Sunday, March 08, 2009

Love, Berry, and Future Love Story

Jaman gw kecil dulu, gw senang sekali main boneka kertas. Kira2 barangnya seperti yang gambar yang gw pinjam dari sini ini: selembar kertas berisi gambar orang berbaju dalam dan beberapa baju yang harus kita gunting menjadi potongan2 terpisah. Setelah terpisah, baru bisa main mix-n-match.

Mainan seperti ini dulu umumnya dijual oleh abang2 pedagang mainan anak2. Harganya murah, terjangkau dengan uang saku anak2. Dulu koleksi boneka kertas gw banyaaaaakkk banget, dan gw masukkan ke dalam kaleng biskuit.


Jaman Ima masih senang main boneka, mainan ini udah nggak muncul lagi. Versinya jadi lebih canggih: magnetic dress up. Ima punya beberapa koleksi Barbie magnetic dress up. Ada yang Barbie-nya juga bermagnet sehingga harus dimainkan di badan kulkas (disebut Barbie Fridge Magnet Album) Tapi ada juga yang bentuknya buku. Bentuknya seperti buku cerita biasa, ada ceritanya juga, tapi disertai dengan satu box berisi kostum2 yang dipakai si Barbie dalam kisah itu. Nanti, tiap kali membalik halaman, si anak bisa memasangkan kostum yang sesuai.

Gw pribadi sih lebih senang model buku seperti ini. Setidaknya ada cerita yang bisa dibaca deh, nggak main doang ;-) Tapi tetap saja, sebenernya gw tidak terlalu menyukai kedua bentuk evolusi boneka kertas ini, karena kurang melatih motorik halus anak. Kalau harus menggunting boneka dan bajunya sendiri, anak kan terlatih motorik halusnya. Sementara dengan metode plug-and-play begini, nggak ada unsur latihannya sama sekali.

Tapi, setidaknya, model buku ini lebih baik daripada model fridge magnet, karena tetap ada cerita yang bisa dibaca. Tetap ada unsur belajarnya, meskipun jadi kognitif, bukan motorik. Yang di kulkas juga bisa belajar berimajinasi sih... tapi.... kan kalau ada ceritanya, imajinasi lebih berkembang ;) Nggak ngalor ngidul kemana-mana. Iya kalau kemampuan imajinasinya udah bagus sehingga bisa membuat cerita yang komprehensif. Kalau enggak? Ya mendingan imajinasinya dibantu dengan cerita dari buku ;-)

Gw kira buku dan fridge magnet ini adalah evolusi puncak dari mainan doll-grooming ini. Ternyata.... gw salah! The sky is the limit! Masih ada evolusi baru yang ditemukan oleh Sega ;-)

Evolusi terbaru ini bernama Love and Berry, dan lagi happening banget di seantero cewek2 pra-ABG di ibu kota.

Ada dua tokoh yang bisa didandani dalam permainan ini, yaitu [tentu saja] si Love, dan si Berry. Dua2nya perempuan, dua2nya fashionista, namun berbeda sifat dan penampilan. Love berambut coklat, sedikit kelihatan lebih feminin dan manis. Sementara Berry berambut biru, kelihatan lebih sporty dan tough. Pemain bebas memilih tokoh mana yang ingin didandani dalam setiap permainan.

Setelah memilih tokoh yang mana yang akan didandani, serta area bermain (ada 5 area bermain atau stage, yaitu: Idol Stage, Ball, Street Court, Fashion Street, dan Seaside Stage), maka mulailah si pemain mendandani tokohnya. Cara mendadaninya? Yaah... namanya juga teknologi canggih! Tinggal gesek kartu, bajunya berubah. Gesek kartu lagi, tatanan rambutnya berubah. Gesek kartu lagi, sepatunya berubah.

Gesek kartu??

Iyalah, namanya juga permainan "canggih". Jadi, alih2 sebuah baju dapat dipasangkan secara harafiah pada bonekanya seperti generasi doll-grooming terdahulu, sekarang bajunya cukup virtual aja ;-) Berupa kode dalam sebuah kartu ber-barcode.

Satu kartu hanya memuat satu perlengkapan fashion; entah baju, tatanan rambut, maupun sepatu. Dan biar si Love dan Berry nggak sal-tum, maka untuk tiap stage tersedia berbagai pilihan mode.

Bisa dibayangkan, kan, berapa banyak kartu Love & Berry yang ada? Makanya, salah satu hal yang bikin permainan ini digemari oleh anak2 ABG adalah koleksi dan tukar-menukar kartu.

So, apa langkah selanjutnya kalau si Love atau Berry sudah didandani? Ya permainan bisa dimulai ;-)


Nah, kalau tadinya gw fine-fine aja dengan hobby barunya Ima main dan mengoleksi kartu Love and Berry karena melihatnya sebagai evolusi terkini dari boneka kertas, gw mulai iritasi melihat cara bermainnya ;-)

Ternyata, yang berevolusi hanyalah kecanggihan teknologinya dan tampilannya saja. Dalam segi manfaat permainan, justru terjadi degradasi ;-) Karena ternyata memainkan gampang banget; tidak membutuhkan analytical ability, tidak membutuhkan ketrampilan motorik halus maupun kasar, dan sama sekali nggak membutuhkan kemampuan apa2 selain kuping yang bisa mendengar dan tangan yang bisa diperintah oleh otak ;-)

