Saturday, May 31, 2008

Anakku Bukan Seleb

Suatu hari di Desember 2007 lalu, gw mendapat email dari seorang wartawan Majalah Girls. Isinya menjelaskan bahwa dia mengetahui tentang Ima dari blog gw, dan minta ijin mewawancarai untuk rubrik Zoom. Zoom adalah rubrik opini di majalah untuk gadis pra-remaja itu, yang mengangkat satu topik khusus setiap edisinya.

Tentu saja gw - yang sangat mengerti betapa sulitnya mencari narasumber - sangat kooperatif dengan permintaan tersebut. Setelah sedikit cek & ricek apakah benar dia dari majalah tersebut, gw segera memberi persetujuan. Awalnya gw kira dia tahu tentang Ima dari posting ini, yang menceritakan bahwa Ima minta dibelikan Majalah Girls gara2 ada Mas Daniel (Radcliffe). Belakangan, setelah lihat hasil wawancaranya, baru gw tahu bahwa si wartawan justru melihat dari posting ini, yang bercerita tentang menjaga alam. Sebab, ternyata topik yang dibahas adalah tentang "Pemanasan Global" (tsah! Gaya ya, anak gw diwawancara untuk topik sedahsyat ini ;-)).

Wawancaranya berhasil dengan baik. Hasilnya - menurut Mbak Wartawati - cukup memuaskan. Ima juga kooperatif. Jawabannya - menurut gw - juga cukup membanggakan buat ukuran anak kelas 3 SD. Walaupun - menurut bapaknya - jawabannya terlalu "normatif" dan "standar". Sebuah komentar yang langsung saja gw silet dengan, "Ya deh, kalau terlalu normatif, ntar gedean dikit Ima gw kirim jadi protege-nya Tante Intan". Yaah.. monggo dinilai sendirilah dari foto di bawah ini. Moga2 tulisannya terbaca ya ;-)



Kalau hasilnya memuaskan, bukan berarti prosesnya gampang! Butuh beberapa hari untuk membujuk Ima supaya mau diwawancara. Kurang lebih seminggu baru berhasil. Soalnya.. Ima ini mentalnya bukan mental seleb. Mentalnya rada burung unta.. hehehe.. alias paling nggak suka tampil, malah masukin kepalanya ke dalam tanah kalau disuruh tampil. Malu, katanya ;-).

Salah satu faktor yang membuat dia mau diwawancara adalah karena sudah familiar dengan majalahnya. Jadi, dia sempat baca rubrik Zoom berulang2 untuk membangun kepercayaan diri. Faktor kedua adalah karena wawancaranya via telepon dan dia sendiri yang menentukan waktunya. Faktor ketiga, yaaa.. karena dia tahu jawabannya tidak langsung masuk ke majalah itu saat itu juga. Somehow, ini memberi ruang agar dia nggak harus perfect dalam menjawab. Well, Ima memang tidak perfectionist seperti gw.. tapi.. dia punya kecenderungan takut salah
seperti gw. Alasannya yang beda: gw karena perfectionist dan menganggap bahwa kesalahan sedikit saja merupakan bukti ketidakkompetenan (tsah!), sementara Ima takut salah karena dia tidak suka mengecewakan orang lain. Gw karena alasan yg egosentris, sementara Ima karena
alasan yang sociosentris ;-)

Anyway.. berdasarkan pengalaman wawancara itu, gw ngerasa pede aja ketika Rabu lalu seorang fellow Sanurian yang kebetulan temannya Dodol minta ijin mewawancarai Ima untuk Radio Singapore International. Toh, pengalaman dengan Majalah Girls membuktikan Ima cukup menikmati. Bahkan, dia juga bangga ketika wajah dan jawabannya muncul di majalah - waktu teman2nya di sekolah ngomong, "Waaah.. kamu masuk majalah ya, Im!" dan waktu eyang2nya memberi selamat padanya.

Lagian, gw mendukung banget dia diwawancara. Mata gw langsung ijo aja mendengar kata "Radio Singapore'. Bayangkan! Anak gw go international! HAHAHAHA.. Dengan kooperatif gw segera memberikan nomor telepon dan jadwal Ima di rumah.

Apa lacur? Ternyata Ima bener2 menolak diwawancara sekali ini. Pertama alasannya: kan Bahasa Inggrisku belum lancar. Alasan itu gw tangkis dengan: kan pakai Bahasa Indonesia. Kemudian muncul alasan lainnya: aku nggak tahu mesti jawab apa! Jawaban yang aneh, karena daftar pertanyaan sudah diberi, dan itu pertanyaan mudah. Seputar alasan kenapa nge-blog, dapat ide dari mana untuk posting di blog-nya, bagaimana membuat tampilan blognya bagus. Sesuatu yang bisa dia jawab dengan mudah. Malah, Ima benar2 nangis ketika Mbak Wartawati benar2 telfon. Padahal, belum dibilang mau wawancara.. hehehe.. baru mau kenalan. Wawancaranya sendiri untuk acara hari Minggu, 1 Juni. Lha? Kenapa?

Usut punya usut, ternyata Ima freaks out karena sekali ini yang mewawancara adalah radio. It means, suaranya akan langsung tayang ke seantero Singapura. Buat dia, the pressure is too big. Diwawancara untuk majalah sih OK. Tapi.. untuk radio, it's a big no-no. Dia malu mendengar suaranya sendiri terekam di media massa.

Yaah.. ternyata.. anak gw tidak bermental seleb.. hehehe.. Beda banget sama ibunya yang suka nampil2in diri meskipun nggak ditawarin.. HAHAHA..

Ya, ya, mestinya gw tahu bahwa anak gw tipe yang tidak suka tampil. Toh, beberapa tahun lalu dia juga freaked out ketika ditawari salah seorang teman gw ikut Kuis Celoteh Anak. Padahal, sehari2 Ima tampil cerewet dan berpengetahuan luas (untuk anak seumurnya). Tapi, langsung mingkem dan nge-blank waktu dicoba untuk menjawab pertanyaan kuis. Padahal, kameranya aja belum ada.. hehehe.. Ima juga freaked out dan langsung menyembunyikan mukanya di belakang punggung gw waktu mau disorot (dan diwawancara sedikit) oleh reporter Kiss - saat diundang ke pra-peluncuran single "Pergi Saja" (pingin dengar? Dapatkan mp3-nya di tautan tersebut). Persis kayak anak burung unta.. hehehe..

Udah gw bujuk bahwa kalau blog-nya masuk radio, nanti yang komentar jadi banyak. Teteup aja dia nggak mau ;-) Padahal, impiannya Ima sejak lama untuk meningkatkan traffic (BTW, yang pada baca ini, kasih komentar di blog Ima ya.. buat memotivasi anak gw ;-)) Kalau menuruti maunya gw, pinginnya sih gw paksa aja Ima diwawancara.. hehehe.. Kalau perlu divetakompli - dibilang gak akan dikasih hadiah yang diinginkan pada ultahnya 12 Juni nanti. Tapi.. berhubung gw sayang anak, yaa.. terpaksa deh gw bilang sama Mbak Wartawati bahwa Ima nggak mau. Ya terpaksa deh ibunya nggak jadi lihat anaknya go internasional.. hehehe..

Padahal, gw udah ngebayangin kalau tawaran wawancara berdatangan, bentar lagi gw bisa pasang tarif ;-) Dan siapa tahu dalam 1-2 thn gw alih profesi jadi manajernya Ima ;-) Punya anak artis di jaman seret duit gini kan lumayan.. HAHAHAHA..

Ya sudah. Nggak boleh memaksa anak demi ambisi ibunya ;-) Siapa tahu yang gede gak mau jadi seleb, nanti yang kecil mau. Itu kan untungnya punya anak lebih dari satu ;-)?

