Thursday, January 28, 2010

Hotel California Roll

Kemarin, pemerintahan SBY ber-Boedi tepat 100 hari. Dan banyak demo menggoyang pemerintahan ini dimana2, gaungnya malah sampai ke Austria. Iya, Austria, bukan Australia yang di sepelemparan batu itu... Austria dan Australia jaraknya memang terpisah samudra, seperti sudah digambarkan oleh tambahan hurufnya: AustrALia. AL itu angkatan laut kan ;)?

Gw nggak ahli Feng Shui maupun primbon, tapi... gw mulai bertanya2, adakah hubungan antara hobi Pak Presiden menyanyi serta mencipta lagu dengan pemerintahannya, sehingga selalu digoyang dombret ;-)? Makanya toh, Pak, noblesse oblige. Kalau jadi presiden ya ditunda dulu keinginan menjadi pesindennya. Kalau dipaksakan bisa menjadi preseden buruk ;-)

Atau... mungkin juga demo 100 hari ini adalah pembuktian law of attraction ;-). Selamatan 100 hari itu biasanya dilakukan untuk mengenang almarhum seseorang. Dan karena menurut hukum ketertarikan ini pikiran mempengaruhi kejadian, maka nggak heran kalau pemerintahan ini jadi sulit berkembang. Diperlakukan seperti orang meninggal sih! Coba kalau evaluasinya dirancang untuk 7 bulan pemerintahan, seperti upacara mitoni atau 7 bulanan pada orang2 hamil. Mungkin bisa memberi energi positif... karena diperlakukan sebagai suatu cikal bakal kehidupan dan harapan ;-)

Anyway... gw nggak mau membahas tentang demo 100 hari. Juga nggak mau ngebahas Duo BC yang ramai diusung orang untuk jadi tema demo. Gw cuma mau menggunakan salah satu BC itu sebagai batu loncatan untuk menyelesaikan suatu draft tulisan yang udah agak basi ;-)

*Hehehe... harap maklum, sekarang2 ini banyak banget tulisan gw yang basi. Soalnya nggak kompak nih antara keinginan dan kesempatan untuk menuliskannya ;-)*

Draft basi gw ini sebenarnya bermula dari terkuaknya sel mewah Tante Ayin. Kasus itu kan sempat ramai ya, beberapa waktu lalu. Dan rata2 orang mempertanyakan efek jera si Tante, jika sel-nya mewah seperti itu. Semua orang ramai2 berpendapat bahwa si Tante (secara khusus) dan para pelaku tindak korupsi lainnya (secara umum) baru bisa jera kalau sudah ditaruh di sel sempit seperti penjahat2 lainnya.

Gw sendiri punya pikiran yang agak beda. Menurut gw, efek jera itu bukan merupakan hasil dari perlakukan yang sama, melainkan karena perlakuan berjenjang yang setara. Jadi, efek dari sebuah perlakuan terhadap orang yang berbeda belum tentu sama, karena tergantung dari karakteristik orang per orang tersebut. Contohnya, buat gw yang suka menyendiri ini, dihukum nggak boleh keluar adalah heaven on earth buat gw... hehehe... Jadi, kalau gw dikurung di kamar, bisa jadi gw nggak akan jera. Tapi... coba deh terapkan hal yang sama pada anak2 gaul kronis. It would be a 7th degree inferno for them ;-)

Oleh karena itu, gw sendiri cukup yakin bahwa Tante Ayin akan cukup jera meskipun dikurung dalam kamar yang ukurannya kayak papan catur raksasa itu, 8x8m ;-) Kalau buat yang rumahnya tipe 4L, loe lagi loe lagi, alias cuma 3x7m atau 6x6m, papan caturnya Tante Ayin tuh emang lega banget. Bikin betah berlama2. Tapi... buat si Tante yang biasa melanglang kemana2, sarapan nasi lemak di KL, makan siangnya bakmi di Hong Kong, dan makan malamnya sashimi di Jepang, yang namanya papan catur raksasa ini sama efeknya dengan sel 2x3 buat kita :)

