Tuesday, May 19, 2009

Not Quite Angelic and Totally Less Demonic

Perhatian:
Banyak spoiler di tulisan ini ;-)
***

Sejak trailer Angels & Demons mulai bermunculan di layar TV, gw udah nggak sabar nunggu filmnya tayang. Tanggal 13 Mei - tayang perdana menurut leaflet Blitz Megaplex yang gw dapatkan di akhir bulan - sudah gw tandai sebagai hari wajib nonton ;-) Makanya sempat sedih pas ternyata diundur 2 hari jadi 15 Mei. Tapi, dengan sedikit usaha, kesampaian juga gw nonton hari berikutnya.

Dan ternyata... emang nggak nyesel keluar Rp 35,000 plus plus (plus Ima main di BlitzgameSphere, plus popcorn karamel kesukaan Ima, dan beberapa plus lainnya ;-)). Filmnya cukup menghibur melalui keindahan lokasi (dan benda2 seninya). Laju cerita pun cukup cepat dan penuh aksi. Nggak perlu mikir lama2 ;-) Pendeknya, buat yang belum baca bukunya, film ini lebih enak ditonton dan dimengerti daripada The Da Vinci Code. Meskipun Tom Hanks tetap "enggak banget" jadi Robert Langdon yang supposed to be sedikit lebih karismatik ;-)

*Well... gw suka Tom Hanks, tapi... menurut gw, Harrison Ford akan lebih cocok memerankan Robert Langdon ;-)*

Cepatnya alur dan cenderung lebih ringannya cerita mungkin memang sudah fitrah dari sononya... hehehe.... Novelnya kan memang lebih bersifat thriller/action, tidak seperti DVC yang novelnya memang intellectually challenging. Riddles dalam A&D juga lebih gamblang, berupa bentuk2 patung Bernini. Beda dengan riddles dalam DVC yang sifatnya lebih berupa utakatikata.

Well... itu adalah initial reaction gw seusai menonton filmnya ;-) Setelah ditelaah lagi, dan buka lagi bukunya, gw merasakan ada beberapa hal yang mengganggu dari segi penyederhanaan cerita.

Di bukunya, Leonardo Vetra menjadi pusat cerita. Walaupun si Leonardo ini wafat di halaman pertama buku, tetapi begitulah adanya. Segala huruhara ini muncul karena Vetra - seorang rohaniwan Katholik yang juga seorang ilmuwan fisika - berhasil membuat anti-materi dari energi. Membuktikan bahwa big bang yang selama ini menjadi kontroversi di dunia ilmiah memang dapat terjadi; bahwa bumi terbentuk dari sesuatu yang tidak ada. Sekaligus membuka celah bahwa penciptaan dunia yang ada dalam Kitab Kejadian memang bisa terjadi. Implikasinya: Vetra menemukan bahwa agama (dalam hal ini Katholik) bicara tentang kebenaran, sekaligus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa membuka rahasia Ilahi. Sesuatu yang memang ingin dibuktikan oleh Vetra, karena - sebagai man of God and man of science - dia sangat ini membuktikan bahwa science and religion are not at odds; science is just too young to understand.

Dan dari situlah masalah ini berangkat. Sang camerlengo (asisten Paus) yang rada2 memiliki waham kenabian ini khawatir bahwa temuan ini akan makin menjauhkan manusia dari Tuhan. Kalau rahasia Ilahi saja sudah dapat dibuka ilmu pengetahuan, apa lagi yang akan membuat manusia percaya pada Tuhan? Oleh karenanya, sang camerlengo merancang suatu tragedi yang akan membuat manusia kembali "takut" dan berpaling dari ilmu pengetahuan kepada Tuhan.

** Spoiler dimulai **

Dalam film, tokoh Leonardo Vetra bahkan tidak ada. Posisinya digantikan oleh Silvano Bentivoglio, yang kurang sekali digambarkan sebagai man of God as well as man of science. Boro2 digambarkan seperti itu, wong porsinya di film aja nggak sampai 10 detik... hehehe... dan nama belakangnya hanya disebut satu kali. Sampai2 gw lupa surname-nya siapa, dan harus buka ini dulu ;-)

Buat gw pribadi, ini adalah penyederhanaan yang mengganggu. Membuat pencurian anti-materi dan pembunuhan kardinal, serta ancaman meledakkan Vatikan, jadi seperti terorisme biasa. Terrorism with a style, gitu kira2 ;-) Padahal, yang gw nikmati dari buku Dan Brown ini adalah menyandingkan dua paradigma yang bertentangan menjadi sesuatu yang - secara logis - saling melengkapi.

