Sunday, May 10, 2009

Laughter is the Best Medicine

Berkunjung ke rumah maya Jenny, yang menampilkan begitu banyak daftar wajib kunjung (jangan2 waktu loe habis buat berkunjung doang, Jen ;-)?) gw randomly melompat ke rumah mayanya Marcel. Posting terkini Marcel berisi permohonan maafnya setelah ditegur seorang ibu dari penyandang autis berusia 3 thn. Ibu itu keberatan karena Marcel menggunakan kata "autis" dalam sebuah advertorial pengguna Blackberry. Kata sang ibu, hal itu dapat membawa konotasi "kurang positif" bagi penyandang autis.

Hmmm.... secara garis besar gw sih setuju dengan keberatan sang ibu. Dengan alasan yang berbeda, tapinya :-) Alasannya adalah: karena itu ada sebuah advertorial. Marcel should choose the comment wisely... hehehe... jangan pakai "istilah nge-pop" yang salah kaprah. Bagaimanapun, itu adalah sebuah komunikasi formal satu arah ke publik. We should be more careful in choosing our words, karena nggak ada kesempatan memperbaikinya dan apa pun yang kita katakan akan dianggap sebuah pernyataan yang benar. Tapi kalau dia mau bercanda mengatakan pengguna Blackberry itu "autis", dalam suatu suasana informal pada publik terbatas, I really don't mind ;-)

I was about to write it on his comsys ;-) Tapi kemudian gw membaca rangkaian komentar yang sudah bertebaran. Dan gw pun mengurungkan niat tersebut karena dua hal: yang pertama karena comsys-nya dia udah penuh dengan pendapat senada bahwa mengatakan "autis" dalam konteks bercanda itu harus dihindari, dan kedua karena gw segera menyadari bahwa berkomentar di comsys-nya seleb akan menjadi semacam advertorial sehingga harus memilih kata2 dengan hati2. Penjelasan lebih lanjut tentang alasan kedua ini bisa melihat paragraf sebelumnya.. hihihi...

Gw pun memutuskan untuk menuliskannya di blog gw ;-) Blog gw memang accessible dari mana2, tetapi... setidaknya, I have control over this blog. Kalau ada pembaca yang salah tangkap, mau marahin gw, dll, gw bisa menjawabnya.

OK, cukup pembukaannya ya... hehehe... sekarang intinya ;-)

Sudah beberapa kali gw mendapat forward-an, maupun membaca himbauan online, untuk menghentikan penggunaan kata "autis" untuk bercanda menggambarkan pengguna Blackberry. Setidaknya, gw membaca keberatan di berbagai media online. Dan terus terang, lama2 gw pingin bertanya: para pengguna kata "autis" yang tidak sensitif, atau para penentangnya yang oversensitif?

Kalau kita cermati, terminologi "autis" bukan terminologi gangguan kesehatan yang pertama kali diplesetkan artinya menjadi sangat dangkal dan digunakan untuk bercanda melabel sesuatu. Setidaknya ada 2 istilah lain yang digunakan: parno dan narsis.

Parno berasal dari kata paranoid. Sebuah gangguan kejiwaan yang penderitanya cukup banyak di Indonesia. Waktu dulu gw sempat praktek kerja di RS Gatot Subroto, jumlahnya ombyokan. Demikian pula di RSAL Mintoharjo, setidaknya jaman gw masih praktek kerja thn 1995 - 1996 dulu.

Nah... kata parno sekarang nge-trend banget digunakan orang2 untuk menggambarkan suatu kecemasan yang paling masuk akal sekali pun. Sedikit2 kita mendengar orang mengatakan, "Ah, parno loe!" atau, "Jangan parno, ah!".

Lha, apa nggak sama itu kasusnya dengan penggunaan kata "autis"? Apa penggunaan kata "parno" tidak membuat keluarga dari orang yang didiagnosa paranoid sedih? Padahal, punya anak yang paranoid tidak beda dengan punya anak yang autis.

Istilah lain adalah "narsis", yang berasal dari kata "narsistik". Ya, narsistik juga merupakan suatu gangguan kepribadian. Nama resminya adalah Narcisstic Personality Disorder, and it is not very nice disorder, I tell you. Orang yang memiliki gangguan kepribadian ini bukan tidak mungkin menjadi seorang pembunuh berantai, seperti pernah digambarkan dalam salah satu episode Criminal Minds ini.

