Wednesday, March 29, 2006

The Right Decision on the Wrong Situation

Saat ngobrolin tentang Abepura, seorang teman mengajukan keluhan menarik. Isinya kurang lebih begini:

Gw rasa ada yang salah di level komandan. Coba lo bayangkan menghadapi massa yang begitu banyak dan sudah siap dengan senjata. Harusnya sudah dikirim intelejen untuk melihat kondisinya seperti apa. Tapi persiapannya apa? Anak buah berangkat dilarang membawa peluru tajam, hanya dibekali peluru karet dan rotan.

Gw mengerti mungkin ada ketakutan dari komandan bahwa kasus ini akan seperti "Santa Cruz' kedua dan menjadi persoalan politik yang besar.  Akan tetapi keselamatan anak buah jauh lebih penting. Kamu tau nggak prajurit di lapangan tuh harus mengambil keputusan "kill or to be killed", yang artinya membunuh atau terbunuh. Memang cara persuasi adalah yang terbaik tapi kalau sudah kondisi "kill or to be killed" terpaksa dilakukan tindakan membela diri. Nah bagaimana mau membela diri kalau tidak dibekali dengan peluru tajam? Itu sama saja komandan memproduksi Janda dan anak yatim.

Kebiasaan berpikir worst case scenario (skenario yang terburuk) ini yang kurang di Indonesia kalau belum ada bencana selalu berpikir santai. Padahal dalam keamanan tidak ada istilah begitu .Berpikir haruslah yang terburuk .

Ini hanya keluh kesah keperihatinanku saja melihat kondisi yang ada di Papua.

 

Well.. gw sama prihatinnya dengan dia tentang kasus Abepura. Biarpun I’m not a big fan of the police corps, rasanya sedih juga melihat nyawa yang terbuang sia2. Tentang anak yatim dan janda2 baru yang ditinggalkan. Gw sendiri terbayang bagaimana ngerinya para almarhum polisi itu; tanpa senjata lengkap harus menghadapi massa yang mengamuk. Biar bagaimana pun, polisi juga manusia. Punya rasa takut yg sangat manusiawi. Tapi mereka gak bisa menolak tugas.

Namun, berbeda dengan teman gw itu, gw cenderung tidak menganggap kasus ini kesalahan komandan. Gw lebih melihatnya sebagai the right decision on the wrong situation.

Gw gak tahu banyak tentang militer atau kepolisian. Tapi gw percaya bahwa yang namanya top priority adalah keselamatan warga sipil. Demonstran di Abepura, biarpun bersenjata, adalah warga sipil. Oleh karena itu sudah sepantasnya komandan tidak memperbolehkan anak buahnya membawa peluru tajam. Jika teman gw bicara tentang memproduksi janda dan anak yatim baru, sebenarnya membawa peluru tajam pun tidak menghindarkan suatu keadaan buruk. Seperti teman gw bilang sendiri: membawa peluru tajam bisa menimbulkan “Santa Cruz” kedua.

So.. gw sangat setuju bahwa dalam menghadapi kasus ini komandan hanya mengizinkan membawa peluru karet dan rotan. Bagaimanapun, keselamatan warga sipil harus didahulukan. This is the right decision.

Tapi.. masalahnya… the right decision diaplikasikan pada the wrong situation. Warga sipil yang dihadapi bukan lagi warga sipil yang manis; mereka adalah kumpulan orang2 kecewa, orang2 frustrasi, orang2 yang tidak lagi dapat berpikir jernih. Dengan demikian, paradox lah yang terjadi: suatu keputusan yang benar, malah menimbulkan hasil yang tidak benar.

So.. kalau menurut gw, memang udah gak bisa quick solution lagi. Gak bisa lagi kita berpikir di tahap superficial seperti yang diajukan teman gw: berangkat dari titik bahwa serdadu selalu dihadapkan dalam situasi “kill or to be killed”, sehingga harus dibekali alat membela diri. Alat membela diri dan alat membunuh itu bedanya hanya segaris tipis. Senjata yang sama akan menjadi alat pembunuh atau alat pemberi hidup di tangan orang yg berbeda. Siapa yang jamin kalo dikasih senjata lantas mereka akan menggunakannya sebagai alat membela diri, bukan alat pembunuh?

Makanya… menurut gw kita harus mundur lagi ke belakang. Ke akar masalah ini. Kenapa massa bisa menjadi kecewa, frustrasi, dan beringas?

Gw pikir… memang sudah waktunya orang2 yang berwenang mengambil keputusan mempelajari hal yang paling mendasar: belajar “mendengar” dan “berempati”. Kalau saja keluhan mereka didengar, bahkan diantisipasi sejak jauh2 hari, mungkin sekali mereka tidak menjadi kecewa dan beringas. Jika mereka tidak menjadi kecewa dan beringas, polisi tidak perlu diturunkan untuk mengamankan keadaan. Dan jika polisi tidak perlu diturunkan untuk mengamankan keadaan, komandan tidak harus mengambil keputusan boleh/tidak boleh membawa peluru tajam. Everybody will be happy, and there would not be any victims.