini itu? Padahal, gak semua pelacur pinggir jalan berpakaian seksi lho! Nggak percaya? Coba aja lewat jembatan Jatinegara sekitar jam 10 malem, mereka hanya pakai celana jeans dan blus. Blus-nya juga gak semua ketat. Ada yang pakai blus biasa aja, tapi udah cukup menunjukkan lika-liku tubuh karena kebetulan penampangnya toge pasar (=toket gede pantat besar).

Kata “mencurigakan” ini kan multi-interpretasi sekali! Tergantung sensitivitas masing2. Kalo pemerintah kota Tangerang isinya kayak gw semua, yg hobinya curiga sama hal2 kecil sekalipun, apa gak semua2 orang dicurigai? Lha, masih untung kalo pemerintahnya kayak gw, biar curigaan gw tuh orangnya safe player, indecisive, nggak berani ambil keputusan sebelum dipikir panjaaaaaaaaaaang banget (kadang2 malah mikirnya kelamaan sampai masalahnya udah basi pun belum ambil keputusan ;-)). Lha, kalo pemerintahnya cuma gampang curiga aja, tapi hobinya beraksi cepat? Kan bisa2 semua perempuan di sana ditangkapi ;-). Apalagi sudah ada justifikasi dengan kata2 “menimbulkan anggapan”. See? Anggapan! Perception! Jadi gak perlu bukti, gak perlu fakta, cukup dengan persepsi!

Dan kemungkinan, memang akhirnya yg terjadi adalah yg terakhir: orang2 yg berwenang gampang curiga, tapi gak (mau/bisa) mikir panjang, akhirnya rely on perception sebagai dasarnya. Akibatnya, semua perempuan yang ada di daerah yg dirazia langsung ditangkap tanpa pandang bulu. Termasuk orang2 seperti Ceu Lilis ini. Ceu Lilis ini kerja di sebuah restoran, dan pulangnya malam. Sekitar jam 22:00 baru sampai rumah setelah berganti2 angkutan umum. Pada saat nunggu angkutan umum itulah dia ditangkap, hanya karena kebetulan dia perempuan dan berada di tempat razia. Buat sebagian orang, berada di tempat yang razia aja sudah dianggap sebagai perilaku mencurigakan dan menimbulkan anggapan bahwa dia melacurkan diri.

Si Mas bilangnya ini adalah produk chauvinisme laki2. Mungkin juga sih, mengingat yang bikin perda (harusnya) juga kebanyakan laki2. Tapi bisa jadi juga sekedar kekurangmampuan berpikir panjang. Melihat segala sesuatunya secara partial, bukan dihubungkan dengan big picture-nya. Atau mungkin hanya masalah ketidaksensitivan terhadap bahasa; sehingga gak tahu bahwa penggunaan kata “dicurigai” itu mempunyai perbedaan yang amat sangat signifikan dengan kata “terbukti” dan bahwa kata “anggapan” itu berlawanan arti dengan “fakta”. Just two words, but they make all the differences.

Well, apa pun sebabnya, gw setuju dengan kata2 sang pakar hukum pada artikel tadi: perda tersebut tidak sesuai KUHP, harus direvisi, dan masyarakat bisa mengajukan gugatan class action. Kita tunggu aja apakah pemerintah kota Tangerang cukup berbesar hati mengakui kesalahannya.

Meanwhile, gw punya pantun nasihat yang mungkin berguna bagi Anda2 yang rumahnya sekitar Tangerang, kantornya dekat Tangerang, atau harus ke Tangerang karena punya suatu urusan:

Titi Kamal sarapan kerang
Minumannya es beras kencur
Hati-hati kalau malam jalan2 di Tangerang
Bisa2 dicurigai dan dianggap pelacur

(Bayangin betapa mualnya Titi Kamal pagi2 makan kerang yg rada2 amis terus minumnya jamu spicy begitu. Sama memualkannya kali ya, dengan pemberlakuan perda tsb ;-))