Tapi ngomong2.. jangan2 mental burung untanya menurun dari gw juga ya? Soalnya, gw dulu juga malu banget waktu tulisan gw pertama kali dimuat. Yang memuat adalah Tabloid Mutiara - tabloid mingguan yang sekarang udah nggak ada lagi. Waktu itu gw nulis tentang "Angka Sial 7" dalam meledaknya pesawat ulang-alik Challenger. Ingat kan, pesawat itu meledak 73 detik setelah tinggal landas dan menewaskan 7 orang? Waktu itu, Bapak dengan bangga pamer kesana kemari bahwa tulisan anaknya dimuat di koran. Sementara gw tutup kuping dan pergi jauh2 karena malu.. hehehe.. Sekarang sih gw nggak tahu kenapa gw harus malu. Kan harusnya bangga ya? Mungkin karena jaman itu mental [sok] seleb gw belum terbentuk ;-)

Jadi, siapa tahu 20 thn lagi mental selebnya Ima udah mateng dan nggak malu2 lagi ;-) For the time being, kalau Ima nggak mau diwawancara, boleh digantikan ibunya nggak? HAHAHAHA..

Tuesday, May 27, 2008

Rp 6.000: Past, Present, Future

PAST

Duluuuu banget, kalau gw nggak salah ingat atau salah dengar, Ibu pernah cerita bahwa gaji pertama Bapak sebagai lawyer junior hanya Rp 12.000/bulan. Nggak tahu pasti sih tahun berapa, mungkin habis sanering kali ya (eh.. nggak mungkin! Bapak emang tua, tapi kan bukan Highlander ;-)). Tapi sih memang Bapak pernah cerita bahwa gaji pertamanya sebagai lawyer jauuuh lebih kecil daripada pendapatannya sebagai “tukang foto”.

Yep! Bapak memang suka fotografi, dan semasa kuliah pernah punya studio foto kecil2an di Bandung. Saking “suram”nya masa depan sebagai lawyer, Bapak malah pernah rerasan sama Ibu untuk berhenti kuliah dan fokus jadi fotografer aja. Kontan, calon mertuanya (bapaknya Ibu) turun tangan.. hehehe.. langsung Bapak dipanggil pulang ke Solo dan diultimatum: “Kalau panjenengan sudah jadi Meester in the Rechten, baru boleh melamar anak saya. Kalau cuma mau jadi tukang foto, nggak akan saya kasih anak gadis saya!”

Nah, kalau ingatan gw benar, maka.. Rp 6.000 di jaman ini sama dengan jual keringat dan otaknya Bapak selama setengah bulan ;-)

Fast forward sedikit, ke jaman gw SD.

Sampai gw di kelas SD akhir, Rp 6.000 itu adalah lebih dari jatah beli buku bacaan gw sebulan. Waktu itu gw ingat sekali bahwa buku Lima Sekawan harganya hanya Rp 1.200 per buku. Jatah gw 4 buku ‘tebal’ per bulan, atau digenapkan jadi Rp 5.000. Naah.. bayangkan kalau gw dapat Rp 6.000.. waah, berasa dapat durian runtuh tuh! Kan bisa beli 1 buku ‘tebal’ lagi ;-)

Fast forward lagi ke jaman SMA.

Apa artinya Rp 6.000 buat gw? Uang sejumlah itu bisa membuat gw survive; terjamin makan siang cukup enak selama seminggu. Dulu, gw sekolah 6 hari seminggu. Lima hari di antaranya pulang jam 15:30 paling cepat. Naah.. kalau siang, ada kantin yang murah dan enak digelar di sekolah. Yang jualan si Tante (sampai sekarang gw gak tahu namanya) di depan Perpustakaan. Sepiring nasi plus lauknya – terdiri dari lauk berkuah seperti soto, timlo, sop, serta sepotong ayam atau daging – harganya Rp 1.000 saja. Minumnya seplastik soft drink seharga Rp 100 (ya, seratus rupiah). Soft drink-nya memang tidak satu botol, hanya dituang dari botol literan saja, tapi cukup lah untuk perut gadis2 SMA yang masih langsing2 itu ;-)

Dengan Rp 1.100/makan siang, seminggu gw hanya menghabiskan dana Rp 5.500, jadi... ada sisa Rp 4.500 dari uang saku gw yang Rp 10.000/minggu itu. Cukup untuk hura2; kadang makan di Pasar Baru (biasanya KFC aja udah mewah waktu itu ;-)), atau jalan2 ke Ratu Plaza/Melawai Plaza.

*ya, teman2, jaman itu Ratu Plaza dan Melawai Plaza masih happening.. hehehe.. Gw kan hidup di jaman LM – Lintas Melawai – masih jadi pusat perngecengan ;-)*

Fast forward lagi.. sekarang ke jaman kuliah.

Selama kuliah di kampus tercinta, Rp 6.000 itu cukup untuk ongkos dan makan siang sehari. Dari rumah ke Depok gw ganti kendaraan 3x: bis sampai Kampung Melayu Rp 100, Mikrolet M-16 sampai Pasar Minggu Rp 400, dan Miniarta sampai Margonda Rp 100. Total jendral Rp 1.200 pp. Harga Es Jeruk di BalSem – itu udah minuman termewah jaman itu.. hehehe.. – masih Rp 400/gelas. Naaah... dengan Rp 4.400 gw bisa makan siang sepuasnya plus jajan, karena seporsi makanan di BalSem waktu itu paling mahal Rp 4.000

Fast forward lagi ke masa awal kerja, tahun 1997.

Waktu itu, uang Rp 6.000 juga masih gede banget buat gw. Itu cukup untuk ongkos ngantor sehari PLUS minum Teh Botol kalau bis nggak datang2 ;-). Dari rumah naik angkot Rp 300, sambung Patas AC Rp 1.800 sampai Blok M, terus naik Metromini/Kopaja Rp 400 ke depan kantor. Total Rp 5.000 pp per hari, yang Rp 1.000 buat minum Teh Botol ;-)

PRESENT

Yang jelas Rp 6.000 sekarang masih bisa membawa gw ke kantor, meskipun nggak pp. Bisa naik bis ke Kampung Melayu dengan Rp 2.000, dan disambung Mikrolet M-44 Rp 4.000 (kadang Rp 3.000 kalau supirnya bisa disenyumin ;-)) sampai Jembatan Casablanca. Alternatifnya, Rp 2.000 sampai Jl Pemuda, terus naik TransJakarta Rp 3.500 sampai depan kantor persis. Asal sabar nunggu TransJakarta yang jarang banget lewatnya, plus bersedia rebutan TransJakarta berikutnya saat ganti koridor di Pasar Rumput ;-)

Rp 6.000 itu juga sudah berlebih buat uang saku Ima per hari. Biasanya Ima hanya diberi Rp 3.000 – Rp 5.000 buat jajan, toh dia juga bawa bekal dari rumah. Rp 3.000 itu cukup buat beli semangkuk Bubur Ayam atau Mie Ayam, sisanya untuk beli minum atau jajanan kecil.

Kalau ke Kampus Tercinta di Depok, Rp 6.000 juga masih bisa nganter sekali jalan. Sama seperti ke kantor, Rp 2.000 sampai Kampung Melayu, Rp 1.500 ke Stasiun Tebet. Mestinya sih Rp 2.500 masih cukup untuk beli karcis KRL Tebet – Pondok Cina ;-)

Asal jangan ke Depok naik mobil aja.. hehehe.. Rp 6.000 itu cuma cukup buat beli bensin sampai Cililitan. Selanjutnya, ke Depok mobilnya didorong.. HAHAHAHA.. Soalnya, Rp 6.000 itu kan hanya dapat Premium 1 liter ;-) Beda banget dengan jaman kuliah dulu, Rp 6.000 itu bisa dapat bensin 6 liter.

Eh, tapi, sebenernya gw lumayan berhemat sekarang. Kan tadinya lumayan borju pakai Pertamax (malah bapaknyaima&nara suka lebih borju lagi beli Shell ;-)), naah.. sejak Pertamax jadi Rp 8.900, jadi mikir2 pindah ke Premium. Dengan ganti Premium yang “cuma” Rp 6.000, gw sekarang hemat biaya BBM sekitar 30% :-p

FUTURE

Ke depannya belum tahu seperti apa ;-). Dalam hari2 pertama pasca kenaikan BBM sih belum terasa banget dampaknya. Tapi.. prognosisnya nggak terlalu bagus. Rasanya bakal ada Desperate Housewives on the Hysteria Lane season ke-2 nih ;-)

Maklum, sekarang anak udah dua. Makannya pada banyak2, lagi ;-) Apalagi Nara ini tampaknya “anak Indonesia sejati”.. hehehe.. Alias jago banget membuat ibunya berubah status bak Ibu Pertiwi di tangan putra-putrinya ;-). Kalau di posting ini status logistiknya Nara adalah “Gemah Ripah Lohjinawi” (istilahnya Koes Plus: “Bukan lautan, hanya Kolam Susu” ;-)), sekarang status sudah mulai turun menjadi “Swasembada Pangan” ;-) Masih overproduksi sih, tapi demand makin tinggi.. hehehe.. Jadi, mulai terjadi strategi “7 sapi kurus melahap 7 sapi tambun” ;-).

