Saturday, February 17, 2007

The Girl who doesn't want to Walk with God

Lantaran Mbak Evy cerita tentang spelling bee disini, gw jadi ingat sebuah film yang belum tuntas gw tonton. Judulnya Bee Season. Waktu itu gw hentikan menontonnya karena ngerasa ceritanya kurang asyik. Mungkin karena gw merasa tertipu oleh sinopsisnya, yang mengindikasikan bahwa film ini bertema psikologi - dengan menyebut "divert their emotional frustrations into secret channels" dan "what have been stable dynamic within family becomes disrupted".

Hehehe.. dari sinopsisnya, kesannya film tentang keluarga patologis banget kan? Makanya, bete banget ketika sampai setengah film kepatologisan dan kepsikologisannya gak muncul dgn jelas.

Ternyata, memang ceritanya bukan tentang sisi psikologis sebuah keluarga. Inti ceritanya lebih pada interaksi spiritual seorang anak kecil (Eliza Neumann) dengan Penciptanya. Keadaan keluarga, lebih merupakan latar belakang untuk membangun cerita saja. Tema ini baru terungkap jelas di akhir cerita, sekitar 25 menit terakhir - dimulai saat Eliza kecil mengalami kejang dan pingsan setelah membaca The Ancient Book of Kaballah, hingga dengan sengaja membuat dirinya kalah dalam babak penentuan kejuaraan mengeja nasional.

Untuk mengerti konteksnya, mungkin gw cerita sedikit tentang alur cerita film ini.

Ketika Eliza memenangkan babak demi babak spelling bee (= perlombaan mengeja) dan menjadi pemenang termuda dalam sejarah, ayahnya merasa bahwa Eliza mungkin adalah The Chosen One. Ayahnya memang mendalami kaballah, bagian dari Yahudi yang percaya bahwa sebagian manusia terpilih diberi "jalur khusus" untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Orang2 ini, the chosen one (kaballist), secara harafiah bisa berkomunikasi langsung dua arah dgn Tuhan. Kurang lebihnya, the chosen one ini menjadi seperti Nabi, karena mereka dipercayai "walk with God" (dalam arti harafiah).

Semakin tinggi babak yang dimenangkan Eliza, semakin yakin sang ayah bahwa anaknya adalah seorang kaballist. Dengan persiapan2 menuju kejuaraan nasional, terjadi banyak perubahan pada keluarga yang masing2 anggotanya punya luka batin ini. Kestabilan semu yang tercipta dalam keluarga perlahan2 runtuh, dan Eliza menyalahkan dirinya sebagai penyebab. Dalam kalutnya, dia ingat ayahnya pernah menunjukkan buku kaballah kuno; yang kata2 di dalamnya reach the ears of God. Dibacanya buku itu, dan kejang (lantas pingsan) lah dia.

Adegan selanjutnya dia sengaja salah mengeja pada babak penentuan kejuaraan nasional. Sengaja, karena "origami" adalah kata yang sudah pernah diejanya berulang kali. Pun, saat akan mengeja "origami", Eliza mendapat vision berupa burung yang terbang ke atas huruf2 yang benar. Tetap saja, dia mengucapkan huruf terakhir sebagai "Y", walaupun dia tahu dan sudah mendapatkan petunjuk spiritual bahwa huruf terakhir adalah "I".

Yang menarik adalah alasan yang dikemukakan dalam narasi seusai kekalahan:
"My father told me once that I could reach the ears of God; that words and letters will guide me to reach beyond myself, to know the world all we can't. And like the mystic, God will follow through me.. And we'll be together"
Kalau gw nggak mendengar dengan seksama narasi terakhir ini, mungkin gw akan tetap menganggap film ini membosankan dan nggak jelas. Mungkin gw juga akan terjebak menjadi penulis sinopsis film yang menganggap film ini adalah film tentang keluarga patologis. Terjebak dengan definisi gampang bahwa Eliza sengaja kalah karena dia cinta pada keluarganya dan menganggap kekalahan sebagai jalan terbaik untuk mengembalikan kestabilan keluarga. Seperti tagline standard yang dipakai untuk film ini: Words may define us, but it's love that connects us.

Tapi.. lantaran narasi terakhir di atas, gw akhirnya menganggap film ini insightful. Ini bukan film yang menceritakan cinta terhadap keluarga - terlalu dangkal untuk menyangkanya begitu - tapi merupakan film tentang pencapaian spiritual seorang individu.

Somehow, gw menganggap Eliza mundur karena something happens during her unconsciousness. Kejang dan pingsan itu adalah trance yang membawanya ke alam lain, dimana dia mendapatkan suatu insight. Apa sebenarnya insight yang didapatnya, kita tidak tahu. Bisa jadi dia mendapatkan petunjuk bahwa dia benar2 the chosen one, dan sengaja membuat dirinya kalah sebagai bentuk penyangkalan. Bisa jadi dia mendapat petunjuk bahwa dia bukan the chosen one, bahwa kemenangannya adalah kemenangan manusia biasa, dan karenanya memutuskan untuk kalah sebelum dirinya benar2 "dikultuskan". Atau bahkan insight yang lebih sederhana: bahwa benar/tidaknya dia the chosen one adalah rahasia Tuhan yang tidak boleh diutak-atik manusia, dan selama ini keyakinan ayahnya sudah cukup merupakan campur tangan yang terlalu besar terhadap rahasia Tuhan. Apa pun insight yang didapatkannya, hal itu membuat Eliza memutuskan untuk berhenti. Dia tidak mau [dianggap oleh manusia lain sebagai] walk with God, be together with God, and become the vessel where God follow through.

"Kerendahan hati" ini yang membuat film ini sangat menarik buat gw. Biasanya, manusia yang sudah ada di puncak tidak tahu kapan harus berhenti. Sekali sudah menuju puncak, dia tak bisa berhenti sebelum conquer all. Di suatu titik, manusia bisa merasa menjadi yang paling hebat bahkan tak jarang merasa lebih hebat daripada Tuhan. Menarik sekali betapa Eliza kecil punya kerendahan hati untuk memutuskan berhenti - entah karena merasa terlalu kecil untuk berada di dekat Tuhan, sadar bahwa ada hal2 yang tidak boleh dicaritahu lebih jauh, atau karena supaya tidak dikultuskan oleh manusia lain.

Film ini membuat gw teringat alasan seorang teman penulis untuk menyembunyikan identitas dirinya. Tulisannya bagus dan "dalem banget", sangat sarat filsafat dan read between the lines dari berbagai agama2 besar dunia. Sayang, dia tidak suka orang tahu siapa dirinya. Alasannya sederhana: dia ingin orang fokus pada tulisannya, bukan pada siapa penulisnya, karena dia tidak ingin orang berpikir bahwa dia punya esoteric knowledge atau "jalur khusus" menuju Tuhan. Dia tidak ingin dikultuskan.

Senang sekali melihat masih ada orang2 seperti ini di dunia. Orang2 yang tahu kapan harus berhenti. Semoga gw bisa menjadi seperti mereka, dan.. jika (mudah2an tidak akan pernah) suatu hari kelak langkah gw salah, orang2 ini akan menjadi mercusuar yang menunjukkan jalan yang benar.