Tapi ada yang lebih mengganggu, yaitu munculnya kutipan2 yang gw anggap "sakral" (haiyah!) dari mulut yang tidak tepat ;-)

Yup! Ada beberapa kutipan dari buku aslinya yang membuat gw bersoja rangkap dua pada Dan Brown. Dan kalimat2 "sakral" itu bermunculan di film ini juga:


"Science and religion are not at odds. Science is simply too young to understand"

(hal 70)

"He held that science and religion were not enemies - but rather allies; two different languages tell the same story, a story of symmetry and balance... heaven and hell, night and day, hot and cold, God and Satan. Both science and religion rejoiced in God's symmetry"

(hal 33)

"Do you believe in God, Mr Langdon?"
"I want to believe"
...
"Mr Langdon, I did not ask if you believe what man says about God. I asked if you believed in God. There is a difference. Holy scripture is stories... legends and history of a man's quest to understand his own need for meaning. I am not asking you to pass judgment on literature. I am asking if you believe in God. When you lie out under the stars, do you sense the divine? Do you feel in your gut that you are staring up at the workd of God's hand?"

(hal 108 - 109)

Kutipan yang menarik ya? Sayangnya keluar dari mulut yang tidak tepat di filmnya ;-)

Gw lupa mengenai kutipan yang pertama, tetapi kutipan yang kedua dan ketiga dalam film muncul dari mulut sang camerlengo. Kutipan kedua muncul ketika ia mencoba membujuk para kardinal dievakuasi. Kutipan ketiga muncul ketika sang camerlengo bertemu dengan Robert Langdon pertama kali, sebelum memberi izin Langdon mengakses arsip Vatikan.

Dalam buku, kutipan pertama adalah motto Leonardo Vetra. Kutipan kedua adalah ketika Langdon menjelaskan filosofi Galileo Galilei pada Direktur CERN, atasan Leonardo Vetra, mengenai sejarah Illuminati. Kutipan ketiga adalah percakapan antara Langdon dengan Vittoria Vetra dalam perjalanan ke Roma.

Implikasinya? Besar banget bedanya :-(

Dalam buku, kutipan pertama dan kedua adalah pendapat orang yang smart namun beriman. Orang yang berkarakter kuat. Orang yang - walaupun pintar - tetapi matanya tidak dibutakan oleh kepintarannya. Sementara kutipan ketiga ditanyakan oleh seorang agnostik lainnya. Orang yang nggak percaya Tuhan dan kitab suci karena bertentangan dengan logikanya, namun terbuka pada kemungkinan menerima itu sebagai benar - jika dapat dibuktikan.

Ketika kutipan2 itu keluar dari mulut si camerlengo, yang menganggap ilmu pengetahuan adalah musuh bagi agama dan Tuhan, kata2 itu menjadi sekedar pemanis bibir.

Bagaimana mungkin seseorang yang merencanakan pertunjukan besar kemurkaan Tuhan, ingin menimbulkan ketakutan massa sehingga manusia kembali pada Tuhan, bisa mengatakan bahwa dia tidak menanyakan pendapat Langdon mengenai apa yang manusia katakan tentang Tuhan? Buat si camerlengo, what religion says is true up till crossing all the t's and dotting all the i's.

Bagaimana mungkin seseorang yang ingin menghancurkan pengetahuan, karena menganggapnya musuh agama dan Tuhan, mengatakan bahwa science and religion are allies - two different languages telling the same story?

Dalam konteks ini, si camerlengo malah kelihatan sebagai munafik. Motifnya melakukan semua brouhaha ini memang untuk mendapatkan kekuasaan. Supaya dilihat sebagai wonderboy yang cocok menjadi Paus termuda.

Padahal, dalam buku, motifnya jauh sekali dari kekuasaan. Sesuatu yang benar2 kompleks: blind faith - yang agak tercampur dengan waham kenabian - bahwa everything is right in the time of war. Rada2 mirip, mungkin, dengan alasan Amrozi dkk melakukan pengeboman.

Well... kata2 bahwa, "We ARE at war" juga memang keluar sih, dari mulut si camerlengo. Untuk menjustifikasi tindakannya terhadap i preferiti; keempat kardinal calon terkuat menjadi Paus. Kata2 itu memang cocok dilontarkan oleh seseorang yang blindly religious untuk menjustifikasi "dosa" yang dilakukannya. Tetapi untuk menjustifikasi kemunafikan kata2nya? Menurut gw agak jauh ya... hehehe... Orang2 dengan kondisi nyaris delusi begini biasanya sudah tidak sibuk dengan tactical issue seperti kata2 apa yang harus dilontarkan di dunia fana. Ingat wawancara Amrozi dkk yang dengan entengnya menyebut mereka percaya 70 bidadari menunggu mereka di surga ;-)?