Plan A sih masih tetap ;-) Tapi.. mulai bikin Plan B nih, in case degradasi status dari ”Swasembada Pangan” menjadi “Importir”.. hehehe.. Makanya pas belanja bulanan kemarin mulai survei harga susu formula. Wiiih... susu formula yang dulu dipakai Ima, Morinaga BMT, harganya bener2 seperti “naga” deh.. hehehe.. digitnya panjang dengan kepala yang besar ;-) Jadi mulai bikin tabel perbandingan gizi beberapa susu formula nih, untuk cari yang best value for money ;-)

Yang jelas, ke depannya, mungkin gw terpaksa lebih sering mengeluarkan alasan andalan ini: “Sabar ya, Mbak, nanti kapan2 Ibu belikan KALAU BAPAKMU SUDAH JADI PEJABAT” ;-) Nggak tertutup kemungkinan alasan itu keluar untuk sesuatu yang sekarang harganya HANYA Rp 6.000 ;-)

Atau... setelah baca cerita Mas Iman tentang omongan ibunya DY, gw mesti memodifikasi kalimat andalan gw menjadi, “Sabar ya, Mbak/Dik, nanti KALAU BAPAKMU SUDAH JADI PEJABAT pasti ada YANG MAU BAYARIN KAMU beli itu”.... untuk menolak permintaan anak2 gw membeli sesuatu yang sekarang [mungkin] nominalnya hanya Rp 6.000 ;-)

*eh, bener ya, inisialnya DY? Bukan DJ kan ;-)?*

Friday, May 23, 2008

BBB

*Posting ini masih bertema kebangkitan nasional. Sorry buat yang bosen ya.. hehehe.. habis semangat kebangsaan dan patriotisme gw tengah “bangkit” sih.. (halah!)*

---

Tadi malam nonton acara DEBAT PUBLIK di Metro TV. Pesertanya 4 pasang cagub/cawagub salah satu propinsi di Indonesia. Nggak nonton sampai selesai sih, selain karena Nara rewel juga karena sudah mendapatkan “gambar besar” tentang kontestan Pilkada tersebut. Kesan gw: pilkada tersebut bakalan setali tiga uang dengan kontes putri2an ;-)

Dalam acara ini, ada 3 panelis yang tugasnya memberi pertanyaan pada keempat pasang peserta Pilkada. Masing2 ahli di bidangnya. Persis seperti juri di kontes putri2an. Tapi.. sebelum para panelis mengajukan pertanyaan, ada “babak bonus” di awal acara. Dalam babak bonus ini, si pembawa acara memberikan pertanyaan yang “tidak ada dalam jadwal acara”, alias pertanyaan ringan dan mudah yang bisa dijawab secara spontan.

Pertanyaan pertama, diajukan pada pasangan pertama, adalah:

“Jika Bapak sudah terpilih menjadi Gubernur, kemudian dituntut sebagai tersangka kasus korupsi, apa yang akan Bapak lakukan? Apakah a) menuntut balik, b) mundur dari jabatan. Sebutkan pilihan Bapak dan alasannya”

Pasangan pertama memiliki waktu 2 menit untuk menjawab. Daaan... inilah jawaban beliau:

“Sebelumnya terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Seperti telah kita ketahui, ini adalah saat yang sangat istimewa, dimana tidak seperti tahun2 sebelumnya, pemimpin daerah dipilih langsung oleh rakyat. Oleh karena itu, kami sebagai calon pemimpin daerah...

--yadda yadda bla bla bla hingga lonceng yang menandakan 1 menit sudah lewat berbunyi—

Kontan si pembawa acara mengingatkan bahwa waktu menjawab pertanyaan tinggal 1 menit lagi.

Tapi si Bapak masih berorasi yadda-yadda-bla-bla-bla HINGGA lonceng bahwa waktu tinggal 30 detik berbunyi.

Kembali si pembawa acara mengingatkan bahwa waktu tinggal 30 detik, dan mulai tidak sabar dengan berkata, “Mohon dijawab langsung ke pertanyaan, Pak”

Teteuup! Kekeuh surekeuh si Bapak masih orasi terus HINGGA hitung mundur. Daaan... baru di 2 detik menjelang waktu berakhir, si Bapak berkata,

“Mengenai pertanyaan Anda, apabila saya dituntut sebagai tersangka...”

TETTOTT. Waktu habis!

Daaan.. si Bapak tetap kekeuh mau menjawab sampai si pembawa acara memotongnya.

*sigh*

Terbayangkan, apa yang akan terjadi bila si Bapak ini terpilih menjadi Gubernur? Dengan ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) menjawab pertanyaan? Kekeuh dengan maunya sendiri? Bisa2 terjadi hal seperti ilustrasi kasus di bawah ini:

Rakyat [berdemonstrasi]: “Kami menuntut kesejahteraan! Turunkan harga pangan!

Gubernur: “Terima kasih atas kesediaan Anda2 sekalian mengunjungi kantor gubernur. Seperti sudah saya janjikan pada masa kampanye, sebagai gubernur terpilih, saya sungguh berterima kasih pada kepercayaan yang Anda2 berikan kepada kami

--yadda2 blablabla—

5 jam kemudian...

Gubernur: .. untuk itu, berkaitan dengan tuntutan Anda2 sekalian, maka saya... lho? Mana demonstrannya? Kok sudah bubar?”

Asisten Gubernur [membisiki dari belakang]: “Ssst.. Pak, maaf, itu demonstrannya sudah bergelimpangan MATI KELAPARAN semua”

Langsung, nomor urut 1 gw coret sebagai calon yang kompeten ;-)

Karena pertanyaan tak terjawab, maka pertanyaan yang sama diajukan pada kontestan nomor 2, dan jawabannya begini:

“Jika saya terpilih menjadi Gubernur, maka yang akan saya lakukan adalah memberantas korupsi hingga ke akarnya, karena hal ini sudah merupakan komitmen saya dan pasangan saya”

Uhmm.. Pak, pertanyaannya bukan itu ;-) Nggak ada yang nanya program Bapak ;-)

Setelah ditanya ulang oleh pembawa acara, cagub tersebut menjawab dengan tegas, “Mundur dari jabatan”

OK.. good answer. Dan masih tersisa sekitar 30 detik untuk menjelaskan alasannya. Tapi.. si cagub sudah mingkem. Nggak ada alasan atau elaborasinya. Huh? Bingung mikirin alasannya? Jadi curiga.. itu jawaban jujur atau faking good sih, kok nggak bisa kasih alasan ;-)?

Calon kedua juga gugur di mata gw ;-)

Untuk calon ketiga, pertanyaannya beda:

“Jika Bapak menjadi Gubernur, dan diminta memberikan prioritas pada program2 ini, bagaimana prioritas Bapak dan sebutkan alasannya”

Calon ketiga ini menjawab langsung pada sasaran: Pendidikan Gratis dan Pengobatan Murah. Alasannya juga jelas: rakyat sudah lama menderita .. dst (gw gak apal)

Gw kagum pada calon ketiga ini selama... 15 menit. Sampai jeda iklan dan menemukan iklan kampanyenya yang MEMANG mengangkat dua program itu ;-) Walahh.. nggak tahu ini jawaban jujur atau karena diuntungkan dapat pertanyaan yang sesuai agenda kampanyenya deh ;-)

Pertanyaan ketiga, untuk calon keempat adalah:

“Jika Bapak menjadi Gubernur, mana diantara ketiga godaan ini yang paling berat: harta, tahta, atau wanita? Sebutkan alasannya”

Daaaan... jawaban spontan beliau adalah....:

“Sebagai gubernur, saya tidak akan tergoda untuk merugikan rakyat”

Ehmm.. Pak, nggak ada yang nanya Bapak tergoda atau tidak. Yang ditanyakan adalah: mana yang PALING BERAT ;-) Bukan bisa/tidak mengatasi godaan ;-) Manusiawi lho, Pak, mengakui ada godaan berat. Bapak kan bukan Fahri dalam Ayat-ayat Cinta Nabi yang tidak akan tergoda ;-) Eh, bahkan Nabi pun bisa tergoda.. hehehe.. cuma karena mereka berkualitas, mereka bisa mengatasi godaan ;-)

***

Sebagai qualitative researcher, gw percaya bahwa jawaban spontan adalah jawaban yang paling bagus, paling jujur, paling berkualitas. Itu jawaban yang tidak dipikirkan sebelumnya, dan benar2 menggambarkan isi hatinya. Sebagai psikolog, gw lebih percaya lagi pada jawaban spontan ;-) Bukankah slip of the tongue itu letaknya di jawaban spontan ;-)?

