Wednesday, November 30, 2005

Gw & Revolusi

Bermula dari perkenalan di suatu cyberworld dgn seseorang yg pakai ID dari sebuah buku terkenal karangan seorang mantan ta-pol. Ternyata bacaannya banyak juga, dan dengan cepat kami menjadi akrab. Sampai suatu hari dia bertanya via YM: Apa film favoritmu? Dengan fasihnya gw menyebut berbagai film yg gw suka: Dead Poets Society, Schindler’s List, Life is Beautiful, The House of the Spirits..

Nah! Di situlah masalah berawal ;-p.

“House of  Spirits? Film tentang revolusi Chile itu?”

“Iya, ceritanya di jaman naiknya Allende, yang didasarkan dari bukunya Isabel Allende,  walaupun nama Allende tidak pernah disebutkan di film itu. Kenapa?”

“Enggak, jarang aja ada orang yg nyebut House of the Spirits sebagai salah satu film favorit. Apalagi perempuan. Mudah2an bukan hanya karena ada Antonio Banderas di situ”

“Menghina banget sih loe! Kalo hanya ngejar Banderas doang mah gw seneng nonton Zorro, Desperado, ..  Banderas mah yg sexy di Zorro, di House of the Spirits kan sempat digebukin sampai bengep!”

Dari situlah dia bercerita, bagaimana House of the Spirits itu merupakan inspirasi baginya dan bagi teman2nya untuk memperbaiki kehidupan Indonesia. I spent the next one hour ooh-ing and aaah-ing to his story.  Bingung juga gw mau komentar apa ;-p, karena sebenernya gw suka film itu karena dinamika hidup dan perkembangan pribadi masing2 tokohnya, bukan karena ada keberhasilan revolusi radikal di situ. Gw lebih tertarik melihat bagaimana Esteban Trueba menjadi tokoh yg keras, bagaimana Clara menjadi penyeimbang antara suami dan anak, bagaimana anak haram Esteban Trueba sangat dendam (tapi sekaligus gak bisa benar2 mencelakai) si cantik Blanca. Pendeknya, gw lebih tertarik unsur psikologisnya, bukan unsur sejarah dan revolusinya, seperti anggapan teman gw itu.

Well, gimana ya? Gw sendiri sebenernya fine2 aja dengan pandangan2 seperti yang dimiliki teman gw itu: bahwa Indonesia bisa diperbaiki dengan revolusi. Tapi gw sendiri dari dulu lebih seneng dengan evolusi. Gw lebih percaya bahwa perubahan yg kecil2 in the long run akan lebih baik dari perubahan serentak yg buru2.

Temen gw itu mengajukan contoh sebuah revolusi: berhenti menerima bantuan dari IMF, ganti pemerintah, dan berikan kembali subsidi pada rakyat. Well, gw sih setuju dengan ide kembalikan subsidi kepada rakyat. Tapi digabungkan dgn menolak bantuan IMF dan mengganti pemerintah? Menurut gw itu akan create masalah baru.

Idealnya, hal itu emang bagus sih. Manusia kan memang punya kemampuan untuk beradaptasi, jadi sebenernya kalo kita bikin revolusi, akan terjadi kondisi yg menantang survival instinct kita. Even kalau pemerintah yang baru gak beres pun, kalau hidup kita tambah susah krn gak ada bantuan pun, the fittest will survive. Dan dengan para survivors itu mungkin kita akan bisa membangun Indonesia yang baru.

Tapi gw kok masih gak tega ya, memikirkan kemungkinan kenyataannya. Bayangkan, dengan menolak bantuan negara lain, sudah tentu kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Itu saja (untuk saat ini) tampaknya akan susah, apalagi untuk mengembalikan subsidi ke rakyat? Bisa2 malah rakyat hidup tambah terbebani. Apalagi kalau pemerintah baru yg kita pilih salah, atau tidak bisa berbuat apa2 karena mau gak mau harus pakai orang2 lama juga untuk lapis kedua atau ketiga. Alih2 ngembaliin subsidi ke rakyat, malah makin banyak aja yg hilang dari rakyat. Atau anggaplah pemerintah yang baru ini baik, dan entah bagaimana akhirnya kita bisa mengembalikan subsidi ke rakyat. Nah.. kan gak serta merta begitu rakyat dikasih subsidi lantas mendadak sontak jadi pinter dan siap membangun? Masih butuh beberapa generasi lagi untuk bisa berada di tahap siap membangun.

