Sunday, May 06, 2007

This One's for the Children

Tadi pagi menjelang siang, sambil self-grooming menghilangkan kepenatan, gw dihibur dengan tayangan infotainment. Salah satu beritanya adalah tentang Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang berkomentar tentang anak-anak pasangan Maia – Ahmad Dhani sehubungan dengan pra-perceraian mereka. Komentar standard tentang betapa anak2 membutuhkan kedua orang tuanya, keluarga harmonis, bla.. bla.. bla..

Nggak ada yang aneh dengan komentarnya. Menurut gw 100% benar. Tapi, menjadi ironis ketika infotainment itu berakhir dan acara berganti dengan berita kejahatan.

Ada dua berita mengenai anak yang dibahas dalam crime news program itu: yang pertama tentang meninggalnya pelajar kelas II SD yang diduga akibat penganiayaan teman2nya (note sebelum diprotes ipra tentang tanggal dan jam link-nya: tautan yg gw kasih bukan yg tadi gw tonton, ini cuma untuk menunjukkan berita mana yg gw maksud ;-)), serta “perdagangan” bayi2 yang lahir di luar nikah untuk diadopsi. Dan letak keironisannya adalah: kalau perceraian, bullying, dan perdagangan anak adalah pelanggaran terhadap hak anak, maka perceraian adalah yang secara umum dampak psikologisnya paling minimal. Namun.. justru untuk kasus yang dampaknya cenderung paling minimal itulah sering kali KPAI diwawancara dan “turun tangan”.

Well.. gw tidak bermaksud bilang bahwa KPAI adalah lembaga materialistik yang hanya mau ngurusin anak2 artis yang bercerai seperti yang dituduhkan sebagian kalangan. Gw lihat KPAI nggak seburuk itu kok.. mereka masih turun tangan ketika Raju yang miskin dimasukkan penjara dewasa (laporan panjang lebar pendampingan Raju sempat gw ikuti di Psikonet, milisnya para psikolog) Mereka juga tampaknya memikirkan tentang bully yang semakin meningkat (setidaknya berita ini menunjukkan mereka aktif menerima laporan kekerasan dan ikut memikirkan jalan keluar). Kalaupun sekarang mereka lebih banyak diwawancarai sehubungan dengan kasus anak2 artis yg mau bercerai, well.. bukan berarti kerjaan mereka hanya mengurusi anak artis, kan ;-)? Yang menentukan angle mana dari pekerjaan mereka yang bisa dijual di media kan bukan KPAI, melainkan yg punya TV ;-) Dan.. menghabiskan slot TV membahas segala aspek perceraian artis [tampaknya] masih lebih laku dijual.

Kalaupun sekarang kesannya KPAI cenderung membela orang tua [baca: artis] yang melapor, hal ini juga bisa dimaklumi. Kalau KPAI tampak cenderung membela dan menggunakan teori psikologi yang pro-ibu (untuk kasus dimana Tamara Bleszynski, Maia Ahmad, dan Zarima, sebagai yg minta bantuan mendapatkan asuh) atau malah menggunakan teori psikologi tentang pentingnya ayah dalam kehidupan anak (untuk kasus Tommy Soeharto minta bantuan mendapat hak asuh), bukan lantas harus dibaca sebagai lembaga materialistik yang siap membelokkan ilmu demi kepentingan orang yg membayar. Ini logis saja: si peminta bantuan tidak mendapatkan hak asuh, tapi [mantan] pasangannya mendapatkan. Terjadi ketidakseimbangan pada pengasuhan anak, dimana si anak hanya mendapatkan asuhan satu orang tua saja. Padahal, seorang anak membutuhkan asuhan dari kedua orangtua sekaligus. Jadi.. dalam kasus2 seperti ini, KPAI berusaha meyakinkan pihak [mantan] pasangan bahwa mempertemukan anak dgn ayah/ibunya itu penting lho! Dan.. untuk meyakinkannya, tentu saja yang dipakai adalah teori yang sesuai.