Dan.. dari jawaban spontan keempat kandidat, apa yang bisa gw simpulkan?

Hmm.. kesimpulannya nggak terlalu bagus: ada indikasi bahwa Bapak2 ini kurang dapat mendengar. Kalau pertanyaan pembawa acara saja tidak didengarkan dengan baik, siapa yang jamin akan mampu mendengarkan aspirasi rakyat yang lebih rumit?

Kesimpulan kedua: ada indikasi bahwa Bapak2 ini terlalu defensif. Jaim abis. Takut kelihatan jelek. Makanya, ditanya tentang pengandaian terkena korupsi ataupun menghadapi godaan, langsung merasanya sudah dituduh ;-) Ditanya apa, jawabnya muteeeeerrr aja ke tempat lain ;-)

Kesimpulan ketiga: Bapak2 ini JAGO BANGET kalau disuruh jual diri ;-) Kebetan-nya tentang program hafal luar kepala. Jadi.. kayak Teh Botol Sosro deh: apa pun pertanyaannya, jawabannya selalu tentang program yang dijual dalam kampanyenya ;-)

***

Lantas, dimana miripnya dengan kontes putri2an?

Belum lihat ya? Hehehe.. Miripnya adalah (selain pada adanya panelis yang memberikan pertanyaan) pada unsur yang [tampaknya] dijadikan acuan penilaian. Yaitu.. BBB ;-) Bukan “Bukan Bintang Biasa” lho.. hehehe.. kalau itu sih orbitannya Jeng Melly Goeslaw ;-) Bukan juga gejala tuberkulosis yang lazim disebut 3B

Kalau di kontes putri2an, kan ada Beauty-Boobs-Butts... eeh.. maksudnya Brain-Beauty-Behavior ;-) Para putri berlomba menampilkan ketiga B ini. Naaah.. kalau di acara kemarin, yang ditunjukkan adalah 3B juga. Tapi.. sorry dory memory.. berdasarkan kesimpulan sementara di atas, BBB di sini singkatan dari Boast-Blunder-Bluff ;-)

Boasting their own program, making blunder while answering the question, and.. I’m sure there will be some bluffs too ;-)

*sigh!*

Untuunggg.. gw tidak tinggal di propinsi ini, jadi gak ikutan pilkadanya ;-) Tapi.. gw jadi punya kinky fantasy tentang seorang teman yang akan ikut pilkada tersebut ;-) Gw ngebayangin dia lagi bentur2in kepala di tembok gara2 jawaban para calon pemimpinnya ini.. hehehe..

*turut berduka cita buat sang teman ;-)*

***

Jadi begitulah. Bertambah satu lagi alasan gw untuk tidak suka pada huruf B. Dari jaman kuliah dulu nggak suka kalau dapat B ;-) Sukanya dapat apa? Ya jelas kalau dapat A. Apalagi kalau straight A, pada semua mata kuliah yang diambil semester itu.. let’s say sepuluh mata kuliah atau lebih. Sayangnya.. emang nggak pernah dapat tuh straight A .. hehehe..

Kalau sekarang, hari ini, sih lagi suka sama huruf C dan D. Apalagi kalau digabung jadi satu dan dibalik.. hehehe.. Maklum, itu huruf kemenangan brondong favorit ibu2 funky ;-) Hehehe.. ngelaba kan emang boleh 10 thn ke atas dan 10 thn ke bawah.. weeek ;-)

Senang akhirnya si brondong ini yang menang. Emang dari dulu gw suka sama rocker bergitar ;-) Bukan satria bergitar ya.. kalau itu sih gw kurang suka ;-) Emang udah kesengsem sama si rocker ini dari awal, karena suaranya tetap nge-growl biarpun merdu. Nggak berfibra2 seperti tipikal American Idol selama ini. Apalagi pilihan lagunya itu lho.. paaaasss banget sama gw. Terutama pas nyanyi Baba O’Riley di babak 4 besar. Aduuuh.. anak seangkatan gw aja bisa dihitung dengan jari yang tahu The Who. Lha.. ini brondong 25 thn bisa nyanyi lagu ini ;-) Langsung bikin gw klepek2 deh ;-)

Apalagi pas dia menang kemarin, dan.. berkaca2 terharu. Langsung ingat sama Candil-nya Seurieus: “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati”.. hehehe..

***

Oops, kok jadi ngelantur ke DC. Back to topic deh.. hehehe..

Ngomong2 soal nyanyi, dan soal Pilkada, gimana kalau kita gabung aja? Siapa tahu Jeng Melly berminat untuk mengorbitkan BBB angkatan kedua? Nanti lagunya bisa gini, “Let’s boast together, get on the podium, the party won’t start if you stand still like that..”

*setelah bisa ‘melucu’ di Metro TV tadi malam, siapa tahu mereka bisa nyanyi juga kayak Chelsea Olivia, Laudya Cynthia Bella, dkk. Multi-talent*

Sunday, May 18, 2008

Berani Terima Tantangan Ini?

“Hidup adalah Perbuatan”
(dari kampanye terselubung seorang tokoh parpol)

Ya! Setuju!

Dan “perbuatan” itu lebih daripada sekedar membuat iklan TV penuh senyum dan ditebari jargon “Hidup adalah Perbuatan”. Perbuatan itu harus ditunjukkan secara nyata, dan dapat dinikmati [rakyat] secara nyata.

Dengan semangat memberi kesempatan pada mereka yang mengincar posisi pemimpin bangsa untuk menunjukkan perbuatan [baik]nya, saya persembahkan sebuah konsep acara baru: sebuah reality show berjudul Berani Terima Tantangan Ini? ;-) Konsepnya mungkin tidak sepenuhnya baru, lebih merupakan “campursari” (bahasa kerennya: kompilasi) dari beberapa reality show yang sudah tayang. Namun semoga acara ini bisa memberikan alternatif tontonan di sela2 sinetron yang penuh kekerasan dan lelucon2 slapstick.

Acara ini sekaligus menjadi win-win solution bagi semua pihak: pihak calon pemimpin bangsa mendapatkan alternatif cara kampanye, rakyat langsung diuntungkan oleh kampanye tersebut – sekaligus mendapatkan alternatif tontonan yang mendidik, dan pihak media massa tidak perlu khawatir kehilangan pemasukan yang selama ini datang dari iklan2 calon pemimpin bangsa ini. Malah, pihak media massa, khususnya televisi, mungkin akan diuntungkan dengan rating acara tersebut.

Bagaimana? Anda tertarik dengan konsep acara ini? Mari kita ulas lebih lanjut ;-)

***

PROPOSAL PROGRAM ACARA ‘BERANI TERIMA TANTANGAN INI?’

Oleh: -maynot-

Dipublikasikan di: http://smritacharita.blogspot.com

SISTEM PERMAINAN

Sistem acara ini merupakan gabungan antara The Amazing Race dan The Apprentice. Tim yang masing2 terdiri atas 2 orang (capres-cawapres, atau cagub-cawagub) akan diberangkatkan ke berbagai daerah di Indonesia yang membutuhkan penanganan masalah. Tugas masing2 tim adalah merancang, melaksanakan tahap awal, dan mengorganisasi langkah lanjutan penanganan masalah tersebut sebelum pindah ke babak berikutnya.

