Sunday, June 06, 2010

Malaikat Juga Bingung

Al Quran. City of Angels. Kau Memanggilku Malaikat.

Apa benang merah yang mengaitkan antara kitab suci bagi umat Islam, sebuah film Hollywood, dan sebuah novel karangan Arswendo Atmowiloto? Tidak banyak, tentu, tetapi... setidaknya ada sebagian jabaran sifat malaikat pada film dan novel itu yang seiring sejalan dengan sifat2 malaikat dalam Al Quran: bahwa malaikat adalah mahluk Tuhan yang mengabdi total pada-Nya. Tidak seperti manusia yang diberi akal budi dan kemampuan merasa, malaikat mah lempeng aja gitu.... nggak pakai ragu, nggak pakai nanya, nggak pakai membangkang. Nurut senurutnya... karena mereka memang nggak punya kemampuan untuk berpikir ataupun merasa, apalagi berinisiatif.

*Well, setidaknya dalam City of Angels, si malaikat nggak punya kemampuan untuk merasa .. meskipun digambarkan memiliki curiousity"

Hehehe... dalam pikiran liar gw, gw suka membayangkan betapa kacaunya organisasi akhirat jika malaikat ini punya kemampuan berpikir, merasa, dan berinisiatif. Bayangkan betapa merepotkannya jika malaikat itu punya sifat seperti.... ehm.... gw yang hobi protes ;-) Bisa2 para malaikat demo karena merasa pembagian tugasnya nggak adil. Bayangkan, ada malaikat yang sekarang nggak ngapa2in, karena tugasnya cuma meniup sangkakala di hari akhir. Cuma itu doang! Ada juga yang cuma nungguin pintu surga/neraka. Sementara, ada malaikat2 yang job desc-nya banyak banget: ada yang tugasnya mencabut nyawa atau membagikan rejeki ke setiap manusia di dunia. Bayangin! Berapa banyak manusia di dunia ini???

Tetapi, yang paling repot adalah malaikat yang tugasnya mencatat perbuatan baik dan buruk setiap manusia. Kalau malaikat itu seperti manusia, maka bayangkan betapa kerja rodinya mereka :) Tiap sepersekian detik ada perbuatan baru yang harus dicatat dari setiap individu! Nah lho! Kapan istirahatnya? Lha, kalau malaikat yang membagikan rejeki, setidaknya masih ada jeda nunggu batas usaha si manusia. Terus... rejeki dirapel belakangan juga nggak apa2. Tapi, kalau harus mencatat niat - pikiran - perbuatan dari setiap manusia? Halah... betapa repotnya! Apalagi kalau manusia2nya plin-plan... hehehe... bolak-balik catatan harus di-tip ex ;-)

Tuh, kan? Untung malaikatnya nggak kayak gw? Hehehe... Kalau kayak gw, pasti gw mempertanyakan apakah malaikat nggak bisa multi-tasking ;-)

Sebenarnya, itu cuma pikiran liar gw aja sih.... :) Makanya gw simpan diam2 aja, nggak diobrolin sama orang2. Tetapi... hari ini tergoda untuk menuliskan setelah membaca berita tentang dana aspirasi 15M, tepatnya berita yang ini.

Sebab, lantaran salah satu bagian dari berita itu, gw jadi punya ide liar baru tentang mengapa malaikat memang seharusnya tidak punya pikiran, perasaan, dan inisiatif. Alasannya: biar mereka terhindar dari neraka jahanam kebingungan ;-)

Potongan berita yang gw maksud adalah yang ini:

"Kalau itu dianggap melakukan kejahatan ya saya tidak apa-apa melakukan kejahatan demi kepentingan rakyat," tegas Harry.

Tuh, kan.... benar ;-) Untung malaikat nggak punya kemampuan berpikir ;-) Makanya mereka nggak perlu bingung2 mikir kelakuan para pencetus ide "15M untuk Dapil" ini harus dicatatkan di mana: kebaikan atau keburukan ;-) Mereka cukup mengikuti flow chart standar:

Seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan baik dan ia tidak melakukannya, maka Allah akan menuliskan untuknya satu (pahala) kebaikan; dan seandainya ia berniat melakukan perbuatan baik dan melaksanakannya, maka Allah akan menuliskan untuknya (pahala) sepuluh hingga tujuh ratus kali lebih banyak. Dan seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan buruk dan ia tidak melaksanakannya, maka Allah akan menuliskannya sebagai satu kebaikan penuh; dan seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan buruk dan melaksanakannya maka Allah akan menuliskannya sebagai satu dosa. (HR. Bukhari)

(dikutip dari sini)

Mereka nggak perlu pusing2 mikirin apakah sebuah 'kejahatan' (atau setidaknya: kebodohan kronis) yang diklaim sebagai didasarkan pada niat baik demi rakyat ini harus dicatat dimana: sebagai kebaikan, atau keburukan. Lha, katanya niatnya baik, tapi yang dilakukan buruk ;-)

Kalau sekarang kan mereka tinggal nunggu: kalau memang terjadi, ya dicatatkan sebagai keburukan. Kalau tidak terjadi, ya nggak dicatat sebagai keburukan. Bukankah flow chart-nya gitu? Kalau belum menjadi tindakan, ya kita intention-oriented: kalau niatnya baik ya dicatat sebagai kebaikan, kalau niatnya jelek ya nggak usah dicatat. Toh belum kejadian. Tapi... kalau sudah jadi tindakan, ya behavior-oriented. Niat tidak penting lagi... :) Tinggal tindakannya baik atau buruk... hehehe... Jadi gak terjebak dengan mumbo-jumbo tindakan yang buruk-tapi-katanya-niatnya-baik ;-)

Bayangkan jika malaikat bisa mikir! Bentar lagi akan beredar sebuah single yang dinyanyikan oleh Raqib dan Atid. Judulnya: Malaikat Juga Tahu Bingung

Malaikat juga bingung
Mau dicatatkan s'bagai apa...

Syukurlah mereka bukan kaum yang berpikir... hehehe...

***
Tapi ngomong2, sebenarnya gw agak ngiri juga dengan "kreativitas" anggota dewan ini. Bayangkan, bisa2nya memikirkan harus ada dana 15M rupiah untuk dana aspirasi. Demn! Kenapa sih "kreativitas" seperti ini nggak ada di industri gw? Secara setiap hari kerjaan gw menyuarakan aspirasi konsumen gitu lho, kalau ada dana aspirasi kan sekarang gw udah kaya... HAHAHAHAHA....

Kemarin, baru saja Abang ini nge-tag gw di bahasannya tentang Pemanfaatan Pendekatan Psikologi untuk Mencapai Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Mungkin "kreativitas ekonomi" para anggota dewan ini merupakan langkah awal ya? Hehehe...