Nah, selama perbaikan generasi itu, banyak hal yang bisa terjadi. Banyak hal yg nggak bisa kita prediksi. Bener gak sih?

Temen gw itu berkeras bahwa melakukan revolusi itu (walaupun resikonya besar banget) lebih baik daripada gak melakukan apa2. Sebenernya gw setuju bahwa tidak melakukan apa2 adalah kondisi yang terburuk. Tapi apakah benar bahwa melakukan revolusi tanpa sebuah perhitungan matang adalah lebih baik?

Kalau gw sih lebih setuju untuk melakukan evolusi. Memperbaiki kualitas orang per orang, menyiapkan orang per orang, sehingga kalaupun nanti akan ada revolusi, orang2nya udah siap. Nggak kemaruk dan aji mumpung sehingga merugikan orang lain. Nah.. sekarang, lha wong masih banyak dari kita yang nggak menghargai hak orang lain di ruang public (misalnya: merokok di dalam mikrolet dengan alasan ini tempat umum dan semua orang berhak sesukanya), apalagi kalo ada revolusi yang membuat segalanya sulit dikontrol. Apa gak semua lantas mau cari untung sendiri, dan akhirnya malah membuat masalah yang lebih besar?

Jadi, kalau gw sih setuju sama Mister Goodmorning: membuat dunia (sedikit demi sedikit) lebih baik dengan perbuatan2 kecil dari tangan kita sendiri. Gak perlu apologia dengan berbagai macam jenisnya. Right, sir?

Saturday, November 26, 2005

Trust

Weekly management meeting yang biasanya hanya kurang dari 1 jam, kali ini mulur hingga 3 jam lebih. Pasalnya ada salah satu tim yang curhat, lantaran baru saja bermasalah dengan projectnya. Masalah klasik: ada fieldworker (= petugas pengumpul data kuantitatif atau perekrut calon responden kualitatif) yang melakukan kecurangan. (note: Gw sebut ini masalah klasik karena memang inilah masalah yang muncul dalam kehidupan researcher sehari2. Yaaaa, setara lah dengan resiko seorang pedangang telur mendapatkan pasokan telur busuk/pecah, atau pedagang ayam terima unggas yang ternyata terinfeksi flu burung)
 
Nah, karena ini masalah klasik, masalah ini juga sudah diantisipasi dengan berbagai hal. Kita gak pernah terlalu mepet ngambil sample (jadi selalu bisa clean up data tanpa mengurangi jumlah data), kita punya tim QC yg gak boleh berinteraksi dengan field department (supaya hubungan mudah2an bisa lebih profesional, karena tim QC tugasnya men-DO-kan data yang buruk), dan kalau pun sampai kejadian ada data busuk yang melewati ayakan berganda itu kami juga selalu siap dengan skenario terburuk: mengumpulkan data ulang.
 
Dalam weekly management kali ini pun kami meng-acc biaya dan waktu bagi tim tersebut untuk mengulang sebagian proses pengambilan data. Tapi bukan itu yang membuat teman gw itu curhat. Yang bikin dia sedih adalah bahwa kecurangan itu terjadi di depan mata kliennya sebelum kami sempat mengambil langkah penyelamatan. Dengan demikian kepercayaan yang telah terbangun antara si klien dengan si pemegang account menjadi rusak.
"Bayangin! Gw ngebangun kerjasama dengan klien itu 4 tahun! Dari tahun 2001 gw baru dapat proyek2 gak penting untuk brand2 mereka yang kecil. Lantas meningkat, kita diberi kepercayaan dengan brand lebih besar dan objective  yang lebih sulit. Dan selama 1 tahun terakhir ini kita bisa bilang bahwa mereka salah satu safe account kantor ini. Tiba2 saja semua kepercayaan yang telah terbangun ini dirusak oleh sebuah kecurangan! Hilang sudah kepercayaan mereka!"
Ya, kepercayaan memang sebuah barang yang tak ternilai harganya. It takes years to build up trust, but it takes only suspicion, not even proof, to destroy it. Gw selalu ngebayangin trust itu seperti seorang anak. Sepasang suami istri nggak pernah bisa memastikan kapan mereka mendapatkan anak. Bisa dalam hitungan bulan, bisa dalam hitungan belasan tahun. Dan begitu anak itu lahir, sebenernya the story just begins.  Sedikit kesalahan kecil aja bisa membuat dia hilang dari kita. Apalagi kalau kita melalaikan dia!
 