Pada akhirnya, setelah gw mengkaji ulang filmnya, pendapat gw adalah: film ini harusnya bisa lebih bagus! Bisa lebih "berat"! Bisa seperti - misalnya - Paradise Now. Namun akhirnya film ini hanya menjadi another entertaining Hollywood movie. Nggak jelek, bagus, menghibur. Tapi ya itu... menghibur saja ;-) Beda dari bukunya yang bikin gw susah baca buku lain selama beberapa minggu ke depan ;-)

Itu sih komentar gw tentang filmnya... hehehe.... Bagus eksekusinya, menghibur, tapi "kedalaman"nya berkurang ;-) Pertentangan antara [sisi] angels dan demons-nya yang ada dalam diri manusia (dalam hal ini Vetra dan si camerlengo) kurang tertampil ;-) Jadi rada nge-pop, gitu. Easy watching ;-) Gw akan lebih suka kalau teknik flashback dipakai untuk menyampaikan kutipan2 di atas - memberi lebih banyak elaborasi pada tokoh Leonardo Vetra (yup, menurut gw harusnya Vetra tidak diganti jadi Silvano) - daripada kutipannya disampaikan oleh tokoh antagonisnya ;-) Lebih memberi "jiwa" pada cerita.

Selain penyederhanaan 'besar' yang mengganggu gw di atas, ada beberapa penyederhanaan kecil yang membuat gw iseng bertanya2 ;-). Salah satunya adalah penggantian Cardinal Mortati di film menjadi Cardinal Strauss. Lantas cerita juga berubah; di buku, Cardinal Mortati akhirnya menjadi Paus karena keempat calon kuat tewas. Di film, Cardinal Baggia terselamatkan dari mati tenggelam di air mancur Piazza Navona. For the sake of happy ending, I guess. Naah... gw nggak keberatan dengan terselamatkannya Cardinal Baggia. Tapiiii.... bahwa kemudian Cardinal Strauss menjadi camerlengo??? Isn't that too much?

Camerlengo itu kan asisten Paus toh? Asisten yang - manakala Paus mangkat - akan menjadi "Kepala Negara Vatikan ad interim" selama sede vacante hingga konklaf para kardinal memilih Paus baru. Menurut hemat gw sih camerlengo mestinya agak mudaan ya. Dan logikanya, Cardinal Strauss di film ini terpilih menjadi The Great Elector dengan alasan yang sama seperti di buku: terlalu tua untuk dicalonkan jadi Paus. Naah... gw gak ngerti deh kalau kemudian dia jadi camerlengo. Bisa2 camerlengo-nya mangkat duluan... hehehe...

Gw sendiri jadi bertanya2... kenapa namanya diganti jadi Strauss, yang notabene nama Jerman, dan kemudian jadi camerlengo. A tribute to the current pontiff, Pope Benedict XVI, yang asal Jerman itu ;-)?

Suntingan Petang: 19 Mei 2009

Baru dapat informasi dari Dodol (thank you, darling ;-))tentang camerlengo, dan jadi ikutan googling juga. Hmmm... ternyata camerlengo yang dimaksud di buku dan film ini punya nama keren: Camerlengo of the Holy Roman Church. Dia bukan satu2nya camerlengo. Dan memang harus kardinal. Posisi ini sekarang di dunia nyata dijabat oleh Cardinal Bishop of Frascati, yang usianya 74 thn. Dia diangkat karena camerlengo sebelumnya pensiun. Jadi rupanya memang umur gak ngaruh banget dalam pemilihan.

Jadi rupanya Dan Brown membuat kesalahan dengan menciptakan tokoh camerlengo yang belum kardinal. Dan... eh, gw juga mengoreksi tentang "Paus ad Interim". It turns out camerlengo of the Holy Roman Church ini hanya jadi Kepala Negara Vatikan selama Paus baru belum terpilih. Kayaknya di buku ada juga ditulis ini, entar gw cari lagi. Antara kepala negara Vatikan dan Paus itu bedanya Jakarta - Toronto, meskipun Paus pasti jadi kepala negara Vatikan. Kalau cuma kepala negara Vatikan, dia nggak jadi pemimpin umat Katholik sedunia.

Sunday, May 10, 2009

Laughter is the Best Medicine

Berkunjung ke rumah maya Jenny, yang menampilkan begitu banyak daftar wajib kunjung (jangan2 waktu loe habis buat berkunjung doang, Jen ;-)?) gw randomly melompat ke rumah mayanya Marcel. Posting terkini Marcel berisi permohonan maafnya setelah ditegur seorang ibu dari penyandang autis berusia 3 thn. Ibu itu keberatan karena Marcel menggunakan kata "autis" dalam sebuah advertorial pengguna Blackberry. Kata sang ibu, hal itu dapat membawa konotasi "kurang positif" bagi penyandang autis.

