Friday, September 08, 2006

Buruan Prospek Gue!

Saat seorang teman ngajak ketemuan, katanya ingin minta pendapat tentang sesuatu, gw sudah menduga pasti ada hidden agenda. Dugaan makin kuat ketika dia bersedia memundurkan waktu pertemuan karena gw lagi padat acara. Tapi dasar gw tuh orangnya MTA (=mau tauuuu aja.. ;-)), tetap aja gw jabanin ketemuan. Pingin tahu juga apakah ada yg baru dari strategi mereka.

Seperti yg gw duga, pertemuan kali ini tak lain tak bukan adalah untuk memprospek gw ikutan MLM. Teman ini adalah orang ke-4 yang memprospek gw dalam 2 tahun terakhir. Seperti ketiga pendahulunya, teman gw masih menerapkan modus operandi yang sama: Pertama ngobrolin kabar. Lalu ngobrolin keinginan/rencana dalam 2-5 thn terakhir, sambil casually nanya: loe gak pernah kepikir mau berhenti kerja? Habis itu nunjukkin quadrant bekerja-untuk-uang vs. uang-bekerja-untuk-kita. Dilanjutkan dengan menggambarkan deret ukur keuntungan yang menggiurkan dari the so-called-teamwork ini. Trus.. mulailah penjabaran produk2 dengan segala kelebihannya, dan presentasi ditutup dengan cerita tentang betapa gampangnya melakukan itu semua. Cukup dengan langkah2 mudah: tentukan cita2/alasan untuk memotivasi, buat daftar nama orang yg potensial, buat janji dengan orang itu, presentasi, dapatkan member yg aktif, dan.. voila! Anda nggak harus kerja keras lagi karena uang yg bekerja untuk Anda.

Well, sebenernya gw gak anti sama MLM. Gw menerimanya sebagai salah satu bentuk pemasaran kok! Dan gw juga gak sebel2 amat karena diprospek sama temen. Gw sih seneng2 aja karena diprospek biasanya sama dengan ditraktir.. hehehe.. Tapi.. sejauh ini emang segala presentasi MLM-ers itu belum bisa meyakinkan gw tentang kelebihan MLM. Jadi.. boro2 gw tertarik ikutan, yang ada gw pingin ngajak berdebat melulu.

Apa sih yg bikin presentasinya MLM belum bisa meyakinkan gw?

Yang pertama dari materi presentasinya itu sendiri. Menurut gw terlalu banyak logika yg bolong. Seolah2 semuanya mudah; bikin daftar, bikin janji, dapat member, lalu member itu cari member lagi, teruuusss begitu, sehingga kita bisa ongkang-ongkang kaki. Padahal, berapa sih probabilitas keberhasilannya? Berapa probabilitas berhasil bikin janji? Dari keberhasilan bikin janji, berapa probabilitas dapat member? Dari keberhasilan dapat member, berapa probabilitas dapat member yg aktif cari downline baru? Dari member yang aktif, berapa probabilitas bahwa mereka nggak akan burn-out atau angin2an? Gw hitung2.. probabilitas keberhasilannya kecil banget. Tapi.. di presentasi digambarkan seolah2 probabilitas keberhasilannya besar sekali; bahwa yg gagal hanya karena mereka kurang ulet. Well, gw gak suka diberi presentasi yg too good to be true. Gw ngerasa [maaf] di-bego-in dengan diberi data yg seperti ini.

*sorry dory memory, gw bukan jenis orang yg bakal percaya aja bahwa angka kemiskinan di Indonesia menurun kalo gw belum yakin data itu benar. Apalagi kalo data itu jelas2 bisa diragukan ;-)*

Yang kedua, gw nggak sreg dengan jawaban semua pemrospek atas segala pertanyaan gw tentang angka probabilitas ini. Tiap kali gw mempertanyakan hal itu, selalu jawaban yg gw terima adalah: semuanya tergantung orangnya. Kalau rajin, pasti bisa berhasil. Yang penting memperbesar peluang dengan terus menerus bikin janji, bikin presentasi. Ini bisnis yg bisa dilakukan semua orang kok. Nggak semua orang pintar yang titelnya tumpuk2 bisa berhasil di bisnis ini, tapi sebaliknya nggak semua ibu rumah tangga yg gak pernah bisnis bakal gagal di bisnis ini. Well, jawaban ini bener2 menohok sisi ke-psikolog-an gw.. hehehe.. WOOOIII, setiap orang adalah unik, nggak ada kerjaan yg bisa dilakukan oleh siapa aja dengan sama bagusnya. Konsepnya the right man in the right place [position], rite? Nggak pernah ada konsep anybody with the right effort buat sebuah posisi.

Bokis banget ah! Jelas2 kerjaan sebagai MLM-ers itu membutuhkan interpersonal skill dan communication skill (terutama persuasive skill) yang tinggi. Mana bisa the loner yg saklek seperti gw akan berhasil? Mana bisa gw yg selalu bersikap take it or leave it kalo udah berhubungan sama orang lain ini diharapkan membujuk2 dengan sabar?

Yup, tentu saja gw bisa belajar. Tapi.. plis deh ah! Untuk setiap keberhasilan gw, akan banyak natural players yg lebih berhasil. And you told me that I have the same chance with them to reach the top? Ah.. bercanda! Yang ada gw cuma bakal jadi anak tangga para natural players itu.