Dan gw ngerti banget bagaimana perasaan temen gw itu. Kemungkinan hilangnya account itu merupakan kesedihan, tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah penyebab kehilangan itu. Kehilangan sesuatu karena kita dianggap tidak mampu, bukan karena ada yg lebih mampu dari kita. Kehilangan sesuatu karena kalah dari diri sendiri, bukan karena ada yang lebih baik daripada kita.

Wednesday, November 23, 2005

Penasihat Cinta

KORBAN 1:

From: Ale [mailto: ale@xxx.com]
Sent: Friday, November 11, 2005 12:34 PM
To: mayanoto@xxx.com
Subject: Undangan Pernikahan

Sorry yah ngundangnya pake Email, this is an invitation for my wedding:

Venue: Ritz-Carlton at Mega Kuningan, Lt.2 Grand Ballroom

Date: 19 November 2005, 19.00-21.00

Please try to make it! Don’t think that because the invitation is through Email that you are less important...in fact I think this is more personal....so looking forward to see you there!!!

KORBAN 2:

 

You currently appear offline to shinichi_kudo:

 

shinichi_kudo: Cuma mau ngabarin bahwa gua sekarang udah punya pacar.

shinichi_kudo: Namanya Ran, gua memanggilnya yayang

shinichi_kudo: Jadi penasihat cinta gua bisa istirahat sekarang

 

Dari dulu gw suka berperan sebagai penasihat cinta. Korban pertama gw adalah sahabat gw sejak SMP. Sejak jaman SMA, kuliah, sampai kerja, kita berdua sering lupa waktu kalo udah ngobrolin cinta. Bisa telfon2an sampai jam 3 pagi untuk ngebahas maksud seorang cowok (hehehe.. jadi inget sebuah buku yg pernah dibahas Oprah di show-nya: He is Just Not That Into You)

Dua korban terkini adalah cowok2 di atas. Yang pertama, sebut aja namanya Ale (tentu bukan nama sebenernya, tapi emang dia sebelas duabelas lah sama suaminya Nia Zulkarnaen). Ale tuh mantan temen sekantor gw. Mantan istrinya dulu temen gw di almamater tercinta.

Waktu the marriage did not last, Ale jadi suka curhat ama gw. Dia bisa berjam2 duduk di ruangan gw, bicara tentang cinta, the purpose of life, bikin puisi cinta, nunjukkin puisi cinta ke gw, nge-donlot puisi2nya Rumi.. Ya sebagai temen sih gw dengerin, bantu sebisa gw, kasih saran, kasih dorongan, kasih tips.. Dan gw lonjak2 gembira ketika akhirnya Ale memulai hubungan dgn Nia (tentu aja bukan nama sebenernya juga, tapi kalo suaminya Ale, kan istrinya cocok dikasih nama Nia ;-p)

It takes 2 years for Ale and Nia to finally bind their love in marriage! Dan pernikahan itu terjadi Sabtu lalu di Ritz Carlton. Aaah.. gw ikut seneng banget!

Korban gw yg kedua, sebut aja namanya shinichi_kudo, adalah brondong jagung yang manis. Status jomblo-nya udah lumayan lama. Dan ketika akhirnya beberapa bulan lalu dia kasih hint bahwa dia punya ‘project Kakap’, langsung aja gw angkat diri jadi penasihat cintanya. Tadinya si shinichi_kudo ini sempat maju mundur gak berani nembak. Sampai YM-YMan sepanjang sore ngebahas ini. Sekali lagi, yang namanya tips dan encouragement itu penting ya.. ;-p.