Hmmm.... secara garis besar gw sih setuju dengan keberatan sang ibu. Dengan alasan yang berbeda, tapinya :-) Alasannya adalah: karena itu ada sebuah advertorial. Marcel should choose the comment wisely... hehehe... jangan pakai "istilah nge-pop" yang salah kaprah. Bagaimanapun, itu adalah sebuah komunikasi formal satu arah ke publik. We should be more careful in choosing our words, karena nggak ada kesempatan memperbaikinya dan apa pun yang kita katakan akan dianggap sebuah pernyataan yang benar. Tapi kalau dia mau bercanda mengatakan pengguna Blackberry itu "autis", dalam suatu suasana informal pada publik terbatas, I really don't mind ;-)

I was about to write it on his comsys ;-) Tapi kemudian gw membaca rangkaian komentar yang sudah bertebaran. Dan gw pun mengurungkan niat tersebut karena dua hal: yang pertama karena comsys-nya dia udah penuh dengan pendapat senada bahwa mengatakan "autis" dalam konteks bercanda itu harus dihindari, dan kedua karena gw segera menyadari bahwa berkomentar di comsys-nya seleb akan menjadi semacam advertorial sehingga harus memilih kata2 dengan hati2. Penjelasan lebih lanjut tentang alasan kedua ini bisa melihat paragraf sebelumnya.. hihihi...

Gw pun memutuskan untuk menuliskannya di blog gw ;-) Blog gw memang accessible dari mana2, tetapi... setidaknya, I have control over this blog. Kalau ada pembaca yang salah tangkap, mau marahin gw, dll, gw bisa menjawabnya.

OK, cukup pembukaannya ya... hehehe... sekarang intinya ;-)

Sudah beberapa kali gw mendapat forward-an, maupun membaca himbauan online, untuk menghentikan penggunaan kata "autis" untuk bercanda menggambarkan pengguna Blackberry. Setidaknya, gw membaca keberatan di berbagai media online. Dan terus terang, lama2 gw pingin bertanya: para pengguna kata "autis" yang tidak sensitif, atau para penentangnya yang oversensitif?

Kalau kita cermati, terminologi "autis" bukan terminologi gangguan kesehatan yang pertama kali diplesetkan artinya menjadi sangat dangkal dan digunakan untuk bercanda melabel sesuatu. Setidaknya ada 2 istilah lain yang digunakan: parno dan narsis.

Parno berasal dari kata paranoid. Sebuah gangguan kejiwaan yang penderitanya cukup banyak di Indonesia. Waktu dulu gw sempat praktek kerja di RS Gatot Subroto, jumlahnya ombyokan. Demikian pula di RSAL Mintoharjo, setidaknya jaman gw masih praktek kerja thn 1995 - 1996 dulu.

Nah... kata parno sekarang nge-trend banget digunakan orang2 untuk menggambarkan suatu kecemasan yang paling masuk akal sekali pun. Sedikit2 kita mendengar orang mengatakan, "Ah, parno loe!" atau, "Jangan parno, ah!".

Lha, apa nggak sama itu kasusnya dengan penggunaan kata "autis"? Apa penggunaan kata "parno" tidak membuat keluarga dari orang yang didiagnosa paranoid sedih? Padahal, punya anak yang paranoid tidak beda dengan punya anak yang autis.

Istilah lain adalah "narsis", yang berasal dari kata "narsistik". Ya, narsistik juga merupakan suatu gangguan kepribadian. Nama resminya adalah Narcisstic Personality Disorder, and it is not very nice disorder, I tell you. Orang yang memiliki gangguan kepribadian ini bukan tidak mungkin menjadi seorang pembunuh berantai, seperti pernah digambarkan dalam salah satu episode Criminal Minds ini.

Lha, menggunakan kata "narsis", apalagi kalau orang2 dengan bangganya menunjukkan foto2 sambil bilang atau berkomentar bahwa mereka "narsis", apa nggak sama menyakitkannya bagi mereka yang salah satu anggota keluarganya didiagnosa bergangguan narsistik?