Di awal setiap babak, masing2 tim akan mendapatkan “Info Rute” ke daerah mana mereka akan diberangkatkan, serta sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam rekening khusus. Jumlah uang tersebut cukup untuk mendapatkan transportasi & akomodasi yang layak. Yang dimaksud dengan “layak” di sini adalah: bisa naik pesawat yang bukan low cost carrier, tapi kelasnya ekonomi aja. Bisa naik taksi ke/dari bandara, tapi kelasnya Blue Bird aja, bukan Silver Bird apalagi Golden Bird. Bisa menginap di hotel bintang, tapi bintang 3 aja dan kamarnya bukan suite room, apalagi presidential suite ;-)

Parpol pendukung masing2 tim DIPERBOLEHKAN menyetor dana sebanyak2nya ke rekening tersebut, tapi.. dana tersebut HANYA BOLEH DIGUNAKAN untuk mendukung langkah penyelesaian masalah di lapangan. Uang tersebut TIDAK BOLEH digunakan untuk keperluan pribadi, seperti membeli tiket yang lebih mahal atau akomodasi yang lebih mewah.

Catatan PENTING SEKALI:

Nah.. uang yang dikeluarkan parpol untuk kampanye lebih bermanfaat kan, bagi rakyat ;-)? Daripada 450juta dituang untuk satu iklan cetak, atau 40jt-60jt/menit untuk iklan TV.. kan mendingan jumlah itu untuk menangani masalah rakyat secara langsung. “Hidup adalah Perbuatan” benar2 dinyatakan sebagai perbuatan, bukan jargon doang ;-) Lagian, buat cagub, ngapain juga sih bikin iklan nasional? Memangnya orang2 di Mamuju sana peduli siapa yang bakal jadi Gubernur Jabar, sampai buang2 uang bikin iklan nasional segala? Lebih baik uangnya digunakan untuk aksi nyata memperbaiki nasib rakyat kan?

Begitu mencapai bandara/stasiun/terminal daerah tujuan, tim bisa menemukan “Kotak Petunjuk” yang berisi tugas apa yang harus mereka lakukan. Kadang hanya ada satu tugas yang harus dilakukan semua tim, tapi kadang2 tugasnya bisa dipilih antara 2 alternatif (seperti Detour di The Amazing Race)

Sejauh ini sistem permainannya masih mirip The Amazing Race banget ya? Jadi apa yang diadaptasi dari The Apprentice?

Dari The Apprentice, kita adaptasi jenis tugasnya. Tugas2 yang harus dilakukan oleh tim benar2 seperti tugas The Apprentice. Misalnya, di satu daerah mereka harus merancang sistem pemberian bantuan yang merata. Harus mendata jumlah calon penerima BLT secara akurat. Atau harus memperbaiki bangunan sekolah yang hampir roboh. Atau harus memberikan ketrampilan/lapangan kerja baru bagi mereka yang sawahnya terendam lumpur Lapindo. Atau ... banyak deh alternatif tugasnya ;-)

Tapi.. tugas itu kan terlalu berat untuk tim yang terdiri dari 2 orang?

Naah.. di sini mereka bebas menggunakan massa yang ada di daerah tersebut. Mereka bisa minta bantuan parpol atau massa pendukung di daerah tersebut. Tugas kedua orang ini lebih sebagai pembuat konsep dan pengawas, tidak harus jadi pelaksana langsung. Tapi.. sebagai pengawas/pembuat konsep, mereka yang harus mempertanggungjawabkan hasilnya.

Aktivitas mereka, seperti layaknya reality show lain, direkam 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tiap hari cuplikan aktivitas mereka akan tayang di TV, seperti Diari AFI atau Beranda Penghuni Terakhir. Dari situ rakyat bisa menilai calon pemimpinnya.

SISTEM PENJURIAN dan ELIMINASI

Untuk penjurian dan eliminasinya, kita gabungkan sistem dari Penghuni Terakhir dan Mamamia Show.

Setelah Senin berangkat ke lokasi, Selasa – Jumat melakukan tugas, maka.. pada hari Sabtu diadakan “Malam Pertanggungjawaban”. Seperti pada acara Penghuni Terakhir, pada malam itu setiap tim diberikan waktu 5-10 menit untuk orasi dan kampanye “jual diri”. Kemudian, diputarkan fitur2 yang diambil dari tayangan aktivitas mereka selama seminggu. Biasanya kan selalu ada bagian dimana peserta ‘tertangkap basah’ melakukan kesalahan/kecurangan/keburukan.. karena tidak mungkin bersandiwara 24/7. Naah.. di malam inilah mereka harus mempertanggungjawabkan ke hadapan juri dan seluruh rakyat Indonesia mengenai tindakan mereka tersebut.

Dari pertanggungjawaban mereka tersebut, dewan juri akan menentukan 3 tim yang “tidak aman”. Selanjutnya.. 100 juri vote lock akan melakukan pengambilan suara untuk menentukan tim yang tereliminasi. Bisa juga - supaya lebih mewakili populasi - juri vote lock-nya tidak hanya 100, tapi 500 atau 1.000 seperti jumlah anggota dewan. Juri tersebar di beberapa kota - dengan pemungutan suara online.

*Catatan tidak penting: walaupun sistemnya mengikuti Mamamia Show, pleaseeeee... jangan ada sesi penyelamatan yang lebay itu ya ;-)*

Atau.. bisa saja 3 tim yang tidak aman, bukan ditentukan semata2 oleh dewan juri, melainkan oleh lawan2nya juga. Seperti sistemnya Unan1mous ;-). Sekalian kita lihat apakah para calon pemimpin bangsa ini bisa fair play seperti pemain sepakbola ;-)

Kenapa harus pakai juri vote lock, tidak dengan SMS/Premium Call? Sebab, jika menggunakan SMS/Premium Call, dikhawatirkan sulit menghalangi parpol atau pihak terkait yang berkepentingan ikutan nge-vote. Nanti takutnya hasil pemilihan tidak bisa dikatakan sebagai “Indonesia memilih..”, karena pada akhirnya “BUKAN Indonesia yang memilih, Indonesia yang menentukan” ;-)

Biar lebih seru, seperti di The Amazing Race, akan ada NEL (non-elimination leg, alias babak tanpa eliminasi). Di babak ini, tim yang sudah di-voted off tidak akan tereliminasi. Mereka masih dapat melanjutkan lomba, tapi TIDAK DIBERI uang sepeser pun untuk babak berikutnya dan DILARANG menerima uang dari parpol.

Kita lihat ketangguhan calon pemimpin bangsa ini; maukah mereka menjual sebuah Rolex atau sehelai Armani demi melanjutkan karya terhadap rakyat? Atau.. mereka hanya jaya jika ada dana ;-)?

JURI & PEMBAWA ACARA

Personel jurinya sendiri belum ditentukan, namun.. Dewan Juri diharapkan ada yang menilai LEGALITAS TINDAKAN, EFISIENSI PENYELESAIAN MASALAH, dan EFEKTIVITAS PROGRAM. Untuk menilai aspek legalitas, mungkin Oom Todung Mulya Lubis bisa dipekerjakan. Beliau memang baru dipecat oleh Perhimpunan Advokat Indonesia dengan alasan yang masih bisa diperdebatkan, tapi.. no one can take his knowledge off him ;-)

KPK juga harus dilibatkan sebagai day-to-day jury, yang mengawasi uang keluar-masuk rekening dan penggunaan uang tersebut. Memang, KPK lebih baik dilibatkan di sini, daripada sibuk mengurusi angpao kawinan orang2.. ;-) Nggak penting banget sih! Kawinan yang sekali seumur hidup, dan angpau-nya diserahkan tidak langsung (sehingga tentunya nggak bisa deal langsung), ributnya bukan kepalang. Sementara yang terima ratusan juta di hotel berbintang nggak ada yang mengawasi ;-)

Untuk pembawa acaranya, karena ini acara serius sebaiknya pakai pembawa acara serius pula. Semisal Sandrina Malakiano. Kalau ada yang mau pilih Vivit Kavi juga boleh ;-)

HADIAH

Pemenang reality show ini akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 10,000,000,000 (sepuluh milyar rupiah). Kurang lebih setara dengan hadiahnya The Amazing Race (versi Amerika, kalau yang versi Asia hanya sepersepuluhnya ;-)).