Mungkin beberapa orang akan bilang, "Aaah! Itu kan teori! Mewah adalah mewah, nggak akan bikin efek jera!" Mmm.... enggak juga kok. Sekitar tahun 1995 gw pernah praktek pelatihan di bagian Psikologi Pendidikan buat remaja2 cowok yang tertangkap tawuran. Waktu mau berangkat, gw udah membayangkan bakal ketemu cowok2 begajulan yang setengah mabok semua. Ternyata.... bayangan gw nggak sepenuhnya benar. Ada beberapa cowok yang [meskipun kelihatan dekil dan kurang terawat] tapi sangat santun. Pokoknya, nggak kebayang deh mereka berpartisipasi dalam sebuah tawuran... apalagi yang bertindak penuh kekerasan.

Setelah ngobrol2 panjang, penemuan kami sungguh mencengangkan: beberapa cowok tanggung tersebut memang tidak ikut tawuran, tetapi mereka sengaja membiarkan diri ikut ditangkap. Alasannya, "Kalau ikut pendidikan di sini, makan dan tidur terjamin. Pulangnya masih dikasih uang saku Rp 10.000, lumayan uangnya buat adik2 saya"

Kebayang nggak sih? Kalau buat gw yang anak manja gini, nggak bakalan gw mau membuang 3 minggu hidup gw dikarantina secara militer; bangun sebelum subuh, disuruh lari2 dan apel pagi. Itu penyiksaan namanya. Apalagi cuma dapat Rp 10.000! Gw pasti jera kalau ikut program ini. Tetapi... buat sebagian orang, boro2 ini adalah penyiksaan. Menurut mereka malah sesuatu yang worth it. Sesuatu yang bikin gw jera, ternyata buat orang lain maknanya berbeda.

So, that's it. Menurut gw, kita sih nggak perlu terlalu khawatir atas efek jeranya. Yang perlu kita khawatirkan adalah sikap para petinggi hukum terhadap hal2 ini. Menurut gw jawaban bahwa agar "hak perdata" Tante Ayin tidak terhambat adalah [maaf] suatu jawaban yang bodoh :-) Yang namanya narapidana itu ya sudah jelas kehilangan seluruh haknya! Kecuali hak azasinya ya ;-) Jadi... nggak ada dasarnya pertimbangan khusus ini. Ini hanya langkah ngeles saja, sebuah justifikasi yang konyol ;-)

Dan, menurut gw, pembelaan diri petinggi hukum inilah yang menurut gw lebih mengenaskan daripada bisa berfitness rianya si Tante di sel tahanan ;-) Komentar seperti ini hanya bisa muncul jika seseorang tidak tahu apa esensi dari hukuman penjara itu, dan bagaimana mekanisme timbulnya efek jera. Kalau hidupnya masih berjalan dengan lancar, cuma "pindah kantor" doang ke penjara, ya sebenarnya treatment yang diberikan kepada si Tante tidak signifikan. Ini yang akan bikin beliau tidak jera... bukan karena kamar mewahnya (yang sebenarnya tidak mewah untuk ukuran beliau) ;-)

Jika petinggi hukumnya sudah berpandangan begini... well, gw jadi ingat sebuah status FB teman gw baru2 ini, "Berdoa dan ikhtiar sudah. Sekarang tinggal tabah dan tawakal"... hehehe... Sudah susah untuk mengubah para petinggi hukum itu. Kita tinggal tabah dan tawakal menerima kenyataan mengenaskan ini, sambil sedapat mungkin mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan rakyat banyak. Dari situlah muncul konsep Hotel California Roll yang gw pikirkan ini :-)

Dari dulu kan penjara itu sudah disebut Hotel Prodeo ;-)? Dengan pemikiran yang senada, sebuah penjara di Vietnam disebut sebagai Hanoi Hilton. Ini adalah sebutan sarkastik: sebuah "hotel" yang tidak menawarkan kenyamanan, melainkan kesengsaraan. Naaah... di jaman para petinggi negara sudah menganggap bahwa narapidana hak perdatanya harus dijaga (*sigh! Padahal, yang namanya narapidana tuh hak pilih aja harusnya hilang lho!), konsep kesengsaraan ini tentunya tidak relevan lagi. Tapi.... yang namanya narapidana, kan tetap harus dibikin nggak nyaman supaya dapat efek jera? Kesenjangan inilah yang akan dijawab oleh Hotel California Roll ;-)