Mungkin ada yang bilang, "Beda dong! Itu istilah kan gak dipakai resmi di advertorial atau apa! Nggak seperti istilah autis yang dipakai di headline koran!" Kata siapa beda ;-)? Di sini juga ada penggunaan tak sepantasnya untuk kata "paranoid" pada situs [yang katanya] ilmiah ;-)

Penggunaan kata "autis" dalam konteks pengguna Blackberry, menurut gw, bukan suatu penghinaan atau ketidaksensitivan. Biasa aja ;-) Itu cuma sebentuk pergeseran makna sebuah kata dalam konteks sosial. Atau sebuah metafora, seperti yang dikatakan di sini. Tidak lebih, tidak kurang. Dan pasti tidak dimaksudkan menghina penyandang autis. Jika kemudian ada perasaan mengenai kurangnya empati terhadap penderita autis, itu gw duga muncul akibat adanya simpati pada orang tua penyandang autis ;-) Beda antara simpati dan empati sudah tahu kan ;-)? Itu memang beda2 tipis, tapi jauuuuuhhhh banget dampaknya ;-)

Dan dari hasil pengamatan gw yang khusus gw lakukan untuk menulis posting ini, rata2 keberatan memang dimulai dengan simpati pada orang tua penyandang autis. Entah karena baca suatu tulisan ortu dari penyandang autis (salah satunya ini), atau berteman dengan orang yang memiliki anak penyandang autis. Oleh karena itu, masih dapatkah kita bicara tentang kurang empati ;-)?

Hehehe... sampai di sini gw duga udah mulai ada yang ngomel bahwa, "Tentu saja si Maya bisa ngecap begitu. Pasti dia nggak pernah punya pengalaman dengan orang tua penyandang autis.". Well, sorry to disappoint you. As a matter of fact, I do. My nephew A** (9.5 years) and my cousin D**** (also 9.5 years) were diagnosed as autistic years ago. Gw melihat betapa beratnya sepupu gw berjuang agar A** (yang hanya 3 bln lebih muda daripada Ima) bisa mendapatkan kemajuan. Betapa berat pengorbanan material dan imaterial sepupu gw hingga A** sekarang hampir bisa masuk sekolah dasar umum, walaupun harus tertinggal kelas dari adiknya.

Gw melihat juga bagaimana paman dan bibi gw berjuang untuk mengatasi denial mereka mendapati anak laki2 yang ditunggu selama 12 thn lebih ternyata menyandang autis. And if you think it was easy for me, think again! Punya anak yang hanya 3 - 4 bulan lebih tua daripada mereka, yang kebetulan dianugrahi kecerdasan yang lumayan tinggi, membuat gw semakin menyadari betapa berat beban mereka.

And yet, I learned something from both of my cousin and my aunt. Keponakan gw A** jauuuh lebih autis daripada sepupu gw D****. Still, dengan kerja kerasnya, sepupu gw berhasil membuat A** berkembang hampir sama pesat dengan D****. Satu hal yang gw pelajari dari sepupu gw adalah: accept it and march on!

Padahal sepupu gw dan suaminya itu meninggalkan bayi A** ketika berusia 4 bulan untuk tugas belajar. Mereka mendapatkan beasiswa ke negara di benua berbeda, sehingga tidak bisa membawa anaknya. Hampir dua tahun kemudian mereka pulang mendapati perkembangan sosialnya sangat terlambat. Bayangkan rasanya mendapati buah hati yang bertahun dirindukan - anak pertama yang terpaksa ditinggalkan - ternyata autis. Kalau gw jadi sepupu gw, mungkin gw sudah mati sedih. Wong waktu Ima dioperasi pada usia 3 hari saja gw pingsan2 terus seharian... :-)

Tetapi sepupu gw bukan gw. Nggak dipedulikannya bisik2 orang. She said she didn't have time for that. Dia singkirkan semua self-pity, self-denial, guilty feeling bahwa keadaan mungkin tak seburuk ini jika ia tidak meninggalkan bayinya, dan melakukan riset pribadi untuk memperbaiki keadaan. Dari rumahnya di Yogya, setiap bulan dia bawa anaknya naik kereta api atau mobil ke Jakarta untuk konsultasi. Semua uangnya dituang untuk mencoba berbagai terapi dan seminar.

Dan hasilnya pun terlihat ;-) A** kini tumbuh dengan sebaik2nya penyandang autis.

Melalui tulisan ini cuma mau bilang: look into your heart, apa yang membuat Anda terganggu dengan penggunaan kata "autis"? Benarkah karena itu sebentuk empati, karena jika itu adalah empati maka menjadi pertanyaan mengapa empati Anda tidak muncul untuk kasus "parno" dan "narsis"?

Atau... jangan2 itu adalah bentuk simpati pada keluhan orang tua penyandang autis yang [maaf] masih terlalu sensitif dengan apa kata orang lain. Jika memang demikian, apakah "melindungi" mereka dari suatu proses wajar pergeseran makna kata dan metafora (yang tidak dimaksudkan untuk mentertawakan si penyandang) adalah sesuatu yang membantu? Bukan sesuatu yang justru menyimpan bahaya laten?