Lho? Kok hadiahnya gede bener? Mereka kan udah kaya?

Nanti dulu.. ;-) Hadiah ini harus digunakan sepenuhnya UNTUK RAKYAT. Yaitu dengan menggunakannya untuk program yang akan dijalankan. Naah.. KPK bertanggungjawab mengawasi penggunaannya juga.

Hadiahnya diambil dari APBN. Boleh dong? Toh.. hasilnya juga akan digunakan untuk rakyat ;-) Lebih baik uang pajak kita jelas kemana larinya toh, daripada menguap seperti air yang dipanaskan ;-)?

***

Phiewww.. ada gunanya juga jadi banci reality show ;-) Setidaknya, jadi bisa merangkum the best of the best dari beberapa acara dan menjadikannya acara baru ;-)

Bagaimana? Berani menerima tantangan ini?

Ada televisi swasta yang berminat? Atau capres/cagub yang nggak sabar ingin mendaftar?

Ada yang mau menyempurnakan konsepnya? Atau sekedar berminat copy paste proposal ini kemana2? Boleh... boleh.. Usul bagus memang nggak boleh disimpan sendiri. Syukur2 kalau benar2 bisa terlaksana dan membawa perubahan buat rakyat.

Tapi.. kalau mau pasta-kopi, jangan lupa nyebut nama pengonsepnya ya ;-) Jangan sampai entar tulisan ini dianggap ide barunya Helmi Yahya.. hehehe.. mentang2 Mas Helmi yang biasanya bikin acara2 begini ;-)

Dan yang lebih jangan lagi: jangan sampai tulisan ini diakui (secara langsung/tidak langsung) sebagai tulisan si tukang copy paste. Ingat.. justice may be blind, but it can see in the dark ;-)

Monday, May 12, 2008

Rakyat GR

Menurut Kalla, jika kenaikan harga BBM batal, sama artinya dengan membatalkan kebijakan pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. “Jadi, setiap ada demonstrasi menyatakan tak setuju (kenaikan harga BBM), sama dengan mengurangi rezeki orang miskin”

(Kompas, 8 Mei 2008, hal. 18 – dikutip oleh Dita Indah Sari pada Kompas, 12 Mei 2008, hal. 6)

Atas kutipan tersebut, Jeng Dita menuliskan pendapatnya sebagai demikian:

Dengan kata-kata itu, Wakil Presiden berniat menyampaikan kepada kita bahwa bantuan dari pemerintah hanya berhak diterima rakyat jika harga BBM diturunkan. Artinya, rakyat baru berhak dapat sesuatu dari pemerintah setelah pemerintah mengambil sesuatu dari kita.

Ini mirip dengan kebijakan tukar guling atau jual beli yang nilainya pun sama sekali tidak setara.

(Dita Indah Sari, Kompas, Senin, 12 Mei 2008, hal. 6)

Komentar Jeng Dita yang berapi2 itu kontan membuat gw senyum2 sendiri. Jeng Dita terlalu lugu ah.. hehehe.. atau lucu? Mosok yang begini dibilang tukar guling? Tukar guling itu bukannya kalo seseorang menukar sesuatu milik-NYA dengan sesuatu milik pihak LAIN? Lha.. dalam kasus ini, pemerintah kan cuma mengalihkan hak (milik) rakyat yang satu untuk rakyat yg lain? Lebih cocok kalau dibilang kebijakan “tukar guling tetangga”.. hehehe.. wong yg ditukar gulingnya bukan guling sendiri ;-)

Dan.. menurut gw sih Jeng Dita terlalu keras menilai pemerintah. Jangan antipati terhadap pemerintah gitu, dong Jeng ;-) Pemerintah kan hanya mencoba mewujudkan identitas bangsa Indonesia sebagai masyarakat yang gemar bergotong-royong. Juga.. pemerintah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia ini adalah contoh terbaik mengenai “demokrasi”. Jeng Dita tahu, kan, arti demokrasi? Itu lho.. “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”.

Dari kecil kan kita sudah diajari melalui beberapa pelajaran seperti PMP, PSPB, PPKn, dll tentang betapa komunalnya masyarakat kita. Bagaimana kalau ada tetangga butuh bantuan, baik karena mengalami musibah atau karena mau punya hajat, maka masyarakat sekitar akan berbondong2 membantu? Nyumbang sebisanya; yang punya duit nyumbang duit, yg enggak ya nyumbang tenaga. Konon, katanya, di kota2 besar nilai gotong royong ini mulai luntur. Makanya.. nggak salah kan, kalau pemerintah ingin mengembalikan kepribadian bangsa yang baik ini?

Makanya.. trend-nya jelas bahwa untuk segala masalah yang terjadi pada rakyat, yang bisa – dan harus membantu – adalah rakyat juga. Bukan pemerintah ;-) Kan kita gemar bergotong-royong, toh?

Jadi.. jangan heran, kalau secara tidak langsung rakyat juga yang harus membayar kerugian material korban lumpur Lapindo. Dengan dinyatakannya bahwa pemerintah yang harus membayar ganti rugi pada korban lumpur Lapindo, secara tidak langsung rakyat mesti gotong royong juga. Harus makin rajin bayar pajak.. kan pajak itu salah satu komponen pendapatan negara? Jadi, itu salah satu komponen yang bakal dipotong untuk membantu korban lumpur Lapindo juga ;-). Lapindo-nya sih bisa angkat tangan dengan alasan mereka sudah cukup membantu. Selanjutnya.. ya terserah rakyat ;-)

Jangan heran juga kalau sekarang Pak Wapres ngomong begitu. Kan.. kalau ada rakyat yg miskin, yang harus bantu rakyat juga? Gotong royong kan ;-)? Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ingat? Jadi, untuk mengurangi kemiskinan rakyat, kenikmatan sebagian rakyat yang lain harus dipangkas. Bagaimana rakyat yg dipangkas kenikmatannya itu bisa survive, itu mah urusan rakyat sendiri. Bukan urusan pemerintah ;-)

Kita mau teriak2, protes ke pemerintah, dan menuntut bahwa KITA harus bersama2 menanggungi masalah ini? Hmm.. pernah dengar bahasa gaulnya ABG yg marak beberapa waktu lalu? Yang gini lho, Jeng, bunyinya:

Kita? Elo aja kaleee..., gw enggak!

Hehehe.. bahasa gaul yang itu, gw rasa, diilhami oleh jawaban pemerintah kalau rakyat menuntut apa2 dari pemerintah. Pemerintah dan rakyat itu tidak satu cluster. Pemerintah adalah “Kami”, bukan “Kita”. Mungkin, pemerintah itu belum sempat baca disertasinya Pak Fuad: “Kita dan Kami, The Basic Modes of Togetherness”. Sayang, padahal disertasi itu dibuat tahun 1971, setahun sebelum gw lahir. Tapi mungkin pemerintah terlalu sibuk kali ya.. jadi nggak sempat baca2 yang beginian ;-)

Tapi makasih lho, Jeng Dita, udah repot2 buang napas untuk menulis tentang ini ;-) Setidaknya, itu menjadi emotional push buat gw yg mengingatkan kembali akan logika gotong royong. Dan akhirnya.. setelah berpuluh2 tahun, gw jadi “mendapat pencerahan” tentang apa gunanya segala pelajaran PMP, PSPB, PPKn, plus masa2 sulit mesti menghafalkan “36 Butir Pancasila” dan ikut penataran P4 berkali2: semuanya itu untuk mempersiapkan mental kita kalau nggak berhasil meniti karir cemerlang sebagai pejabat ;-).

Iya, dengan segala pelajaran itu, kalau kita hanya mampu jadi rakyat biasa, setidaknya mental kita sudah cukup kuat untuk menerima bahwa kita – dan hanya kita – yang harus menyelesaikan masalah rakyat sendiri. Karena kita adalah negara demokrasi, dimana segalahnya adalah “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Kita adalah rakyat GR, alias rakyat gotong royong ;-)

Anyway.. sekarang udah bulan Mei ya? Tahun pajak sudah berlalu Maret lalu. Cuma sekedar mengingatkan.. sudahkah Anda semua bayar pajak? Hayoo.. jangan pada nunggak pajak lho! Kasihan saudara2 kita yang lebih miskin ;-) Dari pajak yang kita bayarkan, insya Allah, kalau ada “sisanya”, bisa dipakai untuk meningkatkan harkat hidup mereka yg lebih membutuhkan.