Yang ketiga, gw gemes banget dengan strategi pemasaran MLM yang tidak pernah berubah. Dari masa ke masa, pendekatan mereka gak beda dari slogan Teh Botol Sosro: siapapun orang yg diprospek, cara memprospeknya begini. Well.. ini benar2 melecehkan sisi marketing researcher gw.. HAHAHA.. Duuuh, tiap hari gw mencari sesuap nasi dengan ngurusin klien2 gw memastikan strategi pemasaran mana yg paling berhasil. Entah packaging mana yg paling OK, format produk mana yg paling sip, iklan mana yg paling potensial.. Satu hal yg gw pelajari dari kerjaan gw: setiap kelompok manusia membutuhkan pendekatan yg berbeda. Kalau kita mau orang beli produk kita, kita harus tahu kebutuhan mereka apa, dan berusaha membuat produk kita bisa membangkitkan sisi tersebut.

Hehehe.. yang gw amati dari MLM ini adalah: mereka memang diajar untuk jadi sales promotion person. Metodenya masih nggak jauh2 dari carrot and stick; dengan iming2 tahap uang-bekerja-untuk-kita sebagai carrotnya. Pingin makan wortel? Ya kerja rodi sana.. hehehe.. Mereka tidak diajar untuk menjadi brand/marketing manager; tidak diajar dan dimodali untuk mengenali target marketnya sehingga bisa menyusun strategi pemasaran yg tepat. Lihat saja dari video sesi2 sharing mereka; selalu hanya penuh dengan kisah2 sukses, kisah2 yg bisa memotivasi, tapi.. minim pengetahuan marketing.

*well.. setidaknya itulah yg gw lihat dari sekilas beberapa VCD yg dipinjamkan teman gw. Lagi2 ngomongin pipa dan ember. Lupa kali ye, bahwa sebelum bisa memutuskan bikin pipa atau pakai ember, yang terpenting adalah MENGENALI SUMBER AIR.. hehehe.. Mau jago bikin pipa, kalo bikinnya di padang pasir, tetap aja nggak dapat air.. ;-)*

Yang terakhir, sejauh ini semua pemrospek gw itu masih nggak bisa menjawab pertanyaan gw yg paling mendasar: kenapa MLM enak diikuti dan perlu?

Kalau gw tanya begitu, jawabannya masih klise. Mulai dari janji atas kebebasan finansial dan kebebasan waktu, bisa belajar banyak dari MLM, sampai jawaban yang agak filosofis:

Gw nggak bisa jawab, karena yang bisa jawab loe sendiri. Gw cuma bisa nyaranin loe datang ke malam sharing dengan pikiran yang terbuka, jangan dipenuhi prejudice dulu terhadap bisnis ini. Pasti ada yg bisa loe pelajari dari sini.

Hmm.. kalau gw belum kenal bisnis ini dan tidak mengenal karakteristik kepribadian gw, philosophic-answer-wanna-be ini tentu cukup menarik buat gw. Tapi sayangnya, gw sudah cukup lama mengamati bisnis ini, sudah sering diprospek, dan sudah mengenal karakteristik diri gw yg gak cocok sama bisnis ini. Gw butuh sesuatu yg lebih greng buat bikin gw tertarik ;-)

Akan halnya tentang kebebasan finansial dan kebebasan waktu.. well.. bukannya gw nggak pingin kaya. Uang memang tidak dapat membeli segalanya, tapi bisa membeli 99% dari segalanya, ya kan ;-)? Tapi.. semakin dipikir2, gw semakin nggak yakin bahwa gw menginginkan hal itu. Gw malah takut gw bakal bingung dan kehilangan makna hidup kalau segenggam berlian sudah di tangan tanpa gw harus mengais2 sesuap nasi.. hehehe.. Apa fun-nya hidup, kalau problem terbesar yang harus gw putuskan adalah (mengutip Intan di Fenomena Literatur Anak Ayam): mendingan pakai stiletto dan jeans CK, atau rok midi suede Prada dipadu dengan boots kulit selutut ;-)? Biarpun tiap hari gw nyumpah2, kayaknya hidup gw lebih bermakna karena I am just a desperate housewife living on the hysteria line ;-).

Well.. anyway, seperti gw bilang tadi, gw gak anti-MLM. Jadi.. kalau ada yg mau memprospek gw sih silakan aja. Tapi, kalau boleh saran: mendingan enggak deh.. ;-) Even jika ada yg bisa memberi gw jawaban telak atas 4 pertanyaan di atas, gw belum tentu mau menurunkan kualitas hubungan pertemanan menjadi hubungan bisnis. Gw tipe orang yg gak suka bisnis sama teman. Klien dan rekan bisnis boleh jadi teman, tapi kalau sudah jadi teman.. ngapain gw pertaruhkan hubungan demi bisnis?

---

PS: buat kamu.. *iya kamu.. yang Rabu kemarin nraktir gw secangkir espresso dan segelas fresh lime squash* terima kasih atas tekadnya untuk menjadikan gw benchmark kesulitan tingkat tinggi dalam memprospek ;-) Tulisan ini sengaja diposting untuk menjadi referensi tentang bolong2 yang masih harus dibenahi dari bisnismu. Semoga sukses ya ;-) Jangan mau cuma jadi kaum di dasar piramida; kelompok orang yg cuma caos dahar (=memberi upeti) untuk orang2 di level yang lebih tinggi ;-)