Wednesday, August 21, 2013

Kotak-kotak Pikiran

Jadi, MUI membuat pernyataan kontroversial lagi dengan mengatakan Tes Keperawanan Perlu Masuk UU. Serentak dunia maya bergejolak. Semua mengecam. Semua mengatakan betapa tak masuk akalnya ini. Dan seorang teman men-tagged gw pada sebuah artikel untuk mempertanyakan apakah berita ini benar.

Pertanyaan itu berbuntut panjang...

Karena seperti biasa gw punya pikiran yang [mungkin buat banyak orang] "nyeleneh". Anti-kemapanan ;-) Suka bikin rumit hal yang sepele ;-)

Sebab meski gw tak setuju dengan kebijakan Tes Keperawanan ini - karena toh perempuan tidak belajar dengan menggunakan selaput dara - namun... gw masih bisa menerima jika sekolah memberikan sanksi pada murid yang kedapatan hamil / menghamili rekannya.

I was grilled by the society for this... which made me excited ;-)

Dasar pemikiran gw sederhana saja. Jika seorang anak usia sekolah kedapatan hamil / menghamili, maka satu hal yang pasti: anak itu (atau sepasang anak itu) tidak dapat mengamalkan apa yang dipelajarinya di sekolah dengan baik.

Kejadian ini hanya mungkin terjadi jika:

  1. Sepasang anak ini melakukan hubungan seks tanpa membekali diri dengan pemahaman yang memadai. Which means ignorance, I must say, because information is EVERYWHERE. You just need to google. Or read your Science textbook at school about reproduction.
  2. Mereka berdua abai terhadap tanggung jawab. Di kepala mereka hanya ada kenikmatan. To tell you the truth, buying condoms in this republic is easier than finding a paddy field. Serius! Minimarket seperti Indomaret atau Alfamart ada di tiap tikungan. Kadang di satu jalan mereka dempet-dempetan. Circle K dan 7-Eleven juga banyak. Dan tiap-tiap dari mereka menjual kondom secara bebas. Dengan harga terjangkau. Kalau nggak mampu beli Durex atau merek import lainnya, beli aja merek Sutra ;-) Jadi... kalau mereka nggak pakai kondom, itu bukan karena nggak bisa. Karena mereka nggak mau!! Karena kalau pakai kondom gesekan yang terjadi kurang natural, berasa plastiknya! ;-) So, itu membuktikan bahwa mereka melupakan tanggung jawab toh?
Itu alasan terjadinya kehamilan remaja. Mereka hamil / menghamili karena "suka sama suka". BULLSHIT! Secara usia mental, berapa banyak bocah umur 16 - 18 tahun itu yang siap punya bayi? Yang berencana punya bayi? Kalaupun ada, apakah itu benar-benar karena ingin memiliki keturunan, atau sekedar emosional sesaat akibat kasmaran? Wong menurut teori Erikson tentang perkembangan psikososial, bocah-bocah ini masih di transisi antara menentukan identitas dan membentuk hubungan dekat dengan lawan jenis kok. 

Nah, dengan alasan itu, menurut gw sudah pantas dan selayaknya jika mereka diberi sanksi. Termasuk jika sanksi itu adalah mengeluarkan mereka dari sekolah.

Hmm... really? Begitu mungkin sebagian besar dari masyarakat kita bertanya.

Perlukah mereka diberi sanksi? Bukankah sudah cukup berat menjadi seorang remaja hamil untuk meneruskan sekolah? Bayangkan semua rasa terhina itu, bagaimana dia tidak dapat mengikuti pelajaran olahraga karena perut yang membesar... Perlukah masa depan mereka diputus dengan menghentikan mereka dari sekolah? Padahal mereka tidak merugikan orang lain. If my friend is pregnant, I'm surely not inspired to fall pregnant either! 