Gw teringat episode The Amazing Race beberapa minggu lalu, ketika Margie dengan sangat emosional menuduh Kisha & Jen mentertawakan putranya Luke (seorang penyandang tunarungu) karena menggunakan bahasa isyarat. Kasus yang sama terjadi di sini: Margie sudah kehilangan obyektivitas sehingga ketika Kisha tertawa dianggapnya pasti mentertawakan ketunarunguan Luke. Tidak terlintas dalam pikirannya bahwa - seperti yang terlintas di pikiran gw - Kisha tertawa karena Luke berlaku seperti anak kecil, karena mengata2i lawannya "b*tch" dengan menggunakan bahasa isyarat. Acts his shoe-size, not his age ;-)

Tanpa sadar, Margie menjadikan ketunarunguan Luke sebagai center of the universe. Semua terjadi dan tidak terjadi karena ketunarunguan Luke. Dan demikian pula yang dilakukan penulis dalam blog ini.

Gw khawatir, proses yang sama sedang terjadi pada masalah penggunaan kata autis ini. Sadar tidak sadar, dengan melindungi mereka dari suatu proses wajar pergeseran makna dan metafora, kita sedang memasukkan orang tua penyandang autis dalam sebuah ruang steril. Well... it's nice to live in a sterile environment, but... you might catch germ easier once you're out.

So, make up your mind, guys. What cause do you want to support? Mau menentang penggunaan terminologi2 kesehatan (psikologis) pada konteks yang tidak sesuai? Atau mau membantu orang tua penyandang autis?

Jika memang mau membantu para orang tua penyandang autis, gw mau berbagi sedikit tentang teori emosi dari William James. Menurut Oom James, emosi itu muncul karena pilihan aksi kita. Sebagai contoh, Oom James mengatakan bahwa kalau kita melihat beruang, kita lari, dan barulah rasa takut itu muncul. Munculnya kenapa? Karena kita lari ;-)

Well... I'm not a big fan of William James' theory, actually ;-) Tapi menurut gw prinsip ini cocok untuk melatih diri agar tidak merasa hidup ini pahit. Agar tidak gampang2 sedih :-) Dalam kasus ini: agar orang tua penyandang autis tidak cepat merasa diperlakukan tidak empatik melalui penggunaan kata "autis". Kalau tadinya mendengar kata "pengguna Blackberry autis" memunculkan perasaan sedih, sekarang kita balik sesuai teori Oom James: tertawalah! Dengan tertawa, akan muncul perasaan terhibur :)

Tapi ketawanya jangan ketawa pahit, atau ketawa seperti kalau kita sedang mentertawakan sesuatu ya ;-) Ketawa dalam konteks "riang" dan "terhibur". Dengan demikian akan muncul perasaan yang lebih positif, dan tidak mengakomodasi rasa sedih ataupun terzalimi dengan inappropriate joke ;-)

Terdengarnya kasar ya? Insensitive? Atau tidak empatik? Maaf atas kesan yang timbul ;-) Tapi saya memang condong ke arah psikoanalisa ;-) Dan seperti kata Freud: telling jokes about scary or sad events can be a way to reduce and relieve stress caused by the event.

See? Laughter is indeed a medicine for the soul. Setidaknya, kalau kita tertawa, lebih sedikit waktu kita untuk merasa sedih. Dan dalam konteks penggunaan kata "autis" ini, saya hanya ingin mencoba membuat orang tua penyandang memiliki alternatif lain dalam menghadapi bebannya ;-) Tidak merasa terpuruk ;-)

It's a big, wild, bad world out here. You cannot always fight it, but you can make yourself comfortable ;-)

***

Catatan: judul posting ini diilhami sebuah rubrik di Reader's Digets.

Monday, May 04, 2009

Kinnara Kirana

Kalau tentang Manohara Odelia Pinot, gw nggak mau banyak komentar deh! Selain menurut gw ceritanya masih terlalu asumtif (dan kurang fakta pendukung ;-)), masalah ini menurut gw lebih merupakan urusan domestik keluarga. Paling kalau ada yang gw pingin komentari adalah sebagian situs berbahasa Inggris yang memuat kisah Manohara. Please improve your English into "understandable" level, will you, before writing another story ;-)? Seperti situs ini, yang sudah membuat gw Lost in Translation ;-)

Gw memilih bercerita tentang Siti Nurjanah bt Budiono saja ;-)

Siti Nurjanah bt Budiono adalah antitesa dari Manohara Odelia Pinot. Walaupun sama2 dara blasteran, Nurjanah tidak seberuntung Manohara. Maklum, Nurjanah "cuma" blasteran dari seorang bapak Jawa dan ibu Bali... hehehe... Dan karenanya, kalau Manohara akhirnya dipinang pangeran negeri seberang, Nurjanah "cuma" dipinang untuk untuk tinggal di pulau seberang ;-) Ya, dari pelosok Lampung, Nurjanah hijrah ke Jakarta. Tidak untuk menjadi CPT seperti Manohara, melainkan hanya untuk menjadi PRT di rumah gw ;-)

Namun kisah selanjutnya tak banyak beda ;-) Seperti lenyapnya Manohara yang menjadi kontroversi, pulangnya Nurjanah ke kampung halaman pun menimbulkan kontroversi tersendiri.

