Tuesday, June 12, 2007

Debt Diet

Entry terbaru Neng Yanti mengingatkan gw pada Debt Diet yang sempat pingin gw tulis beberapa bulan lalu. Topik yang – seperti banyak topik lainnya – terpaksa ngendon di lobus frontalis sampai munculnya mood yang tepat lagi untuk menuliskannya.

Debt Diet ini gw dapatkan waktu nonton salah satu episode Oprah Winfrey Show. Waktu itu salah satu tamunya adalah pakar2 yang memberikan patokan agar uang yang kita kumpulkan dengan susah payah nggak terhambur2kan dan hilang tanpa sisa. Pie chart yang diberikannya adalah: 35% untuk housing, 15% untuk transport, 15% untuk debt, 25% untuk others, dan 10% untuk saving.

Menurut sang pakar keuangan rumah tangga itu, housing itu mencakup segala pengeluaran rumah tangga; seperti belanja harian, belanja bulanan, listrik, telepon, internet, air, koran, dan gas. Gw tambahkan gaji pembantu juga di pos ini sebagai ‘sentuhan khusus’ ;-). Transport itu mencakup semua pengeluaran transportasi, baik iuran antar jemput, ongkos si Mbak belanja ke pasar, ongkos bajaj Ima les, bensin, dan ongkos parkir. Debt, naaah.. ini yang lucu. Dalam Debt ini dimasukkan semua jenis cicilan, termasuk premi asuransi, pajak rumah/mobil, dan... BIAYA PENDIDIKAN ANAK. That’s cool! Ini bagian yang waktu itu bikin gw setuju banget sampai ngangguk2 ;-) Memang, yang namanya biaya pendidikan anak itu kan hutang kita kepada makhluk yang sudah kita hadirkan di dunia ini ;-).

Saving, sesuai namanya, adalah sejumlah uang yang kita kumpulkan untuk ditabung. Sementara others mencakup semua pengeluaran yang tidak bisa dimasukkan ke dalam salah satu pos lainnya. Jadi.. mulai dari makan siang gw di kantor, belanja-belanji yang sifatnya personal seperti buku, DVD, baju, bedak, foya2 di Starbucks, sampai ngasih cepekan ke Pak Ogah dan sumbangan atau sedekah campur baur di sini.

Iseng2, gw ikutan ngitung pengeluaran gw sebulan2nya, dan.. inilah hasil perhitungan gw:

1. Housing: 40%

2. Transport: tergantung harga Pertamax, tapi rata2 16% - 18%

3. Debt: 10% (untuk sekolah & les2nya Ima doang), dan bisa jadi 15% kalau jaman2 bayar PBB atau memperpanjang STNK

4. Others: tergantung lagi boros atau enggak, tapi kisarannya adalah 19% - 23%, walaupun pernah juga nyampai 30%

5. Saving: sisa pendapatan setelah dikurangi keempat pos di atas, dan kisarannya adalah 12 - 18%, tergantung Pertamax lagi mahal atau enggak, dan gw lagi boros atau enggak.

Hmm.. not bad ya?

Yang nyata2 jauh melenceng dari target tuh housing, dan transport yang mengikuti harga minyak dunia ;-) Debt dan Others malah di bawah margin. Dan untuk Saving, jatuhnya malah bagus banget (biarpun.. trust me, bagusnya tuh kalau dilihat dari persentase aja, kalau dilihat nominalnya sih nggak sebagus2 itu ;-))