Puncaknya, kemarin gw nemu offline message di atas dari dia! Finally, he did it!

Well, buat dua pasangan baru: congrats, congrats, congrats! Kepuasan tersendiri buat gw untuk melihat kalian akhirnya menemukan pasangan masing2.  

Buat Ale, moga2 yg sekali ini awet sampai beranak cucu! Gw yakin loe udah banyak belajar dari kegagalan masa lalu. Hehehe, setumpuk Rumi dan Gibran yg kita baca itu jangan pernah dilupakan ya.. ;-p. Plus semua kontemplasi kita di masa itu ;-p.

Buat shinichi_kudo, moga2 bisa meningkat ke jenjang yang lebih tinggi ya! Mancingnya susah, jangan gampang2 dilepas! (dan yg jelas: meyakinkan loe bahwa yg penting mancingnya, bukan dapat ikannya per se itu susah ya ;-p)

Dan buat kedua pasangan yang berbahagia, sebuah lagu manis:

Cinta

Tebarkan cinta kasih di dunia

Karena cinta maha dasyat dan sang mahadaya

Penasihat Cinta log out until further assistance is needed!

(tapi mudah2an gw gak akan pernah perlu sign in lagi, alias further assistance will never be needed ;-p)

Post-script: sekarang gw punya problem nih.. setelah dua project selesai dalam minggu yang sama, kisah cinta siapa lagi yg bisa gw obok2? Ada korban baru?

Sunday, November 20, 2005

BELAHAN JIWA: Komentar Teoritis

Kalo tentang film best seller, gw biasanya percaya sama judgment-nya Popsie. Jadi gw gak perlu nonton lagi. Tapi waktu dia recommend Belahan Jiwa dgn embel2 bahwa itu filmnya Mbak Maya banget, hmm, sekali ini gw jadi tergelitik. Emang seperti apa sih film-yg-Mbak-Maya-banget itu? Jadi pas Iwan ngajak nonton bareng2 (tadinya mo ngajak Irfa, Linda, dll), langsung aja gw sambut gembira. Lagian udah lama gak berkegiatan bareng anak2 N&A.

Begitu filmnya dibuka, gw udah langsung ngerasa ngerti jalan ceritanya. Empat sahabat yg katanya belahan jiwa itu pasti bagian dari kepribadian majemuk. Dari judul film dan embel2 psycho-drama aja udah ketebak! Nah, gw udah siap2 mo tidur deh! Sampai tiba2 Dian Sastro muncul, hujan2an bawa lukisan.

Lukisan, pribadi yg bingung. Ring a bell? It's sooo Sybil and Billie Milligan. Dua tokoh nyata kepribadian majemuk ini dikenal awam suka melukis. Okay, let's see if there is anything good from this story..

First, the logic. Kalau ini adalah kepribadian majemuk, pasti ada pribadi utama, the real personality sebelum terbelah2. Pribadi itu harus kelihatan rapuh, bingung, ketakutan, dan (harusnya, krn ini fiksi) belum kenal dgn pribadi lainnya. Itu haruslah si Cempaka yg diperankan Dian Sastrowardoyo.

Next, bagaimana hubungan kepribadian lainnya? Harusnya ada pribadi yg dominant (seperti Peggy Lou di Sybil Dorsett, atau Arthur di Billie Milligan). Dan itu gw lihat di Khairo yg diperankan Rachel Maryam. Harusnya tokoh ini yg muncul secara dominan, mempengaruhi yg lain2. Tokoh pengambil keputusan, tokoh yg paling sering memegang kendali badan. Dan ya! Khairo ini pelukis. Dia digambarkan mengambil darahnya sendiri untuk mewarnai lukisannya. Dia juga yg memutuskan menggugurkan kandungannya. Tokoh2 lain, Baby Blue yg arsitek, serta Faryna yg perancang busana, pada dasarnya merupakan kepribadian turunan yg memiliki bakat sama: menggambar. Ini cocok dgn kepribadian dominan (Khairo) dan kepribadian asal (Cempaka). Sementara kepribadian Arimbi justru mungkin merupakan katup aspirasi semata, dan kepribadian Katryna dan Sofia mewakili perpecahan kepribadian di awal ketika terjadi pengalaman traumatis.