Di Hotel California Roll, semua narapidana yang berduit dan tidak tahan hidup menderita secara fisik, boleh bayar untuk mendapatkan kenyamanan fisik. Seperti di hotel, kita kasih saja daftar harga RESMI. Ada kelas2 di selnya, kalau perlu kita charge per meter persegi. Mau bawa alat fitness? Boleh... asal bayar. Mau perawatan kulit di sel? Boleh... asal bayar juga ;-)

Lho, kalau gitu, apa bedanya dengan yang sekarang?

Bedanya... di konsep ini, biayanya RESMI dan jadi pemasukan negara :-) Tidak masuk kantor orang per orang, atau kelompok per kelompok. Naaah.... uangnya kemudian dipakai untuk menyejahterakan rakyat banyak. Biar full circle: uang yang diambil dari rakyat, kembali ke rakyat ;-)

Treatment-nya nggak signifikan dong? Ntar nggak jera dong?

Naah... di sinilah kenapa nama yang dipilih adalah Hotel California Roll. Nama ini bisa dibaca dengan dua penekanan. Penekanan pertama, Hotel California Roll memang menunjukkan sisi fusion-nya: inovasi terhadap sesuatu yang tradisional, tanpa kehilangan ketradisionalannya. Dalam kasus ini, fusion-nya adalah mempertahankan sisi kesengsaraan, tapi tidak lagi melulu kesengsaraan fisik. Mempertahankan praktik bayar-kalau-mau-nikmat, tapi tidak masuk ke kantong pribadi ;-)

Cara pembacaan kedua adalah Hotel California Roll. Seperti kata lagu kesayangan gw yang pernah gw singgung2 di sini, penjara tetaplah tempat dimana narapidana tidak sepenuhnya bebas. You can check out anytime you like, but, you can never leave ;-)

Selalu ada pembatasan pada Hotel California. Dan.. dalam Hotel California Roll ini, pembatasannya JUSTRU pada hak perdata yang diagung2kan petinggi penjara tadi: ini penjara ya, Tante, Oom, bukan wall street. Jadi plis deh, forget your business. Boleh hidup nyaman sedikit di penjara ini kalau Tante dan Oom nggak tahan dengan penderitaan fisik, asal bayar ;-) Tapi... di luar penderitaan fisik, perlakuannya tetap sama dengan narapidana lainnya: no business life whatsoever.

*Enak aja mau bisnis dalam penjara! Kalau koruptor bisa bisnis dalam penjara, bandar narkoba juga boleh dong menjalankan bisnisnya di situ? Kan sama2 bisnis ;-)*

Jadi... setelah berpanjang lebar, apa hubungannya Tante Ayin dengan Demo 100 Hari? Ya nggak ada... hehehe... Cuma, gw inget bahwa Paman Anggodo, yang terkait dengan salah satu BC yang jadi tema demo kemarin, baru2 ini kan resmi jadi tersangka. Naaah... kalau nantinya beliau benar akan dijatuhi hukuman, beliau bisa jadi tamu pertama di Hotel California Roll ;-) Makanya, draft ini kudu dipublikasikan buru2... hehehe... Siapa tahu segera diolah menjadi konsep yang matang oleh para wakil rakyat ;-) Biar mereka ada kerjaannya! Daripada komputer canggihnya buat fesbukan doang... hehehe... Lagian, kan gaji mereka mau naik 20%? Meskipun setelah didemo ada yang buru2 menolak ;-)

Ayooo... para wakil rakyat... segera dikonsepkan yang matang! Kalau enggak, nanti bisa2 Anda2 lho, yang menginap di Hotel California Roll ;-)


Welcome to the
Hotel California Roll
Such a lovely place
Such a lovely face

Plenty of room at the
Hotel California Roll
Anytime of year
You can find it here


Boleh booking kapan saja ;-) Di Hotel California, dijamin selalu ada tempat. Nggak pernah penuh ;-)