Ya, permainannya sendiri ternyata "cuma" gitu2 doang! Menabuh dua tombol di mesin mengikuti irama musik. Mau di stage apa aja, mainnya ya cuma begitu ;-)

Oh, don't give me s*** about exercising the kid's rhytmical ability, please ;-) Kalau cuma buat latihan kemampuan ritmis sih ada acara yang lebih mudah. Menari, main musik, denger musik... itu kan melatih kemampuan ritmis. Atau kalau mau "pakai modal", bisa main Wii atau mainan yang nari2 itu di game center. Lebih jelas hasilnya daripada sekedar menabuh2 dua tombol di mesin tanpa ada kesulitan berarti.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi: permainan Love and Berry ini jatuhnya mahal bener, bo! Sekali main di Amazone Mal Artha Gading, dibutuhkan 4 koin. Satu koin harganya Rp 1,250. Jadi... satu kali main harganya Rp 5,000.

Memang sih, ada tokennya. Kalau menang, maka bisa main sekali lagi GRATIS! Jadi prinsipnya "Win One Get One Free" ;-) Dan kalau kalah pun nggak perlu kecewa: mesin akan mengeluarkan satu fashion magic card baru - yang bisa dikoleksi atau ditukar dengan sesama penggemar.

Dari sudut marketing, Sega perlu diacungi jempol atas strateginya ini. Benar2 berhasil membentuk community dengan metodenya ini. Besar kemungkinan anak2 gak cepat bosan main game ini karena ada unsur komunitas tadi. Mereka bakal rela ngantri bermenit2 menunggu mesin Love & Berry kosong, sambil asyik bertukar kartu (dan bertukar teknik/cerita) tentang masing2 fashion card.

Tapiiii.... dari segi orang tua yang mesti menjadi penyandang dana, bener deh, permainan ini mengesalkan sekali... hehehe... Bayangin aja, sekali main kan paling enggak 10x? Sayang bener duit sekian puluh ribu melayang cuma buat nepuk2 tombol yang nggak bikin anak gw tambah pintar ;-) Jadi... sekarang gw memberlakukan peraturan baru: Ima hanya boleh main Love & Berry sebulan sekali. Itu pun nggak boleh lebih dari 10x main. Kalau mau main lebih dari 10x, berusahalah untuk memenangkan setiap permainan biar dapat gratisan ;-)

Udah kan? Gw pikir masalah teratasi. Namun... ternyata... si Love & Berry masih menyimpan satu "kejutan" mengesalkan buat gw: ALBUM LOVE & BERRY!

Yak! Betul sekali! Kartu2 fashion berkode batang itu tentunya nggak bisa disimpan sembarangan dong? Dan... karena ukurannya lebih besar dari ukuran kartu nama yang standard, kartu2 itu nggak bisa disimpan di name card holder. Gw sempat mengakalinya dengan membelikan Ima album untuk foto berukuran 2R yang paaaaasss banget untuk kartu2 fashion-nya. Harganya cuma Rp 5,000/album isi 24. Murah meriah kan?

Masalahnyaaaaa..... gara2 bergaul dengan komunitas anak2 penggila Love & Berry itu, Ima jadi tahu bahwa Love & Berry mengeluarkan album khusus untuk menyimpan kartu2nya. Album khusus itu dijual di game2 center atau toko mainan. Harganya? Untuk yang isi 200 kartu sekitar Rp 150,000 - Rp 175,000!

Deuh... kalau pakai album ukuran 2R yang gw belikan, kan cuma 25 ribuan ya, buat 200 kartu :(

Gw sempat mencoba taktis menghalangi niat Ima membeli album ini. Gw bilang: gw nggak mau belikan, kalau dia benar2 berminat, ya nabung aja sendiri. Harapan gw dia akan back off, karena untuk menabung Rp 150,000 dia butuh sekitar 30 hari.

Berhasil? Ya enggak ;-) Si Ima kan anak gaul kronis... hehehe... dia mendingan kelaparan sebulan daripada nggak punya album Love & Berry. Persis kayak pengalaman ini ;-)?

So, here I am... sekarang kan gw nggak bisa menjilat ludah gw sendiri... hehehe... Terpaksa, walaupun gw "sayang banget" melihat duit sebesar itu cuma buat beli album, gw harus memenuhi janji menemani si anak gaul beli album Love & Berry. Mau ngelarang gimana? Kalau dia menganggap bahwa album itu cukup berharga buat ditukar dengan sekian minggu uang jajannya, apa lagi alasan gw?

Tapi... yang lebih bikin gw panik sih bukan album Love & Berry-nya ya, melainkan prognosis beberapa tahun ke depan. Imagine one day she introduces a boyfriend I don't like.. gimana gw ngelarangnya ya? Kalau dibilang terang2an gw nggak setuju, ntar berantem dan bisa lebih buruk keadaannya. Lha... kalau gw "persulit" seperti masalah album Love & Berry ini, dan dia berhasil menyelesaikan tantangannya, mosok iya terpaksa gw setujui pacarnya ;-)?

Haduuuuh.... pusingggg ;-) I dread to think of the years to come ;-) Kayaknya mesti gw indoktrinasi dari sekarang nih, biar pacarnya ntar sesuai dengan maunya gw... hehehe... Either that, atau gw mesti sudah mulai belajar menerima bahwa Ima adalah entitas tersendiri yang punya prioritas berbeda dengan gw :-) Duuuh... sedih ya, jadi orang tua :-)