Next, penyebab trauma. Kekerasan seksual di masa kecil dan melihat ayahnya bunuh diri. Sahih.

Next, gejala fisiologis yg sama akibat perbuatan salah satu pribadi. Hal ini juga ditunjukkan dgn keguguran yg dialami seluruh pribadi ketika Khairo mengaborsi janinnya, serta bekas suntikan di lengan Cempaka akibat pengambilan darah Khairo. Not bad for a movie!

Terakhir, ketika Cempaka yg mati gantung diri secara otomatis mematikan pribadi2 yg lainnya.

Well, tentu aja bolongnya film ini banyak juga. Pertama, sangat tidak mungkin bahwa para pribadi itu tidak tahu mereka mengencani pria yg sama. Karena mereka berbagi tubuh, mereka justru akan saling tahu si Bumi itu siapa. Jadi adegan bahwa mereka baru tahu tentang Bumi di menjelang akhir acara itu gak mungkin terjadi.

Kedua, pengalaman hidup para pribadi dalam tubuh itu harusnya bersifat saling mengisi, bukan menjelma jadi kenyataan2 sendiri dalam waktu yg bersamaan. Jadi, gak mungkin Cempaka hidup sebagai perancang, pelukis, dan arsitek sekaligus. Juga gak mungkin masing2 tokoh punya pengalaman berbeda dalam mengetahui dan menyampaikan kehamilannya. Masing2 proses harus dilalui satu kali saja. Jadi bisa saja Faryna yg muntah2, lantas Arimbi yg pakai test pack, tapi gak mungkin bahwa Khairo dan Baby Blue masing2 menyampaikan kabar itu pada Bumi. Hanya salah satu yg bisa menyampaikan, krn hidup mereka yg nyata tidak paralel antar pribadi.

Tapi di akhir cerita, gw menemukan jawaban KENAPA bolong2 ini muncul. Ternyata karena kesalahan pemahaman, seperti yg tergambar pada dialog si psikoterapis yg diperankan Indah Kalalo dgn si Bumi: OTAK CEMPAKA MENCIPTAKAN KEPRIBADIAN2 LAIN UNTUK MENGATASI TRAUMANYA. Inilah letak kesalahannya, yaitu kepribadian2 tersebut dianggap sebagai kepribadian bayangan yg dibentuk otak. Sebuah ilusi, sehingga yg ada adalah kehidupan paralel antara masing2 pribadi, bukan sebuah sequence yg dikuasai oleh pribadi yg berbeda.

Padahal kepribadian majemuk itu tercipta dari pembelahan jiwa, bukan dari persepsi otak belaka. Ibaratnya raga kita ini adalah cawan mikroba, yg memuat satu amuba (=binatang bersel satu). Karena trauma (misalnya, kalo di cawan ini adalah benturan keras), maka amuba itu akan membelah diri. Hasil pembelahannya itu akan tumbuh sendiri. Maka di cawan ini sekarang tidak lagi hanya ada satu amuba, tapi dua amuba. Dua amuba ini memang hidup sendiri2, tapi kalo cawannya dipindah ya dua2nya pindah. Gak bisa satu pindah, satu gak dipindah. Itu sebabnya kehidupan nyata mereka adalah sequential, bukan paralel.

Walaupun banyak kekurangannya dari segi teknis dan teoritis, untuk ukuran film, bolehlah dijadikan tontonan alternatif .. ;-p

Wednesday, November 16, 2005

Laki2 di Kedai Kopi

He was a kind of hero in my teenage life. Enam tahun lebih tua dari gw, dia tempat gw belajar berbagai hal: dari akademis sampai tentang kehidupan. Si sanguinis yang pintar ini! Dulu gw senang sekali berada di dekatnya, karena dia adalah everything I cannot be.

Sudah 10 tahun lebih gw nggak ketemu dengan dia, sejak dia pindah ke Sorong (Papua) untuk mencari jati dirinya: mencoba hidup dengan kedua tangannya saja, tanpa embel2 ahli madya sastra Inggris yang lulus cum laude ataupun sarjana psikologi. Sebelumnya, dengan heroik dia membakar kedua ijazah yang dia peroleh dari the-so-called reputable university itu sebagai bentuk protes terhadap segala (meminjam bahasanya) kemunafikan di dunia akademis.