Kita harus gotong royong, kan ;-) Kalau bukan kita, siapa lagi yg peduli? Camkan itu ;-)

Thursday, May 08, 2008

Nine and [minus] a Quarter Years

Kalau deja vu, pasti udah pada tahu artinya ya? Sensasi pernah berada dalam suatu keadaan yang sebenarnya belum pernah dialami. Tapi kalau jamais vu, mungkin ada yang belum tahu. Jamais vu adalah antonim dari deja vu. Artinya: sensasi BELUM pernah berada dalam suatu keadaan yang sebenarnya pernah dialami. Ada hubungannya dengan amnesia, meskipun tidak semua jamais vu disebabkan atau berkaitan dengan amnesia.

Nah.. being a new mother again after nine and [minus] a quarter years, membuat gw mengalami beberapa jamais vu ;-) Merasa tidak mengenali keadaan2 yang sebenarnya – gw tahu pasti – sudah pernah gw alami ;-)

Jamais Vu #1: Sibling Rivalry

Gw dan adik gw beda usianya cukup jauh: 5 thn. Seingat gw, dan boleh di-cek ke ibu juga, gak ada sibling rivalry sama sekali terhadap adik gw waktu dia bayi. Waktu adik gw udah agak gede sih kita emang gak cocok.. hehehe.. suka berantem ;-) Tapi.. bukan lantaran sibling rivalry. Gw sih cool abis pas punya adik ;-) Sayaaaanggg banget sama adik bayi gw. Saking sayangnya, gw pernah nilep bahan prakarya dari sekolah.. hehehe.. Waktu itu gw masih TK, dan bikin prakarya topi dari sejenis mangkok plastik. Bahannya dari sekolah. Karena sayang adik, dan pingin bikin buat adik, gw nilep satu bahan dari sekolah. Ketahuan deh.. hehehe.. gw sempat disetrap sama Bu Wanda, guru TK gw. Tapi kemudian, setelah mendengar alasan gw “mencuri”, gw dinasihati bahwa, “Sayang adik itu boleh, tapi mencuri tidak boleh. Untuk adik bisa dibuatkan dengan bahan lain, seperti tutup botol sirup yang ada di rumah.”

Berdasarkan pengalaman itu, gw haqqul yakin Ima nggak bakal sibling rivalry terhadap Nara. Apalagi kan Ima ingin sekali punya adik, dan.. sudah lebih gede daripada gw waktu punya adik dulu.

Ternyata salah, bow! Beda usia 9 tahun minus 2 bulan tidak menghilangkan kemungkinan sibling rivalry ;-). Cuma bentuknya aja beda.

Sibling rivalry-nya Ima memang tidak penuh kekerasan seperti anak2 yang lebih muda. Lebih ke bentuk seeking attention yang makin menjadi2. Dan karena dia juga sudah lebih besar, defence mechanism yang muncul lebih berupa reaction formation: mengubah kecemburuan menjadi opposite reaction, dengan luar biasa sayang pada adiknya. Habis deh, adiknya tiap hari diciumi dan maunya semua pekerjaan mengurus adik dikerjakan oleh Ima ;-)

Tapi tetap kelihatan bahwa sebenarnya dia nggak cool, karena tetap terlihat cemburu. Seperti misalnya: menjadi lebih sensitif kalau gw salah manggil, atau kalau gw kebanyakan nggendong Nara. Dan beberapa cerita lama gw pun backfire, seperti ketika Nara gw gendong setelah menangis, Ima agak marah, “Katanya dulu ibu tega mbiarin aku nangis biar nggak manja, kok sekarang Nara digendong? Biarin aja dia nangis, biar nggak manja!”

Yaah.. gw baru sadar, dulu gw bisa cool karena emang gw kan ‘anak bapak’ ;-) Jadi nggak terlalu terpengaruh ketika ibu menuangkan seluruh perhatian buat adik bayi. Gw cuek aja.. hehehe.. Beda dengan Ima yang udah jadi my best buddy selama 9 thn. Yang biasa gw temani tidur, dan ngobrol sebelum tidur. Tentu buat Ima lebih ‘berasa’ ketika ada bayi yang menyedot perhatian.

Awalnya gw agak2 mati angin juga menghadapi jealousy-nya Ima. Tapi setelah beberapa minggu, akhirnya bisa juga membagi waktu dengan baik ;-) Bisa multi-tasking, membagi perhatian buat Ima dan Nara. Jadi.. jangan heran kalau kapan2 melihat gw multi-tasking: tangan kiri menggendong dan menyusui Nara, tangan kanan main scrabble sama Ima.. hehehe.. atau tangan kiri menimang2 Nara, tangan kanan bikin soal matematika buat latihan Ima ;-)

Hehehe.. Oom gw yang nomor 6 pernah bilang bahwa falsafah perempuan Jawa tradisional tentang anak adalah 3G: ngGandheng, ngGendhong, nGandhut. Alias tangan kanan menggandeng balita, tangan kiri menggendong batita atau baduta, dan perut masih mengandung anak berikutnya. Multi-tasking ;-)

I guess, I just give the new meaning to that philosophy ;-)

Jamais Vu #2: Perawatan Bayi

Gw baru tahu bahwa bayi itu seperti... teknologi informasi ;-) Senantiasa berkembang dan ada update-nya ;-) Apa yang benar 1 dasawarsa lalu bisa jadi sudah ketinggalan jaman dan dianggap salah sekarang ;-)

Waktu melahirkan Ima, pakem yang diajarkan di rumah sakit adalah: harus pakai minyak telon biar bayi merasa hangat, boleh pakai bedak bayi dan lotion bayi sehabis mandi. Yang nggak boleh: membubuhkan bedak bayi setelah bayi buang air, karena dikhawatirkan bedak bayi masuk ke organ kewanitaannya dan menimbulkan sakit. Waktu itu, katanya, kalau bayi laki2 nggak apa2 dikasih bedak seusai pipis, tapi bayi perempuan jangan. Takut meningkatkan kemungkinan kena kanker rahim di masa depan.

Begitu Nara siap dibawa pulang, lho.. kok pakemnya udah berubah? Di antara pesan2 suster dari kamar bayi, yang digarisbawahi adalah: TIDAK BOLEH menggunakan minyak telon, bedak, lotion, cream, dll. Bayi cukup dimandikan dengan air dan sabun bayi. Kalau mau pakai minyak telon, bedak, lotion, dll, sebaiknya menunggu hingga 2 bulan, supaya kulit bayi sudah benar2 kuat dan tidak iritasi.

Nah lho! Pantesan aja jumlah paket produk perawatan bayi yang disertakan berkurang drastis ;-) Waktu Ima pulang dari rumah sakit dulu, koper gw penuh dengan paket gratis produk bayi dari segala major brands. Sekarang? Cuma dapat dua merek ;-)

Bener2 deh.. pengalaman gw 9 thn yang lalu ternyata nggak berarti apa2.. hehehe.. Terpaksa menghafalkan lagi pakem barunya. Walaupun gw pernah ‘been there’, tapi ternyata ada celah2 dimensi yang tidak terbayangkan ;-)

Anyway.. pesan suster yang ini gw abaikan. Nara tetap gw kasih minyak telon dan bedak bayi. Habiiisss.. kalo gak dikasih itu Nara kan nggak “bau bayi” ;-) Tanpa dua hal ini, bayi seperti pengantin tanpa ratus (itu lho, dupa yg dipakai untuk mengharumkan rambut pengantin perempuan). Atau kari tanpa jintan. Atau nasi uduk tanpa daun pandan. Atau bisa juga mie instan tanpa bumbu yg banyak MSG-nya itu. Kurang sedap ;-)

Jamais Vu #3: Penimbunan Logistik

Waktu menyusui Ima dulu, gw sudah mengunduh dan mempelajari Teknik Marmet, yaitu cara memeras ASI tanpa alat bantu. Cara yang enak banget, karena [seperti dipromosikan dalam situsnya] gratis, portable, ecological superior, dan.. terutama sekali yang penting buat gw adalah skin-to-skin contact: lebih alamiah dan nyaman dibandingkan harus pakai mesin atau pompa tangan yg berplastik itu.