Begitu kurang lebih argumen balik yang gw dapat. Argumen yang bagus. Tidak salah. Hanya... menurut gw... kurang menyeluruh ;-)

Begini dasar pikiran gw: 
  1. Betul. Adalah sangat berat bagi seorang remaja hamil untuk menyelesaikan sekolahnya. Sama beratnya dengan pecandu zat terlarang untuk menyelesaikan sekolahnya. Bayangkan... mereka dijauhi semua orang karena dianggap junkies. Mereka harus bertarung dengan kesadaran yang menurun. Bertarung dengan konsentrasi yang selalu hilang. Bertarung dengan rasa sakit fisik ketika sakaw. Dengan demikian... apakah sebaiknya penggunaan zat terlarang dibiarkan saja? Nggak perlu diberi sanksi? You tell me ... ;-)
  2. Betul. Seorang remaja hamil tidak merugikan orang lain. Seorang pengguna zat terlarang pun tidak merugikan siapa pun selain dirinya sendiri. Setidaknya... sampai dia kehabisan uang untuk membeli obat terlarang, sehingga dia kemudian mencuri uang keluarga atau melakukan tindak kriminal lainnya. Dan yakinkah Anda hal yang setara tidak akan terjadi pada remaja hamil juga? Kalau dia lulus pas-pasan, nggak bisa cari duit cukup, lantas nggak ngemis kiri-kanan, membuat orang tuanya harus membiayai anaknya, BAHKAN melakukan tindak kejahatan jika perlu? You tell me again...  ;-) 
  3. Betul. If my friend get pregnant, I'm not inspired to fall pregnant either. Tapi kan sudah gw bilang di atas bahwa kehamilan remaja kecil urusannya dengan "inspirasi"? ;-) Dan... bagaimana jika menjadi inspirasi adalah "hidupmu tidak akan berubah meski kamu hamil"? Sehingga mereka terinspirasi untuk memuaskan hasrat tanpa memikirkan birth control? :-) Are you sure it will not happen? 
Dan satu lagi hal yang membuat gw merasa argumen balik ini kurang menyeluruh: seluruh argumen ini dilandaskan HANYA kepada sisi seorang remaja putri yang hamil. Padahal, argumen awal gw selalu menyebut "hamil / menghamili", yang berarti mencakup sanksi pada si remaja putra ;-) Bukan hanya makhluk naif yang membiarkan dirinya dibuahi, tapi juga makhluk tolol yang menolak pakai kondom ;-)

Nah! Itu! Bayangkan... APA yang terjadi pada si remaja putra ini jika tidak kita beri sanksi? Pelajaran apa yang didapatnya? Bahwa it's OK to impregnate your girlfriend? Bagaimana jika ini menginspirasi mereka untuk MENGULANGI tindakannya. Since it's OK, why don't we do it again? Pacar pertama hamil, mari kita cari pacar berikutnya untuk dihamili? 

Itu baru inspirasi pada si pelaku. Bayangkan jika inspirasi ini terjadi pelajar-pelajar putra lainnya. Berapa banyak remaja putri yang akan hamil? Berapa banyak orang tua yang harus membiayai cucu sebelum waktunya?

Trust me... Sex Education might remind them that intercourse without condom could result in pregnancy. But... if they have seen that it's OK to impregnate / get pregnant, this knowledge will not trigger them to wear condom ;-)

***

So, tulisan ini gw mulai dengan artikel mengenai pernyataan tidak populernya MUI. Tapi sepanjang tulisan gw malah ngomongin hal lain: kehamilan remaja. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah pada perlunya kita think out of the box. Berpikir di luar batas. Mendobrak batas-batas pikiran kita sendiri untuk mendapatkan bird eye's view. Pandangan dari atas yang menyeluruh. Pandangan holistik.

Masyarakat Indonesia mencerca MUI yang berpikirnya cupet. Cuma memikirkan seputar selangkangan. Kita menganggap diri kita lebih baik, karena bisa melihat apa yang tidak dilihat MUI.

Tapi benarkah kita sudah melihat secara menyeluruh? Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya terjebak di kotak pikiran yang lebih besar? Kita merasa sudah bebas dari berpikir sebatas selangkangan, tetapi ternyata kita masih belum terbebas dari sebatas simpati pada perempuan atau sebatas melihat aktivitas seksual sebagai hak pribadi? :-)

Ironisnya, gw mesti mengatakan bahwa banyak masyarakat kita yang sesungguhnya masih terjebak pada kotak yang lebih besar. Kotak bernama solidaritas kepada perempuan. Kotak bernama solidaritas hak azasi. Kotak yang membatasi kita melihat bagaimana perempuan jika dikaitkan dengan gender lainnya. Yang membatasi kita melihat bahwa hak azasi pun dibatasi oleh hak azasi lainnya ;-)

Dan gw pun menjadi cemas.... dimanakah batas pandangan gw? Masihkah gw terjebak di sebuah kotak... meskipun kotak itu sudah lebih besar?