Dan karena kangen pada sosok inilah gw bener2 berniat mencari dia di Medan pas beberapa bulan lalu. Susah payah gw telusuri nomor teleponnya, dan ketika nyambung, minta ijin berkunjung ke rumah dan nanya alamat rumahnya, jawaban si abang ini adalah:

“Rumah aku dekat Erik Travel. Pokoknya kau naik taksi atau bemo, semua orang di Medan ini tahu Erik Travel di mana. Nah, di depan Erik Travel itu ada kedai kopi. Kau tanyalah di kedai kopi itu rumahku yang mana. Semua orang tahu rumah aku.”

(Jawaban yg bikin gw ngakak abis ;-p! Masih si abang yang dulu juga, gak pernah mau repot2 dalam segala hal, apalagi dalam memberikan informasi. Saking gak mau repot, dulu dia gak mau makan udang dan segala macam buah karena males ngupas ;-p)

Dengan diantar salah satu anak kantor Medan, Soritua, naik kereta (= sepeda motor, bahasanya anak Medan), akhirnya gw nemu juga Erik Travel jam 21:00. Ada kedai kopi kecil di depannya. Dan sosok seseorang yg gw kenal membelakangi arah jalan. Lebih kurus dari 10 tahun lalu.

“Permisi, Bang?”

Sosok itu menoleh. Dan gw terkejut! Abang gw yang gagah, si macan pecinta alam itu, sama sekali tidak seperti bayangan gw. Waktu 10 tahun seolah berlipat ganda. Tapi senyumnya masih senyum abang gw yang dulu, dan matanya masih tajam, walaupun kini lebih teduh dan tenang.

Kami berbincang hingga jauh malam di rumahnya. Dan jam2 yang berlalu itu membuka tabir mengapa laki2 di kedai kopi itu sungguh berbeda dengan si sahabat lama di masa silam. Waktu dan pengalaman melembutkannya. Masih ada banyak yang yang tersisa dari heroisme dan idealisme masa muda, tapi sekarang dia sudah bisa membedakannya dari kekonyolan dan kekeraskepalaan yang tak perlu.

“Gw nggak perlu bakar ijazah untuk menunjukkan sikap gw, May! Mungkin, suara gw justru akan lebih terdengar lantang kalau gw pakai ijazah itu dengan cara lain. Kalau kita mau mem-brainwash orang, suara yang monotone-but-steady akan lebih berhasil dari ledakan keras yang hanya sekali.”

Ketika gw pamit, satu hal yg dia pesankan: “Everything changes, May, people changes. Jangan pernah menyesali perubahan yg terjadi pada kita, dan segala konsekuensinya. Besok telfon gw sebelum pulang ke Jakarta ya, May, siapa tahu gw belum berangkat narik angkot!”

Well, Bang, you were my hero because you bravely stated your opinion. Now, you are my hero because of the way you live the consequences of your action.

Friday, November 11, 2005

Bulan Bintang 2 Syawal 1426 H

Gw hanya ingin berbagi sebuah fenomena alam yang menarik buat gw.

Malam lebaran kedua, gw duduk di pendopo rumah eyang gw di Solo. Sendirian aja, segala macam hal yg selama ini gw simpan baik2 di alam bawah sadar (tsah!) bersliweran di benak gw. Jam 19:00, langit sama sekali gak berbintang, dan bulan belum muncul.

Tapi kira2 pukul 20:00, tiba2 bulan sabit muncul. Dan tak lama kemudian, satu bintang (hanya satu bintang!) muncul kira2 di atas lengkungan bulan sabit. Mirip dengan bulan bintang di kubah masjid.

Kemunculannya nggak lama, hanya sekitar 5 menit, kemudian keduanya tertutup awan. Makanya gw nggak sempat motret pakai digicam, hanya kebetulan motret dengan HP (makanya bulannya gak terlalu jelas, tapi percaya deh itu bulan sabit, bukan bulan purnama. Kan tanggal 2 di sistem penanggalan bulan).