Awalnya seseorang yang mengaku kerabatnya menelepon; memintakan izin Nurjanah untuk pulang kampung karena 19 - 20 April nanti ada keriaan di kampung sehubungan dengan pernikahan abangnya. Suatu telepon yang menimbulkan kecurigaan karena dua hal; pertama, karena Nurjanah diambil dari Yayasan Ibu Hadi, sebuah yayasan yang - sepanjang pengalaman gw ngambil PRT 3x di sana - nggak macem2. Pun, biasanya, yayasan yang akan meneleponkan majikan kalau ada kabar dari kampung si PRT. Bukan kerabatnya yang nelfon sendiri. Keanehan yang kedua adalah: 20 April jatuh hari Senin. Rasanya aneh ada pesta yang mengambil jadwal Minggu - Senin. Apalagi kalau bukan di Jawa, yang biasanya ribet menentukan jam dan tanggal menikah ;-)

Tapi, atas dasar kemanusiaan, Nurjanah kami izinkan pulang. Apalagi dia sendiri yang berjanji - tanpa kami minta - untuk kembali ke Jakarta 22 April.

Kalender berganti, dan hingga 22 April Nurjanah tak ada kabar rimbanya. Maka, kami teleponlah ia ke HP-nya. Ti dit, ti dit, hapenya berbunyi. Ti dit, ti dit, begitu bunyinya. Tapi tak diangkat. Begitu pun berbagai SMS yang dikirimkan menanyakan kabar dan rencananya. Tak jua dijawab, meskipun notifikasi yang mengabarkan bahwa SMS itu telah dibaca selalu gw terima.

Hingga akhirnya gw mengeluarkan kartu as, mengirimkan sebuah SMS "pedas" dengan cabe rawit ekstra:

Kontrak kerja Nurjanah masih 6 bulan lagi. Kalau tidak ada kabar dan tidak segera kembali ke Jakarta, Nurjanah dan keluarganya akan kami laporkan ke polisi atas pelanggaran kontrak.


Barulah reaksi bermunculan ;-) Persis seperti reaksi yang baru bermunculan ketika ibunda Manohara, Daisy Fajarina, mulai berkoar2

Reaksi yang muncul mulai dari telepon [lagi2!] orang yang mengaku kerabatnya dan mengatakan bahwa SMS itu telah membuat Nurjanah depresi lah..., lantas telepon ke HP Nurjanah diterima oleh laki2 [yang mengaku kakaknya] dan berbisik2 mengatakan bahwa Nurjanah sedang kabur dari rumah karena "disekap" ayahnya, HP dan semua uang disita, agar gak kembali ke Jakarta lah... ,

Tadinya gw sempat percaya segala omongan itu, sampai Ayahnya Ara mengatakan bahwa itu "lagu lama" yang pernah dia dengar dari PRT-nya juga. Oleh sebab itu, akhirnya gw "sudutkan" terus Nurjanah ;-) Nurjanah mendapat privilege dari gw sebagai satu2nya orang yang mendapatkan 1 SMS gratis setiap hari ;-) Semacam layanan dari "Ketik REG [spasi] GO2HELL" gitu deh... hehehe... bedanya: pulsa si Nurjanah nggak terpotong setiap terima SMS, dan layanan ini tidak bisa di UNREG... HAHAHAHA... Pesan gw selalu sama: ke Jakarta kau kan kembali, dengan sukarela atau kawalan polisi ;-) Ke Jakarta kau kan kembali untuk bekerja atau mengembalikan duit administrasi Rp 700,000 (itu jumlah yang dikutip Yayasan Ibu Hadi untuk mengambil PRT, dan kalau udah lewat 3 bulan hangus ;-))

Dan muncullah Nurjanah pada dini hari 28 April lalu. Jam 3 pagi, dengan naik ojek yang [katanya] dari Terminal Bis Jatibening. Ojeknya disuruh menunggu, katanya dia cuma mau mengembalikan duit administrasi, lantas langsung kembali ke terminal. Bapak dan ibunya berpesan harus segera kembali ke Lampung begitu duit gw terima. Ibunya mengancam mau mati saja kalau Nurjanah tidak segera kembali, dan adiknya mengancam nggak mau ikut ujian nasional kalau kakaknya kembali ke Jakarta