Keberhasilan “diet” ini sedikit banyak adalah karena sisa2 belajar akuntansi dan ikut ngurusin Koperasi Kredit di sekolah dulu. Gw jadi punya kebiasaan bikin catatan pengeluaran yang rapi dan penyimpanan bon yang rapi pula. Pokoknya gw udah kayak perusahaan deh, kalau cuma nyari arsip bon pengeluaran 2 tahun lalu sih masih gw simpan.. hehehe.. Catatan pengeluaran gw ditulis sebagai soft copy di MSExcel pada handheld gw, dan di-set up untuk menampilkan total pengeluaran setiap kali gw memasukkan data pengeluaran baru. Dengan demikian, gw jadi tahu sudah berapa rupiah yang gw keluarkan saat ini, dan bisa langsung tahu kapan harus nge-rem pengeluaran. Hehehe.. kalau pengeluaran udah masuk lampu kuning, langsung deh gw bikin gerakan penghematan menyeluruh di seluruh komponen rumah tangga ;-)

Yang juga membantu banget adalah kebiasaan gw mengurutkan uang kertas dari yang terbesar hingga yang terkecil di dompet. Lagi2.. ini kebiasaan saat ngurus KopDit dan sering jadi Bendahara di kepanitiaan2 Senat Mahasiswa dulu. Kesannya memang sepele, malah seorang teman dulu pernah bilang bahwa ini adalah kebiasaan tak berguna, karena biar diurutin gimana pun juga, yang seribu perak gak bakal berubah jadi seratus ribu perak.. hehehe.. Tapi, menurut gw, hal ini ngebantu sekali. Dengan uang yang diurutkan, kita jadi tahu pasti berapa jumlah uang yang tersisa di dompet kita. Dengan tahu berapa jumlah yang tersisa, kita juga langsung tahu berapa sisanya kalau kita tergoda membeli barang di depan mata. Psychologically, kita jadi lebih nge-rem pengeluaran karena langsung sadar bahwa ada konsekuensi bahwa kita harus segera “mindahin duit” dari ATM ke dompet kalau belanja-belanji lagi. Beda deh.. sama kalau kita belanja dulu baru kemudian sadar ternyata duit kita berkurangnya cepat ;-)

Selain itu, yang ngebantu banget adalah biaya Others gw yang [gw yakin seyakin2nya umat] lebih rendah dari rata2 cewek. Lho, kok bisa? Well.. yaa, karena gw ini cewek yang gak suka dandan.. hehehe.. Jadi ongkos nyalon dan fashion bisa dicoret dari daftar. Paling pengeluaran personal gw berkisar di beli buku dan DVD, bayar karcis berenang (yang lumayan murah karena berenang di sekolahnya Ima ;-)), atau sesekali pijat refleksi kalo udah capek banget. Itupun sudah gw tentukan budgetnya nggak boleh lebih dari nominal sekian setiap bulan. Dan.. untuk menyiasati, biasanya gw baru kasih treat ke diri gw sendiri kalau pengeluaran bulan ini sudah masuk kategori aman terkendali. Dengan demikian nggak kejadian bahwa Others gw bengkak sementara housing, debt, atau transport belum tertangani dengan baik.

Walaupun “diet” gw udah lumayan berhasil, gw masih ketar-ketir tuh melihat angka housing yang tinggi. Padahal, gw udah sehemat mungkin tuh ngatur duit belanja. Dan lagi.. yang namanya housing itu kan udah bagi2 dengan bapaknyaima, tapi kok masih tinggi juga ya? Apa ini masalah bias budaya ya, hehehe.. bahwa kalo di Indonesia sebagian besar pendapatan kita harus “terserap” ke Housing ;-)?

Anyway.. kalau mau kiat2 diet pengeluaran, coba tekuni aja di sini. Step by step-nya lengkap. Tapi.. jangan lupa berikan ‘sentuhan2 khusus’, karena nggak semua langkah dan kiat yang diberikan sesuai dengan yang kita alami. Bahkan dari judul pertamanya saja, Chart your Debt, mungkin nggak sesuai dengan keadaan kita di Indonesia. Kalau di Amerika sana debt diet menjadi isyu karena hutang kartu kredit yang menumpuk, maka di sini mungkin trigger dari diet kita adalah besarnya pengeluaran yang tidak bisa dihindari dibandingkan dengan pendapatan yang kita miliki.