Ini mungkin fenomena alam biasa. Tapi buat gw istimewa, karena ini pertama kalinya gw lihat bintang setelah bertahun2 (anak Jakarta gitu lhoww! Bintang udah kalah sama lampu Jakarta yang padat!).

Menjadi sangat istimewa karena gw lihat di malam 2 Syawal, masih dalam suasana kembali fitri. Dan terlihat sebentar ketika gw sedang dalam kontemplasi.

Belajar dari Star Trek

Dari kecil gw suka sci-fi. Gw inget waktu TK malem2 ngotot gak mau tidur nungguin Lost in Space. Lantas, pas agak gedean dikit, mulai nonton Quantum Leap, Voyager, Slider, Babylon V, Sea Quest, dan tentunya Star Trek.

Gw nggak ngikutin Star Trek: The Original. Tapi Star Trek: The Next Generation diputar pas gw udah mulai tertarik psikologi dan filsafat. Dan gw gw langsung jatuh cinta sama film ini: walaupun ini adalah sci-fi, tapi yg dibahas di tiap episodenya lebih menekankan pada masalah manusia, bukan teknologi. Dan gw belajar banyak tentang manusia, justru dari episode2 di Star Trek.

*note: mungkin itu juga yg bikin gw gak ngikutin The Original, karena logika gw belum nyampe ;-p*

Well, selama liburan lebaran kemarin gw ngabisin waktu nonton DVD Star Trek: the Enterprise (itu lhooow, yg belum diputar di TV Station mana pun walaupun udah beredar dari thn 2000 dan sekarang udah komplit selesai season 5 ;-p) . Episode yg gw tonton tadi malam judulnya Dear Doctor, bercerita tentang ras Valakians yg terserang epidemi. Enterprise yg mendarat di planet itu untuk membantu, menemukan bahwa ada dua jenis humanoid di planet itu: Valakians, humanoid yg superior, memiliki kemajuan di bidang teknologi, namun sekarang terancam punah oleh penyakit degeneratif, serta Menk, humanoid primitif yang dilindungi oleh Valakians, dan kebal terhadap penyakit degeneratif tersebut.

Dilema muncul ketika Dr Phlox (dokternya starship) menemukan bahwa Menk yang primitif itu menunjukkan evolusi kecerdasan dan potensi untuk menjadi ras superior di planet itu; sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika Valakians tidak punah. Dengan demikian si dokter menjadi ragu untuk memberikan obat bagi Valakians, karena dia takut itu akan menentang kehendak alam. Si dokter menganggap ini adalah pertanda bahwa alam menghendaki Valakians punah untuk memberi kesempatan bagi Menk berkembang. Sementara sang kapten punya pendapat yg berbeda: mereka punya kewajiban moral untuk menolong orang yg menderita jika mereka bisa. Dan dalam hal ini, Valakians adalah orang2 yg menderita.

Namun lantas si dokter mengajukan pertanyaan yang benar2 filosofis kepada si kapten (note: si dokter ini bukan manusia, tapi ras planet lain yg disebut Denobula):

Berjuta2 tahun yang lalu, di planetmu ada dua macam humanoids. Lantas seleksi alam memusnahkan Neandertalensis. Dengan punahnya mereka, nenek moyangmu bisa berevolusi sehingga menghasilkan engkau yang sekarang; seorang manusia, ras yang tidak kalah dengan ras2 lain di jagat raya. Bagaimana jika pada saat yang kritis, alien datang dan memberikan technology advantage pada Neandertalensis sehingga mereka tidak akan punah. Dimanakah kau akan berada saat ini?
Dan pertanyaan itu membuat si kapten kembali pada kesadaran bahwa mereka tidak datang ke planet itu untuk playing God, tidak datang ke planet itu untuk memberikan mukjizat yg menentang alam. Enterprise meninggalkan planet itu setelah memberikan obat penghambat penyakit (bukan penyembuh penyakit) bagi Valakians. Obat itu bisa membantu mereka bertahan hingga beberapa dekade; moga2 dalam jangka waktu itu mereka sudah menemukan obat penyembuh penyakit dengan upaya mereka sendiri, tapi jika mereka tidak berhasil menemukannya dalam jangka waktu itu, berarti mereka memang sudah seharusnya menyerah pada seleksi alam.

