Monday, March 13, 2006

Menjadi Orang Baik

Rupanya, setelah bosan menggambarkan the God’s wrath unto the sinners, para produser acara di TV mengganti pendekatannya. Udah beberapa waktu ini, kalo gw ngintip tontonan mbak2nya Ima, gw tidak lagi melihat segala macam mayat bernanah, berdarah, ditolak bumi, etc, etc. Sebagai gantinya, gw melihat orang yang super baik melawan orang yang super jahat. Contohnya ya kayak tadi malam, ada sinetron berjudul (kalo gak salah) Jalan Kebenaran. Gak nonton dari awal sih.. hanya tiba2 nengok gara2 Ima teriak, “Ibunya kejam banget sih? Anaknya minta dijemput ibunya gak mau, malah main kartu!”. Gw lihat seorang ibu2 cantik (yg main Firdha Kussler d/h Firdha Razak… ;)) lagi main kartu ditemani brondong sambil ngomelin anaknya via handphone.

Adegan berikutnya: seorang copet menelfon ustad yang pernah dicopetnya, minta tolong diberikan uang tebusan supaya tidak dipenjara. Alasannya: kedua anaknya masih kecil, istrinya sudah meninggal, siapa yg akan jaga anaknya kalo dia dipenjara? Dengan telfon itu si ustad langsung mengumpulkan duitnya yg tidak seberapa, against his wife’s will, untuk menebus di pencopet. Kata Pak Ustad, “Kalau kita bisa membantu, bantulah. Toh selama ini kita tidak pernah sampai kelaparan”.

Adegan kemudian berlanjut dengan temannya Jeng Firdha, sesama ibu2 kartu, yang gak sengaja dengar ceramah Pak Ustad yg bertema Al Isra 17:7, yaitu “Jika kamu berbuat kebaikan, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat kejahatan, maka akibatnya bagi dirimu sendiri”. Dengan Malaysian dress pengganti kaus kutungnya, si Mbak cantik datang lagi ke mesjid hari berikutnya untuk minta dicatatkan ayat tersebut oleh Pak Ustad. Dan apa yg dilakukan Pak Ustad? Beliau mengambil Al Quran, dan mengatakan, “Tidak usah saya catatkan, karena Al Quran ini untuk Mbak”. Dan si mbak cantik itu langsung klepek2 terharu dengan kebaikan hati Pak Ustad; langsung mengaji saban malam.

Rentetan adegan berikutnya adalah Jeng Firdha yg jengkel karena si teman lebih senang ngaji daripada dugem/main kartu memutuskan untuk meracuni si mbak cantik yg “kembali ke jalan yg benar” ini. Tapi akhirnya yang mati adalah anak sendiri, yang tidak sengaja makan kue tersebut.

*heran, what is the logic of poisoning the friend? Isn’t it enough that you find another friend?*

Nah.. cerita ini memang sepintas lebih tenang dan baik dibandingkan pendahulunya. Setidaknya, orang lebih diajak untuk berbuat baik, bukan ditakut2i dengan segala azab dan sengsara. Tapi.. tetap aja gw gak sreg dengan acara ini. Menurut gw, tetap aja ceritanya kelewat hitam putih, hingga2 menjurus ke arah bahwa kalo mau jadi orang baik itu berbatas tipis dengan menjadi orang bodoh.

OK, gw menghargai niat baik Pak Ustad di cerita itu untuk membantu si pencopet. Beliau tidak dendam pada orang yg pernah berbuat salah padanya, malah bersedia membantu. Tapi.. yang gw herankan, kenapa membantu itu harus diterjemahkan menjadi “sekedar” mengikuti permintaan si pencopet menyediakan uang tebusan? Inti masalahnya apa sih? Kan intinya bahwa kedua anak si pencopet itu tidak ada yg mengurus jika bapaknya dipenjara. Lha, berarti kalo Pak Ustad mau bantu, bisa saja dia membantu dengan mengayomi kedua anak piatu itu selama bapaknya dipenjara kan? Pak Ustad tetap bisa berbuat baik tanpa harus menafikan kesalahan di pencopet; menghindarkan dia dari konsekuensi perbuatannya sendiri.

Soal adegan berikutnya, gw juga heran banget. Si mbakyu cantik itu kan datang bagaikan anak domba yang hilang. Dia datang karena tertarik mendengar ceramah, penjabaran Pak Ustad tentang ayat tersebut. Penjabarannya yang membuat si mbakyu “kembali ke jalan yg benar”. Lha, kok reaksinya Pak Ustad cuma begitu doang? Cuma memberikan Al Quran supaya si mbak bisa baca sendiri? Hey, Pak, si mbak ini butuh bimbingan, bukan butuh dikasih sedekah berupa buku. Bukunya sih dia bisa beli sendiri, bacanya bisa sendiri, tapi penjelasannya itu yang dibutuhkan. Bimbingannya yg dibutuhkan. Emangnya “kembali ke jalan yang benar” itu cukup dengan hanya baca Al Quran aja? Apa gunanya dibaca, kalo gak dimengerti dan diamalkan? Salah2 malah pengamalannya jauh panggang daripada api, alias gak sesuai dgn inti ajarannya.. ;)

Soal menjadi orang baik yang direduksi menjadi sekedar atribut ini juga pernah gw jumpai di sinetron lain yg gak sengaja gw tonton. Gw gak tahu judulnya apa, gw hanya ngintip gara2 adegan Derry Drajat lagi marah2 di depan pintu pagar, gak bisa masuk rumah selama 15 menit, karena SEMUA pembantunya (pembantunya 5 orang, bo!) sedang shalat berjamaah. Di situ Derry Drajat digambarkan sebagai majikan yang jahat banget, memarahi pembantunya yang “berada di jalan yang benar”. Yang di-highlight adalah marah2nya si majikan terhadap “perbuatan baik” (shalat berjamaah) yang dilakukan oleh pembantunya. Sama sekali tidak ada highlight tentang pembantu yang “meninggalkan tanggung jawab” sehingga membuat boss-nya marah.

Padahal, kalau dipikir2, apakah Tuhan pernah bilang bahwa manusia boleh mengabaikan tanggung jawabnya untuk alasan melakukan perintah Tuhan? Bukankah tanggung jawab kita (pada manusia lain) juga harus sejalan dengan hubungan kita dgn Tuhan? Di kasus ini, misalnya, kan nggak harus pembantu yang jumlahnya 5 orang itu shalat jamaah bersamaan? Kalo pun mau mengejar pahala shalat berjamaah, kan shalatnya bisa dibagi 2 shift? Dengan demikian semua dapat pahala, tapi juga si boss tidak terlantar? Rasanya perintah untuk menyegerakan shalat tidak harus diartikan segitu harafiahnya, sehingga memberikan legitimasi untuk meninggalkan tanggung jawab.

Well.. kalau lihat cerita2 sinetron seperti ini, maka gw komentar gw: alangkah mudahnya menjadi orang baik! Just be dumb and do all the literal things associated with being good. Jangan pernah berpikir kritis, karena berpikir kritis itu bisa bikin curiga (sebuah bentuk ketidakbaikan). Jangan pernah memikirkan tanggung jawab kita kalo tanggung jawab itu mengurangi waktu kita dgn Tuhan.

*hopefully, masih banyak orang yg sadar bahwa menjadi orang baik itu lebih dalam daripada perilaku superficial saja ;-)*