Logis kan? Ibaratnya si artis orang punya duit sekian juta yang cukup untuk beli CPU dengan spesifikasi A. Tapi.. kalau beli CPU yang itu, dia nggak punya duit sisa untuk beli monitor. Nah.. KPAI ibaratnya mencoba meyakinkan si orang ini untuk membeli monitor sekalian, dengan konsekuensi spesifikasi CPU-nya turun. Tentu, dalam hal ini yang digunakan untuk meyakinkan adalah logika tentang kenapa monitor juga penting untuk dibeli. Ngapain buang2 waktu untuk menjelaskan bahwa komputer itu penting, bla.. bla.. bla.. Tapi, bukan lantas berarti bahwa CPU itu tidak penting kan? Emang kalo beli monitor gak ada CPU-nya, lantar monitor itu buat apaan? Buat ngaca? Hehehe..

Eh.. gw melantur, seperti biasanya ;-).

Anyway.. menurut gw, sebenernya KPAI sudah ke arah yang benar. Namun.. menurut gw banyak yang harus dibenahi oleh KPA supaya lebih bagus dan lebih bermanfaat untuk seluruh anak bangsa (tsah! “Anak bangsa”! Bahasa gw patriotik gak sih.. hehehe..)

Satu hal yang menurut gw paling penting adalah: KPAI mungkin perlu untuk lebih proaktif mencegah pelanggaran hak anak. IMO, selama ini gw melihat KPA lebih bersifat reaktif; ada kasus baru bergerak. Nggak di kasus Raju, nggak di kasus anak2 artis yang bercerai, nggak di kasus kekerasan terhadap anak yg makin meningkat. Baca2 websitenya juga kegiatannya lebih bersifat reaktif, seperti membuat Pekan Pengaduan.

Padahal, seperti di tautan berita Republika ini, KPAI sudah punya data bahwa dalam 2 tahun terakhir kekerasan terhadap anak di sekolah meningkat. Mereka juga punya data tentang siapa yang melakukannya. Bahkan, mereka sudah punya data tentang faktor2 penyebabnya: dari budaya (contoh: pemeo “emas di ujung rotan” yang dikatakan berasal dari Indonesia Timur), rendahnya pengetahuan guru terhadap UU Perlindungan Anak dan UU Guru, ketidaktahuan guru terhadap metode pengajaran disiplin yang tepat, .. ketiganya sudah terjabarkan dalam artikel itu. Gw juga yakin KPA cukup mahfum akan serapan anak2 terhadap sinetron2 keras di TV yang kadang ditiru anak tanpa memikirkan resikonya. Kasus Smackdown yang sempat ramai itu tentu juga sudah sampai ke telinga KPAI.

Dengan data di atas, mereka bisa merancang rencana kerja yang lebih proaktif dan lebih bersifat pencegahan. Sayang, sampai saat ini, hal itu tampaknya belum terlaksana. Atau.. sudah ada usaha ke arah itu, namun kurang terdengar hingga ke masyarakat.

Well.. semoga saja KPAI sudah memiliki usaha proaktif menanggulangi faktor2 tadi. Entah dengan menggalang sosialisasi UU Perlindungan Anak dan UU Guru, dengan mempublikasikan ke segala kalangan tentang serba-serbi sebab, akibat, dan tips menanggulangi pelanggaran hak anak, atau.. entah apa lagi jalan proaktif yang diambil untuk perbaikan nasib anak bangsa (aiyah! Gw nyebut “anak bangsa” lagi! Betapa patriotiknya gw.. hehehe.. )

Jadi.. jangan hanya muncul di TV untuk kasus anak2 artis yang bercerai saja.. hehehe.. Bisa dikira tidak punya pekerjaan lain dan hanya ngurusin rumah tangga orang ;-)

Berkaitan dengan itu, menurut gw hal kedua yang penting diperhatikan oleh KPAI adalah mengatur pemberitaan tentang kegiatan mereka di media, supaya tidak berat sebelah ke kegiatan yang itu2 saja. Memang, bisa jadi TV swasta/tabloid/media massa lain cuma tertarik mewawancarai KPA kalau ada artis bercerai.. tapi.. KPAI punya hak nego juga kan? Boleh mau, boleh nolak diwawancara. Naaah.. mungkin bisa nego: mau diwawancara untuk kasus anak2 artis, tapi TV/tabloid/media yang sama juga mesti menayangkan berita tentang kegiatannya yang lain. An eye for an eye.. dalam konotasi yang baik ;-)

Maju terus buat KPAI, semoga makin memperbaiki nasib calon2 penerus bangsa ini :-)

-----------------------------------

Current Video Clip: This One’s for the Children (NKOTB)