Lha, menggunakan kata "narsis", apalagi kalau orang2 dengan bangganya menunjukkan foto2 sambil bilang atau berkomentar bahwa mereka "narsis", apa nggak sama menyakitkannya bagi mereka yang salah satu anggota keluarganya didiagnosa bergangguan narsistik?

Mungkin ada yang bilang, "Beda dong! Itu istilah kan gak dipakai resmi di advertorial atau apa! Nggak seperti istilah autis yang dipakai di headline koran!" Kata siapa beda ;-)? Di sini juga ada penggunaan tak sepantasnya untuk kata "paranoid" pada situs [yang katanya] ilmiah ;-)

Penggunaan kata "autis" dalam konteks pengguna Blackberry, menurut gw, bukan suatu penghinaan atau ketidaksensitivan. Biasa aja ;-) Itu cuma sebentuk pergeseran makna sebuah kata dalam konteks sosial. Atau sebuah metafora, seperti yang dikatakan di sini. Tidak lebih, tidak kurang. Dan pasti tidak dimaksudkan menghina penyandang autis. Jika kemudian ada perasaan mengenai kurangnya empati terhadap penderita autis, itu gw duga muncul akibat adanya simpati pada orang tua penyandang autis ;-) Beda antara simpati dan empati sudah tahu kan ;-)? Itu memang beda2 tipis, tapi jauuuuuhhhh banget dampaknya ;-)

Dan dari hasil pengamatan gw yang khusus gw lakukan untuk menulis posting ini, rata2 keberatan memang dimulai dengan simpati pada orang tua penyandang autis. Entah karena baca suatu tulisan ortu dari penyandang autis (salah satunya ini), atau berteman dengan orang yang memiliki anak penyandang autis. Oleh karena itu, masih dapatkah kita bicara tentang kurang empati ;-)?

Hehehe... sampai di sini gw duga udah mulai ada yang ngomel bahwa, "Tentu saja si Maya bisa ngecap begitu. Pasti dia nggak pernah punya pengalaman dengan orang tua penyandang autis.". Well, sorry to disappoint you. As a matter of fact, I do. My nephew A** (9.5 years) and my cousin D**** (also 9.5 years) were diagnosed as autistic years ago. Gw melihat betapa beratnya sepupu gw berjuang agar A** (yang hanya 3 bln lebih muda daripada Ima) bisa mendapatkan kemajuan. Betapa berat pengorbanan material dan imaterial sepupu gw hingga A** sekarang hampir bisa masuk sekolah dasar umum, walaupun harus tertinggal kelas dari adiknya.

Gw melihat juga bagaimana paman dan bibi gw berjuang untuk mengatasi denial mereka mendapati anak laki2 yang ditunggu selama 12 thn lebih ternyata menyandang autis. And if you think it was easy for me, think again! Punya anak yang hanya 3 - 4 bulan lebih tua daripada mereka, yang kebetulan dianugrahi kecerdasan yang lumayan tinggi, membuat gw semakin menyadari betapa berat beban mereka.

And yet, I learned something from both of my cousin and my aunt. Keponakan gw A** jauuuh lebih autis daripada sepupu gw D****. Still, dengan kerja kerasnya, sepupu gw berhasil membuat A** berkembang hampir sama pesat dengan D****. Satu hal yang gw pelajari dari sepupu gw adalah: accept it and march on!

Padahal sepupu gw dan suaminya itu meninggalkan bayi A** ketika berusia 4 bulan untuk tugas belajar. Mereka mendapatkan beasiswa ke negara di benua berbeda, sehingga tidak bisa membawa anaknya. Hampir dua tahun kemudian mereka pulang mendapati perkembangan sosialnya sangat terlambat. Bayangkan rasanya mendapati buah hati yang bertahun dirindukan - anak pertama yang terpaksa ditinggalkan - ternyata autis. Kalau gw jadi sepupu gw, mungkin gw sudah mati sedih. Wong waktu Ima dioperasi pada usia 3 hari saja gw pingsan2 terus seharian... :-)

Tetapi sepupu gw bukan gw. Nggak dipedulikannya bisik2 orang. She said she didn't have time for that. Dia singkirkan semua self-pity, self-denial, guilty feeling bahwa keadaan mungkin tak seburuk ini jika ia tidak meninggalkan bayinya, dan melakukan riset pribadi untuk memperbaiki keadaan. Dari rumahnya di Yogya, setiap bulan dia bawa anaknya naik kereta api atau mobil ke Jakarta untuk konsultasi. Semua uangnya dituang untuk mencoba berbagai terapi dan seminar.

Dan hasilnya pun terlihat ;-) A** kini tumbuh dengan sebaik2nya penyandang autis.