*Such a drama queen, don't you think? Dan aneh pula... hehehe... Kalau memang segitu dahsyatnya reaksi keluarga, kenapa juga dulu diijinkan ke Jakarta? Dan dikiranya gw terima gitu, cerita dahsyat gitu? Gw kan Ratu Tega... hehehe... siapa suruh datang Jakarta dan ketemu gw ;-)?*

Dan karena si Ratu Tega ini bersuamikan Raja Tega Berbulu Domba, Nurjanah ini kena batunya. Si Raja Tega Berbulu Domba tidak mengijinkannya pulang dini hari itu juga. Raja Tega bersabda bahwa Nurjanah akan dipulangkan ke yayasan di akhir pekan, sesuai dengan butir ke-5 perjanjian yang ditandatanganinya saat "meminang" Nurjanah menjadi PRT...

... Kecuali kalau ayah/ibunya Nurjanah bisa dihubungi dan menyatakan sendiri bahwa mereka menghendaki Nurjanah pulang saat itu juga. Serta menyetujui klausul bahwa ayah/ibunya melepaskan tanggung jawab dari kami jika dalam perjalanan pulang ke Lampung terjadi hal2 yang tidak diinginkan pada Nurjanah.

Easy and simple, toh? Hanya satu masalah kecil: kata Nurjanah, bapak/ibunya tidak punya HP maupun telepon permanen. Tidak bisa dihubungi.

Dan satu masalah kecil: sepanjang 28 April itu Nurjanah berkali2 ditelepon, bahkan menunjukkan SMS yang mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang juga.

Hmmm.... unless bapak/ibunya Nurjanah ini adalah Micah Sanders, yang memiliki kemampuan technopathy, gw sih heran bagaimana orang yang nggak punya HP untuk dihubungi bisa mengirimkan SMS ;-) Kami pun berkesimpulan bahwa Nurjanah berbohong. Entah di bagian mana ia berbohong, tetapi pasti ia berbohong. Kami pun lantas menelepon yayasannya, mengatakan bahwa kami lepas tangan atasnya, dan akan mengembalikannya di akhir pekan.

... Dan Nurjanah pun kabur ;-) Rabu, 29 April, kami mendapatinya sudah tidak ada di rumah kami. Entah dimana dirinya berada sekarang.

Hingga kini, misteri Nurjanah belum pula terpecahkan. Entah apa yang membuatnya berbohong. Dan di bagian mana ia berbohong. Apakah ia berbohong karena SMS yang ia terima sebenarnya dari majikan barunya? Bahwa ia tidak pernah pulang ke Lampung? Atau memang benar ia dilarang kembali ke Jakarta oleh orang tuanya, tetapi kabur ke Jakarta untuk mengembalikan uang untuk melindungi ortunya? Ia mungkin tak ingin ortunya dilaporkan ke polisi. Dan apakah ayahnya punya hape, sehingga benar2 ayah/ibunya yang meng-SMS menyuruhnya pulang? Ia berbohong agar tidak terjadi konfrontasi antara bekas majikannya dengan ortunya? Don't burn the bridge, begitu kan kata pepatah ;-)?

Atau emang jangan2 Nurjanah ini kanan-kiri bohong ;-) Membohongi bapak/ibunya bahwa dia diusir majikan, misalnya. Tapi setelah dikejar2 dan diancam dengan polisi, dia memutuskan balik. Sayang bapak/ibunya keburu keberatan dia balik. Who knows? Begitu banyak kemungkinan di balik misteri ini.

Dan gw pun terpikir mengenai Manohara. Sebagian orang mengatakan misteri ini akan terkuak jika Manohara muncul dan mengklarifikasi. But.., is it? Benarkah klarifikasi Manohara tidak akan menutupi sesuatu, untuk melindungi seseorang? Seperti buah simalakama, klarifikasi Manohara akan mencederai salah satu pihak toh? Dimakan suami mati, tidak dimakan ibunda mati.

Dalam legenda, Manohara adalah nama putri raja kinnara - mahluk mitologis setengah manusia setengah burung - yang diperistri pangeran Pancala. Ketika kerajaan suaminya terlibat peperangan, Manohara terbang kembali ke kerajaan kinnara agar tak membawa kesialan bagi kerajaan sang suami. Sebuah kisah tentang pengorbanan yang berakhir indah. Akankah kisah Manohara - bukan mahluk mitologis, tapi gadis cantik setengah Indonesia setengah Kaukasia - berakhir sama? Semoga ;-)

Di lain pihak, Nurjanah mengandung kata "Nur" yang berarti cahaya. Kirana, dalam bahasa Sansekerta. Apakah Nurjana bak Kirana dalam lagu Dewa 19? Mudah2an... karena sejauh ini kisahnya lebih mirip sinetron. Sinetron Cahaya ;-)?