Thursday, February 15, 2007

One Valentine's Day

Gw TIDAK pernah merayakan Valentine's Day.

Bukaan.. bukan karena gw termasuk kelompok yang men-
dismiss perayaan Valentine sebagai budaya agama tertentu . Bukan juga karena gw merasa setiap hari adalah hari kasih sayang, sehingga tidak perlu ada satu hari khusus untuk merayakannya. To tell you the truth, setiap hari adalah hari untuk menjadi lebih baik buat gw.. hehehe.. toh, gw tetap butuh Idul Fitri untuk merayakannya ;-). Alasan gw nggak merayakan Hari Valentine adalah: karena gw pelit! Hehehe.. Gw nggak ngerasa perlu mengeluarkan sejumlah [besar] uang, menjadi konsumtif, untuk merayakan sesuatu. Dan kebetulan, suami gw juga bukan sejenis orang yang suka perayaan2, apalagi perayaan dengan gaya romantis2an.. hehehe.. Klop dah! Hari Valentine selalu datang dan lewat begitu saja buat kami.

Tapi.. karena ternyata gw punya anak yang rada2 gaul kronis (
the gene she inherited from her grandmother - my mom, that is), sudah 2 tahun terakhir ini gw harus siap menerima ucapan Happy Valentine's Day dari Ima. Maksudnya: harus siap membalas hadiahnya dengan hadiah lain.. hehehe.. Namanya juga anak2, senengnya dikasih hadiah.

Dan kesiapan gw ternyata beralasan. Turun dari mobil kemarin, 14 Februari 2007, Ima langsung teriak, "
Happy Valentine's Day, Ibu. Aku punya hadiah buat kamu".

Hadiahnya Ima berupa sebuah puisi buatannya sendiri. Judulnya "Bunda", ditulis di selembar kertas surat bermotif
Sleeping Beauty. Sementara hadiah gw? Well.. karena nggak sempat beli apa2, gw kasih aja permen coklat hadiah dari temen gw. Maaf deh, Nak, secara ibunya nggak seneng palentinan, hadiahnya daur ulang aja ya ;-).

Yang bikin
Valentine tahun ini mencengangkan adalah pertanyaannya Ima setelah acara tukar kado dan saling puji kado selesai:
"Ibu, emang bener ya, kalau kita ngerayain Valentine, berarti kita bukan orang Islam?"
Hmm.. gw langsung garuk2 kepala. Gw tahu ini pasti penjelasan dari guru kelasnya. Tidak seperti guru kelas di kelas I, guru yang sekarang sudah agak berumur dan konservatif. Gw udah tahu harus njawab apa, tapi bingung gimana memformulasikan jawaban supaya Ima nggak mengalami konflik antara penjelasan gurunya dan penjelasan ibunya.
"Memang siapa yang bilang, Mbak? Bilangnya apa?"
*Akhirnya gw cari jalan aman. Cari tahu dulu gurunya bilang apa, baru menyesuaikan jawaban melalui analogi yang sesuai.*
"Kata Bu Ida, asal mulanya Valentine itu karena ada pendeta Kristen yang dibunuh. Jadi kalau kita merayakan Valentine, kita bukan orang Islam"
Yaah.. sebenernya sih sampai di sini gw pingin memberikan sedikit pelajaran sejarah pada ibu gurunya Ima ;-). Soalnya.. St Valentino itu Katholik, bukan Kristen. Gw nggak inget dia rohaniwan atau bukan, tapi berarti yang jelas bukan pendeta karena dia Katholik ;-). But.. since I'm busy raising a child who I expect to have critical thinking ability [and become a free of prejudice person] here, terpaksa keinginan itu gw tahan. Gw abaikan detil2 yg bikin gw gatal ini dan fokus pada masalah besarnya:
"Gini, Mbak Ima. Kita kalau shalat menghadap ke mana? Ka'bah. Mbak Ima tahu, ka'bah dulu pernah dijadikan tempat berhala? Tapi kenapa kita tetap shalat menghadap ka'bah, padahal kita nggak boleh menyembah berhala? Karena.. ka'bah sudah bukan tempat berhala lagi. Yang dulu ya dulu, yang sekarang ya sekarang. Nah.. Valentine juga gitu. Pertamanya hari Valentine dirayakan karena ada St Valentino lebih baik mati daripada murtad. St Valentino sangat cinta sama agamanya. Tapi.. sekarang orang merayakan Valentine bukan untuk mengingat St Valentino lagi atau cinta pada agama lagi. Valentine's Day sudah dijadikan hari cinta, cinta kepada siapa saja"
Well.. mungkin analogi yang gw kasih nggak tepat. Tapi ini penjelasan yang terpikir oleh gw dalam waktu singkat, yang kira2 aman buat semua. Aman buat bikin Ima nggak merasa bersalah dengan kegaulannya, sekaligus membuat Ima tidak menganggap enteng penjelasan gurunya ;-). Susah juga gw kalo Ima jadi nggak hormat dan nggak mau mendengarkan gurunya lagi.. hehehe.. or on the other hand: menganggap gw tidak perlu didengarkan lagi karena penjelasannya bertolak belakang sama gurunya ;-).

Lepas dari asal-usulnya,
Valentine's Day menurut gw sudah jadi sekedar momen untuk senang2 (dalam arti yang baik). Dengan demikian, gw nggak melihat pentingnya melarang anak gw merayakannya, asal nggak berlebihan. Kasihan sekali melarang seseorang bersenang2 hanya karena atribut kecil yang sudah tidak relevan.

Dan lagi.. kalaupun (catat: kalaupun ya.. ;-)), kalaupun merayakan kasih sayang itu masih dianggap sebagai bagian dari keagamaan, apakah lantas salah kalau kita menirunya? Gw rasa ajaran yang berbunyi "janganlah mengambil pemimpin dari luar kaummu" tidak harus direduksi menjadi makna harafiah bahwa kita sama sekali tidak boleh meniru semua yang dilakukan oleh orang yang tidak seajaran dengan kita. Kalau yang baik2, apa salahnya ditiru? Toh kita juga dianjurkan untuk "mencari ilmu hingga ke negeri Cina". Entah apa maksud sebenarnya, tapi saat anjuran ini diberikan, negeri Cina bukanlah tempat "kaummu".. ;-). Ini artinya kita boleh belajar (baca: meniru) dari orang lain yang tidak seajaran dengan kita kan ;-)?

Kembali ke intinya: merayakan kasih sayang itu baik atau jelek? Kalau setuju bahwa hal itu baik, ya.. mari kita rayakan seperlunya tanpa meributkan asal-usulnya ;-)

Belated Happy Valentine's Day!

UPDATE 17 Februari 2007:

Ngomong2, tiba2 gw ingat analogi yang lebih tepat untuk kasus Valentine ini. Mudik Lebaran ;-). Asal muasalnya mudik adalah karena dalam Idul Fitri kita saling bermaafan dan bersilaturahmi. Karena tinggal berjauhan, jarang bisa pulang, maka lebaran dijadikan legitimasi untuk bisa pulang kampung. Akhirnya, setiap lebaran terjadi eksodus besar2an ke kampung halaman. Akhir2 ini, temen2 gw yg kalo lebaran rumahnya jadi nggak ada pembantu sama sekali, ikut2an mudik sekalian. Padahal dia nggak lebaran. Tapi.. kalau dia mudik, tidak lantas dia berubah agama kan ;-)? Just a naughty thought of mine ;-)