Sembilan tahun berlalu, gw udah lupa langkah pasti dari teknik tersebut. Tapi toh teknik ini menjadi least priority gw untuk dipelajari kembali selama hamil. Jaman Ima dulu, ASI-nya sedang2 saja; kalau Ima lapar pasti ada, tapi nggak berlebihan untuk ditimbun. Baru sekitar 2 minggu menjelang cuti berakhir gw paksa2in ngejar setoran biar ada stok untuk hari pertama ngantor.

Perhitungan gw, kalau dalam masa prime time aja stoknya pas2an, apalagi sekarang ;-) Jadi.. ntar2 aja dulu latihan lagi ;-). Ternyata, mungkin berkat diet ketat selama hamil yang benar2 bergizi tinggi dan rendah garam/lemak/kolesterol, sejak hari kedua di RS aja pasokan ASI sudah berlebih. Nggak sampai seperti air bah sih.. tapi beda2 tipis sama lumpur Lapindo yang nggak kunjung berhenti tersebut. Terpaksa terjadi penimbunan logistik. Alhamdulillah.. tapi sempat bikin gw kelabakan!

Di RS cuma tersedia pompa ASI bermesin, yang menurut gw lebih mirip alat penyiksaan.. hehehe.. Namanya juga mesin, nggak bisa mikir dan merasa. Dan sama sekali tidak memperhatikan keunikan tiap manusia ;-) Jadi sekali dipencet tombolnya ya gerak perasnya begitu. Sama rata buat semua orang. Beda dengan teknik Marmet yang – karena manual dan hanya butuh tangan si ibu – benar2 ‘mengerti Anda’ ;-)

Sempat nanya2 sama suster di RS, nggak ada yang tahu teknik tersebut. Waduh.. jadi berasa seperti ibu2 yang baru pertama kali melahirkan lagi deh, gagap informasi mesti ngapain ;-) Untung.. bapaknyaima&nara bawa notebook dan kartu Fren.. hehehe.. jadi bisa browsing sejenak.

Biar nggak lupa lagi, di atas ada tautan pada teknik tersebut. Bisa dilihat dan dipelajari sendiri buat yang berminat. Tekniknya sederhana. Kata kunci persiapannya: massage – stroke – shake. Sementara kata kunci untuk mengeluarkannya: push – roll – finish roll. Yang mesti dihindari adalah: squeeze – pulling – slide.

Sebenarnya ada rekaman demo-nya juga sih, bentuk file-nya MPEG dengan bintang utama gw.. hehehe.. Hasil jepretan Ima pakai HP waktu takjub menemukan hal baru. Cuma..., kata bapaknyaima&nara sebagai pemegang lisensi tunggal hak penayangan, file-nya nggak boleh di-upload ke blog gratisan. Bukan karena takut dituduh pornografi dan kena UU yang baru itu, tapi.. karena kategorinya pay per view.. HAHAHA..

Nah, sekarang tahu kan, kenapa judul entry-nya 9(-¼) Years? Soalnya, memang ada mirip2nya dengan film lawas Kim Basinger: 9½ Weeks ;-)

Ngomong2, moga2 aja pasokan logistik Nara masih tetap berlebih sampai saatnya masuk kantor lagi kelak. Jangan cuma beta version-nya aja yang bagus ;-) Dan moga2, pasokan minyak bumi berbanding lurus dengan pasokan makanannya Nara. Jadi harga BBM nggak naik2 melulu ;-)

Saturday, May 03, 2008

Logical Fallacy tentang Definisi Ad Hominem

Karena "writing is therapeutic" buat orang yang mendiagnosa diri sendiri sebagai penderita hypergraphia seperti gw ini, maka gw tetap menulis. I enjoy having a new baby, but.. I also need escaping the "changing diaper" routine from time to time ;-)

Hari ini pingin menulis tentang logical fallacy dan argumentum ad hominem. Gara2 baru blogwalking dan baca tulisannya aRdho, yang mengingatkan gw pada tulisan seorang seleb blog beberapa waktu lalu.

Waktu baca tulisan sang seleb blog, kening gw sempat berkerut karena membaca bahwa [argumentum] ad hominem disebut sebagai bagian dari logical fallacy. Hmm.. setahu gw, memang logical fallacy bisa membawa kita pada pada ad hominem, tapi.. bukan berarti bahwa ad hominem adalah bagian dari logical fallacy.

Apa sih logical fallacy itu? Seperti ditulis di sini, logical fallacy adalah an error of reasoning. Kesalahan dalam perangkaian [informasi] yang masuk dalam mengambil keputusan. Terjadi karena dua atau lebih informasi yang benar dirangkaikan secara kurang tepat. Contoh klasiknya seperti:

Pernyataan 1: Semua monyet suka makan pisang
Pernyataan 2: Kamu suka makan pisang
Kesimpulan [logical fallacy]: Kamu adalah monyet
Contoh nggak klasiknya ada di posting sebelumnya, tentang informasi2 yg benar seputar baiknya sistem beasiswa dan faktor2 yang mendukung kualitas sekolah, tapi menjadi logical fallacy ketika disimpulkan bahwa sekolah gratis adalah pepesan kosong.

Sementara, [argumentum] ad hominem adalah penyerangan terhadap karakter/kepribadian lawan bicara untuk meruntuhkan pernyataan yang diucapkannya.

Memang, jika ad hominem ini dilakukan tanpa reasoning yang tepat, sekedar asal menyerang pribadi lawan bicara secara membabi buta, apalagi jika lawan bicaranya berkata benar, maka itu dapat dikategorikan logical fallacy. Tapi, sering terjadi bahwa memang ad hominem ini didasari pada reasoning yang tepat.

Ad hominem yang bukan logical fallacy sering kita saksikan dalam film2 tentang persidangan di Amerika. Biasanya terjadi saat jaksa penuntut atau pengacara bertanya pada saksi. Sering mereka "memelintir" pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang bisa menimbulkan keraguan pada juri tentang kesahihan pernyataan si saksi. Apakah ini bentuk logical fallacy? Menurut gw sih tidak. Reasoning-nya jelas. Tidak salah dalam perangkaian logikanya. Dan seringkali justru dari ad hominem ini terungkap kebenaran. Pernyataan yang dimodifikasi, tidak sesuai kebenaran, justru seringkali terungkap melalui ad hominem yang bukan logical fallacy ini.

Contoh lain bisa disimak obrolan mesra gw & Aramichi di posting Inqilabi Girl ;-) Baca sendiri ya, gw gak mau repot2 copy paste ke sini.

Kalau kita pakai definisi [argumentum] ad hominem sebagai penyerangan terhadap karakter/kepribadian lawan bicara untuk meruntuhkan pernyataan yang diucapkannya, harus diakui bahwa gw & Ara sama2 melakukan ad hominem. Tapi apakah ad hominem tersebut merupakan logical fallacy? Entah ya, kalau ad hominem-nya Ara ;-) Kalau ad hominem gw sih masih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.. HAHAHAHA.. Maksud gw, biarpun gw sambil nuduh2 dia gak baca dengan teliti dan nggak menempatkan pada konteks, gw membarenginya dengan memberikan tautan dan bukti2.

Eh, atau justru karena gw kasih tautan dan bukti2 itu lantas menjadikannya bukan ad hominem ya? Ya enggak lah! Definisinya kan jelas: melakukan penyerangan terhadap pribadi, itu ad hominem. Yang kurang pas adalah memasukkan ad hominem pada kelompok logical fallacy, karena tidak semua ad hominem diakibatkan oleh logical fallacy ;-) Kalau ini adalah soal ujian pilihan ganda, jawabannya adalah B: pernyataan 1 dan pernyataan 2 benar, tapi tidak berhubungan ;-)

Jadi, memasukkan ad hominem kepada kelompok logical fallacy adalah logical fallacy ya ;-)?

*Udah, cukup menulis hari ini. Kembali ke kegiatan mengganti popok ;-)*