Gw terpesona dengan kisah di atas karena sangat dekat dengan kehidupan kita sehari2. Berapa sering kita ngotot untuk mempertahankan sesuatu yg sudah seharusnya hilang, bahkan kecewa pada Tuhan karena kehilangan sesuatu yg membuat kita menderita, dan menyalahkan ini-itu karena sesuatu yg penting itu hilang dari hidup kita. Padahal mungkin itu hanyalah bagian dari evolusi yg harus kita hadapi untuk berkembang.

Kadang kita merasa tahu yang terbaik, tanpa pernah tahu bahwa untuk mencapai yang terbaik itu kita masih harus melewati tahap yg kelihatannya sangat buruk.

Kadang kita merasa langit runtuh di atas kepala kita, tanpa sadar bahwa runtuhnya langit itu hanya sebuah jalan untuk melihat langit yg lebih tinggi.

Kadang kita mengharapkan mukjizat, tanpa pernah sadar bahwa berkah yg lebih baik telah datang pada kita dalam bentuk kesulitan yang harus kita taklukkan.

SELAMAT IDUL FITRI 1426H!

Tuesday, November 01, 2005

Lagu Pengetahuan yg Selalu Berkumandang

Masih ngantuk2, beberapa waktu lalu gw ditelfon pagi2 buta sama seorang sahabat lama. Anak keduanya yg baru lahir bakal pulang dari RS hari itu, dia harus bikin surat keterangan lahir, dan belum punya nama buat si bayi.
Bantuin gw cari nama dong, May! Bahasa Sansekerta, dimulai dengan huruf W ya! Biar inisialnya sama dengan abangnya.
(note: abangnya juga gw yg cariin nama. Adhrista, artinya keberuntungan dalam bahasa Sansekerta).
 
Temen gw ini sudah punya nama depan untuk si bayi: Ananta. Diambil dari kamus Sansekerta yg gw copy-in buat dia pas Adhri lahir. Ananta berarti terus menerus atau abadi. Nah, biar nyambung dengan kata Ananta, gw kasih beberapa alternatif nama perempuan dari huruf W.
  1. Widyautami: widya=ilmu pengetahuan, utami=yang terbaik
  2. Wiatiputri: wiati=berkepribadian, putri=wanita
  3. Wigatiningsih: wigati=bersikap/berlaku, ningsih=penuh welas asih
  4. Wardhani: wardhani=sejahtera (note: tadinya tempted mau nambahin kata Setya di depan kata wardhani, biar artinya tambah bagus: senantiasa sejahtera. Tapi ntar tumpang tindih sama Ananta, plus pesenannya kan nama berawal W)
  5. Waradewi: wara=utama
  6. dan beberapa nama lain
Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya kita sampai pada kata sepakat: Wasuwidya. Wasu itu artinya bejana. Jadi Ananta Wasuwidya bisa diartikan bejana ilmu pengetahuan yg tak kunjung kering. Romantis-puitis, dan mengandung doa yg baik bagi si bayi: semoga hidupnya selalu diberkahi dgn ilmu yg berguna. Satu masalah kecil: baik Ananta maupun Wasu kesannya maskulin. Tapi argumen gw: sekarang bukan jamannya cewek harus klemar-klemer. Jadi nama yg androgyn malah bagus.
 
Kemarin baru gw telfon lagi nanya kabar si kecil. Ternyata, si bapak itu melakukan last minute changes karena pingin namanya lebih feminin. Dan nama yg akhirnya dipakai adalah Ananta Widyagita. Memang lebih feminin, dan artinya tetap bagus: lagu ilmu pengetahuan yg senantiasa berkumandang. Yah, moga2 si kecil juga akan tumbuh menjadi anak yg bisa membagikan ilmunya ke orang lain; laksana penyanyi yg mengumandangkan suaranya untuk menghibur orang lain.
 
OK, deh, Mas Bobby & Mbak Tina, selamat atas kelahiran Nanta. Moga2 Nanta kecil tumbuh jadi anak yg berguna bagi orang tua, Tuhan, dan masyarakat.