Melalui tulisan ini cuma mau bilang: look into your heart, apa yang membuat Anda terganggu dengan penggunaan kata "autis"? Benarkah karena itu sebentuk empati, karena jika itu adalah empati maka menjadi pertanyaan mengapa empati Anda tidak muncul untuk kasus "parno" dan "narsis"?

Atau... jangan2 itu adalah bentuk simpati pada keluhan orang tua penyandang autis yang [maaf] masih terlalu sensitif dengan apa kata orang lain. Jika memang demikian, apakah "melindungi" mereka dari suatu proses wajar pergeseran makna kata dan metafora (yang tidak dimaksudkan untuk mentertawakan si penyandang) adalah sesuatu yang membantu? Bukan sesuatu yang justru menyimpan bahaya laten?

Gw teringat episode The Amazing Race beberapa minggu lalu, ketika Margie dengan sangat emosional menuduh Kisha & Jen mentertawakan putranya Luke (seorang penyandang tunarungu) karena menggunakan bahasa isyarat. Kasus yang sama terjadi di sini: Margie sudah kehilangan obyektivitas sehingga ketika Kisha tertawa dianggapnya pasti mentertawakan ketunarunguan Luke. Tidak terlintas dalam pikirannya bahwa - seperti yang terlintas di pikiran gw - Kisha tertawa karena Luke berlaku seperti anak kecil, karena mengata2i lawannya "b*tch" dengan menggunakan bahasa isyarat. Acts his shoe-size, not his age ;-)

Tanpa sadar, Margie menjadikan ketunarunguan Luke sebagai center of the universe. Semua terjadi dan tidak terjadi karena ketunarunguan Luke. Dan demikian pula yang dilakukan penulis dalam blog ini.

Gw khawatir, proses yang sama sedang terjadi pada masalah penggunaan kata autis ini. Sadar tidak sadar, dengan melindungi mereka dari suatu proses wajar pergeseran makna dan metafora, kita sedang memasukkan orang tua penyandang autis dalam sebuah ruang steril. Well... it's nice to live in a sterile environment, but... you might catch germ easier once you're out.

So, make up your mind, guys. What cause do you want to support? Mau menentang penggunaan terminologi2 kesehatan (psikologis) pada konteks yang tidak sesuai? Atau mau membantu orang tua penyandang autis?

Jika memang mau membantu para orang tua penyandang autis, gw mau berbagi sedikit tentang teori emosi dari William James. Menurut Oom James, emosi itu muncul karena pilihan aksi kita. Sebagai contoh, Oom James mengatakan bahwa kalau kita melihat beruang, kita lari, dan barulah rasa takut itu muncul. Munculnya kenapa? Karena kita lari ;-)

Well... I'm not a big fan of William James' theory, actually ;-) Tapi menurut gw prinsip ini cocok untuk melatih diri agar tidak merasa hidup ini pahit. Agar tidak gampang2 sedih :-) Dalam kasus ini: agar orang tua penyandang autis tidak cepat merasa diperlakukan tidak empatik melalui penggunaan kata "autis". Kalau tadinya mendengar kata "pengguna Blackberry autis" memunculkan perasaan sedih, sekarang kita balik sesuai teori Oom James: tertawalah! Dengan tertawa, akan muncul perasaan terhibur :)

Tapi ketawanya jangan ketawa pahit, atau ketawa seperti kalau kita sedang mentertawakan sesuatu ya ;-) Ketawa dalam konteks "riang" dan "terhibur". Dengan demikian akan muncul perasaan yang lebih positif, dan tidak mengakomodasi rasa sedih ataupun terzalimi dengan inappropriate joke ;-)

Terdengarnya kasar ya? Insensitive? Atau tidak empatik? Maaf atas kesan yang timbul ;-) Tapi saya memang condong ke arah psikoanalisa ;-) Dan seperti kata Freud: telling jokes about scary or sad events can be a way to reduce and relieve stress caused by the event.

See? Laughter is indeed a medicine for the soul. Setidaknya, kalau kita tertawa, lebih sedikit waktu kita untuk merasa sedih. Dan dalam konteks penggunaan kata "autis" ini, saya hanya ingin mencoba membuat orang tua penyandang memiliki alternatif lain dalam menghadapi bebannya ;-) Tidak merasa terpuruk ;-)

It's a big, wild, bad world out here. You cannot always fight it, but you can make yourself comfortable ;-)

***

Catatan: judul posting ini diilhami sebuah rubrik di Reader's Digets.